My Nightmare [Part 4]

Standard

Author : Nisa Ayu Thayalisha Hadi (Nam Hyen Hyo)

Cast :

Nam Hyen Hyo

Cho Kyuhyun

Go Ah Ra (Kyuhyun’s Sister)

Title : My Nightmare [Part 4]

Length : on going~

Genre : Romance, Fluff, Comedy

Rating : PG-15

Preview

“KYUHYUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUN”

“siapa yang kau teriakkan tadi? Hahaha”

“bodoh!”

Tanganku, Tuhan, selamatkan tanganku. Ini sungguh, sakit sekali.

“KYUUUUU”

“kyuhyun”

“KYUHYUN!”

=======================================================================

“kyu….” ucapku semakin lemah, Tuhan, tolong jangan biarkan aku merasakan sakit yang ada di tanganku. Aaah. Sungguh, ini sakit sekali.

“ya! Neo!” teriak seseorang di kejauhan sana. Nugusaeyo? Tolong aku, cepat datang! Setidaknya, jika ada orang datang, aku yakin kita berdua bisa mengalahkan 7 namja bajingan ini, walaupun tangan satuku tidak bisa digunakan, tapi aku masih bisa mengandalkan tendangan mautku.

“pegang dia, jangan sampai lepas” kata salah satu namja bajingan itu yang ku yakini dia adalah ketuanya.

“aaah lepas!” teriakku. Tapi kedua orang itu tetap memegang tanganku erat. Aku tidak bisa melakukan apapun jika aku tetap seperti ini.

Namja tadi berhasil mengalihkan perhatian 4 namja bajingan itu. Dia bisa menghabisi 4 namja itu hanya dalam beberapa menit. Sedangkan orang yang aku yakini sebagai ketuanya itu masih berdiri terpaku melihat kehebatan orang itu. Siapa ya dia? Sepertinya aku tidak mengenalnya.

“aaaah!” tiba-tiba salah satu orang yang berdiri tepat di belakangnya merintih kesakitan dan melepaskan genggamannya, “lawan aku kalau berani” eh? Suara siapa lagi ini? Aku tidak bisa melihatnya karna masih ada satu orang lagi yang memegangku. Aish jinjja!

“habis kau! kau, sini” kata namja itu entah bicara dengan siapa. Tapi tiba-tiba dia melepaskan genggamannya, aku memegangi tanganku yang aku rasa tulangnya tergeser sambil meringis kesakitan. Aku membalikkan badanku dan mendapati seorang namja sedang bergulat dengan salah satu orang yang tadi memegangiku. Aku tidak bisa tinggal diam. Aku berjalan mengendap-ngendap ke arah ketua bajingan itu dan menendang punggung belakangnya, membuat dia tersungkur ke tanah. Aku menginjak-nginjak punggungnya dengan satu kakiku dan menendang kepalanya dengan sangat keras. Membuat dia jadi tidak sadarkan diri. Karna aku masih belum puas, aku menggunakan kakiku untuk membalikkan badannya dan menginjak perutnya. keluarlah darah segar dari mulutnya, dan itu membuatku sangat puas melihatnya.

Aku melihat ke arah kiri. Seorang namja yang telah berhasil mengalahkan 4 namja itu tersenyum puas ke arahku sambil berkacak pinggang. Aku melihat ke arah kanan. Seorang namja yang telah berhasil mengalahkan 2 namja yang tadi memegangi tanganku sedang tersenyum puas melihat lawannya berjatuhan tidak berdaya lalu dia memandangku. Senyumnya manis sekali. Tapi… kenapa mereka berdua sama? Eh? Sungguh, lihatlah, wajahnya sama. Jangan-jangan mereka….

“KYAAAA” teriakku sambil menutup mata. Aigo aigo, baru saja aku ditolong dengan setan? Sungguh?

“ya! Waeyo?” sebuah telapak tangan mendarat di pundakku, membuatku semakin bergidik ngeri “kalian setan?! Kenapa wajahnya sama?” tanyaku gemetaran.

“ya! Kita ini kembar dan kita bukan setan” jawab mereka berdua bersama-sama sambil terkekeh. Aku membuka mataku dan berbalik badan lalu berjalan mundur menjauhi mereka “ya! Jangan sentuh aku atau kau akan merasakan akibatnya. Pulang sana! Aku tidak mengharapkan kalian datang! Kenapa kalian datang dan menolongku huh? Membuatku harus repot-repot berterima kasih saja!” ucapku ketus lalu mulai berjalan menjauhi mereka berdua.

Tidak ada yang membalas perkataanku, mereka juga tidak menghalangiku pergi. Baguslah.

Aku kembali ke tempat penginapan dan mendapati beberapa guru sedang berdiri panik di teras. Ada apa?

