Sweet Holiday [oneshot]

Standard

Author : Nisa Ayu Thayalisha Hadi (Nam Hyen Hyo)

Cast : Nam Hyen Hyo
Lee Hyuk Jae

Support Cast : Lee Taemin
Park Seul Ra
Kang Hyun Ra
Kim Eun Hye
Park Yoe Min
Kim Ki Bum a.k.a Key
And many more~! Find it by yourself kekeke~~

Title : Sweet Holiday

Length : one shoot

Genre : Friendship, Fluff (maybe?), Romance

Rating : G

Seperti biasa, kau tahu kan apa yang sedang kulakukan hari ini? Pagi ini? Yap! Aku selalu datang pagi dan menunggunya digerbang seperti ini, setelah dia datang, barulah aku akan masuk dan mengikutinya. Aku hanya bisa berjalan dibelakangnya, menatapi punggungnya yang lapang dan ujung-ujung rambutnya yang mencapai tengkuknya.

Dia hari ini sangat tampan, seperti biasanya. Tapi tunggu! Dia memakai jaket yang tebal, padahal ini musim panas. Tidak mungkin kan jika dia sedang kedinginan? Dia juga menutupi hidungnya dengan sarung tangan. Wajahnya pucat. Apakah dia sakit? Jinjjayo? Aigooo.

Kelasku dan kelasnya hanya diseling oleh satu kelas, jika kita berjalan seperti ini, dia pasti akan masuk terlebih dahulu ke kelasnya dan aku masih harus melewati 1 kelas lagi untuk sampai dikelasku.

“hah!” desahku menghembuskan nafas dan duduk selonjor di kursiku. Dia kenapa ya? Sudah 2 tahun ini aku menyukainya, tapi kami sama sekali belum pernah mengobrol. Aku tidak berani jika mengajaknya mengobrol terlebih dahulu. Karna dia tidak kenal aku –kenal, hanya saja tidak dekat- jadi dia tidak mengajakku ngobrol.

Dikelasku sangat ramai. Aku sampai stress mendengarnya, teriakan anak-anak kelas yang tergila-gila dengan Boy Band. Apalah itu SHINee, SJ, 2PM, CN BLUE, B2ST dan lain sebagainya. Semuanya begitu memusingkan bagiku. Aku memutuskan untuk keluar kelas untuk menghirup udara segar pagi hari. Baru saja aku melangkahkan kakiku keluar pintu, hyukkie melewatiku begitu saja dengan seorang temannya. Donghae. Sepertinya mereka ke kamar mandi. Sungguh, wajahnya pucat sekali. Aku jadi khawatir.

Jika dengan Donghae, aku kenal. Dekat. Bahkan dia adalah salah satu mantanku ._. aish jinjja aku malu sekali untuk mengakui hal ini.

3 hari menuju keberangkatan study tour kami, masing-masing anak harus memilih tempat serta pasangan duduknya masing-masing. Hanya ada 44 seats di dalam 1 bus. Aku dengan siapa??? Teman-teman sekelasku sudah memiliki pasangannya masing-masing, berhubung kelasku berisi 21 siswa, jika kelompokan berdua seperti ini, selalu aku lah yang tersisa. Aku tidak mudah bergaul, aku akui saja. Tapi aku lumayan cantik hahahaha/PLAK. Entah apa yang membuat mereka kurang dekat denganku. Katanya aku terlalu diam, sebenarnya sih aku bukan diam, tapi aku malas saja jika aku bicara, pasti ujung-ujungnya para Boy Band itu lah yang akan dibahas. Lebih baik aku bungkam dan dikenal sebagai pendiam. Padahal sesungguhnya aku ini cerewet sekali loh. Jujur, mereka semua sebenarnya biasa saja. Ya seperti SJ, SHINee dan kawan-kawannya. Banyak sekali orang yang menyukai mereka, tapi untukku pribadi sih, aku lebih menyukai orang luar. Tapi tidak dengan Hyukkie, walaupun dia orang Korea, tapi dia itu tampan. Lebih tampan dari Eunhyuk SJ. Nama mereka sama Lee Hyuk Jae, tapi dosis ketampanannya berbeda. Hyukkie jauh lebih tampan menurutku.

“siapa yang belum mendapat pasangan?” tanya salah seorang guru yang memang mengatur tempat duduk.

“saya” aku mengacungkan tanganku dengan santai. Memang selalu seperti ini, jika study tour, aku sudah biasa di tempatkan dengan orang-orang dari kelas lain yang bernasib sama denganku. Tidak kebagian pasangan untuk duduk bareng.

“yah Hyen Hyo-ah, kau belum dapat? Kenapa kau tidak ngmg? Aku kan bisa menukar tempat dudukku dengan yang lain. Kau dengan key saja hahaha” seru Taemin yang berhasil membuatku menoleh ke arahnya. Yap! Dia duduk berpasangan dengan Key. –katanya- key menyukaiku. Dia pernah sih mengatakannya secara langsung. Tapi….. hanya Hyukkie yang ku suka. Maaf.

“hm” aku hanya mengulas senyuman tipis ke arahnya lalu melihat ke arah guruku yang sedang berada di depan kelas.

“hm oke. Setelah melihat daftar, sepertinya kau akan duduk sendiri, Hyen Hyo-ah. gwaenchanayo?” tanya guruku.

“ne songsaengnim. Gwaenchana” jawabku halus dan sesopan mungkin. Paling juga aku di tempat kan dengan guruku. Maksudku, pasangan dudukku adalah guruku. Entah itu guru apa. Tapi biasanya seperti itu. Tidak mungkin kan membiarkan satu tempat kosong seperti itu?

“hyen hyo-ah, nanti kau sekamar denganku yuk!” ajak Hyun Ra memohon “iya hyen hyo-ah sekamar saja dengan kami” lanjut Seul Ra dan kawan-kawannya yang memang diketahui akan tidur sekamar. “boleh” jawabku singkat lalu meninggalkan mereka. Bukan karna aku tidak suka! Kau tau kan alasannya? Jika aku lama-lama berada disini, bisa-bisa aku akan mendengar teriakan-teriakan mereka tentang BB lagi, malas sekali!

