My Nightmare Part 5

Standard

Author : Nisa Ayu Thayalisha Hadi (Nam Hyen Hyo)

Cast :

Nam Hyen Hyo

Cho Kyuhyun

Support Cast :

Lee Jaehyo

Lee Taehyo

Go Ah Ra (Kyuhyun’s Sister)

Super Junior’s Member

Title : My Nightmare [Part 5]

Length : on going~

Genre : Romance, Fluff, Comedy

Rating : PG-15

Preview

“karna.. karna aku.. menyukainya”

“bukan karna faktor lain yang lebih mendominasi?”

“aku tau kau berbohong. Sudah malam, tidurlah. Aku tidak mau masalah ini di ungkit lagi”

“hyen…”

“kalau kau benci padaku, bilang padaku. Jangan buat aku merasa sakit hati karna kau membuang pemberian dariku. Dan kalau kau tidak mau memakai kalung pemberian dariku, bilang padaku bahwa kau tidak menyukainya dan buang kalung itu di hadapanku. Jangan diam-diam seperti tadi. Aku tidak suka. Dan kau tau… hatiku rasanya… er.. sakit”

“maaf”

===================================

Aku keluar kamar dan mendapati Kyuhyun sudah sibuk dengan laptopnya di meja makan. Dia sudah bangun? Dan sudah bermain laptop? Lagi? Apakah laptop menjadi kebutuhan utama dalam hidupnya? Aigo. Ani. Bukan laptop yang menjadi kebutuhan utamanya. Tapi games yang dimainkannya itu!

“aku berangkat” kataku pada Kyuhyun sambil memainkan tali tas selempanganku. “mau kemana?” tanyanya tanpa mengalihkan pandangan dari laptopnya “kuliah lah” jawabku kesal sambil berjalan menuju pintu “hm.. Kyuhyun-ah, sampai kapan kau ada dirumahku? Aku ingin mengunci pintunya, kau tidak mau pulang?” aku kembali lagi ke meja makan dan berdiri di hadapannya. Kyuhyun menutup laptopnya dan segera bangkit “aku pulang” dia memang sudah tidak memakai piyama lagi dan langsung keluar dari rumahku begitu saja.

Aku mengunci pintu dengan malas lalu berjalan menuju lift dengan kepala tertunduk dan pipi yang menggembung.

Kenapa perasaanku jadi canggung sekali saat bertemu Kyuhyun tadi? Pasti gara-gara kejadian semalam. Apa Kyuhyun masih marah padaku? Apa yang harus kulakukan?

Aku keluar lobi utama dan ingin menuju halte bus saat sebuah mobil berhenti tepat di depanku. Mobil yang akhir-akhir ini aku kenal “masuklah. Aku antar” katanya menawarkan tanpa melirikku sama sekali. Sepertinya dia masih marah padaku.

“dwaesseo. Aku naik bus saja” ucapku ramah menolak tawarannya “oh, arasseo. Hati-hati” dia menjalankan mobilnya dengan cepat. Aku menghembuskan nafas dan menghirup oksigen dalam-dalam lalu menghembuskannya lagi.

Aku mulai berjalan ke halte bus dengan tidak semangat. Entahlah, ada yang mengganggu pikiran dan perasaan dihatiku. Pikiranku selalu penuh dengan kejadian semalam. Dan hatiku rasanya tidak karuan. Aku hanya takut Kyuhyun masih marah padaku. Tapi, memangnya kenapa kalau Kyuhyun marah padaku? Bukan kah aku sangat membencinya? Ini harusnya bagus karna dia membenciku juga! Tapi…..

Bus yang aku tunggu-tunggu berhenti di depanku, semua orang yang tadinya sedang duduk-duduk di halte langsung berhamburan masuk ke dalam bus, “wae nona? Ini masih pagi! Semangat lah” ucap supir yang –mungkin- melihat wajahku yang tertekuk, aku tersenyum kecut lalu memasuki bus lewat pintu depan. Aku mencari tempat duduk tapi nihil, semuanya sudah terisi. Jadi sekarang aku harus berdiri. Melelahkan harus berdiri sepanjang jalan.

“neo?” seseorang menarik pergelangan tanganku. Eh? Nuguya? Aku jadi takut. Aku mendelik ke arahnya “hyen kan?” tanyanya lagi “hm” aku hanya menggumam malas dan melepaskan genggaman tangannya dengan kasar “duduklah. Biar aku yang berdiri” tawarnya. Tidak usah sok baik kau bodoh! “dwaesseo” tolakku.

“hm, ok” dia tidak lagi mengajakku mengobrol. Dia memang bukan tipe orang peganggu. Teman seperti inilah yang aku inginkan dalam hidup. Tapi kenyataannya aku hanya berteman dengan Ah Ra-unnie yang selalu ikut campur dalam masalahku. Mengesalkan bukan?

