Jonghyun-ssi Is My Nampyeon [oneshot]

Standard

Author : Nisa Ayu Thayalisha Hadi (Nam Hyen Hyo)

Cast : Kim Jonghyun

Kang Hyun Ra/Kim Hyun Ra

Title : Jonghyun-ssi Is My Nampyeon

Length : One Shot

Genre : Romance, Humor

Rating : PG-15

“JONGHYUN-AAAAAAAH!!!!” lagi-lagi dia ngerjain aku. Hah, ga pernah bosan apa?! Udah tau aku lagi bikin sarapan, eh dia malah sengaja noelin selai ke pipi aku.

“kau lebih cantik seperti itu yeobo hahahaha” balasnya. Grrr. Ne, dia adalah suamiku. Mengapa coba aku bisa mempunyai suami yang jahil seperti itu? Ini semua adalah sebuah kecelakaan. Padahal aku kenal sama dia saja tidak! Awalnya. Dia bertemu denganku dan langsung mengajak nikah. Padahal kita kan baru saja bertemu waktu itu. Karna appaku menyetujuinya, ya lalu apa yang harus aku lakukan lagi? Aku tidak mungkin menolak keinginannya. Lagipula, aku akui dia itu tampan, dan sepertinya orang baik. Jadi, sekarang dia menjadi suamiku.

Kami tinggal serumah tapi aku malah seperti pembantunya! Dia menyebalkan!!! Sama sekali tidak romantis!!

“nih makanan untukmu! Cepat dimakan dan lalu pergi sana” usirku. Lebih baik jika dia tidak ada disini, membosankan! “oh kau mengusirku?” tangkasnya cepat “ani” jawabku berkacak pinggang “sudah cepat makan makanannya. Nanti kau sakit, terus kalau kau tidak cepat makan, nanti kau telat” ucapku mengeles sembari membereskan dasinya yang sedikit berantakan dan tersenyum palsu.

“ah kau baik sekali jagiya. Jeongmal saranghaeyo~” dia mengelus pipiku lembut “itu lihat disana ada apa?” katanya dan menunjuk ke arah ruang tv, yang jaraknya tidak jauh dari ruang makan “apa? Ada apa?” dengan bodohnya aku melihat ke arah yang dia tunjuk, dan ketika aku membalikkan kepalaku menatapnya, dia malah noelin selai ke ujung hidungku dan kabur. “HYA!! KAU…” dia tertawa lepas melihatku seperti ini. Kurang ajar!

“yasudah aku berangkat dulu yaaaaa~ dadaaah~” teriaknya masih sedikit tertawa sambil melambaikan tangannya dan masuk ke dalam mobilnya.

Sejujurnya, Sudah 1 bulan kami menikah, tapi kami sama sekali belum pernah tidur sekamar. Aku tidak mengizinkannya tidur denganku. Jadi dia memakai kamar yang berada tepat di sebelah kamarku. Kamar sempit yang tidak layak di gunakan oleh orang yang derajatnya setinggi dia. Orang yang kaya seperti dia. Apakah aku sebegitu kejamnya? Kejam-kah perbuatanku ini? Aku rasa tidak, toh jonghyun pun tidak pernah mengeluh.

***

Hai. Namaku Kim Jonghyun. Aku sudah mempunyai seorang istri. Namanya adalah Kang Hyun Ra, tapi karna dia sudah menikah denganku, namanya menjadi Kim Hyun Ra. Hah, dia sepertinya sama sekali tidak mengingatku. Padahal sesungguhnya, dulu dia adalah teman dekatku. Tapi karna dia pindah ke London selama lebih dari 15 tahun, jadi dia tidak mengingatku. Ditambah lagi, katanya –appanya memberitahuku- ketika di sana, Hyun Ra sempat mengalami kecelakaan dan amnesia. Mengesalkan, sebenarnya kita menikah karna  orang tua kami memang sudah merencanakan hal ini sejak dulu.

Sejak kami kecil, mereka menjodohkan kami. Seharusnya dia sadar, tapi karna -mungkin- ingatannya yang terganggu dia lupa denganku. Yasudahlah, biarkan saja. Perlahan-lahan aku akan mencoba untuk membuatnya ingat kembali akan semua masa lalu kita.

-flashback-

Aku sedang menikmati pemandangan yang ada dari dalam mobilku, aku tau hari ini aku akan bertunangan dengan Hyun Ra, orang tuaku dan orang tuanya sudah merencanakan ini, aku senang. Tapi yang membuatku kaget adalah, masa Hyun Ra sama sekali tidak tahu akan hal ini?! Bagaimana jika nanti dia menolakku?

Tiba-tiba mobilku berhenti di depan sebuah toko alat musik “pak, tolong berhenti” instruksi appaku kepada supir.