……….

“hyen hyo-ah, jaga dirimu baik-baik ya nanti disana” ucap umma lembut dan mencium kedua pipiku.

“iya, kau jaga dirimu baik-baik ya” sambung appa dan mencium kedua pipiku juga. Seharusnya aku merasa beruntung dapat dicintai oleh orang tua seperti ini dan disukai oleh semua teman-teman. Tapi sepertinya aku kurang bersyukur.

“hah” ucapku lemas lalu duduk selonjor di kursi yang sudah ditetapkan. Lelah sekali tadi habis menarik koper seberat itu. Akhirnya aku bisa bersandar juga. Guru siapa ya yang bakal duduk disebelahku? Tidak enak sekali rasanya harus ditemani oleh guru, jadinya tidak leluasa.

“geser dong” seru seorang namja yang tepat berdiri disampingku. Siapa sih? Ini kan tempat untuk guru! Dan gurunya itu pasti perempuan, jika gurunya laki-laki pun pastinya tidak akan sekasar ini omongannya. Guru juga kan punya sopan santun walaupun berbicara dengan muridnya yang umurnya terpaut sangat jauh. Tapi aku rasa yang akan duduk disebelahku ini pasti guru perempuan. Tapi kenapa ini suara cowok? Apa guruku sebelum berangkat memakan kacang lalu keselek dan suaranya jadi berat seperti itu?

Aku mendongak perlahan, dari gayanya sepertinya aku tahu. Dia memakai sepatu sneakers, celana jeans hitam, baju putih oblong yang dilapisi dengan kemeja, kacamata hitam, dan rambut yang sedikit acak-acakan mungkin karna angin diluar tadi.

“misi! Aku mau duduk!” usirnya lagi sambil mendorong-dorong aku untuk geser.

“hyukkie?” tanyaku terkejut. Hyukkie kah??? Sebenarnya namanya adalah Lee Hyuk Jae, semua temannya memanggilnya Hyuk Jae atau Eunhyuk, entah darimana, aku malah memanggilnya Hyukkie. Sepertinya aku orang satu-satunya yang memanggilnya Hyukkie.

“ah, mianhae. Maksudku Hyuk jae. Kau Hyuk Jae?” kataku lagi.
“ne, wae geurae? Keberatan? Kalau iya, aku bisa cari tempat duduk lain. Tapi Park Songsaengnim menyuruhku untuk duduk disini. Benarkan ini seats ke 2 dari depan?” katanya.

“hm, ne. Silahkan duduk” kataku sambil menepuk tempat yang akan didudukinya dan bergeser.

“songsaengnim bilang katanya aku akan duduk sama guru, tapi kenapa kau….” baru saja setengah kalimat yang aku keluarkan, tapi dia memotong pembicaraanku.

“aku daftar mendadak karna kemarin-kemarin aku sakit. Karna tidak ada tempat kosong lagi, jadi aku disuruh duduk disini. Katanya disini kosong kok” jelasnya lalu tertidur.

“aish! Jinjja!! Kenapa kau tertidur sih?! Baru saja bisnya mau jalan. Ini belum jalan malah” omelku sambil menepuk-nepuk bahunya pelan.

“hya! Kau bisa diam tidak sih? Aku ini belum sembuh total! Kau yang duduk disebelahku seharusnya merawatku! Diam! Jangan berisik! Nanti pusingku kambuh lagi! Aku ngantuk! Kau puas?! Diam kau!” bentaknya. Omooo dia memang terkenal dingin sekali anaknya. Tapi tak kusangka dia bisa membentakku seperti ini. Rasanya orang tuaku saja belum pernah berteriak kepadaku seperti ini. Tapi kenapa Hyukkie begitu jahat kepadaku? “hya! Hyuk Jae! Kau membentak uri Hyen Hyo? Hah?! Jangan seenaknya!” sewot Jonghyun yang ternyata mendengar bentakkan Hyukkie kepadaku. Tapi dia malah mengabaikannya dan menyumpel kedua telinganya dengan headset. Dengan refleks aku melepaskan headset itu dari kedua telinganya. Dan dengan hati-hati aku berbicara, berusaha mengeluarkan suara selembut mungkin “katanya kau ingin tidur, jangan pake headset, nanti pendengaranmu rusak” kataku lalu mengembalikan headset itu ke dalam genggamannya. “aish! Jinjja!!” kata Hyukkie geram, aku hanya tersenyum penuh kemenangan.

“hya! Lee Hyuk Jae!” teriak Taemin dari belakang kursiku. “hyen hyo-ah, gwaenchanayo?” sekarang giliran Key yang bertanya. “ne, gwaenchana” kataku sopan. Teman-teman cewekku yang lain sedang heboh membicarakan tentang idolanya masing-masing dan sepertinya tidak mendengar bentakan Hyukkie tadi. Biarlah. Kau lihat sendiri kan? Betapa banyaknya orang yang menyayangiku. Tapi aku selalu merasa dikucilkan dan tidak disayangi! Mengapa sih?! Padahal sudah jelas-jelas aku ini sangat beruntung! Di sayang seperti itu dengan seluruh teman-temanku, orang tuaku, saudara-saudaraku, tapi tidak dengan namja yang sekarang berada di sampingku. Aku ingin tapi…. aku tidak bisa memaksakan perasaannya. Biarkan saja aku memendam perasaan ini sendiri.

……..

“hyukkie! Ireona! Sudah sampai!!” bisikku tepat ditelinganya agar dia bangun. Habisnya, kalau Cuma diteriaki atau digoyang-goyangkan badannya, dia tidak bangun-bangun sih. Kalau dibisikkin kan geli, bisa aja nantinya dia bangun. Tapi kalau dengan cara ini dia masih tidak bangun juga, yasudah aku tinggal saja.

“hhh… Ha ni…” ha ni? Dia menggumam? Ha ni? Dia mengigau? Ha ni? Apakah itu nama seorang yeoja? Mengapa hatiku rasanya seperti tersayat mendengar Hyukkie menyebut nama yeoja itu. Padahal yeoja itu pun aku tidak tahu.

