My Nightmare [Part 3]

Standard

Author : Nisa Ayu Thayalisha Hadi (Nam Hyen Hyo)

Cast :

Nam Hyen Hyo

Cho Kyuhyun

Go Ah Ra (Kyuhyun’s Sister)

Title : My Nightmare [Part 3]

Length : on going~

Genre : Romance, Fluff, Comedy

Rating : PG-15

Preview

“sekali lagi kau berani macam-macam padaku, akan kulakukan yang lebih dari pada tadi. Habis kau ditanganku Hyen!”

“monyet! Antar aku pulang!”

Ingin cepat-cepat pulang dan tidak ingin ketemu Kyuhyun lagi. Mukaku memerah pasti! Pipiku panas! Jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya dan aku gugup.

Aigo!!

Kyuhyun, mati kau ditanganku!

======================================================================

“stop!” seruku memberi instruksi pada si monyet itu agar berhenti. Aku melamun daritadi. Aish! Gara-gara Kyuhyun! Gila, dia gila. Jeongmal!

“mundur. Tadi harusnya belok ke kiri. Setelah itu ada pertigaan kau lurus saja. Patokannya, setelah supermarket, kau belok kanan dan berhenti pada satu-satunya apartemen disitu, aku tinggal disitu” kataku memberikan penjelasan. Setidaknya, jika aku melamun lagi, si monyet ini tidak akan nyasar.

Aku memandangi jalan lewat jendela mobil. Sudah sore, hampir gelap. Lagian, si Ah Ra kemana sih? apa dia kabur? Kurang ajar! Bisa-bisanya dia selalu menyuruh adiknya menjagaku. Kalau dia tidak bisa menjagaku, bilang saja. Lagipula aku tidak butuh bantuannya! Kenapa dia selalu membantuku sih? terus juga, kenapa dia selalu baik padaku padahal setiap hari aku selalu membentaknya. Yeoja aneh dasar!

“Cho Kyuhyun bodoh!” marahku di dalam mobil si monyet ini sambil menendang dashboard dengan kakiku. Aku melipat kakiku dan membenamkan kepalaku di atas lutut “ya kau monyet! Kenapa tadi tidak ada yang berani masuk dan menolongku?!” aku melayangkan tatapan sinisku ke arahnya. Dia menunjukkan gummy smilenya.

“maaf. Tapi tidak ada yang berani” jawabnya santai sambil membelokkan stir. “benar-benar tidak ada yang berani?” ia tidak menjawab, hanya menganggukkan kepalanya. Aish jinjja! Benar-benar mental banci! Cho Kyuhyun saja ditakuti, apa yang harus ditakuti darinya? Bela diri saja dia tidak bisa. Ditendang olehku saja dia langsung tepar! Huh.

“bahkan si badan besar yang berkepala kecil itu juga tidak berani?” tanyaku lagi. Iya, si namja itu. Namja aneh yang berkepala kecil. Dia tidak berani juga? Padahal badannya besar!

“ne, tidak ada yang berani. Bahkan leeteuk hyung yang tertua saja tidak berani berbicara dengannya jika dia sedang marah” jawabnya.

“aish jinjja! Kenapa kalian ini seperti pengecut? Memangnya apa yang ditakuti dari namja tidak berguna seperti Cho Kyuhyun itu?” kataku sambil bersandar di jok mobil dan menaikkan kakiku di atas dashboard.

“turunkan kakimu, tidak sopan” katanya tanpa menjawab pertanyaanku.

“heh, jawab pertanyaanku bodoh!”

“sudah sampai. Turunlah” sejak kapan jarak antara dorm Super Junior dengan apartemenku jadi sedekat ini? Kenapa sudah sampai? Aku masih penasaran, kenapa mereka semua takut dengan Kyuhyun. Bahkan sepertinya aku bisa lebih menyeramkan daripada Kyuhyun. Tapi kenapa diantara mereka tidak ada yang takut denganku? Cih.

Aku membuka pintu mobil dan cepat-cepat keluar lalu berjalan menuju apartemen-ku. Tin tin. Aku memutar badanku malas melihat si monyet itu di dalam mobil dari kaca mobilnya yang terbuka “selamat sore~ semoga kita nanti bertemu lagi ya. Dan kapan-kapan, jadilah pacarku^^ aku duluan. Dah” dia melajukan mobilnya dengan cepat.

Oh, aku tau kenapa tadi aku merasa sampai disini cepat sekali, ternyata dia membawa mobil dengan kecepatan penuh. Baru saja tadi aku masih bisa melihat mobilnya dengan utuh tidak bergerak, 5 detik kemudian mobilnya sudah hilang entah kemana. Aku berjalan gontai memasuki pintu utama apartemen ini dan naik lift menuju lantai 16.