“jonghyun-ah, masuklah ke dalam. Kita jemput calon tunanganmu” seru appa kepadaku.

“mwo?!” aku bertanya heran. Maksudnya adalah? “dia di dalam. Dia sama sekali tidak tahu kalau hari ini kau akan melamarnya. Mr.Kang memberitahuku bahwa dia ada disini. Masuk lah ke dalam dan berpura-pura” appaku menjelaskan “ne”

Apa yang harus aku katakan nanti ya? Aku berjalan perlahan-lahan sembari memikirkan kata-kata apa yang harus aku katakan nanti. Mataku berkeliling menyusuri ruangan ini, mencari seorang yeoja yang dimaksud. Appa bilang rambutnya sebahu dan berwarna hitam. Baiklah, dia dimana ya? Ah, mungkin itu.

“ayo kita menikah!” tegasku seraya menarik tangannya keluar dari toko tadi dan menyuruhnya masuk kedalam mobilku.

“kita mau kemana?!” ucapnya memberontak “lihat saja nanti” kataku menenangkan. “tenang saja, aku tidak menculikmu kok” aku menambahkan.

“hai Kang Hyun Ra, kau anaknya Mr. Kang Oh Hyuk? Appamu tidak memberitahumu bahwa hari ini kau akan bertunangan dengannya? Dengan anakku. Kim Jonghyun. Kau tenang saja. Aku dan ayahmu adalah teman baik sejak dulu. Dan sekarang aku akan membawamu ke rumahnya” sergap appa langsung menjelaskan padanya.

Matanya melotot besar sekali. “ber..tu…na….ngan???” serunya gelagapan dan diputus-putus. “ne, kau akan menikah dengan namja yang cakep ini. Aku cakep kan?” ujarku mengulas sebuah senyuman manis kepadanya. Dia membuang muka “tch! Cakep darimana?! Cakepan juga cicak dirumah gue! Dasar muka kaya dinosaurus” ucapnya selembut mungkin tapi masih dapat di dengar olehku. Aku hanya bisa tersenyum melihat ocehannya. Calon istriku ini lucu sekali.

-flashback end-

Yah begitulah awal mulanya aku bisa menikah dengannya. Kami langsung membeli rumah dan tinggal berdua. Tapi sialnya, masa dia tidak memperbolehkanku tidur dikamarnya? Kami kan sudah menikah. Sudah resmi.

“Hya! Mau apa kau?! pergi sana. Ini kamarku” begitu katanya waktu pertama kali aku memasuki kamarnya. “aku kan sudah menjadi suamimu” ucapku frontal dan terlihat seperti orang bodoh yang tidak tahu apapun.

“kau tidur di kamar sebelah saja. Aku tidak mau tidur denganmu!!!” teriaknya memijak-mijakkan kakinya dilantai mungkin karna geram atau kesal entahlah. “NE!” ucapku tegas dan membentak! Kesal.

“lihatlah nanti malam ketika kau tidur, ada ular besar yang akan naik ke kasurmu HAHAHAHAHHAA” lanjutku lagi menakut-nakutinya. Mudah-mudahan saja dengan begini dia mau tidur denganku. Aku diperbolehkan tidur di kamar ini maksudku. Ini adalah kamar utama, sementara aku harus tidur di kamar sebelah? Itu kan kamarnya sempit sekali. Hanya cukup untuk satu kasur saja, tanpa lemari, tanpa WC, dan tanpa apapun. Membosankan!

“bodo amat! Biar saja aku mati digigit ular daripada aku harus mati karna tidur denganmu!” mwo? Jadi dia tidak takut ular? Jadi rencanaku gagal? Ah menyebalkan!

“maksudmu?”

“geurae! Umma-mu bilang, katanya aku harus berhati-hati tidur denganmu, karna katanya kau kalau sudah tidur, seluruh kasur pasti akan jadi bagianmu. Kalau aku ketindihan dengan badanmu yang besar itu dan tidak bisa bernafas bagaimana? Kalau aku mati bagaimana? Kau tidak akan mempunyai seorang istri lagi we :p” serunya mengejekku seraya mendorongku dan dengan cepat menutup serta mengunci pintu kamarnya.

“Hya! Kang Hyun Ra! Lihat saja nanti! Kau pasti akan memohon-mohon padaku untuk tidur denganmu!” dengan kaki terseret-seret dan merasa iba, aku harus tidur di kamar yang sempit nan pengap ini. Sebenarnya aku menikahi wanita seperti apa sih????? Kita kan sudah menikah!!!