“aigo aigo Hyen, darimana saja?” tanya Park Songsaengnim “aku habis jalan-jalan” jawabku singkat. Tidak mungkin bukan kalau aku beritahu apa yang baru saja terjadi pada mereka? Menambah daftar masalahku saja.

“kau harus banyak istirahat, lomba akan diadakan besok. Siapkan tenagamu” kata guru pembimbingku, aku hanya mengangguk dan menerobos di antara guru-guru yang sedang ada di teras itu.

“aah, jinjjayo!” keluhku saat melihat lenganku yang merah. Genggaman orang tadi sungguh kuat sekali. Tanganku tidak bisa digerakkan. Eotte? Untung tangan kiriku tidak separah tangan kananku yang benar-benar sakit saat digunakan. Apa yang harus aku lakukan untuk menutupi luka di tanganku. Memang bukan luka diluar, tapi bagaimana besok aku bisa mengikuti perlombaan jika tanganku rasanya seperti ingin patah kaya gini? Tidak mungkin kan jika aku hanya mengandalkan kakiku saja? Aku mencoba untuk menekuk sikut-ku saja tanganku rasanya seperti sedang dipotong. Aish!! Sepertinya lukanya lumayan parah. Mudah-mudahan hanya terkilir. Jika sampai patah, urusan dengan rumah sakit lagi nanti aku. Aku tidak bisa membayarnya! Aku hidup dengan kekurangan seperti ini karna Appa! Jika dia tidak selingkuh dan menceraikan umma, pasti kita sedang hidup bahagia. Melebihi kebahagiaan para peri yang ada di surga.

“hyen…” panggil salah satu peserta yang aku kenal sejak dulu. Yap! Aku tau dia, setiap kali aku mengadakan pertandingan, pasti wajahnya selalu muncul. Dia juga merupakan rival terberatku saat ini. Aku selalu kalah saat melawannya. Padahal badannya lebih kecil dariku. Tch!

“gwaenchana?” tanyanya. Aku langsung menaruh tangan kananku ke belakang punggung dengan cepat “aaah” rintihku. Aku lupa jika tanganku masih sakit. “gwaenchanayo?” tanyanya lagi. “ne, gwaenchana. Sudah sana pergi. Ada apa kau masuk ke kamarku?” tanyaku. Ayo cepat pergi bodoh!

“ah ani, ya sudah nanti saja deh kita bicaranya. Sepertinya kau sedang bad mood. Kalau ada apa-apa, katakan padaku ya” ucapnya ramah sambil tersenyum, memperlihatkan eye-smilenya yang cantik.

“chakkaman. Siapa namamu? Aku lupa” ucapku datar. “kau lupa? Aigoo namaku Han Ko. Park Han Ko. Masa kau lupa dengan namaku? Pantas saja selama ini kau tidak pernah menyebutkan namaku ketika kita sedang bicara” dengusnya sebal.

“oh. Yasudah. Tidak usah banyak bicara kau. sana pergi!” usirku lagi. Lalu dia menutup pintu kamarku. Aku mengeluarkan tangan kananku yang tadi aku umpatkan di balik punggung dengan hati-hati. “bodoh sekali sih kau! kenapa kau harus luka disaat seperti ini? Kenapa lukanya tidak terjadi ketika sudah selesai perlombaan saja?!” marahku pada tangan kananku. Ya Tuhan, eotte?

Apa aku harus beritahu Ah Ra-unnie? Setidaknya, mungkin saja dia bisa membantu. Eh… tapi nanti dia tidak membantu, yang ada dia malah akan memarahi lalu menasihatiku jika aku cerita semuanya. Ah! aku harus bagaimana?

Esok harinya

“hyen, kau siap? Tinggal tunggu giliran saja” bisik pembimbingku. Kami sudah ada di dalam gor. Pertandingan pun sudah dimulai. Ada dua orang di bawah sana yang sedang bertanding, sementara aku harus menunggu giliran, menunggu namaku dipanggil. Dan sainganku… lagi-lagi, Park Han Ko itu hh. Mana mungkin aku bisa melawannya, tanganku sedang normal saja aku selalu kalah, apalagi tanganku sedang terluka seperti ini. Kalau begini, mana mungkin aku bisa menang! Ah! pesimis sekali aku.

“mau kemana kau?” tanya Park Songsaengnim saat aku beranjak berdiri dari tempatku “mencari tempat duduk lain” jawabku enteng lalu mulai berjalan mencari tempat duduk yang tidak banyak orangnya, agar aku bisa fokus melihat mereka yang sedang bertanding, juga memikirkan cara bagaimana aku bisa mengalahkan si Han Ko sialan itu.

“kau yeoja yang kemarin itu kan?” tiba-tiba seseorang datang dari belakangku, aku menengok ke belakang dan mendapati orang kembar yang kemarin menolongku. Aigo, kenapa mereka bisa ada disini. mereka duduk disampingku. Aku ditengah-tengah -_- seperti ingin diintimidasi atau introgasi ini……..