“ne, yeobsaeyo?” aku meraih ponselku yang sedari tadi bergetar di dalam tasku dengan malas lalu mendekatkannya ketelinga kananku. “yeoja gila! Awas saja kalau kau bilang macam-macam pada noona-ku! Habis kau!” heh? Siapa ini? Aku memandang layar ponselku sesaat. Nomor siapa ini?

“nugusaeyo? Kau sepertinya salah sambung!” ucapku ketus lalu menekan tombol merah dan keluar dari lift menuju rumah nomor 158.

Drrt drrt drrt drrt drrt ponselku bergetar sedari tadi. Siapa sih? nomornya aku tidak kenal. Ya bagaimana bisa kenal? Nomor yang aku punya dan aku ketahui di seluruh jagat raya ini kan hanya milik Ah Ra-unnie saja. Aku malas mengangkatnya! Lagipula sepertinya dia salah sambung! Tapi dari suaranya, sepertinya pernah dengar…… hm… nuguya?

AH!

“YEOBSAEYO? KYUHYUN-AH!” teriakku sedetik kemudian saat aku memencet tombol hijau. Hahaha dia pasti kaget mendengar teriakanku, lalu jantungan, dibawa kerumah sakit, tidak bisa tertolong dan… MATI! Bagus!

“aish! Jinjja!!!” ucap Kyuhyun geram yang disusul oleh tawaku. Hahaha pasti kupingnya budeg sekarang.

“hyung…” aku mendengar Kyuhyun berbicara pada seseorang, tapi tidak jelas. Pasti ponselnya di jauhkan. Huh. Ada apa dia menelfonku? Tau darimana nomorku? Ah, pasti dari noona-nya.

“YA! BODOH! DIMANA KAU?” teriakku.

“kyuhyun!!!” panggilku. Tidak ada jawaban juga. Kenapa lama sekali? Matikan saja kalau begitu.

“aku matikan ya?” tanyaku. Tetap tidak ada jawaban. Tapi kalau dimatikan, nanti aku penasaran dan tidak tahu apa yang akan dia bicarakan. Tunggu sebentar lagi saja deh, mungkin dia sedang bicara dengan seseorang.

Aku melepaskan tas selempanganku dan menjatuhkannya asal di atas kasur. Masih dengan tangan kanan yang memegang ponselku tentunya. Suaranya berbisik-bisik. Samar-samar. Sudah pasti nih, ponselnya pasti di jauhkan. Apa yang dia bicarakan sih?

Aku melepaskan jaket yang tadi ku kenakan dan menaruhnya di lemari gantung.

“kyuhyun-ah!” panggilku sekali lagi.

“chamkkanman Hyen, aku harus bicara pada seseorang dulu. Jangan matikan ponselnya” suruh Kyuhyun. Ya sudah.

“Hyen…”

“ne?” jawabku ramah.

“YA! KAU MEMBUAT KUPINGKU BUDEK BODOH!” teriak Kyuhyun kencang sekali. Aish, jeongmalyo. Kupingku sakit sekali. “HAHAHAHAHHAHA” tawanya menggelegar keras sekali. Padahal ponselnya sudah ku taruh di atas kasur tapi suaranya tetap terdengar dengan jelas. Padahal aku tidak men-loudspeaker-kannya. Kenapa bisa keras sekali?

Aaaah! Telingaku berdenyut-denyut jadinya. Kepalaku jadi pusing. Dia terlalu keras tadi saat berteriak. Aku memegang kuping kananku yang menjadi korban teriakannya.

“AKU MEMAKAI MIC LOH~ HAHAHAHA BAGAIMANA KUPINGMU? ENAK TIDAK RASANYA SETELAH MENDENGAR TERIAKANKU HUH?”

“HYEN…” aku tetap menaruh ponselku di atas kasur. Tapi suaranya bisa terdengar walaupun aku sekarang sedang berdiri di pinggir kasur. Bagaimana jadinya kalau tadi aku men-loudspeaker-kannya? Pasti gendang telingaku pecah.

“HYEN… GWAENCHANA?” tanya Kyuhyun masih dengan micnya –sepertinya-

“HYEN, KAU ADA DISITU KAN?” aku tidak merespon sama sekali. Ah kyu, matikan dan berhenti bicara! Kepalaku pusing sekali. Ah! teriakanmu terlalu keras tadi. Kepalaku pusing.

Aku memegang kepalaku dengan kedua tanganku. Memejamkan mataku erat dan berjalan ke arah lemari dengan goyah. Aku bersandar dan merosot kebawah sampai akhirnya aku terduduk bersandar. Bodoh! Kyuhyun bodoh! Kepalaku sakit sekali!

“babo…” itulah kata terakhir yang terucap dari mulutku sebelum aku tergeletak pingsan.

***

“akhirnya siuman juga kau! kau membuatku khawatir” ucap seorang namja yang kini tengah duduk di samping kasurku. Heh? Aku kenapa ada dikasur? Bukankah tadi aku duduk di dekat lemari? Kenapa bisa pakai selimut juga? Dan lagi, KENAPA KYUHYUN BISA ADA DISINI?