“hm, kau.. kenal dengan Kyuhyun?” tanyaku. Aku masih penasaran, kenapa waktu di depan tempat aku mengajari anak-anak bela diri dia memanggil Kyuhyun dengan sebutan hyung “of course” jawabnya sok inggris. Aku memonyongkan bibirku tanda tak suka “sok inggris sekali kau!” semburku.

“kau sendiri kenal dengan Kyuhyun?” tanyanya balik “ani. Aku tidak kenal dengannya. Dianya saja yang selalu mengejar-ngejar aku” jawabku sambil memutar kedua bola mataku di akhir kalimat.

“uhm. Tapi kau kenal dengan Ah Ra bukan?” tanyanya lagi.

“iya. Dia temanku. Satu-satunya. Teman yang kurang ajar” ucapku dingin. Dia tertawa kecil, memperlihatkan kerutan-kerutan manis dipinggir matanya. Bagus juga dia kalau ketawa. Giginya juga rapih. Hidungnya mancung “ya! Kenapa kau melihatku seperti itu?” dia membuyarkan lamunanku yang sedang mendeskripsikan wajahnya “aniyo! GR sekali kau” marahku.

“kau kenal Kyuhyun dan Ah Ra?” tanyaku lagi karna masih belum bisa menghilangkan rasa penasaran yang ada dibenakku. Kalau dia kenal dengan Kyuhyun, apa dia temannya Kyuhyun? Atau bagaimana? Ada hubungan apa dia dengan Kyuhyun? Aigo hyen, kenapa kau ingin sekali tau? Tidak usah banyak tanya. Ini sama sekali bukan urusanmu.

“ne, wae?” ucapnya lembut. “ani. Diamlah! Jangan bicara. Suaramu itu jelek sekali!” dengusku sebal dan dia menatapku heran “bukankah dari tadi kau menanyakan sesuatu padaku? Makannya aku bicara” belanya “ya tapi sekarang sudah! Jangan banyak bicara!” suruhku. Dia langsung diam dan mengeluarkan kotak kacamata dari tasnya lalu memasangnya dan membaca buku yang ada dipangkuannya. Manis juga anak ini.

Eh? Aku baru sadar kalau dia tidak bersama kembarannya. Kemana ya kembarannya itu? Aku bingung harus membedakan antara mereka berdua. Mirip sekali. Apanya yang beda ya? Ah! tapi warna rambutnya berbeda. Yang menjadi lawan mainku, yang bernama Jae Hyo –kalau tidak salah- itu berambut hitam, kalau kembarannya –Tae Hyo- berambut coklat. Baiklah. Aku menemukan 1 perbedaan.

***

Aku menyusuri koridor kampusku dengan malas, aku berjalan tertunduk dan memperhatikan bagaimana cara kakiku berjalan. “haisshh” desahku saat aku merasakan menabrak tubuh seseorang “YA! Neo jugeosseo!” sengitku pada seorang yeoja imut yang menabrakku, mendengar amarahku yang membludak dan mengancamnya bahwa dia akan mati ditanganku membuatnya menangis. “tch! Baboya! Uljima! Sana pergi!” usirku, lalu dia berlari terbirit-birit melewati dan menabrak bahuku, membuat tubuhku yang tadinya menghadap depan, harus berputar 90 derajat “tch!” aku mendecak sebal.

Karna yeoja tadi menabrak punggungku dan ‘sedikit’ memaksaku untuk berputar 90 derajat karna sambarannya di pundakku, aku jadi melihat koridor di sebelah kananku. Penuh sesak dengan kumpulan para yeoja dan juga bising karna teriakan yeoja gila itu. Ada apa memangnya? Kenapa mereka terlihat memalukan seperti itu? Mencoreng nama baik kampusku saja! “What a shamed!” Umpatku dalam hati.

“ya Hyen, wajahmu seperti singa yang belum dikasih makan sebulan. Buas sekali” kata Ah Ra yang tiba-tiba ada disampingku. Darimana dia datang? Jangan-jangan dia siluman -_- pikiranku aneh sekali.

“hah. Itu ada apa? Kenapa semua yeoja menggerumpul seperti itu? Kau tidak ikut kesana? Ikut-ikutan menjadi yeoja kampung yang tidak tahu malu?” tawarku padahal maksudnya adalah menyindir. Aku berjalan terus dan Ah Ra berjalan di belakangku “Hyen…” panggilnya “oh ya unnie, jangan lagi-lagi kau suruh Kyuhyun untuk menjagaku! Kau pikir aku ini bayi? Aku sudah besar, dan aku bukan yeoja penyakitan!” bentakku. “aaah? Menyuruh Kyuhyun? Kapan? Aku menyuruh Kyuhyun untuk menjagamu itu terakhir kali saat dia menjemputmu di kampus. Itu saja. Terkahir dan aku tidak pernah menyuruhnya lagi” seru Ah Ra tidak dapat kupercaya. Kau ingin menjadi ahli bohong atau gimana unnie? Jelas-jelas kau membohongiku sekarang! Dasar tukang ngibul!