“hyukkie ireona” kali ini aku memencet hidungnya yang mancung agar dia tidak bisa bernafas. Ups! Dia malah membuka mulutnya untuk bernafas, jadi percuma saja! Menyebalkan!!!

Lalu bagaimana cara membangunkannya? Semua orang sudah pada keluar dari bis, aku ingin keluar tapi kakinya yang panjang menghalangiku. Aaaah everyone help me~~

Air… ne, air, aku butuh air!! Siapa tahu saja jika aku membanjurnya, dia bisa bangun. Dia ganteng, pinter, perfect deh pokoknya tapi kenapa tidurnya kaya kebo? Bukan kebo lagi, naga kayanya!

Aish!! Airku kan habis…. aku tidak mempunyai persediaan air minum lagi. Ada tapi juga di koper, koper kan ada dipinggir bis, bagaimana bisa aku kesana? Aku benar-benar terkunci!! Hyukkie, cepat bangun! Aku ingin cepat-cepat masuk ke hotel dan tidur dikasur. Badanku sakit semua rasanya tidur di bis seperti ini. Hyukkie, jaebal…

“hyukkie….” aku memukul lengannya pelan karna sudah pasrah dan putus asa. Aku harus membangunkannya dengan cara apa aku tidak tahu.

“park ha ni… jaebal…” sungguh? Sungguh? Dia menarik kepalaku dan membenamkannya ke dalam dadanya yang lapang. Dia mengelus rambutku pelan. Dia begini karna aku atau karna mimpinya? Apa dia menganggapku sebagai park Ha Ni? Iya kan? Benarkan namanya? Siapa Park Ha Ni itu? Kenapa dari tadi dia selalu menyebutkan namanya. Apakah yeoja itu sangat special di hidupnya sampai-sampai masuk kedalam mimpinya dan sepertinya dia sangat menikmati mimpinya, buktinya dia tidak bangun-bangun. Tch! Kenapa hatiku rasanya seperti baru saja menabrak pohon? Begitu sakit.

…….

“dengar ya anak-anak! Hari ini kalian akan ke museum, catatlah benda-benda unik yang ada di dalam sana. 3 saja. Lalu nanti kalian ambil gambarnya dan juga buatlah artikelnya. Jadi kalian membuat 3 artikel. Mengerti? Kerjakan ini bersama dengan temanmu yang sebangku di bis supaya tidak repot untuk membaginya lagi” kata Kim Songsaengnim menjelaskan. Wait! Sebangku?? Itu artinya aku harus bersama-sama lagi dengan Hyukkie kah? Jinjjayo? Seharusnya aku senang, sangat senang. Tapi entah kenapa karna kejadian kemarin, sepertinya harapanku pupus sudah. Kalau harapanku itu manusia, mungkin tulangnya sudah rontok semua, jadi dia tidak punya tulang seperti amoeba dan kawan-kawannya.

“boleh satu jenis, tapi berbeda species ya binatangnya” sambung Kim Songsaengnim setelah mendapat pertanyaan dari teman-temanku.

…….

Kenapa kita berdua diam-diaman seperti ini sih? Aaaah membosankan!

“ingin binatang apa?” ucapku ketus “terserah kau saja” jawabnya tidak kalah ketusnya denganku. Kurang ajar! Ternyata aku selama ini sepertinya sudah salah menyukai namja! Menyebalkan dia kalau di dekati seperti ini!

“wow lucu sekali” kataku kampung ketika melihat sejejeran kupu-kupu aneh di hadapanku “tidak usah kampung. Memalukan!” ejeknya sambil celingak-celinguk seperti mencari seseorang. Aku hanya menggembungkan pipiku karna kesal. Hyukkie menyebalkan sekali.

…….

“ayo kita buat artikelnya. Kau bawa iPad kan? Kita cari saja di internet. Cepat!” suruhku. “ani. Aku capek sekali hyen-ah, kau saja ya yang buat artikelnya” ucapnya malas! Enak saja! “tch! Tidak bisa! Kau harus membantunya! Bagaimanapun juga ini kan tugas kelompok” kataku menyangkal keluhannya.

“jaebal… aku capek. Kau tahu kan aku baru sembuh sakit? Kalau sakitku kambuh lagi bagaimana?” serunya mengeles “kau ini kok lemah sekali sih? Kalau penyakitmu kambuh, minum obatmu babo!”

“kau saja yang mengerjakan, aku ingin jalan-jalan” kukuhnya lalu meninggalkanku duduk di kursi taman seorang diri. Kurang ajar! Bagaimana bisa aku menyelesaikan artikel ini!!!! Handphone saja sepertinya kurang cukup. Kenapa dia bawa iPadnya sih?? Aku sedang malas jalan, tidak ingin menyusulnya. Tapi kalau tidak menyusulnya nanti tugas ini… mengapa berdekatan dengan namja yang kusuka malah jadi seperti ini sih? Ternyata dia sama sekali tidak menyenangkan. Jungkir balik deh sifatnya dengan dugaanku. Hhh.

“hya! Babo-ya! Sini iPad-mu! Aku tidak butuh bantuanmu!” ku tarik iPadnya kasar dari genggamannya, dia menatap tajam tepat ke arah mataku. Katakan, apa yang harus aku lakukan? Katakan! Jantungku sepertinya akan lepas dan tidak pernah kembali ke tempatnya semula. Dia menatapku lekat sekali. Omoo “katanya kau tidak butuh bantuanku, kenapa kau malah mengambil iPadku? Itu namanya sama saja kau meminta bantuanku secara tidak langsung. Bodoh!” dia menempelkan telunjuknya di dahiku dan mendorongnya, tidak sopan!

“menghilanglah kau dari peradaban! Menyebalkan!” ketusku lalu membalikkan badanku dan pergi. Dia pikir aku tidak bisa apa-apa tanpa dia? Memangnya dia itu siapa sih? Kok aku jadi merasa menyesal ya telah menyukainya? Bodohnya aku menyukai namja kasar seperti dia!

