Jonghyun-ah Saranghaeyo [oneshot]

Standard

AUTHOR : Nisa Ayu Thayalisha Hadi (Nam Hyen Hyo)

CAST :
• im Yoona

• Kim Jonghyun

• Kwon Yuri

• Choi Siwon

Support cast :

• Kwon Yuri

• Choi Siwon

Title : Jonghyun-ah saranghaeyo [oneshoot]

Genre : Fluff, Romance

Rating : G

Length : Oneshot

P.O.V yoona

Hari ini adalah hari ulang tahunnya. Aku tahu itu. Tapi aku enggan menghubunginya untuk hanya mengatakan ‘saengil chukka hamnida’ . Aku rasa aku sudah bukan siapa-siapanya lagi, dia menyampakkan ku. Hubungan kita ngegantung begitu aja. Aku minta putus, dia ga mau putus. Aku ajak jalan, dia bilang sibuk. Aku menelefon, dia memarahiku. Aku kirim pesan, dia tidak membalasnya. Jadi hubungan seperti apa yg sedang aku jalanin dengan seorang namja ini?

Aku sangat mencintainya, bahkan dulu aku yg memohon-mohon untuk menjadi pacarnya. Aku pikir, aku akan hidup bahagia ketika aku berpacaran dengannya. Tetapi tidak. Aku bahkan seperti sedang di kekang. Lalu apa yang harus aku lakukan? Otakku terus berputar memikirkan hal apa yang harus aku lakukan. Sepertinya aku harus mengakhirkan hubungan ini sampai disini saja. Terserah apa katanya. Pokoknya aku ingin putus. Titik. Tanganku menggebrak meja di depanku.

“hey siapa itu yg memukul meja?” Tanya guru matematika ini dengan nada menggertak.

Suaranya membuyarkan lamunanku. Aku bahkan lupa kalau sekarang aku sedang berada di sekolah dan sedang ada pelajaran.
“mengaku!” guru matematika yang terkenal killer ini berteriak lagi. Terpaksa aku mengacungkan tanganku agar seluruh teman-temanku tidak terkena marah guru ini. Paling aku disuruh keluar dan tidak boleh mengikuti pelajarannya. Itu bagus, jadi aku bisa berpikir dengan lebih leluasa cara untuk aku bisa lepas dari kekangan namja yang aku sendiri tidak tahu aku masih mencintainya atau tidak.

“saya pak. Jeongmal mianhae” saya pun mengaku. Mengacungkan tanganku sambil berdiri tegak, tidak menunduk atau pun memperlihatkan rasa takut.

“yoona! Apa yang sedang kamu lakukan hah?! Apakah kau mendengarkan dan memperhatikan aku selama aku menerangkan tadi?”
Dengan santainya aku menggelengkan kepala ku dan berkata “tidak pak. Bapak pasti akan menghukum-ku kan? Mengeluarkan ku skg, dan tidak boleh kembali sampai waktu pelajaran bapak selesai? Baiklah” tanpa menunggu jawaban guruku itu, aku langsung berjalan meninggalkan bangku-ku. Tetapi langkahku terhenti oleh suara tawa teman sekelas, mereka semuanya melihat ke arahku. Apa yang terjadi? Apakah ada yang aneh? Aku pun menengok ke teman yg berada di sampingku, aku mengernyitkan dahi sambil mendongakkan kepala tanda bertanya ‘ada apa’. Yuri tidak menjawab. Dia hanya menarikku keluar kelas sembari permisi kepada guruku tadi untuk ke toilet.

Ketika di toilet, Yuri memarahiku, aku bingung. Apa yang sedang dia lakukan? Apa aku membuat kesalahan? Aku rasa tidak. Aku jadi makin penasaran, aku cek punggungku apakah ada kertas bertuliskan aneh, ternyata tidak. Aku melihat dari kaki sampai rambut di kaca toilet tapi aku rasa tidak ada yang salah.

“tunggu disini” yuri menyuruhku. “tapi…..” jawabku sedikit ingin menolak.

“aku bilang tunggu disini!” serunya sambil lari terbirit-birit.

Tak lama kemudian, dia kembali dengan membawa sebuah benda yang ia umpatkan di balik bajunya. “kau membawa apa? Apa yang kau sembunyikan?” tanyaku menyelidik.