“siapa yang mengizinkan kalian duduk disebelahku seperti ini?”

“bukankah tidak ada larangannya kita ingin duduk dimana saja?” tanya salah satu dari mereka. Kurang ajar!

“kau ikut perlombaan ini?” tanya yang satunya lagi “untuk apa aku ada disini jika tidak mengikuti perlombaan? Dan apa maknanya baju tae kwon do yang aku gunakan ini jika aku bukanlah peserta?” ujarku. Eh? Tapi… mereka juga memakai baju yang sama denganku! Jangan-jangan mereka juga…

“giliranku sebentar lagi” salah satu dari mereka angkat bicara saat atmosfir di antara kita sudah terasa sunyi. Aku menoleh ke arahnya. Wajahnya cantik sekali. Seperti banci. Tch.

“kau lawan siapa sih?” tanya kembarannya yang berada di kiriku “Park Han Ko katanya. Dia itu saingat terberatku” jawab namja kembar yang berada di kananku. Hah? Park Han Ko? Dia akan lawan mainku! “eh! Park Han Ko itu lawan mainku!” sangkalku saat mendengar bahwa dia adalah lawan main Park Han Ko.

“jadi namamu Hyen?” tanyanya. Apa hubungannya dengan namaku? Baru saja aku ingin mengomel, tapi dia lebih dulu bicara “sebenarnya Han Ko memang dipasangkan denganmu. Tapi saat bertemu denganku, dia memohon untuk menjadi lawan mainku. Jadi ya sudah aku terima saja. Awalnya aku ini dipasangkan dengan kembaranku yang bodoh itu” katanya sambil menunjuk kembarannya menggunakan dagu “tapi… aku pikir tidak asik jika harus melawan kembaranku sendiri, maka dari itu aku menerima tawarannya. Lalu lawan mainmu dia” dia menunjuk kembarannya. Eh? Aku dipasangkan dengan orang yang berada di kiriku ini?

“kok bisa?” tanyaku tidak mengerti. Memangnya bisa tukar-tukar pasangan seperti itu “ya si Han Ko memohon kepada panitia dengan sebuah alasan khusus sampai akhirnya diperbolehkan” jelasnya. Uhm. Ya baguslah, setidaknya aku masih ada kesempatan menang jika dipasangkan dengan namja ini. Tapi aku belum tau titik lemahnya, lagipula tanganku tidak bisa digunakan. Hah. Tetap saja aku dalam posisi kalah. Eotte chingu-deul?

“oh jadi ini lawan mainku” katanya tanpa mengalihkan perhatiannya dari kedua orang yang sedang bertanding dibawah. Oh, ternyata sudah ganti pemain. Kataku dalam hati.

“tanganmu, aku tau tanganmu terluka” dia menimpali kata-kata sebelumnya. “kau ingin menang bukan?” tanyanya lagi, aku menatapnya heran dengan tatapan tajamku “aku tidak akan berkutik dan pura-pura kalah” ucapnya enteng.

“ya! Kau menguji kemampuanku? Kau pikir aku ini selemah apa?!” marahku padanya.

“aku tidak mungkin melawan orang yang sedang sakit. Aku percaya dengan kemampuanmu kok. Kau pikir aku baru melihatmu disini? bukankah disetiap pertandingan kita sering bertemu? Kau saja tidak sadar. Makannya kemarin aku tidak ragu untuk menolongmu, karna aku tau itu kau” serunya tanpa mengalihkan pandangannya pada peserta dibawah.

“next. Nam Hyen Hyo dan Lee Jae Hyo mohon bersiap” aku yang tadinya ingin mengatakan sesuatu padanya, jadi mengurungkan niatku karna mendengar namaku dan –mungkin- namanya di panggil.

“fighting^^” ujar si namja kembar yang tadi duduk di sebelah kananku.

Kami berdua membungkukkan badan dan sedetik kemudian mulai siap dengan kuda-kuda. Seharusnya aku menaruh tangan kiriku sejajar dengan jidatku, dan tangan kanan sejajar dengan dada. Tapi apa daya, aku hanya menggunakan tangan kiriku dan membiarkan tangan kananku menjalar kebawah. Aku tidak bisa menggunakannya apalagi menekuknya. Aish jinjja!

“kau serang aku duluan” bisiknya. Aku langsung menendang bagian dadanya dan entah itu dia hanya akting atau sungguhan, dia langsung terjatuh. Lalu dia bangun lagi dan mencoba menendangku, tapi aku mundur dan menendangnya balik dengan gaya Roundhouse Kick. Dia mundur beberapa langkah dan mulai berlompay-lompat kecil lagi. Dia memancing emosiku, sedari tadi dia tidak melawan, dia hanya menakut-nakutiku dengan pukulannya tapi dia memang sengaja untuk tidak mengenakan pukulannya itu. Sungguh, dia benar-benar memancing emosiku.