“KYAAAAA! KAU MAU APA HUH?” aku bangun terduduk dan menjauhinya .

“aku menolongmu bodoh! Kenapa pikiranmu buruk sekali sih?” tanyanya.

Eh? Menolongku?

“kau pingsan tadi! Kenapa kau tidak bilang bahwa kau pingsan?” pertanyaan bodoh macam apa yang baru dilontarkannya? “ya! Mana bisa aku memberitahumu bahwa aku pingsan. Kau ini ternyata cukup bodoh juga!” ledekku.

“ya setidaknya kau bilang padaku bahwa kau akan pingsan” eh? Pertanyaan kurang pintar macam apa lagi ini?! “mana aku tau kalau aku ini akan pingsan. Kenapa kau bodoh sekali sih?” tanyaku.

“untung aku segera kesini. Kepalamu pusing lagi memangnya?” jadi Kyuhyun langsung kesini setelah tidak mendengar respon apapun dariku tadi saat menelfon? Ah! dia hampir membunuhku tadi! Kurang ajar!

“kau tau?! Kupingku rasanya seperti baru saja diledakkan!” marahku, dia tertawa. Aigo, kenapa tawanya bagus sekali? Ah, aniyo Hyen-ah, apa yang kau pikirkan?! Dia itu orang yang hampir saja membunuhmu. Dan mungkin suatu saat akan benar-benar membunuhmu! Jangan terjebak!

“kau duluan kan?! Suruh siapa kau berteriak seperti itu?”

“tapi tidak usah pakai mic!”

“tidak seru kalau tidak begitu hahaha” jawabnya masih sambil tertawa renyah. Aish! Jangan tunjukkan tawamu bodoh! Kau senang sekali sepertinya melihatku menderita!

“pulang sana kau! suruh siapa kau kesini?” usirku.

“yasudah, mumpung kau sudah sadar, aku ingin pulang. Oh ya, tadi kau hanya memakai tangtop loh, kau tidak sadar kalau sekarang jaketmu sudah melekat lagi di tubuhmu?” aku tersentak mendengar ucapannya barusan. Tangtop? Jaket? Mataku menjalar kebawah melihat pakaian apa yang sedang ku kenakan. Aigo. Dia mengganti pakaianku, berarti dia… menyentuhku!

“YA! CHO KYUHYUUUUUUUUUUN” teriakku sekuat mungkin. Tawanya semakin keras bahkan sesekali dia memukuli kasurku. Apakah begitu lucu?

BYUR

Aku menyiramnya dengan air yang berada di gayung, mampus! Biarkan saja! Suruh siapa dia mengerjaiku seperti itu?!

“ya ya ya, aigooo hyen, kenapa kau membanjurku?” tanyanya sambil melihat pakaiannya yang basah karna baru saja ku banjur. Jadi tadi aku keluar kamar dia tidak sadar? Apakah tertawa karna kejadian itu bisa membuatnya tidak peka akan sekitar?

“PULANG KAU!” usirku.

“hyen, bajuku basah!” erangnya. “bodo amat! Apa peduliku!” ucapku tidak peduli.

“ya hyen! Kau berani macam-macam denganku lagi?!” tanya Kyuhyun dengan wajah sangar, dia kenapa bisa secepat itu berubah sih?

“aku sudah terlanjur melihat tubuhmu tadi” kata Kyuhyun. Aigooo, bodoh! Kenapa bisa-bisanya Kyuhyun datang saat aku hanya memakai tangtop sih? mana tadi aku dalam keadaan pingsan lagi! Apa yang dia lakukan ya?! Aish, aku tidak bisa mengingatnya karna memang aku tidak sadar. Kyuhyun menggendong dan memakaikan jaketku saja aku tidak tahu!

“KYU! PULANG!” teriakku. Tapi dia terus berjalan ke arahku. Memojokiku sampai akhirnya aku tidak bisa berkutik lagi karna sebuah tembok yang menghalangiku. Kurang ajar! Sejak kapan ada tembok disini?

“kulitmu mulus sekali loh” goda Kyuhyun. Aaaah! Dia meraba-raba aku ya tadi? Wah, bahaya! Dia cari mati. Benar-benar cari mati kau Kyu!

BLETAK!

Aku melempar gayung yang sedari tadi ada digenggamanku dan memukul kepalanya.

“ah Hyen!” erang Kyuhyun kesakitan.

“jeongmal!” kata Kyuhyun geram, aku mengambil gayung tadi dan memukulinya lagi. “mau apa kau huh? Aku bisa buat kau mati sekarang jika kau berani menyentuhku Mr. Cho” seruku sambil terus memukuli badannya dengan gayung.

“hyen hyen! Hyen! Sudah!”

“bodoh! Kau ingin melawanku? Sejak kapan aku bisa dilawan huh?!” kataku yang masih saja memukulinya.