“nih pakai” dia menyodorkan pembalut ke arahku. Dahi ku mengernyit. “untuk apa?”

“kau datang bulan!” jawab Yuri

“aku tidak sedang sakit perut, jadi aku sedang tidak datang bulan” jawabku menolak

“lihatlah rok-mu itu, merah penuh darah. Apa kau sedang mengalami pendarahan? Tidak kan? Darah banyak terdapat di rok bagian belakang apalagi namanya selain sedang datang bulan?”

“mwo???”

“ne, lihatlah”

“aaaaaaaaaaaa Yuriiiiii tolong aku, aku malu sekali. apa yang harus aku lakukan sekarang?”

“molla..” yuri mengangkat bahu “mungkin kamu harus menunggu disini sampai pulang, barulah kamu dapat pulang dengan tenang, tanpa ada org yang melihat rokmu itu”

“tapi kan….”

“ne arasseo, aku akan membelikanmu rok baru di koperasi. Tapi setelah pulang nanti, kenalkan aku dengan teman pacarmu itu ya…. Siwon-ssi, kenalkan aku dengan temannya siwon-ssi. Aku ingin berkenalan dengan eunhyuk-ssi. Chaebal?”

“ne ne ne. tapi, aku tidak ingin bertemu siwon-ssi sekarang. Bahkan aku berpikir, skg aku harus memutuskan dia”

“MWO??? Apa kamu sudah gila?”

“dia yang sudah gila, kita sudah berpacaran hampir setahun tapi kita Cuma bisa komunikasi dengan lancar sebulan sekali. lebih baik aku pacaran dengan org biasa saja, dari pada sama artis tapi mendertia” jelasku

“aaah ayolah…. Atau aku tidak mau membelikan rok untukmu”

“ok ok”

“pulang sekolah ya?”

“ne”

Yuri pun akhirnya lari membelikan rok untukku. Hah, apa yang harus aku lakukan, masa iya sekarang hari yang sudah aku tentukan untuk mutusin siwon malah jadi ancur begini gara-gara Yuri sih? Eh gara-gara rok kayanya lebih tepat deh. Jadi gimana dong? Ga mungkin kan aku ketemu eunhyuk sendiri, ga mungkin bisa lah kalau ga ngmg dulu ke siwon. Lagian kalau ngmg kesiwon entar pasti di Tanya-tanya. Males bgt deh.

P.O.V siwon

Sebenarnya dia tau ga sih kalau sekarang ini hari ulang tahun ku? Kenapa dari tadi pagi ga ada pesan ataupun telefon masuk? Ash!! Dia kemana sih? Ga tau apa ada orang kangen. Pengen sih aku ngehubungin dia, tapi kan malu, males banget. Biarin aja dia yang suruh ngehubungin aku duluan. Kalau dia hari ini total ga ngehubungin aku, mending putus aja deh. Capek juga pacaran sama dia, dia ga bisa ngertiin aku. Ga ngerti aku sibuk, ga ngerti aku capek.

“kenapa?” Tanya eunhyuk yang dari tadi sedang membaca majalah dan duduk di depanku ini “dari tadi mondar-mandir aja, risih tau ga sih ngeliatnya”

“maaf hyung, aku sedang menunggu telfon dari seseorang”

“dari siapa? Pacarmu?” tanyanya dengan nada datar

“iya hyung” jawabnya dengan gelisah

“pacarmu yang mana sih? Bukan artis ya? Ya kamu duluan aja yang ngehubungin dia, kenapa harus dia yang ngehubungin kamu sih?”

“iya hyung, dia Cuma org biasa. Ya tapi kan hyung, sekarang ini hari ulang tahunku, masa dia tidak memberikan selamat atau apa gitu. Sejak tadi pagi, dia tidak menghubungiku, untuk sekedar sms saja dia tidak” jelasku
Apa aku saja yang harus menghubungi dia duluan? Tapi aku gengsi, males juga sih. Masa iya dia ga sadar sih kalau sekarang ini hari ulang tahunku. Jangan-jangan dia sudah melupakanku. Sejak 3 hari yang lalu, dia ga ada kabar. Padahal awalnya dia yang mengejar-ngejar aku. Hah, yeoja seperti apa sih yang sudah aku pacari ini!

***

Aku sudah janji, akan memperkenalkan Yuri kepada eunhyuk. Oke, baiklah, aku akan menyiapkan nyali ku untuk bertemu dengan monster itu.