Aku menendangnya double di arah perut dan seketika kakiku terkilir dan aku terjatuh “aah” dan akhirnya semuanya dianggap selesai dan aku pemenangnya, karna dia sama sekali tidak menyerang. Baguslah. Tapi aku merasa tadi aku seperti anak SD yang sedang berlomba -_- padahal umurku sudah 23 tahun tapi aku sama sekali tidak hebat –kurasa.

***

Aku tidak menang. Sudahlah. Dari awal juga aku sudah yakin bahwa aku tidak akan menang. Kau tau siapa pemenangnya? Juara pertama yang aku kira akan di tempati oleh Park Han Ko yang memang sudah biasa menjadi juara pertama, kini posisinya di geser oleh kembarannya Jae Hyo –seingatku itu namanya- yaitu Lee Tae Hyo –kalau tidak salah- dan Han Ko menempati urutan kedua. Tapi itu masih bagus, daripada aku yang tidak mendapatkan apapun tapi malah mendapat luka.

Sejam lagi kami sampai di Seoul. Ah Ra bilang padaku bahwa dia akan menjemputku, lihat saja nanti. Awas saja kalau dia menyuruh Kyuhyun sialan itu yang menjemputku. Mati kau jadi rujak Ah Ra kalau kau berani-beraninya menampakkan muka Kyuhyun di depanku lagi!

Aku menarik koperku dengan malas saat turun dari pesawat, aku mengedarkan pandanganku mencari Ah Ra di ruang tunggu. Tapi wajahnya tidak kelihatan.

“kau tidak menang ya?” kata Ah Ra-unnie mengagetkanku dengan tawa khasnya itu dan menyodorkanku sebuah minuman “ani” jawabku tidak semangat “wae? Katanya kau mau menang” katanya sambil membantuku membawakan koper. Haruskah aku menceritakan semuanya? Tapi aku tidak ingin dapat semprot lagi darinya.

“gwaenchana. Lawanku susah ditaklukan” aku berbohong, mencoba mencari alasan seperti itu memakan waktu sampai 1 menit bagiku. Tapi ternyata usahaku sia-sia, sepertinya dia memiliki mata-mata atau gimana sih? “aku tau tanganmu terluka, iya kan?” dia menyenggol tanganku, aku merintih kesakitan.

“sakit?” tanyanya sambil menghisap sedotannya “ani” jawabku berbohong lagi “ah, aku capek mendengar kata-kata dusta dari mulutmu. Apa perlu tanganmu aku injak?” ancamnya. “injak saja” tantangku.

“baiklah”

“AAAW” teriakku di dalam bandara, suaraku menggema di dalamnya. Kurang ajar si Ah Ra ini, dia menendang kakiku! Dia pikir tidak sakit.

“sakit?”

“ani” jawabku masih sambil meringis dan memegangi tanganku “sampai kapan kau akan berbohong?”

“sampai ajal menjemputku!” ucapku dingin “kenapa sih kau tidak ingin jujur?”

“aku tidak mau kau khawatir padaku bodoh!” jawabku malas.

“oh, siapa yang khawatir padamu? Aku malah senang, jadi kalau kau tidak mau menuruti perintahku, tinggal kutendang saja tanganmu seperti tadi” aku berhenti berjalan dan memelototinya, dia terkekeh sambil memegangi perutnya.

“hahaha hahaha hahaha aduh aduh Hyen, mukamu lucu sekali. Kau tidak seperti orang yang sedang marah, wajahmu aneh saat melotot seperti itu hahaha”

“persetan denganmu Cho Ah Ra!” marahku sambil merebut gagang koperku dari genggamannya lalu meninggalkannya.

“ada Kyuhyun di parkiran! Kau tetap tidak bisa kabur Hyen!” teriak Ah Ra. Hah? Ada Kyuhyun? Jadi sekarang aku harus bertemu Kyuhyun lagi? Jinjja!

“ayo naik! Tadi noona bilang kau mau kabur” kurang ajar! Ternyata si Kyuhyun sialan ini sudah stand by di pintu keluar. Hah. Mau apa lagi aku? Menolak juga tidak bisa, yang ada sekarang aku harus ikut dengannya.

“cepat berangkat!” suruhku saat sudah masuk ke dalam mobilnya “noona masih di dalam” jawabnya enteng. Aish! Aku melupakan Ah Ra-unnie. Kemana dia? Kenapa lama sekali?

“maaf aku telat. Tadi aku baru saja menanyakan pada orang yang ku kenal tentang kau selama berada di Daegu” kata Ah Ra-unnie sambil menutup pintu mobil dan Kyuhyun mulai menginjak gas. “kau mau diperkosa oleh para gerombolan preman sana?” tanya Ah Ra-unnie membuatku tersentak “eh?” tangkasku cepat. Aku tidak tau harus bicara apa. Tuhan, kenapa dia tau semuanya?