***

Aku lelah harus mengurusi pekerjaan rumah. Ya karna aku tinggal disini hanya berdua dengan jonghyun –lebih tepatnya lagi suamiku- dan dia selalu bekerja, mewarisi perusahaan appanya. Jadi aku harus mengerjakan tugas rumah ini sendiri. Dari mulai mencuci piring, baju, membersihkan lantai dengan vacuum cleaner, merapihkan kamar, menyiapkan sarapan, dan makan malam untuknya. Kalau makan siang sih, bodo amat. Toh dia tidak pernah ada dirumah kalau siang.

Akhirnya semua pekerjaan selesai juga. Makan malam juga sudah terhidangkan di meja dengan cantik. Tinggal menunggunya datang dan kita makan bersama. Semakin hari, semakin lama berada dekat dengannya, tinggal serumah dengannya, dikerjai dan tertawa bersama dengannya, aku jadi merasa tidak canggung lagi. Dan sudah dengan seutuhnya, aku menganggapnya sebagai suamiku.

Walaupun sampai sekarang aku tidak memperbolehkannya tidur denganku.

Sambil menunggunya, aku membaca majalah yang ku pesan setiap minggunya. Supaya ada bacaan, itu maksudku. Aku membolak-balikkan halaman demi halaman dengan cepat. “ah bosan! Jonghyun mana sih?! Aku kan kangen!” seruku sambil menyandarkan tubuhku di sofa ruang tengah. Rumah ini sangat sepi seperti tidak berpenghuni jika Jonghyun tidak ada disini. Aku bosan. Cepatlah datang yeobo!!

“oh jadi kalau di depanku, kau bertingkah sok dingin dan tidak suka denganku. Kalau aku tidak ada, kau berteriak-teriak bilang kangen denganku. Coba katakan sekali lagi di depanku” aku menelan ludah. Jadi, Jonghyun mendengar kata-kataku tadi? Jadi dia sudah datang? Dimana tubuhnya berada? Bibirnya saja tidak kelihatan.

Aku berjalan pelan-pelan menuju ruang tamu, barangkali saja itu orang yang ingin maling. Kan mungkin saja? Aku sudah menyiapkan formasi, sudah siaga. Aku sudah menggulung majalah ini untuk senjata memukul asal suara orang itu. Hana.. dul.. set.. ani! Dia benar ada disini, aku mengumpat dibalik pintu. Mudah-mudahan dia tidak tahu. Huh. Dia di garasi depan sedang melepas sepatunya! Memangnya suaraku sebegitu kencangnya ya sampai-sampai dia bisa mendengarku.

Dengan pelan dan berusaha agar tidak menimbulkan suara sedikitpun, aku masuk lagi kedalam rumah dan menuju kamarku “kau ingin kemana? Katanya kangen? Ayo peluk nampyeon kesayanganmu ini” tiba-tiba sebuah tangan yang besar dan membuatku nyaman selalu ketika menggenggam tanganku ini menarik pergelangan tanganku yang kecil. Dia membalikkan tubuhku dan memelukku. “kau kangen ya? Aku juga” ucapnya sembari mengelus rambutku. Aaaah wangi badannya…. khas sekali. Tanpa sadar, aku malah terhanyut dalam kenikmatan ini. Nyaman sekali rasanya.

“AH! ANI! Aku tidak kangen denganmu! Tadi itu aku hanya mengekspresikan diriku saja. Biasalah belajar akting-akting gitu hehehe” ucapku mengeles. Mudah-mudahan saja dia percaya. “oh begitu. Yasudah, kau belum makan kan? Ayo makan” ajaknya. Dengan menurut aku mengikutinya dan makan. Seperti biasanya, aku yang menyiapkan nasi, mangkok, sumpit dan lauknya. Jadi dia tinggal makan saja. Katanya, itu adalah sikap yang menunjukkan bahwa aku adalah istri yang baik dan menuruti suaminya. Yah, apalah itu, terserah dia saja, yang penting dia senang dan bibirnya tidak nyerocos.

“hei jagiya, kau tau tidak?” setelah sekaian lama keheningan yang terjadi, semuanya terpecahkan oleh suaranya yang khas, cempreng-cempreng gimana gitu.

“hm?” aku masih menunduk dan tidak ingin menatap wajahnya. Malu sekali, bagaimana jika tadi dia mengaggapku bahwa aku memang beneran kangen dengannya? Memang itu betul, tapi aku tidak ingin dia tahu! Kalau dia tahu, aku ingin menaruh mukaku di wajah penggorengan saja dan biarkan wajahku ini masak dan dimakan olehnya.