“memangnya kapan dia terakhir bertemu denganmu?” selidiknya dan mulai mensejajarkan langkahnya dengan langkahku “tadi malam dia datang dan menginap dirumahku. Dia bilang disuruh olehmu untuk menjagaku” tiba-tiba Ah Ra menghentikan langkahnya, sontak akupun berhenti dan menatapnya bingung “aku tidak menyuruhnya. Kenapa dia bisa datang dan sampai menginap seperti itu?” eh? Apakah Ah Ra sedang berbohong? Atau serius? Kalau dia tidak menyuruh Kyuhyun, lalu kenapa namja babo itu bisa datang ke rumahku?

“sungguh! Dia benar-benar datang!” kataku lagi meyakinkannya.

“demi Tuhan, aku tidak menyuruhnya Hyen” kata Ah Ra mencoba meyakinkanku.

“ah… geojitmalhaji na *jangan berbohong*” kataku dengan nada tidak suka dan berkelok-kelok (?)

“ani Hyen, aku serius. Aku tidak menyuruhnya” katanya lagi dengan nada yang lebih mantap “ah! dwaesseo *lupakan*” *dwaesseo itu artinya bisa ‘lupakan’ atau ‘tidak usah’* cr : FATE (novel)

Aku masih ingat kata-kata Kyuhyun tadi malam “menemanimu. Disuruh noona.” Benar bukan? Bahkan kata-katanya masih terngiang-ngiang sangat jelas dibenakku, tapi Ah Ra-unnie bilang bahwa dia sama sekali tak menyuruh Kyuhyun untuk menjagaku apalagi sampai menyuruhnya menginap. Apa ada yang salah? Uhm. Lagipula pasti manager/leader Super Junior tidak memperbolehkan begitu saja si magnae-nya itu pergi bukan? Apa alasan yang dia gunakan? Aishiiii jinjja! Kenapa aku jadi penasaran seperti ini? Tidak biasanya! Apa aku harus ke dorm Super Junior dan menanyakannya pada Leader? Tapi… aaah! Tapi aku ingin tau siapa yang benar antara Kyuhyun dan Ah Ra! Kalaupun Ah Ra benar, kenapa Kyuhyun bilang dia ingin menjagaku? Sampai menginap segala! Apa jangan-jangan….

***

Aku mengaduk-ngaduk minuman cappucino-ku asal dengan tatapan kosong. Daritadi otakku terus memikirkan itu-itu saja.

Siapa yang benar?

Kenapa Kyuhyun bilang ingin menjagaku dan menginap dirumahku padahal noona-nya tidak menyuruhnya.

Apa aku harus tanya kepada Leader Super Junior atau mungkin managernya?

“hyen” aku mengerjap-ngerjapkan mataku seolah baru saja dibangunkan dari mimpiku yang kelam (?) “gwaenchana?” tanya Ah Ra-unnie sambil melilitkan spaghetti di sumpitnya “ne” jawabku singkat lalu menggigit bibir bawahku dan mulai berkutik lagi dengan alam bawah sadarku. Apa aku harus tanyakan padanya ya? AH! sudah deh, tanyakan saja!

“unnie, aku duluan” aku buru-buru bangkit dari kursiku dan cepat-cepat kabur. Tujuannya adalah satu, karna ini sudah jam 3 sementara jam 4 aku harus melatih, kedua supaya aku tidak membayar makanan dan minuman yang aku sudah pesan tadi, biar si Ah Ra saja yang membayarnya, kan lumayan.

Aku berlari mengejar waktu, jangan sampai aku telat melatih lagi seperti kemarin. Aku ini jadi seperti pelatih tidak profesional kalau terus terlambat!

Aku mengingat-ngingat jalan apa apartemen para anak-anak childish itu terletak. Aish! Aku lupa! Waktu si monyet itu mengantarku saja aku tidak ingat dia lewat jalan apa, karna memang aku tidak memperhatikannya. Aku berhenti berlari di depan toko alat musik dan memegangi lututku karna pegal.

Aku mengeluarkan handphone-ku yang saat ini aku sadari sekali manfaatnya “yeobsaeyo unnie, dorm Super Junior, eoddiga?” tanyaku pada Ah Ra-unnie lewat telfon. “ah ne ne, kamsha. Boleh aku minta tolong? Tolong bawa Kyuhyun pergi bersamamu, aku ingin bicara dengan salah satu membernya dan aku tidak mau ada Kyuhyun disitu” pintaku.