“kau tau darimana sih?! kenapa kau tau semuanya?!” tanyaku tidak terima “kau tidak tau ya bahwa aku punya kenalan dimana-mana? Aku menyuruh mereka berdua yang juga perserta lomba untuk menjagamu, makannya aku tau semua tentangmu saat disana” ucapnya terhenti seketika “dan tanganmu terluka. Kyu, kita kerumah sakit saja” kata Ah Ra-unnie sambil menepah pundak Kyuhyun dan Kyuhyun nganggut-nganggut tanda dia mengerti.

“ani! Aku baik-baik saja!” cegahku “kau bahkan mau diperkosa, kenapa kau tidak beritahu aku?” tanya Kyuhyun yang mulai dengan pertanyaan bodohnya “mana mungkin aku memberitahumu. Kau ini ternyata benar-benar bodoh. Lagian kalau aku memberitahumu, kau juga tidak bisa menolongku!” semburku pada Kyuhyun. “tapi aku kan bisa melumpuhkan telinga mereka dengan mic-ku” jawab Kyuhyun dengan ekspresi datarnya. Jinjja!

“bodoh!” dengusku sebal.

***

“dia baik-baik saja. Tangannya hanya terkilir, urat sarafnya terkilir makannya susah untuk di gerakkan. Kalau mau urat sarafnya balik, setidaknya harus menginap dulu di rumah sakit karna tidak bisa saya kerjakan sekarang. Sekarang saya ada jadwal ke luar kota. Baru bisa kembali besok pagi” jelas si Uisa sambil menulis sebuah resep “supaya tidak semakin parah dan menghilangkan rasa sakitnya, mohon di tebus ya obatnya. Ini” katanya seraya tersenyum memperlihatkan kerutan-kerutan tua di wajahnya sambil menyodorkan sekertas resep. Kyuhyun menerimanya dan mengucapkan terima kasih lalu kita keluar dari ruangan itu.

“aku tidak mau dirawat” kataku menolak.

“ya sudah, yang penting besok kau harus kesini lagi. Arra?” tanya Ah Ra-unnie “hm” jawabku malas.

“kyu, besok antarkan ya” pinta Ah Ra-unnie pada Kyuhyun.

“jam berapa? Dari pagi sampai jam 1 siangan aku tidak bisa, aku harus latihan dance untuk album terbaruku yang akan release 3 bulan lagi noona” kata Kyuhyun. “aku bisa sendiri” tangkasku cepat. “kau dengar noona? Dia bisa sendiri. Jadi ya sudah. Aku juga capek, aku jadi seperti supirnya saja” dumelnya. Jeongmal….. aku ingin meremas wajahnya yang berekspresi datar saat berbicara itu. Hh!

***

3 hari kemudian

Tanganku sudah mulai enakan. Ya setidaknya, tidak separah waktu itu. Dan tidak sesakit waktu uratnya sedang di luruskan. Aku sampai menangis waktu itu. Untung tidak ada Kyuhyun -_- kalau ada, pasti aku akan jadi bahan ejekkannya 7 hari 7 malam.

PRANG

Gelas yang berada di atas nampan yang sedang di pegang oleh salah seorang pelayan jatuh saat dia menabrakku.

“bodoh! Makannya kalau jalan itu liat-liat” sewotku ke arahnya “tapi nona yang tadi menabrak saya” katanya sambil berjongkok membersihkan pecahan beling. Beberapa mata melihat ke arah kita. Aku tidak peduli.

“kau berani sekali menuduhku!” ucapku sinis.

“tapi tadi memang nona yang menabrak saya” katanya tidak mau kalah “tch!” aku mendecak sebal. Sudah tau salah, masih saja menyalahkan orang lain. “nona harus bertanggung jawab”

“HAH? Ya! Kau yang menabrakku!” marahku padanya.

“nona tadi jalan sambil memainkan ponsel, lalu menabrakku” belanya.

“sudah tau aku sedang tidak melihat jalanan, kenapa kau masih saja menabrakku?” sewotku terus.

“tapi nona…”

“aku tidak mau tau! Aku tidak salah”

“nona, kau harus membayar kerugian ini” ucapnya tetap pada pendiriannya, tidak salah.

“ya! Aku tidak salah!” tanganku geram sekali ingin menjambak rambutnya. Tapi sebuah tangan memegang pergelangan tanganku, mencegah niatku untuk menjambaknya “biar aku yang bertanggung jawab” ucapnya ramah.

Jae Hyo?

“kau?” tanyaku ragu. Benar bukan ya? Kenapa kembarannya tidak terlihat?

Dia tidak menjawab pertanyaanku dan melepaskan pegangannya pada pergelangan tanganku lalu pergi bersama pelayan itu entah kemana. Aku membalikkan badanku hendak pergi dari restoran ini tapi sebuah kaki menghalangiku berjalan. Aku memandangnya malas. Oh, kembaran si bodoh itu.