………

“sungguh…. capek sekali” aku merenggangkan otot-otot tubuhku. Capek sekali rasanya duduk berjam-jam di taman ini. Mataku hanya tertuju pada iPad-nya dan mengerjakan tugas. Dan dia? Entah pergi kemana, aku sih berharap dia tidak akan pernah lagi kembali ke peradaban! Mengesalkan!

Dulu aku tergila-gila sama Hyukkie, ketika sekalinya saja aku dekat dengannya, aku juga jadi tergila-gila membencinya. Emang dasar dianya juga gila!

Ash! Jinjja! Ini kan sudah jam 5, semua siswa harus kembali ke bus. Aduh mampus deh kalau aku telat. Mana itu bus parkirnya di depan lagi. Masa harus lari sih? Capeeeeeeeeeeeeeeek T-T

………

“awas” kata namja yang berdiri tepat disebelahku. Yeah, aku datang ke bus ini lebih awal darinya, padahal harusnya dia yang lebih awal datang karna dia hanya jalan-jalan, aneh. Memangnya dia jalan-jalan kemana saja sih? Aku jadi penasaran. Aku tidak bergeming, memang aku salah, aku duduk ditempatnya, kalau dia ingin duduk ditempatku pun, dia tidak bisa masuk karna terhalang oleh kakiku. Aku hanya berpura-pura tidak mendengar ucapannya saja, kebetulan aku sedang memakai headset, ya walaupun lagunya tidak terputar sama sekali.

“minggir!!” teriaknya semakin keras, “la la la la la” aku masih berpura-pura menyanyi seolah tidak mendengar sepatah katapun darinya.

“kau bisa minggir tidak sih?! Aku bilang MINGGIR!!!” dia melepaskan headset yang sedang ku kenakan dan meneriakkan kata ‘minggir’ di telingaku. Aduh! Ini… telingaku rasanya… uuuuhh!! Help me~ aku seperti bukan sedang berada dekat malaikat, melainkan iblis. Wajahnya memang seperti malaikat, tapi hatinya seperti iblis! Bagaimana bisa aku menyukai namja galak seperti ini?! Aaaah Hyen Hyo babo-ya!!

Aku dengan terpaksa menggeserkan pantatku untuk sampai ditempat dudukku sambil masih mengelus-elus telinga kananku yang terkena korban teriakannya. Tolong lah, sepertinya akan keluar banyak belatung dari telingaku ini. Rasanya nyut-nyutan, dia teriak keras sekali. “HYA! NAMJA BABO!!!” teriak Taemin, Key, jonghyun, Heechul dan beberapa teman namjaku lainnya sambil berdiri berseru ke arahnya, tapi dia malah memakai headphone-nya dan memejamkan matanya. Lihat saja, iPad-nya masih ada di genggamanku, tidak akan pernah ku kembalikan! Untung-untung dia tidak sadar, jadi nih benda bisa jadi milikku. Atau ani ani ani! Tidak sudi aku menjadikan benda miliknya untuk jadi milikku, kayanya lebih pantas jika dibakar saja. Aku tersenyum licik.

“wae?” tanya Hyukkie kepadaku sambil melepas headphone-nya.

“ani” kataku lalu memalingkan wajah melihat pemandangan diluar jendela. “ash! Aku ngantuk sekali. Tidur di bus tidak enak. Bolehkah aku meminjam pundakmu?!” MWO?! Aku dapat merasakan kelopak mataku yang membesar, mungkin orang diluar sana yang melihat ke arahku pasti kaget. Hyukkie bilang apa barusan?! Dia ingin tidur bersandar di pundakku? Jinjjayo? Sungguh, aku senang sekali. Disisi lain aku merasa senang, tapi disisi yang lain lagi aku merasa dia hanya mempermainkanku.

“setelah enak-enaknya kau membuat kupingku rusak dan budek begini karna teriakanmu, lalu kau sekarang ingin membebani pundakku dengan kepalamu hah?! Ash jinjja! Tidak mau!” ucapku kasar lalu pura-pura tidur memejamkan mata “tch! Dasar yeoja tempramen!” lalu dia menarik kepalaku untuk menyandar dipundaknya, aku hanya menelan ludah tanpa membuka mataku, masih berpura-pura untuk tidur, lalu aku merasa ada sesuatu yang berat menindih kepalaku. Kepalanya-kah?! Dia tidur di atas kepalaku?? Jinjjayo??? Aaaah aku ingin menangis bahagia, rasanya aku ingin terjun dari atas bis lalu guling-guling sepanjang jalan sampai hotel tempat kami menginap.

Walaupun kepalanya terasa berat, tapi tidak apa-apa, jarang sekali bahkan tidak pernah aku merasakan sebahagia ini. Pantaskah aku bahagia? Pantaslah! Jika kau menjadi aku?? Bagaimana perasaanmu? Pasti senang bukan? Hahaha lalu aku tertidur sungguhan dan tidak terasa ada sepasang mata yang melihat ke arah kita dan memotret kita berdua, aku terbangun ketika melihat flash yang mengarah ke arahku, ternyata benar, si Cho Kyuhyun kurang ajar itu yang memotretku! Dia suka mengerjaiku. Kurang ajar! Bagaimana jika dia mencetak foto itu dan menyebarkannya? Aduh! Mampus, mati deh! Aku masih tidak bisa menggerakkan kepalaku, karna kepalanya masih menindihku. Rasanya setelah ini kepalaku akan tongklek, lama-lama seperti ini ternyata sakit juga. Uuuh leherku sakit sekali.

………

“hyen hyo-ah, ayo latihan dulu yuk! Buat perpisahan kelas XII nanti, kan kita katanya ingin menari” ajak Yeo Min dan Eun Hye, Eun Hye dan Yeo Min memang jagonya menari, dia mengajakku untuk menari juga. Katanya gerakanku ya pantaslah dibilang untuk menari di depan teman-teman. Sebenarnya aku senang menari juga, jadi apa boleh buat? Sayang sekali rasanya kalau kesempatan ini aku tolak. “baiklah” lalu lagu yang katanya akan dibuat untuk menari di setel. Rencana kita, awalnya akan ada tarian solo dulu dari masing-masing, lalu baru ketiga dari kita menari bersama. Aku dapat urutan kedua, lalu aku memilih lagunya Rihanna ft David Guetta – Who’s That Chick? Aku membuat gerakanku sendiri selincah dan sebagus mungkin yang kira-kira tidak membuat para penonton bosan melihat gerakanku.