“ada seorang temanku yang sudah mempunyai istri, tapi istrinya itu galak, dan sok jaim! Dia tidak ingin tidur dengan suaminya” ‘persis denganku’ sahutku dalam hati “bahkan mengakui bahwa dia mencintai suaminya saja tidak” ‘sama juga denganku’ “padahal katanya, kalau dia tidak ada, istrinya itu suka menangis meraung-raung karna rindu dengannya” ‘maksudnya adalah? Mengapa topik pembicaraannya jadi mengarah ke kejadian yang tadi ya?’ tanyaku dalam hati lagi “dan lagi, istrinya yang sok berlaga tidak suka dengan suaminya itu, malah menaruh foto suaminya di dompetnya,” Jlep! Memang benar, sepertinya dia sedang menyindirku. Aku memang menaruh foto Jonghyun di dompetku secara diam-diam. ‘TAPI BAGAIMANA DIA BISA TAHU?! Jangan-jangan….. wah bahaya nih! Ayo Jonghyun-ah lanjutkan pembicaraanmu’ hatiku membara, jonghyun menyebalkan!!! “bahkan wallpaper hpnya pun foto suaminya yang lagi menulis” ‘itu kan fotonya Jonghyun yang aku ambil secara diam-diam!! Jadi dia mengecek hp ku juga?’ “katanya, dia mengambil foto itu secara diam-diam, yah…” ‘semuanya benar. Dia menyindirku. Sialan! Aku tahu maksud perkataannya itu! Jonghyun-ah!!! apa kau siap mendapat lemparan sushi dariku hah?!

“cukup Jonghyun-ah, kau tidak usah berbohong. TIDAK USAH menceritakan ini seolah-olah ini adalah kejadian nyata yang terjadi oleh temanmu! Aku tau maksud pembicaraanmu. Dan aku juga tau apa yang kau pinta, dengan berbciara begitu, kau meminta… ini kan?” ucapku berusaha menggodanya dengan membereskan bajuku dan menyibakkan rambutku ke belakang. Berusaha membuat senyuman semanis mungkin.

“kau mau ini kan jonghyun-ah…” aku masih menggodanya, memasang muka yang sexy dan mengelus pipinya. Dia hanya tersenyum “jagi…. kau sudah sadar? Bahwa aku ingin tidur denganmu?” kata-katanya membuatku jijik.

“ne, aku tau. Tolong pejamkan matamu. Aku ingin menciummu”

“waeyo? Kenapa harus memejamkan mata?” tanyanya kebingungan. “aku malu” seruku menunjukkan puppy-eyes ku.

“ne, arasseo. Ppali!” suruhnya. Dengan formasi 3, aku menghitung “hana… dul… set… HYA!!!” aku mulai melempari sisa sushi yang berada di meja makan ke arahnya. Dia hanya bisa berteriak-teriak kecil “aw! Sakit! Hyun Ra! Apa yang kau lakukan?” tanyanya ketika aku sudah tidak lagi melemparinya dengan sushi.

“jangan mendekat! Aku tau kau menyindirku. Maksudmu apa menyindirku seperti itu hah?!” perang terjadi lagi antara aku dengan dia. Tapi memang inilah yang kuharapkan. Rumah jadi tidak sepi jika aku dan dia terus-terusan nyerocos. Yang minimalnya, dirumah ini ada aku dan dia. Aku jadi merasa rumah ini ramai, tidak sepi seperti apa yang selalu aku rasakan jika dia tidak disini.

***

Kurang ajar! Memang dasar dia harus di kasih pelajaran! Masa melempari suaminya sendiri dengan makanan seperti itu? Tidak sopan! “hya! Mrs.Kim Hyun Ra! Kemari! Sini kau kemari! Kau ingin mendapatkan pelajaran dariku ya? Hah?” tegasku dengan muka yang sok sinis.

“a-ani” jawabnya gugup, mukanya terlihat ketakutan sekali. Hahaha bagus! Dia terus berjalan mundur menjauhiku sampai akhirnya sebuah temboklah yang menghentikannya. Aku medekatinya terus dan terus. “jonghyun-ah.. kau.. apa yang kau… “ aku menggenggam kedua tangannya, dan menaruh tangannya ke tembok juga “kau mau dapat pelajaran dariku? Dengan caramu yang melempari suamimu ini dengan sushi hah?” kataku mencoba mengulas sebuah senyuman sangar.

“jong.. Mianhae” haduh! Muka anak ini sungguh polos sekali! Aku jadi tidak ingin untuk menyakitinya. Tidak akan pernah Hyun Ra, aku berjanji.

“kau mau aku menciummu hah?!” woh! Matanya melotot sama seperti waktu itu. Kejadian waktu dimobil 1 bulan yang lalu.

“aaah! Ani!!” dia berteriak dan memejamkan mata, haduh! Menyusahkan saja. Aku melepaskan tangannya “baiklah. Kalau begitu, sebagai gantinya. Kau harus mengizinkanku tidur di kamarmu”

“ANDWAE!” cegahnya langsung “wae?”