“HYEN!” teriaknya cukup keras. BLETAK. Pukulan terakhir. Di kepala. Mantap bukan?

“hyen!!! Badanku habis semua gara-gara kau! pasti memar-memar. Aaaah!” ujar Kyuhyun dengan nada menyesal.

“aku pulang saja! Berlama-lama denganmu itu bisa membuat nyawaku terenggut. Bertemu denganmu itu malapetaka bagiku!” sewotnya lalu menutup pintu kamarku dengan keras.

“hahaha Hyen Hyo dilawan~!” ucapku bangga sambil mengelus-ngelus gayung yang tadi menjadi alatku untuk menghabisinya.

Tadi dia melihatku pakai tangtop? Dia memakaikan jaketku? Dia menggendongku dan meniduriku? Dia menyelimutiku? Dia menungguku sampai aku sadar? Ngomong-ngomong berapa lama dia menungguku sadar? Memangnya namja seperti dia bisa bersabar? Aku tidak yakin. Ah, paling juga dia baru sampai saat aku mau siuman.

Eh? Apa ini? “neomu yeppeo” ujarku saat melihat kalung berbandul liontin tergeletak di dekat lampu kamarku. Aigo, bandulnya cantik sekali!

Aku berjalan menuju meja rias dan memakainya. “ah Hyen, kau cocok sekali memakainya. Mungkin itu hadiah yang dikirim dari Tuhan hehehe” ucapku pada diri sendiri.

BRAK

“YA! KAU MENGAGETKANKU!” Kyuhyun sedang apa sih? kenapa dia datang lagi dan kenapa tiba-tiba?

“kau lihat kalung liontin yang ada disini?” tanya Kyuhyun sambil menunjuk ke arah meja kecil yang berada di samping kasurku. “ini” jawabku sambil menunjuk ke arah leherku. “sini! Itu punyaku!” kata Kyuhyun sambil berusaha melepaskan kalung itu.

“shireo! Ini sudah aku pakai! Kau juga meninggalkannya. Berarti ini resmi menjadi milikku!” kataku tidak mau kalah. Suruh siapa meninggalkan barang secantik itu di kamarku? Semua barang yang ada di dalam kamarku itu milikku! Termasuk kalung liontin ini juga!

“lepaskan!” pinta Kyu.

“shireo” kataku sambil melindungi kalung liontin itu.

“hah. Terserah kau saja. Itu buatmu saja! Kau lebih pantas memakainya” kata Kyuhyun menyerah lalu berjalan ke arah pintu kamarku “memangnya ini buat siapa?” ups. Aku menutup mulutku. Lancang kau Hyen, untuk apa kau bertanya. Nanti dia keGR-an. Bodoh! Lagian ini tidak ada hubungannya denganmu. Ingin dia memberi apapun kepada yeoja, kau tidak perlu tau yeoja itu kan? Aish jinjja, aku keceplosan!

“noona” jawabnya singkat  “besok dia kan berulang tahun. Tadinya aku ingin memberinya itu sebagai hadiahnya” jawabnya santai. Tumben sekali dia bisa berbicara sesantai itu.

“tapi sepertinya kau lebih cocok memakainya. Terlihat lebih cantik saat ada di lehermu” ucap Kyuhyun lembut dan tersenyum hangat padaku. Aku tersenyum balik lalu menundukkan kepalaku. “ini” aku menyerahkan kalung itu kepadanya “untuk Ah Ra-unnie kan? Aku jadi tidak enak” ucapku sama lembutnya dengan Kyuhyun. “ani, kau pakai saja” kata Kyuhyun menerima kalung yang kuberikan lalu memakaikannya padaku.

“itu buatmu. Anggap saja hadiah dariku”

Hadiah? Darinya?

Kenapa aku jadi merona begini? Aaaah aku malu sekali. Kenapa jantungku kembali berdebar ya? Kenapa aku merasa seperti ada banyak peri di hatiku? Kyaaa aku senang sekali. Senang dikasih kalung liontin karna aku tidak pernah memakainya. Ani! Bukan itu. Itu adalah alasan keberapa mengapa kau senang, faktor utamanya karena…

ANI ANI ANI! BUKAN!!!

Aaah! Bukan Kyuhyun. Bukan itu! Sudahlah. Lupakan. Sudah malam.

“ayo Hyen, tidur dulu” ujarku pada diri sendiri.

***

“GYAAAAAA” oh God, aku mimpi buruk! Aaah pasti karna kemarin aku masuk ke dorm sialan itu! Kenapa sih kalau habis dari sana, malamnya aku langsung mimpi buruk?