“mau kemana?” tanyanya.

“pulang” jawabku singkat.

“hati-hati ya di jalan~ jangan sampai kejadian beberapa hari yang lalu terjadi lagi” katanya seraya mengingatkanku dengan kejadian yang sedang mati-matian aku lupakan. Aku mendecak kesal lalu pergi dari restoran itu.

“yeobsaeyo?” aku mengangkat telfonku yang ku ketahui dari Kyuhyun. Kemajuan sekarang, kontakku ada 2 orang, bukan hanya Ah Ra-unnie tapi juga Kyuhyun -_- tapi tetap saja mengenaskan karna hanya punya 2. Lagipula itu tidak penting!

“eoddiga?” tanyanya. “mau apa kau? aku tidak mau dijemput atau di ajak ke dorm-mu” kataku langsung sebelum Kyuhyun mengajakku.

“aish! Aku tidak akan menjemput atau mengajakmu ke dorm. Kenapa kau kepedean sekali sih? memangnya siapa juga yang mau menjemput yeoja jelek sepertimu? Orang biasa saja tidak mau apalagi aku yang orang terkenal dan digemari banyak yeoja” ucapnya sombong di seberang sana “EHEM, kenapa Tuhan bisa ya menciptakan namja dengan sifat yang sombong seperti ini” kataku dengan nada menyindir “ah sudahlah! Ada apa kau menelfonku?!” tanyaku langsung.

“oh iya, bisa tidak kau datang ke SMEnt?”

“hah?” tangkasku cepat. SM Entertainment? Apa itu? Agency apa? Dimana? Aku tidak tahu.

“SM Entertainment? Untuk apa? Memangnya itu agency-nya siapa?” tanyaku polos dan masih terus berjalan menyusuri jalan setapak menuju tempatku bekerja mengajar anak-anak bela diri.

“ya pokoknya kau datang saja! Kau tidak tau SM Ent? Itu agency-ku. Super junior bernaung di SM Ent, masa kau tidak tahu?”

“alah! Untuk apa aku mengurusi hal begituan. Super Junior siapa saja aku tidak tahu!”

“YA! Aku ini salah satu member Super Junior. Magnae ter-cute-nya Super Junior!”

“oh jeongmal? Aku tidak peduli tuh. Sudah dulu ya, aku sibuk. Oh ya, untuk undanganmu yang menyuruhku ke SM Ent, maaf aku tidak bisa. Annyeong Mr. Cho Kyuhyun magnae-nya Super Junior yang TEEEEER-CUTE!” ucapku meremehkan lalu menekan tombol merah. Sebentar lagi sampai. Sekarang sudah jam 4.15, pasti anak-anak sudah pada menungguku. Aish jinjja aku bisa telat begini pasti karna Kyuhyun menelfon, kalau tadi dia tidak menelfon, aku kan jadi bisa berjalan lebih cepat lagi dari ini.

***

“jadi ini pekerjaanmu sehari-hari?” tiba-tiba aku mendengar suara Kyuhyun saat semua anak sudah pulang dan aku pun sedang bersiap untuk pulang. “kyu?” aku sontak kaget melihat dia sedang berdiri di pintu.

“wae? Sudah ku bilang bukan bahwa kau harus ke SM Ent? Kau sudah tidak sibuk lagi kan? Yuk!” ajaknya sambil menarik tanganku. Dia menyusupkan jari-jari tangannya ke jari-jari tanganku. “apaan sih?! ga usah pegang-pegang!” ucapku risih seraya melepaskan genggamannya. Dia tersenyum kecut melihatku.

“aku tidak mau Kyu, lagipula untuk apa aku kesana?” seruku menolak ajakannya untuk masuk ke dalam mobilnya lalu ke SM Ent.

“sebentar saja!”

“aniyo! Aku tidak mau!”

“sebentar saja Hyen, jaebal” mohonnya “shireo! Aku tidak mau! Nanti aku ketemu dengan para penghuni rumahmu lagi. Dan itu menyebalkan!” dengusku.

“ani Hyen, ada yang harus aku bicarakan padamu disana, ada yang ingin bertemu denganmu” katanya.

“kalau mau bicara disini saja, kalau ada yang mau bertemu denganku, bilang padanya aku tidak mau bertemu dengannya. Sudah? Puas?” tanyaku kesal. Kenapa dia memaksa sekali sih.

“hyen?” samar-samar suara orang memanggil namaku, aku membalikkan tubuhku dan mendapati lawan mainku beberapa hari yang lalu tersenyum dan memasukkan kedua tangannya ke dalam kantung celananya.

“Jae…. uhm, siapa namamu?” ucapku lupa-lupa ingat.

“Jae Hyo” jawabnya sambil menghampiriku.