“…”

“hm, gomawoyo. Annyeong” aku memencet tombol merah dan mengakhiri sambungannya, aaah, apakah aku harus naik bus? Atau taksi? hm… aku bingung. Kalau aku ingin naik bus, halte masih jauh. Eotte?

“sedang apa kau disini?” seorang namja keluar dari toko alat musik tersebut sambil membawa gitar di punggungnya. “hm? Kau itu….” sebentar, rambutnya coklat, berarti dia ini Tae Hyo “Tae Hyo kan? Rambutmu coklat” lanjutku lagi. Dia tersenyum, sama seperti kembarannya, senyuman yang menampakkan kerutan di pinggir matanya, senyuman yang membuat wajahnya semakin manis dan enak dipandang “ne, kau sedang apa?”

***

“gomawoyo Tae Hyo-ssi!”

“hm, pulangnya nanti hati-hati ya” katanya lalu langsung melesatkan mobilnya dari sini. Tempat aku berdiri. Di depan apartemen Super Junior.

Apa Kyuhyun sudah pergi ya? Mudah-mudahan dia sudah pergi. Untung Tae Hyo tau alamat daerah ini, jadi tidak usah muter-muter nyarinya deh.

Aku memencet bel rumahnya dan terbuka lah pintunya, terlihat lah sosok monyet yang menyebalkan sambil membuka mulutnya lebar, menampakkan gummy smilenya dan menyuruhku masuk. Aku masuk dengan ragu.

“tumben sekali kau kesini. Baru saja Kyuhyun pergi” katanya sambil berjalan di belakangku. “leader Super Junior itu siapa ya?” tanyaku pada si Monyet itu sambil masih memunggunginya “mau apa memangnya?” tanyanya “aish! Jangan banyak tanya! Cepat panggil leadernya” suruhku.

“hyung! Eeteuk Hyung, ada yang ingin bertemu denganmu!” teriak si monyet itu di belakangku. Aku membalikkan badanku dan melayangkan tatapan mematikan padanya “YA! KAU MEMBUAT KUPINGKU SAKIT! JANGAN BERTERIAK DI DEKATKU BODOH!” marahku, semua member yang mendengar teriakanku langsung melayangkan pandangannya padaku. Kulihat disana ada Donghae yang tadinya sedang berada di dapur kini melihatku dengan wajah bingung, dan si gendut yang seperti gorilla itu mengunyah makanannya dengan enggan setelah mendengar teriakanku, dan si badan besar berkepala kecil dan si cantik itu menongolkan kepala mereka dari balik pintu kamar. Aku meliriki mereka satu-satu dengan tatapan tajam nan mematikan itu. Lalu mereka kembali dengan aktivitasnya masing-masing dan melupakan keberadaanku disini. si monyet itu pun pergi karna takut padaku.

***

“siapa namamu?” tanya leader Super Junior yang kalau tidak salah, namanya adalah Eeteuk. Tadi si monyet itu memanggilnya Eeteuk-hyung soalnya.

“hyen” aku memberitahukan nama panggilanku lalu mulai menanyakan tentang izin yang dia berikan pada Kyuhyun tadi malam.

“apakah tadi malam Kyuhyun tidak berada di dorm?” aku mulai dengan satu pertanyaanku. Tentu saja sekarang aku hanya berdua dengannya dan bukan di dorm-nya, tapi di kedai es krim yang dekat dengan apartemennya. Aku yang mengajaknya kesini, mengingat aku yang sangat suka sekali dengan es krim dan ingin memakannya.

“ne, wae guerae?”

“tadi malam apa yang dia katakan saat mau pergi?”

“dia bilang ingin menginap dirumah noona-nya, ya sudah aku biarkan saja”

Aku terbatuk kecil karna keselek es krim yang belum sempat aku telan dengan benar. Eeteuk-oppa mengambilkan tissue untukku, aku menerimanya dan mengelap bibirku dengan tissue “ingin menginap dirumah noona-nya?” tanyaku lagi tidak percaya.

“kenapa kau memperbolehkannya?” sambungku lagi.

“ya, apa haknya aku untuk melarangnya? Lagipula dia hanya menginap dirumah noona-nya saja. It’s alright” jawabnya.

“bagaimana jika tadi malam dia membohongimu. Ternyata dia bukan menginap di rumah noona-nya tapi malah dirumah seorang yeoja?” aku mendesakkan pertanyaan padanya, ingin melihat ekspresinya.

“ya biarkan saja. Dia sudah besar, asal dia sudah siap dengan resiko dan sudah mau bertanggung jawab ya sudah. Lagipula itu haknya. Aku sebagai leader tidak pernah mengekang para member, tugasku hanya memastikan bahwa yang dilakukan para member tidaklah salah dan tidak diluar dugaan” jelasnya. Aku hanya manggut-manggut tidak jelas. Sebenarnya api yang ada dihatiku sekarang sedang membara dengan ganasnya. Kyuhyun ternyata Liar! Kyuhyun itu tukang bohong! Aku sudah melihat 2 kebohongan darinya sekarang. Ah, baiklah!