Aku bangkit dari kasurku dengan malas dan menuju kamar mandi. Sebenarnya ini masih jam 5, tapi aku ingin berangkat ke kampus lebih pagi, aku ingin menenangkan diriku dulu. Mimpi yang tadi malam benar-benar buruk bagiku. Hah~

Aku sudah siap dengan pakaianku. Karna sekarang masih musim gugur, jadi aku tidak berpakaian terlalu tebal walaupun cuaca diluar lumayan dingin. Aku menyusupkan kedua tanganku ke dalam sweater berwarna pink ranum-ku dan memutar badanku ke kanan dan ke kiri. Aku melangkah maju semakin dekat dengan meja riasku. Ah? kalung ini? Aku lupa kalau daritadi malam aku menggunakannya, dan saat mandi pun aku tidak sadar -_-

Sungguh, kalungnya cantik sekali.

Aku memegangi liontinnya dengan senyumku yang hangat. Andai saja umma bisa memberikanku kalung semanis ini. Pasti aku tidak akan pernah membuangnya.

Ah sudahlah! Persetan dengan masa lalumu dan umma-mu itu Hyen, ayo berangkat! Kau tidak mau kan datang di kampus saat keadaannya sudah ramai? Cepat berangkat sekarang, pasti masih sepi.

“hyen hyo” panggil seseorang. Ne? Siapa ya? Ah aku tau! Mukanya familiar, dia ini teman sekelasku. Tapi kita tidak pernah mengobrol.

“ah anu…” ucapnya terbata-bata “MWO?!” ucapku dingin dan dia terlihat semakin bergetar “itu… uhmm” aish! Dia ingin ngomong apa sih?! cepat!

“Ya! Cepat katakan!” ucapku ketus “kau di panggil oleh Song Songsaengnim” ujarnya begitu saja lalu kabur. Ish! Apakah dia sebegitu takutnya dengan ku? Memangnya aku ini lebih menyeramkan daripada sadako setan Jepang itu? Padahal aku ini cantik. Masa dibentak saja semua orang pada takut? Ingin jadi apa besarnya kalau hanya bentakan saja dia takut?

“ne, songsaengnim memanggil saya?” tanyaku saat memasuki ruangannya “duduklah” ujarnya mempersilahkan. Aku duduk di hadapannya dan langsung bersandar di kursi yang kini tengah aku duduki.

“begini. Kau kan baru saja mengalami kecelakaan dan sepertinya keadaanmu masih belum pulih…” katanya yang masih menggantung “kami baru saja diberi tahu oleh pihak Tae Kwon Do Korea Selatan, mereka akan mengadakan lomba bela diri se-Korea, apakah kau akan mengikutinya?” tawarnya. Hah? Lomba bela diri? Aaah jeongmalyo??? Aku ingin sekali^^ pasti jika menang aku bisa mendapatkan banyak uang! Aaah! Ini kesempatan bagus Hyen, ayo terima!

“ne, songsaengnim!” jawabku semangat sambil menunjukkan eyes-smile-ku di hadapannya “kau yakin? Bagaimana dengan keadaan fisikmu?”

“ah gwaenchana songsaengnim, aku sudah sehat! Kau lihat ini!” kataku sambil memperlihatkan beberapa jurus andalanku, Song Songsaengnim hanya tersenyum hangat melihat tingkahku “ah ne ne ne. Ini formulir pendaftarannya, biar nanti pihak sekolah saja yang mengisi dan mendaftarkanmu. Kau ini anak paling berbakat bela diri di kampus ini. Dan kami bangga, masalah biaya, biar pihak sekolah saja yang menangani” jelasnya. Geurae? GRATIS? AAAH! JINJJAYO~~~~ aku bahagia sekali.

“kamsha hamnida songsaengnim, kamsha hamnida” kataku sambil membungkuk berkali-kali di hadapannya sebelum pergi keluar ruangannya.

“ah! jinjja, senang sekali” aku keluar ruangan Song Songsaengnim dengan wajah berseri-seri dan tanpa tidak sadar aku terus berjalan dengan senyuman yang terus bertengger di bibirku “annyeong annyeong” sapaku pada setiap orang yang melewatiku. Mereka bukannya menjawab malah melihatku heran. Bagaimana tidak heran? Yang biasanya aku melayangkan tatapan sinis kepada mereka, sekarang aku malah menyalaminya hangat. Huh.

“AH RA BODOH!!!” teriakku saat kuyakini yeoja yang tengah terduduk di bangku taman sekolah itu Ah Ra-unnie, dia melihat ke arahku dan tersenyum “sini” panggilnya sambil melambaikan tangannya.

“hah. Kau tau kenapa aku berseri-seri seperti ini?” tanyaku padanya saat aku sudah duduk disebelahnya.

“wae? Pasti karna Kyuhyun” jawabnya asal “YA!” aku mencubit pahanya yang terbungkus dengan stock-ing. “aku akan mengikuti lomba bela diri se-Korea Selatan, dan kau tau? Itu GRATIS!!! Kalau aku menang, pasti aku akan mendapatkan banyak uang, dan kau.. aku akan mentlaktirmu…” belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, dia menjambak rambutku “ya! Unnie!” teriakku.