“bukan muhrim” balasan yang sama sekali tidak masuk akal. Aku hanya terkekeh kecil mendengar jawabannya. Dia berlari ke arah kamarnya, dan menghalangi aku untuk masuk.

“awas. Aku capek. Mau mandi dan tidur” seruku berjalan bergelayutan seperti orang mabuk.

“jaebal! Kau jangan tidur disini” dia menunjukkan puppy-eyes nya. Memangnya ampuh apa?!

“kau harus mendapatkan pelajaran dariku. Toh Cuma tidur denganku. Ini namanya menguntungkan bagimu tahu?” aku menyingkirkan tangannya yang tadi menghalangiku dan masuk ke dalam kamarnya. Dengan cepat aku masuk ke dalam kamar mandi karna memang sedari tadi aku sudah kebelat kencing. Haduh… anae ku sudah membuatku untuk menahan kencing selama tadi!

Karna sudah terlanjut masuk kamar mandi, mengapa tidak sekalian mandi saja? Kamar mandi ini wangi. Pasti karna wanginya. Beda sekali dengan kamar mandi yang biasa aku pakai. Kamar mandi yang dekat dapur itu! Kalau dipikir-pikir kenapa aku malah jadi seperti pembantunya ya? Hah. Sudahlah. Yang penting malam ini aku bisa tidur dengannya. Akhirnya.

Aigooo aku lupa mengambil handuk dan baju gantiku tadi! Bagaimana ini? Bagaimana caranya aku bisa keluar? Aku mencari-cari sesuatu bahan atau apapun yang kira-kira bisa dipakai. “ah untung ada handuk” ujarku lega. Uh aroma tubuhnya menempel dalam handuk ini. Wangi sekali. Aku keluar kamar mandi bertelanjang dada. Handuk ini kupakai hanya untuk menutupi pusar sampai lututku saja.

Dia yang sedari tadi sedang duduk asik di depan kacanya, tiba-tiba melihat ke arahku dari atas sampai bawah “AAAAH JONGHYUN-AH!!! KAU MAU APAAAA?!!” dia langsung beranjak dari meja riasnya dan menjauh dariku “kau pikir aku mau apa? Aku baru saja mandi. Dan aku lupa membawa baju ganti. Kau pikir aku ingin memperkosamu?! Hah?! Jernihkan otak dan pikiranmu itu Mrs. Kim” lagipula, dia ada-ada saja, aku kan baru selesai mandi. Masa iya dikira mau ‘meng-apa-apakan’ dia? Gak waras!

“kau memakai handukku ya?!” ujarnya terlihat sedikit marah. “lalu mengapa?” tanyaku santai. Kita kan suami istri. Santai saja lah. “lepas! Cepat lepaskan!!!” dia berteriak lagi. “haduh Mrs. Kim, kalau aku melepas handuk ini, nanti kau bisa melihat ‘itu’ ku. Kau mau hah?! Apa kau sudah tidak sabar? Kalau kau mau, akan aku lepas handuk ini sekarang juga” tanganku sudah siap untuk melepas handuk ini “AAAAA ANDWAE!!! SHIREO JONGHYUN-AH!! JAEBAL! JANGAAAAN”  dia berteriak lagi sambil menutup matanya. Mengapa aku jadi serba salah seperti ini sih?! “ya sudah! Aku ingin ganti baju dulu. Jangan coba-coba kau mengunci kamar ini, kalau tidak, malam ini juga, bibirmu itu tidak akan selamat” dia langsung refleks memegang bibirnya. Dasar yeoja polos! Asik sekali memiliki anae sepolos itu!

***

Malam ini dia benar-benar sudah membuatku gila! Jonghyun-ah gila!!! Menyebalkan!!

***

Hoam~ aku menguap dan mengucek-ngucek mataku. “Sudah pagi? Loh, Hyun Ra kemana? Dia sudah bangun? Apa dia lagi memasak? Coba ah ke dapur” gumamku sendiri.

Eh, dia tidak ada! Di ruang tv pun dia tidak ada. Jangan-jangan dia kabur! “ah bodo amat ah, masih ngantuk. Mending tidur lagi aja” gumamku sendiri lagi.

Baru saja, aku membuka pintu sedikit, tapi dapat kulihat disana ada sesosok yeoja yang sedang telanjang. ‘wouw! Lekukan tubuhnya bagus sekali. Itu Hyun Ra-kah? Aku baru menyadarinya kalau dia membunyai tubuh se-sexy itu’ seruku dalam hati.