Tring

Bel yang terpasang di atas pintu terdengar ketika seseorang membuka pintunya.

Aku masih fokus mendengarkan perkataan eeteuk-oppa tentang Kyuhyun. Aku harus berhati-hati dengannya, ternyata otaknya itu licik sekali. Dia tukang berbohong. 2 kebohongan sudah aku ketahui. Walaupun hanya bohong kecil dan wajar, tapi tetap saja aku enek mendengarnya!

“hyen?” aku mendongak dan melihat wajah Kyuhyun dengan muka sebal, alisnya saling bertautan dan tatapan matanya tidak enak dilihat menurutku.

“kyu?” kata Eeteuk-oppa yang juga menyadari keberadaan Kyuhyun disini.

Aku membuang pandanganku darinya dan kembali menatap Eeteuk-oppa yang tersenyum manis padaku memperlihatkan lesung pipitnya.

“sini kau!” Kyuhyun menarik tanganku paksa keluar restoran “apa yang kau lakukan dengannya?” tanyanya asa mengintrogasiku “kenapa kau tanya itu? Bukan urusanmu!” ucapku ketus. “kau tidak boleh dekat-dekat dengannya!”

“WAE?” tanyaku tidak habis pikir, apa maksudnya melarangku dekat dengannya? Memangnya dia siapa bisa melarangku seenaknya?

“ah, ani tidak jadi” dia melepaskan tanganku dan menghembuskan nafas dengan berat. Aku menatapnya penuh tanya dan dia menatapku juga. Mata kita bertemu. Kenapa aku melihat ada semburat kemarahan di matanya? Apa dia masih marah padaku? Aku langsung mengalihkan pandanganku ke arah jalan. Aku jadi teringat Eeteuk-oppa yang masih ada di dalam. Aku langsung berjalan ke arah pintu kedai itu tapi lagi-lagi tangan Kyuhyun menghalangiku “aku masih marah padamu” katanya –mungkin- memberitahuku.

“so?” jawabku acuh tidak peduli lalu masuk ke kedai es krim.

***

Aku turun dari meja yang ku duduki saat mendapati Jung Songsaengnim memasuki ruangan kelas. Aku duduk tanpa mengacuhkannya, aku hanya fokus melihati kuku-ku yang sepertinya belum di potong. Kutek yang terakhir ku gunakan juga sudah mulai jelek. Aku jadi berpikir untuk ke salon setelah pulang sekolah. Mumpung hari ini tidak ada jadwal untuk melatih. Pikirku.

“annyeong” sapa Jung Songsaengnim ramah. Aku menjawabnya dalam hati karna aku malas untuk membuka mulutku sekarang. “ada murid baru” katanya lagi. Murid baru? Tanggung sekali dia, sekarang sudah akhir juni, sebentar lagi kan juli dan musim panas. Lalu kita libur, kenapa tidak masuk nanti saja setelah liburan musim panas? Komentarku dalam hati.

“…..” oceh Jung Songsaengnim panjang lebar, aku tidak menatapnya sama sekali daritadi, aku hanya tetap fokus pada kuku-kuku-ku yang terlihat bagus sekali. Bahkan sesekali aku tersenyum melihat kuku-ku yang feminim. Tidak seperti tampilanku -_-

“KYYAAAAAAA” teriak banyak orang yang ku yakini yeoja semua. Karna suaranya yang cempreng.

“aigo aigo, neomu hanseomu”

“uuuuhhhh kyeopta^^”

“yang sebelah kiri itu imut sekali. Dan yang kanan tampan”

“iya iya benar”

“mereka itu namja yang kemarin kan? Yang di kerubungin para yeoja itu? Aish! Akhirnya aku bisa melihat mereka dengan jelas, habis kemarin aku tidak bisa melihatnya, sesak. Terlalu banyak orang” kata seorang yeoja yang entah siapa itu berbicara. Yang pasti teman sekelasku.

Oooh jadi murid baru itu seorang namja? Namja yang kemarin hampir menjadi santapan buas para yeoja yang kampungan dan tidak tahu malu itu? Hm.

“Hyun Ra, coba kau pegang dadaku, jantungku berdebar. Mereka tampan sekali” kata seorang yeoja yang duduk di seberangku. Eh? Berdebar? Memangnya siapa anak baru itu? Kenapa responnya lebay sekali sampai dadanya berdebar seperti itu?

Belum sempat aku memutar kepalaku untuk melihat ke depan kelas, suara seorang namja memaksaku untuk menengok ke depan kelas lebih cepat “Hyen!!”