“apa yang kau lakukan?” dia melihat ke arahku dengan senyumannya. Sepertinya playboy. Senyumannya itu membuatku enek. Tapi dia bisa dimanfaatkan juga sekarang. Dia menatapku sebentar lalu beralih melihat Kyuhyun.

“hyung?” dia menatap heran Kyuhyun yang ada di depanku. Hyung? Apa dia sudah mengenalnya?

“jae? Kenapa kau bisa ada disini dan kenal dengannya?” kata Kyuhyun sambil melihat ke arahku. “ah, dia lawan mainku saat pertandingan itu” jawabnya jujur.

“hm… Jae Hyo, bisakah kau temani aku jalan-jalan sekarang? Aku lapar. Kajja!” aku menggandeng lengannya dan membawanya pergi meninggalkan Kyuhyun. Aku tidak mau ikut pergi dengannya ke agency-nya itu. Bukan urusanku. Lagipula aku tidak tau ada urusan apa aku dengan agency-nya itu sampai-sampai aku orang yang biasa-biasa saja dan tidak tahu apa-apa malah dipanggil.

“kita mau kemana?” tanya Jae Hyo saat kita sudah berjalan cukup jauh dari tempat tadi “molla. Sudah sana kau pergi. Aku ingin kerja lagi!” usirku. Aku membalikkan badanku karna restoran tempatku bekerja sudah terlewat. Jae Hyo sama sekali tidak memanggilku apalagi mengikutiku. Benar-benar bukan namja yang menyusahkan. Tidak seperti Kyuhyun dan noona-nya itu. Tidak seperti orang-orang lainnya yang aku kenal. Dia berbeda. Dari semuanya.

***

“Hyen, noona-ku marah loh saat tau kau sudah mulai bekerja. Katanya dia masih khawatir dengan keadaan tanganmu” aku mendapati Kyuhyun sedang berdiri menyandar sambil memainkan ponselnya di pintu rumahku. Untuk apa dia kesini?

“minggir! Aku ingin masuk!” aku menarik bajunya dan membuka pintu rumahku, saat aku ingin menutupnya, kakinya menghalangi pintu dan dia berhasil masuk. Aish! Jinjja!

“mau apa kau?!” tanyaku ketus dan kesal. Mau apa lagi sih? kenapa setiap hari dia selalu menggangguku? “menemanimu. Disuruh noona. Oh ya, sekarang aku bawa laptop loh! Jadi aku tidak akan mati kebosanan atau tersaing level games-nya dengan Heechul si sialan itu!”

“siapa yang peduli?!” tanyaku kasar lalu masuk kamar sambil membanting pintunya. Sampai kapan aku akan terbebas dari namja yang satu itu?!

Aku keluar kamar dengan keadaan sudah mandi dan rambutku sedikit basah.

“kau marah padaku?” tanya Kyuhyun dengan tatapan menyelidik. Aku baru sadar kalau sekarang dia pakai piyama. Jangan bilang dia ingin menginap. Aaaaah!!! Tuhan, cobaan macam apa sih yang sedang kau berikan padaku huh?

“ani” jawabku singkat.

“kenapa kau melepas hadiah dariku?” tanyanya dengan raut wajah marah. Menyeramkan. Sungguh.

“hadiah? Hadiah apa?” tanyaku tidak mengerti. Dia sedang membicarakan apa sih? apa dia sedang ngelindur? Dia tidak menjawab dan malah mendecak sebal lalu menutup laptopnya dengan kasar.

“kau kenapa sih?” tanyaku sambil menggosok rambutku yang basah dengan handuk.

“kenapa kau membuang kalung ini? Apakah kau membenciku sampai-sampai aku menemukan kalung ini di dekat tempat sampah kamarmu? Apakah kau ingin membuangnya? Buang saja!” dia marah padaku lalu melemparkan kalung liontin itu asal.

“hah? Aku tidak pernah membuangnya. Dan wait… kenapa kau bisa tau itu ada di dekat tempat sampah di kamarku?” tanyaku penasaran. Apa dia baru saja masuk ke dalam kamarku? Kenapa dia lancang sekali?!

“tadi aku tidak sengaja masuk ke kamarmu karna aku ingin tanya denganmu apakah ada susu atau tidak. Tapi aku tidak melihatmu ada disana, lalu aku mendengar ada suara air dari kamar mandimu dan aku yakin kau ada disana, saat aku ingin kembali, aku tidak sengaja menginjak liontin ini. Dan ini tergeletak tepat di sebelah tempat sampahmu. Kenapa kau tidak buang saja ke tempat sampah di depan yang lebih besar? Kenapa harus di dalam kamarmu? Itu kan tempat sampah kecil~” dia sedang menyindirku atau apa sih sebenarnya? Dia marah padaku? Karna apa? Aku merasa pernah membuang kalung itu saja tidak! Jangan kan membuang, berniat untuk membuang kalung itu saja tidak! Melepasnyapun aku tidak pernah! Kenapa kalung itu bisa ada disitu? Apa waktu aku melepas baju tersangkut lalu terlepas? Dan kalung itu bukannya menempel pada baju malah jatuh tapi aku tidak sadar. Begitukah? Tapi Kyu, sumpah demi Tuhan, aku tidak pernah membuang kalung itu.