Aku menggoyangkan pinggulku dan menaruh tanganku di atas kepala. Tiba-tiba cklek… pintu terbuka saat aku sedang menari “hyen hyo-ah, sini kau!” otomatis aku langsung berdiri mematung melihat siapa orang yang sekarang berada di depan pintu dan –dengan tidak sengaja- melihatku menari. Tarian tadi sangat memalukan, sungguh….. aaaah aku berharap ada malaikat yang membawaku pergi dan menimbunku dalam-dalam ditumpukkan sampah!

Dengan pelan-pelan dan merapihkan bajuku, aku berjalan ke arahnya. “bagaimana bisa kau menari dengan baju tidur seperti itu? Hahaha” dia terkekeh keras sekali, aku memang memakai baju tidur, lalu? Memangnya salah? Kan kita tadi hanya latihan, masa langsung harus memakai kostum? Kan pakai baju tidur pun tidak masalah, aku memicingkan mataku, menatapnya tajam “hya! Kau ada perlu apa kesini?! Tak usah mengomentari penampilanku! Jika tidak berkepentingan, keluar saja” kataku keras lalu membanting pintunya, sepertinya pintu ini mengenai mukanya, entah itu mengenai apanya, tapi aku yakin dia terbentur oleh pintu ini hahaha tidak apa. Tapi kasihan juga rasanya, dia membuka pintunya lagi dan langsung menarikku paksa keluar kamar. Dia seperti ingin menculikku. Mengerikan sekali rasanya.

“lepas Hyukkie! Ini sudah malam!” aku memukul-mukul tangannya yang menggenggam tanganku erat. “bisa tidak kau diam?! Aku jadi seperti menculik orang tau tidak?!” celotehnya “kau memang sedang menculik orang!” jawabku.

“temani aku jalan-jalan. Hanya kau yang aku kenal, sudahlah, ikut saja!” katanya lalu melepaskan tangannya, dan kini tangannya malah merangkulku. Aigooo rasanya jantungku ingin cepat-cepat keluar dari sangkarnya, tulangku rasanya seperti ingin kabur dan pergi ke Eropa, jadi nanti aku akan jadi seperti amoeba. Aku tak punya tulang~~~ gak punya tulang~~

“kau jangan GR dulu! Aku mengajakmu kesini karna kau juga bersalah! Lihat! Hidungku merah karna pintu tadi! Kau menutupnya keras sekali! Sakit tahu!” katanya sambil mengusap hidungnya dengan tangan kirinya. “ngomong-ngomong tadi kau sedang menari ya? Untuk apa? Tarianmu… uhm… aneh” sambungnya lalu tertawa lebar. Kurang ajar! Kalau ingin mengejekku bilang saja! Sialan! Aku menepiskan tangannya yang berada dipundakku, “jangan lagi-lagi kau menyentuh pundakku! Kau menyebalkan! Aku ingin kembali ke kamarku! Aku ngantuk!” seruku dengan nada menggertak lalu meninggalkannya sendiri. Malu sekali rasanya dia tadi melihatku seperti itu, ditambah lagi dia bilang tarianku aneh, uuuuh jadi ingin menangis!

“hya! Hyen hyo-ah, tunggu” dia menarik tanganku dan dia berhasil membuatku menghadap ke arahnya. Dan dia juga berhasil melihat mukaku yang sudah tergenang air mata! Bodohnya aku harus menangis disaat situasi yang seperti ini! Hilangkan aku Tuhan, ku mohon!

“ya! Kau menangis? Waeyo? Karna aku? Aduh! Kenapa wanita itu gampang sekali menangis sih?! Sudah jangan menangis! Aku tidak suka melihat orang menangis. Diamkan air matamu” suruhnya. Bodoh! Ya mana bisa!

“bodoh! Mana bisa aku mendiamkan air mataku. Air mata ini keluar sendiri! Aku tidak menangis! Aku kelilipan!” tegasku dengan suara yang sedikit lirih.

“kau menangis. Jujur saja. Karna apa? Aku?” katanya lalu membungkukkan badannya agar tingginya sama denganku. Wajahnya kini persis didepanku. Dekat sekali. Hanya berjarak sekitar 10 cm saja. Baru kali ini aku seperti ini.

“aku mengantuk. Aku ingin tidur” kataku salah tingkah dan menunduk “kau menangis karna aku ya? Mianhae” dia mendekapku dan membuatku jatuh ke dalam pelukannya, ini kedua kalinya aku seperti ini! Dia seperti ini karna dia ingin menenangkanku atau dia ingat dengan yeoja yang pernah dia sebut namanya waktu itu? Aku jadi ragu. “maafkan aku. Tadi aku berbohong. Tarianmu bagus. Hanya saja, tadi aku merasa sedikit gengsi. Sudahlah jangan menangis. Kau tunggu disini dan jangan kemana-mana” dia melepaskan pelukannya dan pergi. Entah dia pergi kemana. Apa dia akan mengerjaiku? Tapi hati kecilku berkata tidak. Maka dari itu aku terus menunggunya disini, lama sekali. 30 menit sudah, mataku sudah berair dan merah. Ngantuk sekali rasanya. Dan tanpa kusadari, aku malah tertidur dikursi panjang ini.

………

“hyen hyo-ah, ireona! Ceritakan pada kita apa yang kau lakukan dengan eunhyuk-ssi? Kau beruntung sekali bisa dekat dengannya” sergap teman-teman yang sekamar denganku ketika aku membukakan mataku sedikit “uhm?” aku melihat kesekeliling, ini dikamar? Perasaan tadi malam….