“o?” tanyaku kaget. Si kembar itu?! Jadi mereka si murid baru dan yang kemarin hampir menjadi santapan buas para yeoja itu?

Aku membuang pandanganku dari mereka berdua dan menoleh ke kanan menatap tembok.

“WAE?” tanyaku pada tembok yang tak berdaya yang telah menemaniku setiap hari untuk bersandar. Aigo, jantungku rasanya seperti ingin mencelos mendapati mereka berdua ada disini. aku menyandar lemas di kursiku.

“kalian mungkin akan duduk terpisah. Ada yang disana, dan mungkin disana” tunjuk Jung Songsaengnim kepada 2 tempat duduk yang kosong. Dan kursi sebelahku kiriku yang kosong ini menjadi korbannya.

“hah” aku terkulai lemas dan menelengkupkan kepalaku di atas meja. Beberapa detik kemudian aku merasa kursi disebelahku ini sudah diduduki oleh seseorang. Siapa lagi dia? Dulu aku selalu bertemu dengan Kyuhyun, tapi sekarang… aku selalu bertemu dengan 2 namja kembar yang aneh ini. Hah. Tuhan, sebenarnya apa yang kau inginkan dariku? Permainan macam apa yang sedang aku jalani di dunia mu ini? Geramku dalam hati.

“waeyo Hyen?” tanyanya. Aku tidak bergeming, tetap menelengkupkan kepalaku di atas meja. Tidak ingin melihatnya.

“hah. Kau ini yang berambut hitam atau coklat?” tanyaku malas. Keadaan dudukku sekarang sudah seperti zombie yang kelaparan. Rambut panjang yang menutupi kepalaku yang sedang terbenam di atas meja, tanganku yang aku biarkan menjuntai kebawah, dan kakiku yang berselonjor kedepan. Aku jadi tidak semangat hidup jika harus terus bertemu dengan 3 namja itu.

“hitam” jawabnya.

“aishi jinjja, kenapa tidak yang coklat saja?” pintaku dengan nada serendah mungkin, agar dia tidak bisa mendengar.

“oh, jadi kau ingin dengan kembaranku?” aku mendengar suara kursi menggesek ke lantai dan beberapa detik kemudian, sudah ada orang lagi yang mengisinya.

“kau ingin aku yang disebelahmu?” aku menengok ke kiri, tetap dengan kepala yang menempel di atas meja “hah” desahku melihat orang yang kini ada di sebelah kiriku dan mulai menelungkupkan wajahku lagi di atas meja. Mengesalkan sekali.

***

JULY, Summer.

“YAAA hyen-ah! musim panas telah tiba!!” ujar Ah Ra-unnie yang terlihat begitu gembira “tidak ada yang spesial bagiku” decakku sebal sambil berjalan pelan karna malas, aku menekuk wajahku  dan menggembungkan pipiku “special this summer, ada! Kau dan aku, ke pulau Jeju. 5 hari saja! Aku yang menanggung semuanya. Kau harus mau, ya ya ya?” tawarnya. Jeju Island? KYAA dari dulu aku berharap bisa kesana.

“Jeju? Jinjja? KYAAAA” ucapku senang lalu memeluk Ah Ra-unnie dan berputar-putar dalam kondisi badan yang masih berpelukan. Eh? Berpelukan?

Aku melepaskan pelukannya dan berpura-pura merapihkan bajuku. “hah. Jeju? Untuk apa? Membosankan” ucapku ketus. “hah. Kau berbohong lagi hyen-ah” dengus Ah Ra-unnie sebal, sedangkan aku hanya bisa tersenyum senang karna tahu akan ke pulau Jeju dengan GRATIS. 5 hari pula!

***

“aigo Hyen, pantainya Indah sekali ya” seru Ah Ra-unnie takjub saat kami mendaratkan kaki kami di pasir putih pinggir laut. “hm” aku menggumam. Bukan karna tidak semangat. Tapi karna terlalu takjub melihat pemandangan yang ada. Akhirnya, selama 23 tahun aku hidup, setidaknya aku pernah menginjakkan kakinya di Pulau Jeju. Ini menyenangkan.

“hyen, sini!” kata Ah Ra-unnie sambil melambai-lambai menyuruhku ke tempatnya yang sedang asik berjemur. Aku menidurkan badanku juga di atas pasir laut dan menatap langit. Silau. Terik matahari terlalu membakar kulitku. Pasti kulitku sekarang memerah. Sejak kecil, aku memang tidak tahan dengan terik matahari yang terlalu menyengat, alhasil kulitku jadi memerah deh sekarang.