“Yoona!” teriak seorang cowok yang suaranya agak asing. Aku membalikkan badanku, ternyata… SIWON! Ya itu Siwon! Mampus, suaranya aja aku tidak mengenalinya. Ini mah bener-bener deh ya, aku tuh beneran bukan pacarnya dia. pura-pura ga liat aja deh. Aku Ga mau jadi inceran anak-anak sekolah gara-gara gossip aku kenal sama siwon. Mending kabur aja.

“yoonaaaaaa. Itu siwon! Ayo kesana” chingu ku yang satu ini menyeret tanganku. Dengan malas aku menuruti permitaannya hanya demi sebuah rok yang sudah dibelikannya ini. Akhirnya badan ku udah sampe di depan badan dia. aku hanya bisa menunduk, melihat sepatunya dan kakinya saja. Aku tidak berani melihat ke atas karna aku tau pasti bakalan di marahin abis-abisan. Hah. Aku mengambil nafas panjang dan di hembuskannya kembali lalu mendongak menghadapnya.

“ada apa? Apakah ada perlu?” tanyaku judes

“mengapa kau tidak mengabariku? Mengapa kau tidak menelfonku bahkan hanya sms saja kau tidak! Apa kah kau ingat ini hari apa? Apakah kau ingat hari ulang tahunku hah?” tanyanya bertubi-tubi dengan nada kesal! Aku sangat mencintai yeoja ini, tp aku kesal dengan tingkah dia yang terlalu cuek terhadapku!

“ne. akan aku jawab satu-satu. Apakah kau pernah mengabariku? Apakah kau pernah menelfon atau mengirim pesan kepadaku terlebih dahulu? Aku ingat ini hari apa. Aku ingat ulang tahunmu. Tapi apakah kau ingat kapan aku ulang tahun? Hah?!” terjadi lah perdebatan sengit antara aku dengannya. Bumi serasa sedang mengguncang kan kita berdua. Aku gemetar, dia gemetar. Aku mengepalkan kedua tanganku sangat erat, bukan karna udara dingin. Tapi karna takut, aku tidak menyangka bisa memarahinya seperti ini, aku sangat mencintai namja ini, tp aku juga kesal dengan tingkah dia yang seolah-olah tidak menganggap aku ada.

Yuri yang dari tadi berdiri dibelakangku, kini hilang entah kemana, mungkin dia takut dengan sikap ku dan siwon. Baguslah, jadi hari ini aku bisa dengan sukses mutusin siwon. Dan aku bisa hidup bebas, aku pun tidak mau berhubungan lagi dengan semua member Super Junior. Titik! Aku menghentakkan kakiku, secara tidak sengaja, ternyata aku menginjak kaki namjachingu-ku ini. Dia berteriak kesakitan sekaligus membuyarkan lamunanku. Aku hanya bisa terpaku melihat dia meringis kesakitan “ups.. mianhae” kataku. “baiklah siwon-ssi, aku sudah putuskan. Mulai skg, kita putus ya. Aku capek, lagian aku udah punya pacar baru. Dah” seruku tanpa ragu dan tanpa ekspresi. Aku pun jalan meninggalkan dia, membelakanginya dan pergi jauh meninggalkannya.

Aku mendengar teriakan dia memanggil-manggil namaku, dia berteriak memanggil namaku, bahkan dia juga sempat berlari untuk mengejarku, tapi sayangnya, aku sudah menyetop taksi dan menaikinya. Bukan karna itu saja, dia tidak bisa terus mengejarku karna para ELF –fansnya super junior- mengerubunginya, sehingga dia tidak bisa berkutik sama sekali. aku merasa sangat-sangat lega dengan kejadian ini. Betapa indahnya dunia aku sudah terlepas dari dia. ku hapus namanya di kontakku, dan seluruh pesan. Ku buang barang-barang yang menjadi kenang-kenangan antara aku dengannya. Aku melakukannya, seolah-olah aku dan dia tidak pernah terjadi apa-apa. Bahkan tidak pernah bertemu.