-flashback-

“aish! Menyusahkan saja! Kenapa dia tidur disini sih?!” kata Hyukkie yang ternyata membelikan es krim untukku dan untuknya lalu menggendongku sampai dikamar. “buka pintunya!” dia menendang-nendang pintu kamar lalu Eun Hye membukakannya “ini temanmu berat sekali. Yang mana kasurnya?” dia marah-marah tidak jelas dan keringatnya mengucur, karna taman depan dengan kamarku ini lumayan jauh loh! Lagian suruh siapa dia menyuruhku untuk menunggu selama itu. Lalu dia membaringkan tubuhku dikasur dan menyibakkan poni yang menutupi dahiku –itu menurut pengakuan temanku-

-flashback end-

Ash! Rasanya memalukan diperlakukan seperti itu dengan Hyukkie di depan teman-temanku. Tidak tahukan dia bahwa hampir semua yeoja dikelasku menyukainya? Yap! Dia memang banyak disukai yeoja, karna ketampanannya mungkin. Dan aku salah satu orang yang beruntung karna –sempat- dekat dengannya –akhir akhir ini- dan itu pun hanya karna dia pasangan tempat dudukku di bus.

“ah hyen hyo-ah…. aku iri sekali denganmu! Poni yang menutupi dahimu itu disibak oleh namja tampan itu! Apakah kau tidak merasakannya?” rengek Seul Ra yang memang suka sekali dengan Hyukkie “ani” jawabku enteng dan mengambil handphone-ku yang ada dibawah bantal.

‘ah, ada pesan, tapi ini nomernya siapa ya?’ gumamku dalam hati.

‘mianhae’

Memangnya orang yang mengirim pesan kepadaku ini punya salah denganku? Tapi siapa ya? Aku rasa tidak ada yang punya salah denganku kecuali Hyukkie babo itu! Tapi tidak mungkin dia punya nomerku, darimana dia tahu? Ah, mungkin orang salah kirim pesan.

Baru saja aku ingin memasukkan kakiku ke kamar mandi, tiba-tiba handphone-ku berbunyi. Ash! Mengganggu saja, setelah ini kan kita masih harus mengunjungi tempat-tempat lainnya sementara aku belum siap-siap!

“yeobosaeyo?” ucapku ketus dan galak karna kesal. Malas juga sih.

“hya! Kau tidak tau terima kasih sekali sih! Udah baik-baik aku menggendongmu sampai kamar. Aku belikan es krim tuh untukmu, tapi sepertinya sudah mencair. Hey! Aku minta maaf padamu karna tadi malam membuatmu menangis, kenapa kau tidak menerima maafku?” ocehnya panjang lebar yang sudah pasti aku tau siapa pelakunya.

“hyukkie? Kau tau darimana nomerku?” tanyaku sedikit mengalihkan pembicaraan. Kau tahu? Setelah aku berkata ‘hyukkie’ temanku yang tadinya sedang asik mengobrol langsung mengerubungiku dan berbisik-bisik….

‘eunhyuk-ssi? Jinjjayo?’

‘hyen-ah, itu eunhyuk-ssi? Aku ingin bicara’

‘itu eunhyuk-ssi? Benarkah?’

‘aigoo beruntung sekali jadi kamu bisa di telfon eunhyuk-ssi’ dan lain lain, berisik sekali!

“jangan alihkan pembicaraan yeoja gila! Cepat menghindar dari teman-temanmu! Berisik sekali! Keluar kamarmu, cepat!” lalu dia memutuskan sambungan telfonnya. Dengan menurut aku keluar kamar dan sudah kudapati dia menyandar di tembok dan memasang wajah yang…. errr cool abis!

“kau tidak menerima maafku?” katanya memulai pembicaraan. “kata siapa? Jangan sok tahu! Kau lihat? Aku masih belum bersiap. Tolonglah kita bicarakan ini nanti saja di bus. Aku ingin mandi” ucapku buru-buru dan membalikkan badan untuk membuka knop pintu kamar. “tunggu! Kau memaafkanku tidak?” tanyanya lagi.

“kenapa kau bersikukuh sekali sih?! Memangnya kau salah apa? Aku sudah memaafkanmu kok!” kataku lalu menepiskan tangannya yang tadi mencoba untuk mencegahku.

“hm baguslah, simpan nomerku baik-baik. Karna hanya orang penting saja yang punya nomerku. Kau beruntung anak kecil” katanya santai seraya mengacak-ngacakkan rambutku pelan lalu meninggalkanku dengan gagahnya. Anak kecil? Memangnya aku masih kecil? Dasar tua! Ah bodo amat, tapi tadi dia…. uuuuh tampan sekali….

……….

Tumben sekali dia sudah duduk manis di kursinya, biasanya dia selalu datang telat di bus. Tapi sekarang dia sudah asik dengan headphone dan iPod-nya.

“permisi” kataku ramah dan menyunggingkan senyum sekilas kilat (?)

Dia berdiri dan mempersilahkanku masuk tanpa berkomentar. Lega sekali rasanya hari ini dia tidak berkomentar dan tidak banyak bicara. Sepertinya hari ini akan menjadi hari yang nyaman dan damai tanpa suaranya. Haaah terimakasih Tuhan, kau mengabulkan permohonanku. “hah” aku menghela nafas panjang lalu tersenyum “ya! Bisa tidak kau tadi tersenyum seperti itu? Mengapa tadi senyummu kilat sekali? Seperti tidak ikhlas” ocehnya, aduuuh baru saja aku mengucapkan rasa syukur, tapi namja disebelahku ini rasanya…. errr menyebalkan. Aku pikir hari ini akan menjadi damai, tapi tidak sepertinya. Ini adalah ocehan awalnya, kesananya pasti akan lebih parah lagi.

Aku tidak menjawab hanya menatapnya tajam dari ujung rambut sampai didagunya lalu naik lagi dan berhenti di matanya, “bisakah kau tidak menatapku seperti itu?” tanyaku yang ketahuan sedang melihatiku dari tadi tanpa membuang pandangannya. Dia salah tingkah dan membuang muka “ah ne ne mianhae ha ni-ah, hm kau…” dia melihatku lagi dan kaget melihat siapa yang sekarang berada disebelahnya. Nama yeoja itu dia sebut lagi. Enek.