“pagi jagiya, kau sudah bangun?” sapaku sambil tersenyum lebar. “AAAA JONGHYUN-AH!!! PERGI KAMU PERGI!” dengan sigap dia menyelimuti tubuhnya dengan handuk. “tenanglah, aku sudah terlanjur melihat tubuhmu. Kalau mau ganti baju, ganti saja. Aku kan suamimu. Kau ini normal tidak sih?!” lagian, dia aneh sekali. Aku ini kan memang benar-benar suaminya.

“ani! Kau keluar dulu sebentar. Jaebal!” katanya memohon. “shireo” balasku sambil mengeluarkan lidah. “jonghyun-ah….. jaebal….” sekarang dia duduk di ujung kasur. “begini saja, kau ganti baju, aku berjanji tidak akan melihat” kataku akhirnya memutuskan. “aku ganti baju di kamar mandi saja. Awas!” katanya beranjak menuju kamar mandi.

“kalau kau ganti baju di kamar mandi, aku tidak akan membiarkan handuk itu menyelimuti tubuhmu lagi loh~” ne, ancaman kedua hahahaha.

“ngek????” demi apapun, mukanya aneh sekali. “ayo ganti disini saja. Jangan tunjukan ekspresimu yang tadi itu. Jelek sekali” paksaku sambil menyindirnya.

“tapi kau jangan melihat ya?” ucapnya lembut “tenang saja” kataku santai. Lagipula, mungkin ini memang bukan waktuku melihatnya. Sudahlah, kapan-kapan saja. “ppali! Sudah belum sih?!” kataku seraya masih memejamkan mata. “sebentar lagi. Nah, sudah!” serunya gembira.

***

Ini adalah pertama kalinya aku mengganti bajuku di depan seorang namja, tapi karna aku masih waras dan berpikiran positif, untuk apa aku malu? Toh, dia ini kan suami resmi ku, tidak salah kan? Tapi tetap saja aku masih tidak mengizinkannya melihatku. Walaupun tadi dia sudah –dengan tidak sengaja- melihatnya. Bodo ah, lupakan. Kalau dipikirin terus, yang ada aku malah ga mau ngajak dia ngobrol sampe ingetanku ilang karna malu.

“kau mau makan apa?” tanyaku padanya yang sedang sibuk mengerjakan pekerjaannya “terserah kau saja. Aku serahkan semuanya padamu” jawabnya tanpa melihat ke arahku sama sekali. “tch! Ada org ngmg bukannya diliat malah…” dia memotong pembicaraanku “jagiya, kau mau aku menatapmu? Hah?!” matanya terus-terusan menatapku tajam “ani! Matamu seram sekali. Lanjutkan saja, aku akan membuat makanan untukmu. Tunggu sebentar” ucapku seraya menggulung rambutku ke atas untuk di ikat. Gerah sekali kalau terus-terusan di gerai seperti ini.

…..

“nih, kau makan dulu saja. Baru nanti dilanjutkan lagi” kataku pada akhirnya. “waktuku sebentar lagi jagiya, sementara aku belum menyelesaikan semuanya. Suapin ya hehehe” ucapnya terkekeh.

“hah, dasar mengambil kesempatan dalam kesempitan”

“kau kenapa sih tidak ingin bersikap manis sedikit saja di depan suamimu ini?” dia protes.

“ah. ani! Bukan begitu maksudku. Sudahlah, cepat nih makan. Lanjutkan pekerjaanmu. Cepat!”

Dan pada akhirnya, aku malah nyuapin dia, karna aku juga lapar, jadi sepiring berdua -_- dia terlihat serius sekali kalau sedang bekerja. Tampan. Otakku langsung jalan, aku mengambil ponselku yang berada tidak jauh dari meja kerjanya dan memotonya. “yap! Good picture” kataku. ‘jadiin wallpaper ah, lumayan. Dia cakep sih’ seruku dalam hati.

“aku tau jalan pikiranmu jagiya, kau memoto ku karna aku terlihat tampan kan? Lalu kau pasti akan menjadikannya sebagai wallpaper di handphonemu” aish! Dia selalu saja bisa menebak apa yang aku pikirkan. Aku tidak menjawab dan langsung pergi saja. Menyebalkan!

“jagiya…” dia menahan dan menarik tanganku “tidak bisakah kau bersikap sedikit jujur dan manis di hadapanku? Ya minimal menjawab pertanyaanku yang tadi, kau bilang ‘iya’ atau apa kek. Untung-untung kalau kau mau mengakui kalau kau mencintaiku” dia berbicara begitu lalu pergi melewati dan meninggalkanku berdiri mematung di depan tv.

“jangan sampai kau menyesal nantinya jagiya. Aku tidak ingin itu terjadi” sambungnya lagi sambil memainkan kunci mobilnya dan tubuhnya menghilang di balik pintu. Dia pergi. Bekerja lagi, bekerja lagi. Aku sendiri lagi, “hah!” aku menyandarkan tubuhku di meja makan dan meminum susu hangat yang baru saja aku buat tadi.