Yuri menagih janjinya untuk bisa dikenalkan dengan hyuk-oppa. Dengan santai aku hanya bisa menjawab “sorry aku ga bisa, aku udah putus sama siwon” sembari melahap makanan yang ada di hadapanku dan tanpa melihat ke arahnya. “kenapa?????” Yuri berteriak sambil menjambak rambutku. Temanku yang satu ini memang mungkin sudah gila. Dia memang sangat tergila-gila sekali dengan hyuk-oppa. Dari dulu dia memohon-mohon agar aku bisa mengenalkannya dengan hyuk-oppa tapi aku slalu beralasan. Dan satu lagi bebanku yang akan hilang, setelah aku terbebas dari siwon, otomatis aku juga akan terbebas dari Yuri, dia tidak mungkin memaksa-maksa ku lagi untuk bertemu dengan hyuk-oppa, karna sekarang aku sudah menjomblo kekekekeke. Suara tawa hatiku semakin keras.

***

5 tahun berlalu aku masih saja seorang diri, tidak ada pria yang mendekatiku, sekarang aku sedang menjalani kuliah. Aku mengambil jurusan kedokteran karna memang ini adalah cita-citaku sedari kecil. Di Universitas ini, ada pria yang aku sukai, dia tampan, dan juga bukan seorang artis. Namanya adalah Kim Jonghyun. Aku yakin, dia bukan tipe cowok yang seperti siwon. Aku sudah melupakannya berlarut-larut, bahkan kadang aku lupa siapa nama cowok itu. dan juga, skg aku bukan lagi ELF.

Jika waktu istirahat tiba, aku selalu memandanginya dari jauh, dia tampan, sangat-sangat tampan. Dia selalu membaca buku, dia berkacamata jika sedang membaca, tetapi akan dilepaskannya lah ketika dia selesai membaca. Aku rasa, dia lebih tampan jika tidak memakai kacamata. Tingginya sama denganku.

Pernah suatu hari, ketika aku sedang memandangnya, dia melihat ke arahku dan memergokiku sedang memperhatikannya. Dia melambaikan tangannya dan tersenyum padaku. Aku balas senyuman itu dan melambaikan tanganku juga. Hampir saja waktu itu aku ketahuan ketika aku menulis ‘kim jonghyun ♥’ di kertas ku, untungnya aku dapat langsung menyembunyikan kertas itu tanpa dia mencurigainya. Sejak saat itu, kami pun akrab. Kita selalu belajar bareng dan makan bareng di kantin. Aku sangat menikmati kejadian ini.

“cita-cita kamu dari kecil mau jadi dokter ya? Kalau iya, sama dong kaya aku^^” Tanya ku malu-malu

“iya ” dia hanya tersenyum. Senyumannya manis sekali. aku tersipu. Aku yakin mukaku memerah saat ini juga. Aku menundukkan kepalaku karna malu.

“kenapa?” tanyanya

“oh tidak”

“mukanya merah gitu, lucu deh” dia berkata sembari memegang pipiku. Ya Tuhan. Ini adalah minggu terakhir aku bisa bertemu dengannya. Aku harap waktu dapat berjalan begitu lambat. Aku bertanya mengapa cita-cita dia adalah menjadi dokter? Tetapi dia terlihat sedih, dan ketika dia akan menjelaskan semuanya padaku. Tiba-tiba seorang anak kecil yang cantik datang menghampirinya dan memanggil nama ‘jonghyun oppa’ jonghyun permisi, dan pergi meninggalkanku sembari menggendong anak itu dan tertawa.

Hari ini adalah acara wisuda, 5 tahun sudah aku memendam perasaan ini kepadanya. Yuri yang sekarang satu kampus denganku bilang bahwa aku harus menyatakan perasaan ini terlebih dahulu. Aku mengaguminya sudah 5 tahun, tapi aku baru akrab dengannya 6 bulan belakangan ini saja, ini terlalu singkat bagiku. Hari wisuda aku jalani dengan baik, dengan keceriaan dan juga dengan tetesan air mata. Aku menangis karna sedih harus berpisah dengannya, sekaligus senang karna sekarang aku sudah lulus.
Aku sudah tumbuh dewasa, sekarang aku dan Yuri menjadi dokter magang di rumah sakit yang sama. Secara mendadak, tiba-tiba dokter memberitahuku bahwa ada pasien yang sangat kritis, dia harus masuk UGD. Aku langsung menghentikan makanku dan membayarnya dan langsung menarik tangan yuri yang belum selesai makan. “ayo cepat ikut aku”

“hey mau kemana?” Tanya Yuri heran

“ada pasien kritis”

Aku berlari menyelusuri seluruh jalan rumah sakit sampai tempat UGD, aku hanya dapat melihat seorang namja yang aku rasa, aku mengenalnya. Dia sedang duduk terpuruk, aku rasa di menangis. Aku tidak sempat memanggil atau menyapanya. Karna ini kritis, aku harus cepat-cepat masuk ke ruang UGD tersebut. Seorang anak kecil cewek yang pernah di gendong oleh namja yang aku cintai, sedang terbaring lemah. Tak berdaya.