Dia selalu menyebut nama yeoja itu. Pacarnya-kah? Jika iya, kenapa aku merasa dia memberi harapan padaku? Kalau dia mencintai seseorang kenapa dia selalu membuatku melayang dan menjadikanku ingin memilikinya? Dia terlalu memberikan harapan untukku. Jahat sekali. Sepertinya kelenjar air mataku kali ini bekerja lagi.

Ah shit! Kenapa air ini malah menetes dan menyusuri pipiku? Dengan cepat aku menghapusnya dan membenamkan kepalaku di jok kursi.

“kalau boleh tau, park hani itu siapa? Apakah foto yeoja yang ada di iPad-mu juga Park Hani?” tanyaku memberanikan diri tanpa menatapnya. Yap! Sempat aku melihat isi iPad-nya, dan tidak sengaja aku malah menemukan foto yeoja itu.

Dia cantik, kulitnya yang putih pucat, bibirnya yang berwarna pink ranum, hidungnya yang mancung, matanya yang indah dan memiliki raut wajah yang kecil itu kah yang Hyukkie sukai? Dia jauh berbeda denganku. Memang ku akui Park Hani begitu sempurna, rambutnya yang panjang bergelombang tergerai, poninya dia sibakkan ke samping kanan dan deretan giginya yang rapih ia perlihatkan didalam foto itu. Sungguh seperti putri.

“mengapa kau tahu namanya? Dan mengapa kau tiba-tiba menanyakan itu?” tanyanya balik tanpa menjawab pertanyaanku yang tadi.

“kau selalu menyebutnya ketika tidur” jawabku seadanya tanpa menutup-nutupi “kenapa kau tidak berani melihatku? sinI!” dia menggerakkan kepalaku paksa agar dapat menatap matanya. Aku menunduk sebentar dan kemudian dia mendongakkan kepalaku lagi “jangan menunduk. Tatap aku” katanya tegas. Aku hanya berusaha menurutinya saja walaupun aku tidak sanggup dan rasanya air mata yang sudah tergenang di pelupuk mataku ini akan menetes.

“kau tanya apa tadi?” tanyanya “siapa Park hani?” kataku dengan bibir gemetar, berusaha untuk menahan air mata ini. Tolong lah jangan keluar sekarang, kumohon.

“dia…” dia terlihat gugup dan terdiam “apa barusan aku menyinggungmu saat aku memanggilmu hani?”

“ne” ucapku singkat tapi ngena (?)

“uhm, mianhae. Dia… sudahlah lupakan! Lagipula dia sudah tidak ada” jawabnya lalu menyandar di joknya “maksudmu?” kataku yang masih dalam tanda tanya besar “dia sudah ada surga, menikmati dunia barunya yang mungkin lebih indah dari dunia kita” serunya.

“uh?” jadi dia sudah meninggal? Tapi kenapa Hyukkie selalu menyebut namanya? “kau suka padanya?” tanyaku frontal yang berharap mendapatkan jawaban yang akan menjawab tanda tanya besar ini.

“ne, dia dulu yeojachingu-ku. Tapi dia meninggalkanku karna penyakitnya. Menyedihkan bukan jadi aku?” ucapnya lirih dan tersenyum simpul. Matanya berkaca-kaca.

“ash! Sudahlah, bantu aku untuk melupakannya” sambungnya “caranya?” aku juga tidak ingin membahas yeoja itu lebih dalam lagi. Walaupun aku merasa kasihan, tapi aku lebih mementingkan perasaanku yang sekarang seperti sedang diinjak-injak mobil truk. Sakit sekali.

“coba kau ulangi pertanyaanmu” suruhnya. Pertanyaan? Pertanyaan yang mana? Aku jadi bingung. “pertanyaan yang mana?” kataku bingung.

“pertanyaan yang barusan kau ajukan untukku” jawabnya.

Uhm? Apa dong?

Terakhir aku bertanya adalah ‘caranya’ tapi masih iya?

“caranya?” aku bertanya.

“bukan bodoh! Bukan yang itu! Yang bermakna sedikit kenapa? Tch!” katanya lalu memencet hidungku yang mancung ini. Uuuh sakit bodoh!

Aku terus berkutik dengan pikiranku. Mencoba mengingat-ingat pertanyaan apa saja yang sudah ku ajukan untuknya hari ini… hm…

“bisakah kau tidak menatapku seperti itu?”

“kalau boleh tau, park hani itu siapa? Apakah foto yeoja yang ada di iPad-mu juga Park Hani?”

“siapa Park hani?”

“maksudmu?”

“kau suka padanya?”

Apa mungkin iya pertanyaan itu? ‘kau suka padanya?’ jika iya, apa maksudnya? Tadi dia bilang, yang lebih bermakna sedikit. Aduuuh berurusan dengan orang pinter itu susah ya memang!

“kau lama sekali berpikirnya. Apakah kau sebodoh itu?” ucapnya memecahkan konsentrasiku dan menepak kepalaku yang sip! Berhasil membuat ingatanku hilang lagi dan membuyarkan konsentrasiku. Kurang ajar.

Ah sudah sampai. Lagipula bodoh sekali aku memikirkan hal itu sampai sebegitu seriusnya. Malas sekali membantunya untuk melupakannya, yang ada aku malah jadi korbannya dan akan memakan hati nantinya.

“nanti malam, ku tunggu kau di lobi hotel”

………

“Ada apa?” kataku yang menghampirinya hanya dengan menggunakan piyama dan rambut yang digulung ke atas.

“kau seperti seorang istri yang ingin menggoda suaminya” kata Hyukkie mengejek lagi. Kurang ajar!

“kau menyuruhku kesini lagi-lagi hanya untuk mengejekku? Lupakan saja! Aku ingin tidur!” ucapku ketus. Kesal sekali! Rasanya aku ingin melempar kursi sofa ini ke mukanya.

“tunggu hyen hyo-ah babo! Bukan itu maksudku. Untuk apa aku mengajakmu kesini kalau hanya untuk mengejekmu? Itu mah, bisa kulakukan kapan saja hahaha” kekehnya.

“lalu kau ingin apa?”

“meneruskan misi kita”

“misi apa?” tanyaku dengan raut muka tidak mengerti.