“kau tidak boleh ikut! Akan ku katakan pada mereka bahwa kau mengundurkan diri!” marahnya “unnie! Kau tidak mengerti aku? Aku ini senang sekali bisa mengikuti perlombaan itu! Dan ini sebuah ajang yang kebanggan bagiku unnie!” ucapku kesal karna dia mengaturku seenaknya. “kau belum sembuh total! Tadi malam saja kau pingsan. Iya kan?” tanyanya.

“aku pingsan karna adikmu yang bodoh itu berteriak menggunakan mic ditelingaku! Kepalaku jadi pusing!” belaku. Iya kan? Memang seperti itu kan kenyataannya?

“ani ani. Kau tidak boleh ikut. Kejadian tadi malam sudah membuktikan bahwa kepalamu masih belum sembuh total. Kau bahkan masih sering pusing” kata Ah Ra-unnie mulai santai.

“tapi unnie… kau bukan siapa-siapa ku. Apa pedulimu padaku? Kau bahkan bukan saudara kandungku. Kenapa kau terlalu mengaturku? Kau pikir memangnya enak hidup diatur oleh orang yang sama sekali tidak kita kenal? Dengar ya Cho Ah Ra, sampai kapanpun kau mengaturku, aku tidak akan pernah mau mendengarkanmu. Dan satu lagi! Jangan ganggu hidupku lagi kalau kau masih berniat untuk mengatur hidupku!” bentakku sambil berdiri lalu pergi meninggalkannya yang masih menatapku dengan tatapan tidak percaya dan kecewa. Dia bukan siapa-siapa bagiku! Bahkan sedarah daging saja tidak! Jangankan sedarah daging, kita punya ikatan persaudaraan saja tidak! Bagaimana bisa dia mengaturku seenaknya? Takkan ku biarkan dia mengundurkan diriku dari perlombaan itu! Dia tidak bisa menolak keinginanku. Jika aku menginginkannya, maka tidak ada satupun orang yang aku perbolehkan untuk menggagalkannya. Dan aku paling benci dengan orang yang tidak bisa mendukungku, walaupun alasannya baik, tapi tetap saja dia tidak mendukungku. Persetan sekali dengan semua makhluk yang ada di dunia ini.

***

“bodoh! Ah Ra bodoh!” dumelku sepanjang pejalanan menuju halte bus. “seenaknya saja dia mengatur hidupku!” ocehku tanpa henti.

Setelah menunggu 15 menit lamanya, akhirnya bus tujuanku datang dan aku mengisi kursi yang kosong. Aku duduk disebelah seorang siswi. Hm, mungkin masih SMA. Cantik juga. Kulitnya putih mulus.

“aigo aigo, kenapa Kyuhyun begitu tampan?” eh? Dia bicara denganku? Atau dengan siapa? Apa bicara sendiri? Dia berbicara sambil melihati handphone-nya yang berwallpaper Kyuhyun. Cih! Namja seperti itu saja dikagum-kagumi. Apa bagusnya.

Aku memandanginya aneh. Dia sebenarnya tadi bicara dengan siapa sih? aku jadi takut kalau yeoja yang duduk disebelahku ini ternyata rada gila karna menyukai Kyuhyun -_- padahal baru saja aku memuji fisiknya.

“ah jinjja, kenapa dia tampan sekali?” dia masih saja mengoceh yang aku sendiri tidak tahu dia sedang berbicara pada siapa.

“unnie, kau tau Super Junior?” tiba-tiba tangannya menyenggol tanganku, membuatku harus melihat ke arahnya dan menanggapi pertanyaannya. Aku menggeleng.

“ah unnie, kau harus tau! Masa boyband negara sendiri kau tidak tau? Mereka itu tampan-tampan unnie!” cih! Kenapa aku selalu mendengar nama ‘Super Junior’ dan ‘Kyuhyun’ dimanapun? Bisa tidak sih kedua nama itu menghilang dari pendengaranku?

“apalagi Cho Kyuhyun. Magnae-nya itu. Aaah dia tampan sekali unnie, aku pernah bertemu dengannya waktu di mall…”

“dan wajahnya tanpa make-up seperti jalanan belum di aspal” aku menimpali kata-katanya yang belum dia selesaikan lalu berdiri untuk mencari tempat duduk lain. Gila lama-lama kalau aku duduk disebelahnya. Padahal wajahnya cantik, bodinya bagus, kulitnya mulus, tapi sayang sekali otaknya terkontaminasi dengan Super Junior. Aku kasihan melihatnya.

Ah itu dia, ada ibu-ibu. Lebih baik aku duduk disitu saja. Mana mungkin kan ahjumma itu tergila-gila juga dengan Super Junior, yang ada dia pasti akan berantem dengan suaminya gara-gara gila Super Junior.