Otakku berpikir, apa mungkin, cowok yang tadi itu adalah jonghyun? Aku bingung, ada apa ini? Tanpa sempat berpikir panjang lagi, aku, Yuri dan dokter-dokter yang lain harus segera menyelamatkan nasib seorang cewek mungil ini. Berjam-jam kita berada di ruang UGD, keadaannya sedikit mulai membaik. Aku pun keluar ruangan. Dan kudapati namja itu masih dalam posisi yang sama pada saat aku ingin memasuki ruangan. “jonghyun-ah?” sapa ku ragu

“yoona?” tanyanya kaget. “sedang apa kau disini?”

“aku magang di rumah sakit ini, aku dan dokter-dokter lain sedang berusaha menyelamatkan cewe itu”

“dia adalah adikku, adikku satu-satunya. Kedua orang tuaku sudah meninggal. Aku hanya memiliki dia sekarang, tetapi ternyata dia sudah di vonis terkenal kanker otak dan hidupnya tidak akan bertahan lebih lama lagi. Aku takut yoona, aku takut sekali” cowo itu menangis sambil memegang tanganku. Aku berusaha untuk menenangkannya, meyakinkannya bahwa kami semua bisa menyelamatkannya.

“kau ini kan dokter juga, mengapa kau tidak menolongnya juga?”

“aku menjadi dokter karna alasan ingin bisa menyembuhkan adikku ini, makannya aku belajar keras. Tetapi belakangan ini, kondisi adikku semakin parah, akupun jadi terfokus pada nya, aku tidak sempat belajar, dan alhasil ketika ujian, nilaiku hancur semua. Aku gagal” jelasnya sambil menjambak-jambakan rambutnya pelan.

“sabar, aku mengerti perasaanmu. Aku berjanji, sebisa mungkin aku akan menolong adikmu itu, walaupun kemungkinannya sangat kecil sekali, ini akan mengeluarkan banyak biaya”

“aku tau! Aku tidak mempunyai uang yoona! Aku ini Cuma orang miskin saja. Aku tidak punya apa-apa.”

“aku mengerti. Aku akan membantumu semaksimal mungkin. Maaf aku harus pergi dulu”

“baiklah”

Ku tinggalkan namja yang sangat ku cintai ini dengan berat. Langkah ku berat. Aku ingin tetap berada di sampingnya, menemaninya. Tapi apa daya, pekerjaan ku tidak bisa di hindari. Jonghyun-ah mianhae. Aku berjanji, ketika pekerjaanku selesai nanti, aku pasti akan langsung menghampirimu.

4 jam kemudian, kabar yang sama sekali tidak ingin aku dengar, tersampaikan. Adik jonghyun-ah meninggal dunia. Dia sudah tidak tahan lagi menghadapi semuanya. Dia mengidap penyakit ini sejak bayi. Ini memang berat baginya, juga bagi jonghyun-ah. Aku lemas tak berdaya, lututku refleks jatuh ke ubin setengah berdiri. Aku tidak kuat jika melihat jonghyun-ah menangis, bersedih. Aku ingin melihat senyuman manis itu. senyuman dia yang pertama kali di tujukannya padaku.