“ani. Aku tidak membuangnya” ucapku jujur seadanya.

“tch! Kalau kau marah padaku, aku lebih suka melihatmu memarahiku sampai menendangiku daripada harus membuang barang pemberian dariku. Melihatnya jauh lebih membuat hatiku sakit” katanya masih dengan nada yang sama. Aku bingung. Apa yang harus aku lakukan?

Aku menelan air liurku dengan susah payah “aku.. aku tidak membuangnya Kyu”

“hyen, apakah sebenci itunya kau padaku huh sampai-sampai membuang barang pemberian dariku?” tanyanya lagi yang masih saja tidak percaya dengan pembelaanku.

“sungguh Kyu, aku tidak membuangnya! Mungkin itu tidak sengaja terlepas dan jatuh” aku berusaha untuk meyakinkannya, tapi entahlah.

“kyu… aku..”

“sudahlah Hyen, kalau kau tak suka dibuang saja!” kata Kyuhyun lagi.

Aku mengambil kalung yang tadi di lempar Kyuhyun dengan asal lalu memasangnya. “kau lihat? Bahkan aku sangat mencintai kalung ini. Mana mungkin aku membuangnya. Berniat untuk membuangnya saja tidak. Apa kau tidak bisa percaya denganku? Terserah kau saja. Tapi aku tidak akan pernah membuang kalung ini!” seruku yang juga terbawa emosi karna perkataan Kyuhyun yang sedari tadi tidak percaya padaku.

“wae? Kenapa kau tidak akan pernah membuangnya?” pertanyaannya membuatku bingung. Apa aku harus menjawabnya? Tapi hatiku sendiri tidak tau apa jawaban yang pas!

“karna.. karna aku.. menyukainya” ucapku gugup “bukan karna faktor lain yang lebih mendominasi?” tanyanya lagi terus mendesakku “bukan” aku menggelengkan kepalaku lalu menunduk.

“aku tau kau berbohong. Sudah malam, tidurlah. Aku tidak mau masalah ini di ungkit lagi” aku berjalan berbalik arah dan menuju kamar tanpa menjawab pertanyaannya, ku rasa malam ini cukup buruk. Hatiku merasa tidak nyaman “hyen…” aku memberhentikan langkahku dan menengok ke arahnya “kalau kau benci padaku, bilang padaku. Jangan buat aku merasa sakit hati karna kau membuang pemberian dariku. Dan kalau kau tidak mau memakai kalung pemberian dariku, bilang padaku bahwa kau tidak menyukainya dan buang kalung itu di hadapanku. Jangan diam-diam seperti tadi. Aku tidak suka. Dan kau tau… hatiku rasanya… er.. sakit” ucapnya lembut lalu menghilang di balik pintu kamar satunya –bukan kamarku-

Aku tersenyum tipis mendengar kata-katanya. Apakah perbuatan yang tidak aku sadari itu bisa membuatnya seperti ini? Aku baru pertama kali melihatnya seperti ini. Apakah dia terlalu sakit hati dengan sikapku?

Tanpa ku sadari, air mata menetes perlahan menyusuri pipi kananku. Aku mengerjap-ngerjapkan mataku dan air mata sebelah kiripun ikut keluar.

“maaf” ucapku lemah.

TO BE CONTINUED

24 responses »

  1. Pingback: My Nightmare Season II ♥♥Part 1♥♥ | FFindo

  2. Pingback: My Nightmare Season II ♥♥Part 1♥♥ « Nisa Ayu Thayalisha Hadi's

  3. Pingback: [FICLET] My Nightmare Season II : Hotel (Part 4) « Nisa Ayu Thayalisha Hadi's

  4. Pingback: My Nightmare Season II : Hotel | FFindo

  5. Mau usul nih , untuk bahasa yang dipakai , kadang2 terkesan informal , dan kadang juga bahasanya terlalu ‘gaul’ kalau menurut aku . Aku sih sukanya kalo bahasanya itu yang informal aja . misalnya “kok bisa” jadi “kenapa bisa ? Rasanya lebih nyaman di dengar . Trus ‘aku tidak peduli tuh’ kesannya kok rada gimanaaa gitu . Hehehe🙂 maav cerewet , cuma mau kasih saran aja ^^

  6. Apa ini pertama kali.a hyen nanggs gara” namja ???!!
    aq kira kyu yg nolongin hyen , ternyata c’kembar , gpp lah yg penting hyen selamat ^^
    bru kali nie kyu am hyen berantem tanoa harus teriak” , kkkkk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s