Aku langsung duduk disebelahnya tanpa mengucapkan kata permisi satu katapun. Dia melihat ke arahku dengan tatapan menyelidik “kau anak kuliahan ya?” tanyanya. Aku mengangguk dengan cepat lalu melihat ke arah yeoja tadi. Padahal wajahnya sangat cantik, sungguh. Tapi kenapa otaknya sedikit gila? Aish! Ada juga ya orang yang seperti itu di dunia ini ternyata.

“hah. Kau tau? Anakku itu bikin kepalaku pusing” eh? Dia sedang curhat padaku? Aku mendelik ke arahnya dan menyunggingkan senyuman anehku. Dia bicara padaku kan? Ya ampun, ternyata ahjumma ini juga sedikit gila.

“setiap hari dia merengek ingin dipertemukan dengan para member Super Junior”

Uhuk uhuk aku terbatuk karna tersedak dengan air liurku sendiri. Super Junior? Super Junior lagi? Jinjja! Sampai kapan hidupku akan terbebas dari kata Super Junior.

“bahkan anakku minta dipindahkan untuk satu kampus dengan siapa itu yang termuda di Super Junior” katanya sambil mengelap dahinya menandakan bahwa dia pusing, karna tidak ada apapun di dahinya, keringat saja tidak ada.

“aku saja sampai bingung. Kau bagaimana?” tanyanya. Eh? Dia menanyakan pendapatku?

“kau tadi bercerita denganku ahjumma? Dan kau menanyakan tentangku? Aku muak dengan Super Junior. Mereka tidak berguna dan hanya membuat otak para yeoja bahkan namja terkontiminasi dengan virus-virusnya. Membuat orang-orang semakin gila saja!” ucapku ketus lalu pindah tempat duduk lagi. Untung bus kali ini tidak se-ramai biasanya. Jadi banyak tempat kosong. Sehingga aku bisa berpindah-pindah tempat. Aku pusing. Disana Super Junior. Disini juga Super Junior. Disana Kyuhyun. Disini juga Kyuhyun. Kapan 2 kata itu tidak terucapkan dari mulut seseorang?!

Sudahlah. Terserah saja, sekarang aku duduk disebelah seorang namja yang errr lumayan juga. Daripada wajahnya Kyuhyun dan kawan-kawannya itu. Bagusan namja ini. Tampan juga. Lumayan. Ternyata pindah-pindah tempat duduk seperti ini ada hikmahnya juga.

“neo! Kau bukan fanboy kan? Jangan katakan tentang Super Junior dan membernya!” kataku sebelum akhirnya nanti dia berbicara tentang Super Junior lagi. Dia terkekeh melihat tingkahku “hahaha tenang saja” jawabnya santai sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Baguslah. Setidaknya aku bisa tenang sampai kerumah.

***

1 minggu kemudian

Lusa aku akan berangkat ke Daegu untuk melakukan perlombaan itu. Hah. Doakan aku. Semoga aku menang. Aku butuh uang untuk biaya hidupku sehari-hari. Karna aku tidak mungkin mengemis. Apalagi akhir-akhir ini aku baru saja mulai bekerja 4 hari yang lalu. Sementara sebelumnya aku tidak bekerja, jadi uang simpananku semakin menipis saja setiap harinya. Aku harus menang.

“maafkan aku. Aku mendukungmu” tiba-tiba suara Ah Ra-unnie terdengar jelas di telingaku.

“lupakan saja” suruhku.

“mianhae”

“hm”

“sekarang kau ku tlaktir es krim. Yuk~” tawarnya.

“tidak. Terima kasih. Tapi aku harus latihan untuk lusa” kataku menolak penawarannya secara baik-baik.

“maaf aku tidak bisa menemanimu di Daegu nanti, aku ada urusan, tidak apa kan?”

Lagipula siapa yang butuh pertolonganmu bodoh?

***

In Daegu

Sebelum pertandingan, aku ingin berjalan-jalan disekitar penginapan sebentar saja. Sekalian untuk mengumpulkan tenagaku yang akan aku pakai habis-habisan besok.

Ah~ disini udaranya sejuk sekali.

Aku terus melangkahkan kakiku menjauh dari penginapan. Aku tidak mempedulikan lagi dengan teriakan para orang-orang yang menyuruhku agar tidak keluar dan bersantai di penginapan. Malas aku berada disana, berisik dengan para peserta yang lain. Satu sekolah, mewakilkan satu orang. Dan aku mewakilkan kampusku.

Hah. Kakiku sudah terasa pegal, pasti sudah jauh aku berjalan. Aku melihat ke sekitarku. Sepi sekali. Ini di gang kecil. Aku membalikkan tubuhku untuk kembali ke penginapan. Itu tujuanku. Tapi saat aku membalikkan tubuhku, aku melihat 7 orang namja berandalan sedang menghadangku. Badannya tidak terlalu besar, tapi aku tidak bisa melawan mereka ber7 sekaligus.

Mereka ber7 menyeringai ke arahku dan melangkah maju, membuatku semakin mundur.