Aku berlari kecil mencari tempat yang teduh di bawah pohon yang rindang. Sekarang aku hanya memakai baju putih polos tak berlengan dan celana pendek sekitar 25cm di atas lutut berwarna coklat. Badanku terlalu terbuka sehingga banyak pori-pori yang menyerap terik matahari tadi. Aish! Aku menggerutu kesal saat melihat pahaku yang memerah. “kulitku jadi seperti babi!” dengusku kesal.

“wae Hyen?” tanya Ah Ra-unnie membuka topi pantainya dan mendelik ke arahku yang masih saja berdiri di bawah pohon besar “aku tidak kuat panas unnie, kulitku jadi seperti babi. Aishi jinjjja!” jawabku sambil menggerutu.

“noona, kau sudah datang?” seorang namja yang tingginya sekitar 180 cm dengan celana pendek dan baju biru muda oblong berleher v-neck menghampiri Ah Ra-unnie yang masih berbaring menikmati teriknya matahari. Sementara aku, sudah melotot tidak percaya melihat siapa yang baru datang itu. Bagaimana bisa?

“kyuhyun?” panggilku. Dia menoleh ke arahku dan melihatku aneh karna berdiri dibawah pohon besar “MWO?! Kenapa ada kau?!” tanya Kyuhyun kaget melihatku ada di pulau yang sama dengannya. Aku berjalan menghampirinya sambil melawan teriknya matahari yang akan membuat kulitku tambah memerah seperti tomat.

“kenapa dia bisa ada disini?” tanyaku dan Kyuhyun bersamaan kepada Ah Ra-unnie, dia hanya nyengir kuda. Kami berdua saling pandang lalu menatap Ah Ra-unnie dengan tatapan mematikan.

“noona!”

“unnie!”

Teriakku bersamaan dengan Kyuhyun.

Hm, jadi… dia sengaja menyuruh Kyuhyun datang kesini? Aku pikir kita Cuma berdua makannya aku langsung mau ikut. Selama perjalanan juga dia tidak membicarakan kyuhyun, maka dari itu aku sama sekali tidak terpikir bahwa kyuhyun ada disini. tapi nyatanya… makhluk bertubuh besar nan menyebalkan itu sekarang sedang berdiri persis di sebelahku. Unnie… waeyo? Kau tidak tahu kalau kami berdua ini sedang marahan? Kenapa kau mempertemukan kita????? Keluhku dalam hati menahan rasa sabar.

“kau pulang sana!” usirku sambil ogah menatap Kyuhyun. Aku hanya melihat baju biru mudanya saja, tidak berani mendongak apalagi bertemu dengan matanya. Tuhan, perasaanku masih canggung. Aku tidak mengerti dengan apa yang malam itu dia bicarakan padaku. Dan hal itu selalu terngiang-ngiang dikepalaku.

“ani! Enak saja! Kau saja sana yang pulang!” usir Kyuhyun balik. Dia benar-benar memancing emosiku. Dengan terpaksa, mataku mendelik menatap matanya “ani! Kau saja yang pulang! Tidak ada yang mengundangmu kesini!” kataku ketus lalu membuang pandangan lagi.

“kata siapa? Aku disuruh noona kesini. Kau sendiri, kenapa ada disini? bukankah tidak ada yang mengajakmu?” tanyanya meremehkan.

“aku kesini karna dipaksa oleh kakakmu bodoh!” aku menginjak kakinya karna sudah terlalu kesal lalu kembali ke pohon untuk berteduh. Aaah kulitku semakin memerah ini!

“aku tidak mau melihatmu ada disini!” teriakku.

“AKU JUGA TIDAK MAU!” kata Kyuhyun balas berteriak.

“persetan denganmu Cho Kyu!” kataku setengah berteriak “persetan juga denganmu Nam Hyen!” kata Kyuhyun mengikuti gaya memanggilku yang hanya setengah.

“begini saja. Kita main games, yang menang boleh menyuruh apa saja kepada salah satu dari kita…” katanya sambil menunjuk dirinya sendiri, aku dan Ah Ra-unnie “untuk melakukan apapun termasuk mengusirnya pulang. Dan yang disuruh, harus rela dengan senang hati untuk menuruti apa yang diinginkan si pemenang. Oette?” tawarnya.

Aku mencoba berpikir sejenak. Jika aku menang, aku bisa menendang Kyuhyun kembali ke Seoul. Kalau Ah Ra-unnie menang, entahlah apa yang akan dia lakukan. Tapi kalau Kyuhyun menang, aku jamin pasti aku yang akan ditendang olehnya ke Seoul. Hah. Eotte? Aku masih belum puas ada di pulau ini. Eh, chakka, permainannya apa?

“permainan apa?” sahutku.

“terserah” katanya sambil mengangkat bahu. Ah Ra-unnie menghampiriku dengan badan belakang yang penuh pasir pantai “kartu saja! Aku juga ingin menang biar bisa menyuruh Kyuhyun dengan leluasa” bisik Ah Ra-unnie memberi masukan. Kartu? Oke! Aku jago sekali bermain kartu. Pasti aku bisa menang. Ha ha ha. Tawaku evil dalam hati.