Jangan sampai kau menyesal nantinya jagiya. Aku tidak ingin itu terjadi

Apa ya maksud dari kata-katanya itu? “aaaaah!! Tau ah! pusing!”

…..

Hari ini aku tidak masak malam, karna baru saja jonghyun menelfonku, dia bilang dia sudah makan diluar tadi bersama rekannya. Kenapa aku jadi merasa curiga ya dengan siapa dia pergi?

Aku masuk ke kamar untuk mengganti bajuku dengan piyama. Aku lelah, ngantuk pula. Tapi aku tidak akan tidur sebelum dia datang. “aku pulang” serunya membuatku kaget. Bagaimana tidak? Tiba-tiba saja dia datang dan masuk ke kamar ini lalu tertidur di kasurku.

“aku lelah, tolong izinkan aku tidur disini” lanjutnya lagi seraya memejamkan matanya.

“kau belum mencopot sepatumu” kataku. Tanpa menunggu dia menjawab, aku mencopot sepatunya dan menaruhnya di rak sepatu di ruang tengah. Aku kembali masuk ke kamar dan mengunci pintunya. Karna aku pikir, kita sudah akan tidur bukan?

“jonghyun-ah…” panggilku. “hm?” dia hanya menggumam tapi matanya terpejam. Aduh, apakah aku menanyakan ini sekarang saja? Tapi aku tidak berani. Aku duduk di ujung kasur membelakangi dia.

“aku ingin membahas omonganmu yang tadi pagi. Kau bilang ‘Jangan sampai kau menyesal nantinya jagiya. Aku tidak ingin itu terjadi’ maksudmu apa? Sungguh aku tidak mengerti. Maksudmu ‘menyesal’ itu apa? Memangnya, kalau aku tidak menyatakan itu padamu aku akan menyesal? Kita kan masih bisa hidup lebih lama lagi. Dan aku yakin, tidak mungkin jika seumur hidupku aku tidak menyatakan itu padamu. Hm, jonghyun-ah. apakah kau mau mendengarnya? Apakah kau mau mengetahui isi hatiku kalau sebenarnya aku… hm… sebenarnya aku…” aku meremas-remas tanganku. Duh, katakan tidak ya? Tapi aku malu. Disisi yang satu aku merasa malu, tapi disisi lain mengatakan bahwa aku tidak usah malu karna dia adalah suamiku. Baiklah. “sebenarnya aku mencintaimu juga. Kau tampan, kau baik. Kau selalu membuatku tertawa walau kadang-kadang kau menyebalkan. Tapi aku selalu merindukanmu jika kau tak ada. Kau tau? Aku selalu merasa kesepian jika kau tak ada. Aku tidak mau terus-terusan ditinggal olehmu… tapi, mau gimana lagi? Kau tidak bisa meninggalkan pekerjaanmu kan? Yasudahlah tidak apa-apa, jadi intinya. Aku mencintaimu ja.. giya” akhirnya, aku merasa lega sekali telah menyampaikan ini. Mudah-mudahan saja dia tidak akan terus-terusan mengejekku akan kata-kataku barusan.

Aku membalikkan tubuhku untuk melihatnya. OMO? Tidak salah lihatkah aku? Dia sudah tertidur? Lelap?????? Jadi… sia-sia saja aku berbicara panjang lebar seperti tadi? Dasar kau Jonghyun kurang ajar!

“Kim Jonghyun menyebalkan!!” aku melempar bantal ke arahnya. “aduh! Kau sedang apa sih? Aku kan sudah bilang aku lelah, aku capek hari ini banyak sekali tugasku tadi. Bisa tidak sih kau diam dan memanjakan aku? Aku ini suamimu. Tidak bisakah kau bersikap manis ketika melihat suamimu kelelahan seperti ini?” nadanya semakin kata semakin memuncak.

“ah! kau mengesalkan! Daritadi aku panjang lebar bicara, kau tidak mendengarkan hah?! Kau akan menyesal nantinya jonghyun-ah! karna aku tidak akan pernah mengulangi kata-kataku tadi!” ucapku kesal lalu terbaring disebelahnya dan menarik selimut dengan kasar.

“memangnya kau tadi bicara apa?” sekarang nada suaranya sudah kembali lembut.

“ani. Lupakan saja. Aku ngantuk. Sampai nanti pagi Kim jonghyun~” kataku lalu berpura-pura menutup mata.

“kau tidak tertidur. Aku tahu. Ayo buka matamu. Kau belum mengantuk. Coba beritahu aku sekali lagi apa yang telah kau katakan tadi?” dia tau aku tidak tidur? Kok mengesalkan sih? Aku diam tidak menjawab, berpura-pura kalau aku memang benar-benar sedang tidur.