“membantuku untuk melupakan hani” jawabnya. Ooh aku baru mengerti.

“ayo sebutkan semua pertanyaan yang tadi siang kau ajukan untukku di bis” suruhnya lagi. Hm oke, akan ku coba untuk mengingatnya. Tadi katanya ‘caranya’ itu salah. Aku mencoba mengingat percakapanku dari awal ketika aku permisi untuk lewat.

“permisi”

“….”

“bisakah kau tidak menatapku seperti itu?”

“….”

“bisakah kau tidak menatapku seperti itu?” tanyaku pada Hyukkie, siapa tahu saja benar. Aku ingin menanyakannya satu persatu.

“bukan itu bodoh! Coba ingat-ingat lagi” hm baiklah.

“kalau boleh tau, park hani itu siapa? Apakah foto yeoja yang ada di iPad-mu juga Park Hani?”

“….”

“kalau boleh tau, park hani itu siapa?” tanyaku lagi. Itu kah?

“bukan yang ituuuuu kenapa kau ini bodoh sekali sih?!!” celotehnya. Dasar, marah marah saja bisanya!

“kau selalu menyebutnya ketika tidur”

“….”

Ah ini mah bukan pertanyaan. Coba kuingat lagi deh.

“siapa Park hani?”

“….”

“siapa park hani?”

“bukan yang itu…. sedikit lagi!!! Ayo!” katanya. Grrr lama-lama kesal juga!

“….”

“maksudmu?”

“….”

“maksudmu?” baiklah. Ini terakhir saja! Otakku sudah mumet mikirinnya!

“bukan hyen hyo-ah, mengapa otakmu seperti tersangkut kayu sih???? Bodoh sekali ah!” ucapnya geram sendiri.

“ya sudah. Tidak penting! Aku ngantuk. Sampai besok” kataku mengucapkan salam perpisahan untuk malam ini. Aku menguap. Capek sekali. Ngantuk. Aaah daripada memikirkan misi tidak jelas itu, lebih baik aku tidur dan kembali masuk ke alam mimpi saja.

“jangan gitu dong! Ayo coba pikir-pikir lagi” katanya yang masih saja tidak menyerah.

“ah sudahlah Hyukkie, aku capek tau!”

“ayo ingat-ingat lagi, setelah kata ‘maksudmu’ sekali ini lagi sajaaa tolonglah. please. Jaebaaaal” katanya memohon-mohon.

Ah baiklah, sekali ini lagi saja kan? Kalau setelah ini masih salah juga lebih baik aku tidur saja!

Hm….

“kau suka padanya?”

“….”

Benarkah? Pertanyaan ini kah?

“kau suka padanya?” aku rasa ini adalah pertanyaan terakhir. Ah mudah-mudahan saja.

“ani” ah? maksudnya? Kenapa aku malah semakin dibuat bingung.

Seperti mengetahui maksud raut mukaku, dia langsung menjelaskannya “itulah misi kita, kau bertanya ‘kau suka padanya?’ lalu aku jawab ‘ani’ tidakkah kau ingin mengatakan ‘wae’?” ujarnya dengan pedenya.

Hm, boleh juga. Alasannya apa yaa…. apakah akan membuat hatiku sakit lagi?

“wae?” kataku menuruti perintahnya.

“karna sekarang aku menyukaimu” jawabnya sambil tersenyum. Aah tampan sekali. Tapi benerkan apa yang barusan aku dengar? Apakah sekarang mataku melebar? Apakah pipiku memerah? Tapi yang pasti aku dapat merasakan angin dengan bebasnya masuk kemulutku karna aku menganga kaget.

Dia menyukaiku? Jinjjayo? Aku tidak salah dengar kan? Kupingku memang korban dari teriakannya, tapi kali ini kupingku normal kan? Benarkan yang dia ucapkan?

Tapi… bagaimana bisa namja yang galak seperti itu menyukaiku?

“aku suka padamu. Kau? ah, jangan salah paham! Aku menyukaimu bukan karna pelampiasan dari hani. Aku memang menyukaimu dari awal kita berangkat study tour. Aku rasa kau orang yang unik. Lucu sekali” katanya lalu menyubit kedua pipiku.

“aw” teriakku seraya mengusap pipiku.

“kau bagaimana?” tanyanya lagi.

“hm… samakan saja deh” jawabku sekenanya. Aku masih tidak berani untuk bilang bahwa aku juga suka padanya, tapi yang pasti hari ini aku terlanjur senang.

Liburan kali ini benar-benar indah! Sungguh!

“kenapa tidak pasti gitu sih jawabannya?” ah! kenapa dia meribetkan semua masalah sih?!

“malu bodoh!”

“tidak usah malu. Kau suka padaku ya? Sejak kapan?”

“2 tahun yang lalu. Puas kau?” ketusku lalu membalikkan badan meninggalkannya.

“aku baru 3 hari yang lalu saja. Tapi sepertinya aku yang lebih memperhatikanmu daripada kau memperhatikanku selama 2 tahun ini” serunya.

“jangan sok tau!”

“buktinya waktu itu aku menggendongmu sampai kamar. Dalam 3 hari ini juga, aku tau kau menyukai lagunya CN Blue yang LOVE GIRL itu kan? Padahal kau tidak suka artis korea. Sudah cukup bukti? kamu knp judes sekali sih dengan namja chingu-mu? Ayo dooong, aku seriusan loh”

“aku tau”

“lalu?”

Aaaah sungguh!!! Aku membalikkan tubuhku dan memeluknya. Pelukan ketiga. Nyaman rasanya aku bisa berlindung di dadanya yang bidang ini. Semoga selanjutnya akan terus begini.

-END-

gimana ceritanya? bagus ga? maaf kalau jelek *bow*

kalau suka, di like ya~ kalau perlu comment. INGET! KALAU SUKA DI LIKE, kalau udah baca trs ternyata SUKA trs ga di LIKE berarti munafik -_- kalau ga suka baru deh ga usah di like.

mohon comment-nya, bair kesananya bisa bikin FF lebih bermakna dan bagus lagi. oke oke? jeongmal gomawoyo^^

4 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s