“bagaimana kalau bermain kartu?”

***

“ya ya ya! Jangan curang kau!” tegurku langsung saat melihat Kyuhyun sudah mau ambil jalan duluan, padahal sekarang kan gilirannya Ah Ra-unnie.

5 menit berlalu

“noona! Itu si yeoja itu mengintip kartumu tuh!” tuduh Kyuhyun sembarangan.

“siapa yang mengintip?!” tanyaku tidak terima sambil menggebrak meja menyebabkan kartu yang kupegang berhamburan ke lantai.

“oh, jadi kau tidak punya wajik? Aku ada banyak hahaha 1 kelemahanmu ya. Siap-siap saja menerima kekalahan Hyen” aku mengerucutkan bibirku dan segera memungut kartuku yang jatuh dan mulai bermain lagi. Kurang ajar!

“diulang saja unnie mainnya. Adikmu itu curang sekali!” pintaku.

“ah ani. Aku bentar lagi menang nih” tolaknya.

“ayo noona, jalan” suruh Kyuhyun dengan nada sombongnya. Aku melihat kartu yang sedang di pegangnya. 1? Tinggal 1? Jeongmal??? Aku saja masih ada 6!

“great noona. Gomawo” ucapnya lembut sambil melempar kartu yang tinggal satu-satunya itu ke atas meja dengan bangganya lalu tertawa angkuh. Aku melemparnya dengan bantal yang ada di sofa dan memicingkan mataku melihat tingkahnya yang membuat perutku mual.

“baiklah. Jadi, karna aku menang. Permintaanku kali ini adalah…..”

“tunggu!!!” aku memotong pembicaraannya. Aku tau dia pasti akan menyuruhku kembali ke Seoul. Dia pasti akan mengusirku. Kurang ajar! Padahal aku sudah terlanjur senang bisa mengunjungi Jeju, tapi tiba-tiba dia datang dan berhasil membuatku harus angkat kaki dari sini!

Aku bersumpah suatu hari dia pasti akan aku remukkan kepalanya!

“wae??” tanya Kyuhyun bingung.

“aku harus siap-siap dulu mendengar permintaanmu” kataku sambil mengambil nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya lagi.

“hah. Malhaebwa” sebenarnya tanpa dia mengatakannya juga aku tau dia pasti akan mengusirku dari Jeju dan mengirimku kembali ke Seoul. Kyuhyun… aku masih ingin disini.

Lagian tidak biasanya aku kalah dalam bermain kartu! Ah, ini pasti karna tadi dia mengintip kartuku saat semua kartuku jatuh. Pasti! Dia pasti mengingat-ngingat apa kartu yang ku punya dan dengan mudanya dia melumpuhkanku. Licik sekali otaknya!

Kasihan aku melihat para yeoja yang mengaguminya sampai –mungkin- akan rela bunuh diri saat melihat Kyuhyun punya pacar itu, saat harus tau sifat aslinya yang begitu buruk. Jika aku menyebarkannya, apa ya reaksi mereka?

“baik! Permintaanku adalah…. aku mau…..”

“EHEM” aku berdeham tidak mau mendengar kata-kata Kyuhyun selanjutnya. Aku mencibirkan bibirku dan memasang wajah memelas.

“kenapa wajahmu?” tanyanya.

“lanjutkan omonganmu bodoh!”

“baiklah. Aku mau….”

“aku mau Ah Ra-noona meninggalkan Jeju” katanya sambil berdeham di akhir kalimat.

TO BE CONTINUED

28 responses »

  1. Pingback: My Nightmare Season II ♥♥Part 1♥♥ | FFindo

  2. Pingback: My Nightmare Season II ♥♥Part 1♥♥ « Nisa Ayu Thayalisha Hadi's

  3. Pingback: [FICLET] My Nightmare Season II : Hotel (Part 4) « Nisa Ayu Thayalisha Hadi's

  4. Pingback: My Nightmare Season II : Hotel | FFindo

  5. Owowoowww..
    Jdi Kyu mw brduaan m Hyen, d jeju lgi, so sweet..
    Mdah2an sih Hyen lbi peka lgi ttg perasaannya m Kyu*Amin#hehe

  6. haduh c’kemabar kuliah dikampus yg sama kayak hyen , ehm jd hyen nambah temn deh , walau tetep hyen jutek , kkkk
    aduh ternyata kyu sendiri yg mau nemenin hyen , ehm apa km mulai mencintai hyen :3
    whatttt kyu malah nyuruh ahra pulang ke seoul ,. aigoo kyu apa km merencanakan sesuatu hah ???!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s