Tanpa berpikir panjang, aku pun memutuskan untuk menemui jonghyun-ah

“yuri, aku permisi, aku harus buru-buru”

Tanpa menunggu jawaban yuri, aku pun langsung lari meninggalkannya. Aku lari menuju tempat dimana jonghyun menunggu tadi, aku ingin bertemu dengannya sekali ini aja. Aku ingin sekali bertemu dengannya. Aku lari secepat yang aku bisa, aku berlari sembari memegangi lututku yang sudah mulai sakit. Ku lepas higheel ku agar aku bisa lari sedikit lebih cepat, ku buka jas dokterku agar tidak terlalu ribet atau berat saat berlari, berharap bisa cepat menghampirinya dan menenangkannya. “aku sampai….” Omongku pada diri sendiri. Ku tengok ke kanan dan ke kiri, ku selidiki dimana namja ini. Aku mencari ke seluruh ruangan, ke sudut ruangan. Dia tidak ada. Hanya ada secarik surat tertinggal di tempat ia duduk tadi

‘yoona, adikku sudah meninggal. kini aku sudah hidup seorang diri, akupun akan menghilang. Maaf kan aku, jangan sedih. aku tidak akan kemana-mana, aku akan baik-baik saja. Aku hanya ingin sedikit berlindung. Ku rasa kamu tau dimana tempat favorit ku dulu ketika kuliah. Jonghyun.’

Aku tidak dapat membohongi perasaanku. Aku menitikkan air mataku ketika membaca surat ini. Kalimat terakhir yang ku ingat ‘ku rasa kamu tau dimana tempat favorit ku dulu ketika kuliah’ dimana??? Aku memutar otakku kembali, berusaha untuk mengingat-ingat. Ya! Skg pun aku sudah ingat. Tanpa berpikir lagi, aku lgsg lari menghampirinya. Ku tancapkan gas sekencang mungkin pada mobilku, berharap akan cepat sampai dan bertemu dengannya.

Aku tau tempat itu! ya aku tau! Jalanan sepi, ya Tuhan kamsha hamnida. Aku menancap gas hingga kecepatan 100km/jam hanya karna aku tidak ingin kehilangan dia sedetik saja. Aku berkonsentrasi tinggi karna tidak ingin terjadi sesuatu. Aku harus cepat! Ya harus cepat! Sebentar lagi akan sampai, di perempatan depan belok kiri itu adalah tempat favoritnya, tepat berada di samping kampus kita dulu. Aku membelokkan setirku dengan sangat tajam. Aku tidak melihat ada seseorang sedang menyebrangi jalan itu. kecelakaanpun terjadi.
Aku sempat tidak sadar, hanya sebentar. Tetapi tidak dengan seorang namja yang sudah aku tabrak. Aku keluar dari mobil dengan seluruh sisa-sisa tenagaku. Sembari memegangi kepalaku yang tadi membentur stir. Ku balikkan badan namja itu agar aku dapat melihat wajahnya. Aku sesak nafas, air mataku membludak deras. Aku menangis tiada hentinya. Aku pun memohon kepada Tuhan, mengapa tadi aku tidak di matikan saja jika aku akan tau namja yang ku cintai ini akan meninggal. Dia meninggal karna aku. Ya Tuhan, aku merasa sangat menyesal! Aku ingin mati bersamanya.

Air mataku terus berjatuhan mengenai luka namja itu yang berada di lengannya. Aku koyak-koyakan badannya sembari berbicara. “jonghyun-ah bangun! Jonghyun-ah! Jonghyun-ah aku mencintaimu, apakah kau bisa mendengarku? Jonghyun-ah, jonghyun-aaaaaaaah” aku terus menangis, aku menangis sampai pagi. Aku terus duduk terpaku di jalan meletakan kepala namja itu di pangkuanku. Baju ku penuh darah, di sekujur badanku penuh darah dari namja tersebut. Kepalaku berdarah karna benturan stir tadi. Rambutku lusuh. Mukaku basah penuh air mata. Aku tetap menangis. Tidak pernah terlintas sedikitpun di otakku untuk membawanya ke rumah sakit.

“jonghyun-ah, apakah kau masih ingin tidur? Sekarang sudah pagi, bangunlah jonghyun-ah. Jika kau bangun nanti, akan ku buatkan makanan kesukaanmu. Badan mu penuh darah, bajumu kotor, bagaimana kalau kau ganti baju dulu? Hah? Jonghyun-ah jawab aku jonghyun-aaaaaah” aku teriak berkali-kali memanggil namanya, aku terus berbicara dengannya, berharap dia dapat mendengarku.
Aku mengutuk diriku sendiri. Bisa-bisanya aku membunuh namja yang sangat ku cintai ini. Aku sangat mencintaimu “jonghyun-ah, aku mencintamu. Apakah kau mencintaiku juga? Apakah kau tau? Sejak pertama kali melihatmu, aku jatuh cinta padamu. Aku menyukaimu sejak awal. 6 tahun sudah aku pendam perasaan ini kepadamu. Aku ingin menyatakan perasaan ini kepadamu. Ku mohon jangan terus tertidur jonghyun-ah bangunlah. Ini di jalanan, tidak baik jika kau tidur di jalan. Jonghyun-ah bangun jonghyun-ah……”

Aku semakin terlihat seperti orang gila, aku menarik tubuhnya hingga ke taman tempat favoritnya, aku rebahkan badanku di samping badannya “anginnya sejuk sekali, apakah kau masih bisa merasakannya jonghyun-ah?”