“hm… yah, sesungguhnya aku mendengar apa yang telah kau katakan tadi. Pasti memalukan untukmu untuk mengucapkan kata-kata seperti tadi kan?”

Hah?! Dia mendengarku?!

“kau mendengarku?!” sekarang aku terbangun. Ah, ketauan deh kalau aku lagi berpura-pura tidur.

“aku tidak mendengarnya, ini hanya taktikku agar kau bangun saja hahaha, ayo katakan sekali lagi. Aku ingin mendengarnya. Aku penasaran!” katanya manja.

“shireo! Kau menyebalkan! Aku sudah mengucapkan itu dengan susah payah, aku sudah mengumpulkan nyaliku selama kau tidak ada tadi siang, dan ketika aku mengucapkan itu, kau malah tertidur dan tidak mendengarnya. Kau menyebalkan jonghyun-ah! kau menyebalkan!” tidak tahu mengapa, tapi aku ingin menangis. Dan sekarang aku malah menangis dan memukulinya pelan.

“jagiya, aku mendengar semua yang kau katakan tadi kok. Aku kan hanya bercanda. Jadi kau benar-benar mencintaiku? Jinjjayo? Hahaha, sudah jangan menangis lagi” katanya lalu menarikku ke dalam pelukannya, dia mengelus rambutku pelan. Dia tidak ingin melepaskanku dari pelukannya, karna aku terus menangis, dan dia terus berbicara untuk menenangkanku, aku jadi merasa ngantuk. Dan sepertinya aku sekarang tertidur di pelukannya.

***

Dia menangis, karna aku? Ya Tuhan, mianhae Hyun Ra. Aku kan hanya bercanda.

Aku menariknya ke dalam pelukanku dan mengelus rambutnya pelan. Dia terus menangis sampai tersedu-sedu. Apakah dia merasa begitu sedih? Mianhae.

Lama-kelamaan dia tertidur di dalam pelukanku. Karna aku pun mengantuk, aku menyandarkan punggungku ke dipan kasur dan tertidur sambil duduk. Membiarkannya tertidur di dalam pelukanku seperti ini membuatku nyaman. Lagipula, kalau aku merebahkan tubuhku dikasur, aku takut dia bangun. Aku tidak ingin membangunkannya. Jadi biarkan dia tidur di dadaku.

“jonghyun-ah bangun” aku merasakan sebuah tangan kecil memukul-mukul pundakku pelan.

“hmm” sahutku. Ternyata Hyun Ra sudah bangun, tapi dia masih dalam pelukanku.

“lepaskan tanganmu. Aku ingin bangun. Tanganmu kuat sekali, kalau aku lama-lama seperti ini, aku rasa punggungku akan patah” ujarnya membuatku tersenyum. Dia lucu sekali.

“hh” aku tersenyum tipis dan mengacak-acakkan rambutnya.

“hm! Oppa!” dia memajukan bibirnya panjang. Tapi sebentar. Oppa?? Dia memanggilku oppa?

“oppa?” tanyaku kaget. Baru kali ini dia memanggilku oppa.

“ne, Jonghyun-Oppa, kenapa?”

“ani, aku senang kau memanggilku oppa” kataku dan memeluknya lagi. “saranghae jagiya~, tetaplah seperti ini. Kau jangan pergi kemana-mana” kataku mengelus rambutnya.

“ne” dia menurut dan memejamkan matanya. Dia membalas pelukanku dan kami malah kembali tidur lagi.

…..

“jonghyun-oppa! Bangun!” serunya mengangetkan sekaligus membangunkanku. “ada apa?” tanyaku.

“sudah siang! Kau dan aku tertidur lagi! Kau tidak bekerja? Kau sudah telat loh!” serunya terlihat panik.

“tidak. Aku tidak bekerja. Ayo sini kembali kepelukanku. Kau tidak boleh kabur. Hari ini kau harus menemaniku seharian dan menjadi milikku seutuhnya” omonganku sudah mulai ngelantur.

“ah? maksudmu oppa?”

“kau akan tahu nanti” aku menyunggingkan senyum licik dan menjatuhkan dia ke kasur.

-END-

NB : gimana ceritanya? bagus ga? maaf kalau jelek *bow*

kalau suka, di like ya~ kalau perlu comment. INGET! KALAU SUKA DI LIKE, kalau udah baca trs ternyata SUKA trs ga di LIKE berarti munafik -_- kalau ga suka baru deh ga usah di like.

mohon comment-nya, bair kesananya bisa bikin FF lebih bermakna dan bagus lagi. oke oke? jeongmal gomawoyo^^

10 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s