“ya Hyen, santai. Jangan teriak, nanti mereka malah semakin ganas. Kau santai dulu, rileks-kan badanmu. Kau pasti bisa menghabisi mereka semua” umpatku dalam hati.

2 orang dari mereka berjalan mendekatiku dan mengunci tanganku ke belakang. Aish! Shit! Pegangannya kuat sekali! Satu orang lainnya jalan ke arahku dan memegang pipiku, aku menendang titik kelemahannya dan pada detik itu juga dia tersungkur ke tanah. Kau mengalahkan satu orang Hyen. Ayo kau pasti bisa! Semangatku dalam hati.

Dua orang namja mengunci tanganku kebelakang dengan tangannya. Mereka memegangiku erat. Satu dari mereka 4 yang ada dihadapanku sekarang, yang wajahnya bisa kubilang paling lumayan diantara semuanya mendekat ke arahku. Dia tersenyum kecut lalu mendekatkan wajahnya ke arahku. Aku memalingkan wajahku agar tidak terjadi hal-hal yang diinginkan.

Aku hanya bisa mengandalkan kakiku sekarang karna tanganku sedang dipegang oleh 2 namja brengsek yang ada dibelakangku. Aku menendang perut lalu mukanya sambil sedikit melompat. Dengan itu, namja yang tadi seperti ingin menciumku tersungkur juga ketanah dengan namja satunya. Tapi dengan gerakan seperti tadi, membuat kedua orang yang memegang tanganku itu semakin erat, dan rasanya tanganku seperti kepelintir tadi. Ah, sakit sekali. Eotte? Aku tidak bisa mengeluarkan tenagaku lagi. Kurang ajar! Tanganku rasanya seperti ingin patah. Aku sedikit menekuk lututku. Aaaah! Tanganku!

“AAAH!” teriakku menahan rasa sakit yang ada ditanganku.

Lalu dua orang namja bersamaan mendekatiku, pertama-tama mereka hanya membelai kasar rambutku, lalu ke pipiku dan akhirnya mereka menyibakkan kaosku hingga setengah badan. Membuat setengah perutku terlihat. Aku memejamkan mataku. Bukan menikmatinya, tapi aku takut. Kenapa disaat seperti ini aku tidak bisa melakukan apa-apa! Tuhan, kirim seseorang yang kau utus untuk menyelamatkanku Tuhan, ku mohon.

Mereka semakin membuka bajuku, sampai hampir membuat bra-ku terlihat juga.

Salah satu dari mereka mengelus-ngelus perutku dan yang satunya memegang daguku agar mendongak.

“KYUHYUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUN” teriakku keras.

Sebisa mungkin aku berteriak. Walaupun aku tau Kyuhyun tidak mungkin ada disini apalagi menolongku. Tapi entahlah, tiba-tiba nama Kyuhyun terlintas di otakku dan aku sangat mengharapkan dia menolongku sekarang.

“siapa yang kau teriakkan tadi? Hahaha” kata salah satu orang yang mengikat tanganku. Aah! Tanganku.

“bodoh!” ucapku kasar pada mereka, dan ini membuat tanganku semakin di pelintir. “aaah” erangku. Tuhan, tolong sudah. Tanganku, Tuhan, selamatkan tanganku. Ini sungguh, sakit sekali.

“kyuhyuuuuuuun” teriakku sambil menangis. Aku mengeluarkan semua sisa tenagaku. Aku tidak sanggup lagi melawan mereka, karna mereka sudah melumpuhkan tanganku. Aku tidak bisa apa-apa lagi. Semakin aku banyak bergerak, maka aku yakin tanganku tidak akan selamat.

“KYUUUUU” ucapku lemah.

“kyuhyun” aku terus memanggil namanya sambil terisak.

“KYUHYUN!” teriakku lagi.

 

                                                TO BE CONTINUED

24 responses »

  1. Pingback: My Nightmare Season II ♥♥Part 1♥♥ | FFindo

  2. Pingback: My Nightmare Season II ♥♥Part 1♥♥ « Nisa Ayu Thayalisha Hadi's

  3. Pingback: [FICLET] My Nightmare Season II : Hotel (Part 4) « Nisa Ayu Thayalisha Hadi's

  4. Pingback: My Nightmare Season II : Hotel | FFindo

  5. Wah, makin seru nih… Itu, Hyen Hyo udh mulai suka sama Kyu Hyun ya? Tp blm sadar kn? Nah, Kyu Hyun nya gmn tuh…

  6. Ciiieeeeee suka ya am kyuhyun ya , asekkk c’galak jatuh cinta ,,kkkkk ^^v
    kadang” hyen keterlaluan ya am ahra:/
    tp salut am ahra ttep aja mau deket” am hyen ^^
    jiah kenapa disaat kayak gni kyu gg nonggol ,biasa.a pan dya slalu ada ditempat yg sama kayak hyen:/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s