“yoonaaaa!!!!” Yuri memanggilku dengan nada khawatir “yoona bangun lah dari mimpimu! Namja yang kau cintai ini skg sudah meninggal. Dia sudah tidak bernyawa. Tolonglah mengerti yoona”

“dia belum meninggal, dia masih bisa mendengarkan perkataanku. Ya kan jonghyun-ah?” air mataku merebak kembali, ku kecup keningnya dan ku belai wajahnya. Namja idamanku, mengapa tega nya kau meninggalkan aku? Aku yang telah membunuhmu, izinkan aku sedikit lebih lama lagi berada sini. Di sampingmu. Di sisimu. Aku akan tetap mencintaimu walaupun aku tau kau sudah tiada.

“yoona! Ayo kita bawa dia kerumah sakit! Dia harus segera di kubur. Dia sudah meninggal sejak tadi malam kan?”

“yuri” ku peluk erat badan mungil chingu ku ini, baju nya basah terkena air mataku. Aku menangis dipelukannya tanpa henti “yuri! Aku yang telah menabraknya! Aku lakukan itu dengan tidak sengaja, aku ingin menyusulnya ke tempat ini, aku ingin menemuinya, aku belok terlalu tajam tanpa menyadari dia sedang menyebrangi jalan. Yuri, tolonglah bunuh aku! Aku ingin mati bersamanya, aku ingin hidup bersamanya. Tahu kah kamu aku masih memendam perasaan ini? Kau tau aku masih mencintainya. Aku merasa sangat terpukul. Ini semua salahku! Yuri….. bunuh aku skg!!!! Yuri” aku memukul-mukul pundak temanku ini. Aku merasa begitu menyesal.

3 hari setelah pemakaman namja ini, aku mengurungkan diriku sendiri dikamar, aku mengutuk diriku. Aku benci diriku ini. Aku ingin meninggal, aku ingin hidup dengannya disana. Di tengah kesedihanku ini, datanglah seorang namja yang sangat mirip dengan namja yang sangat kucintai itu, yang sudah meninggal. Ternyata yang aku tabrak 5 hari lalu adalah saudara kembarnya. Bukan jonghyun-ah namja yang ku cintai. Senyumku kembali, hari-hariku kembali seperti biasa. Sampai akhirnya dia menyatakan perasaannya dan kamu pun menikah.

“mengapa dia bisa ada disitu? Tepat dimana kamu sedang berada disitu dan mengapa kamu tidak ada disitu?” tanyaku penasaran

“dia menghampiriku ketika aku disitu. Karna aku terlalu sedih dan tidak ingin diganggu, maka aku meninggalkannya, dan dia berniat untuk menyusulku mungkin. Aku tidak tau dia akan mengalami kecelakaan ini. Aku tidak terlalu perduli. Karna aku dan dia hanya tau nama dan tampang saja, aku tidak pernah tinggal bareng dengannya. Sejak bayi kami sudah dipisahkan” jelasnya

“oh begitu”

“ga usah keliatan sedih gitu deh” dia menggodaku

“biasa aja” jawabku sedikit berbohong

“ah masa?”

“ih iya tau” hahahhaha kita pun tertawa bersama. dan akan Melewati hari-hari bahagia selamanya.

-END-

gimana ceritanya? bagus ga? maaf kalau jelek *bow*

kalau suka, di like ya~ kalau perlu comment. INGET! KALAU SUKA DI LIKE, kalau udah baca trs ternyata SUKA trs ga di LIKE berarti munafik -_- kalau ga suka baru deh ga usah di like.

mohon comment-nya, bair kesananya bisa bikin FF lebih bermakna dan bagus lagi. oke oke? jeongmal gomawoyo^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s