My Nightmare [Part 9]

Standard

Author : Nisa Ayu Thayalisha Hadi (Nam Hyen Hyo)

Cast :

Nam Hyen Hyo

Cho Kyuhyun

Support Cast :

Lee Jaehyo

Lee Taehyo

Title : My Nightmare [Part 9]

Length : on going~

Genre : Romance, Fluff, Comedy

Rating : PG-15

=====================================================================

 

 

Preview

“Kau suka padaku. Aku tau. Apakah dengan begini bisa membuatmu berdebar?” dia menarik tanganku dan memelukku. Kasar. Ini bukan pelukan. Ini paksaan. Tapi walaupun hanya dengan paksaan, aku benar-benar berdebar.

“Kau bisa mendengar detak jantungku?” tanyanya. Aku merasakannya Kyu. Apakah kau benar-benar berdebar?

“Tidak! Aku tidak berdebar. Keluarkan aku!”

Aku benci karna ini bukan diriku! Aku kehilangan setengah kepribadianku. Aku ingin kepribadianku kembali. Semuanya gara-gara cinta. Cinta yang telah membuang setengah dari sifatku. Tuhan, aku tersiksa!

“Jika aku memang benar-benar mencintai Kyuhyun… buat aku terjatuh sekarang.”

“Tuhan, aku mencintainya?”

==================================================================================

Aku menekuk lututku di atas kasur dan menetesi betadine di sekitar lukaku. aish jinjja, ini perih sekali. Semuanya hanya karna permintaan bodoh hatiku yang ingin mengetahui isi hatiku dengan jelas. Jika saja tadi aku tidak meminta untuk jatuh, mungkin aku tidak akan jatuh. Dan lagi, satu yang terus terngiang-ngiang di kepalaku. Aku. Nam. Hyen. Hyo. mencintai. Seorang. Namja. Menyebalkan. Cho. Kyu. Hyun.

Ani, itu hanya kebetulan!

Kau tau kebetulan? Kau percaya pada kebetulan? Kebetulan selalu datang selama kita hidup, selagi kita masih bisa menghirup udara segar yang ada di bumi ini, kita tidak akan pernah luput dari kata “kebetulan” rite? Oke, dan itu baru saja ku alami.

Drrrt drrrt drrrt

Aku menghentikan aktivitasku dan segera menempelkan kain kassa asal di atas lukaku. menekan tombol hijau di ponselku dan segera menempelkan ponselku ke kuping kiriku dengan tangan kanan.

“Yeobosaeyo. Nugusaeyo?” ucapku kesal dengan nada tinggi. Orang yang di seberang hanya tertawa dan mulai menggumam “Jae Hyo. Lee Jae Hyo” katanya sebelum aku menanyakan siapa yang sedang menelfonku.

Jae hyo? bukankah aku punya nomornya? Kenapa dia menelfonku dengan nomor yang tidak aku kenal? Umpatku dalam hati.

“ini nomor Tae Hyo” jawab Jae Hyo seolah tau apa yang sedang ku pikirkan. “Ada apa? Ngomong saja langsung. Tidak usah basa-basi. Kau menyita waktuku” ocehku.

“Waktu untuk apa? Waktu untuk mengobati lukamu? Hey, tadi kenapa kau terjatuh? Teledor sekali” ucapnya sambil terkekeh.

“Jika kau menelfonku hanya untuk berbicara seperti itu, maaf aku tidak menerimanya. Bye” dengan segera aku memutuskan sambungan telfonnya dan membuang ponselku asal ke kasur. Aku kembali fokus pada lukaku yang sekarang sudah tertutup oleh kain kassa.

Aku mencoba berjalan dan menuju lemari, mengambil kalung liontin yang sempat aku lepas.

Aku mengamatinya dalam, melihati setiap inchi dari kalung itu. Memegangnya penuh perhatian dan mencium liontinnya. Perlahan air mataku turun menelusuri pipiku dengan lurus. Kehangatan dapat ku rasakan sekitar pipiku.

“Tuhan, aku tidak mau merasakan ini. Terlalu menyakitkan…” isakku.

Aku memasang kalung liontin pemberian Kyuhyun dan menuju meja rias. Melihat kalung liontin yang menggantung indah di leherku. Aku menarik kedua ujung bibirku membentuk senyuman kecil dan air mataku kembali turun.

“Tuhan, aku tidak mau berharap. Aku tidak mau mencintainya. Tapi kau memberikan rasa cinta itu padaku. Untuk apa? Aku tidak mungkin bersamanya. Tapi Tuhan, jika aku memang mencintainya… kenapa kau beri rasa cinta itu untukku dan diberikan padanya? Aku tidak sanggup harus mencintainya. Ini terlalu menyiksa diriku sendiri” kataku sambil terisak dan terus memegangi liontin itu.

“Tuhan, jika aku tidak membuang liontin ini dan terus memakainya apa tidak akan jadi masalah?” tanyaku lagi pada sebuah kaca yang memantulkan bayangan diriku sendiri.

“Tapi Tuhan, jika aku membuangnya apa tidak akan menjadi masalah juga?”

Drrrt drrrt drrrt

Lagi-lagi ponselku bergetar. Aku mematikan ponselku agar tidak ada seorang pun yang bisa menggangguku. Beberapa detik setelah aku mematikan ponselku, ku dengar ketukan dari apartemenku. aku bergeming di depan meja rias. Membiarkan ketukan itu semakin lama semakin keras.

Aku menyerah. Aku berjalan keluar dari kamar dan menuju pintu utama. Kulihat Kyuhyun dengan wajah sangarnya berdiri dengan tegap dan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku. Aku cepat-cepat menutup pintunya kembali dan menguncinya. Lalu ku cabut kunci itu dari pintu dan mulai berjalan lagi menuju kamarku. Baru ku langkahkan kakiku menuju ruang tengah, pintu kembali terbuka dan tertutup kembali. Ku lihat Kyuhyun sudah berdiri dengan seringainnya di depan pintu. Aku menaikkan satu alisku tidak mengerti.

“Aku punya kunci duplikatnya Hyen… hahaha” tawanya. Raut wajahnya yang semula membuatku menegang, kini kembali mencairkan diriku sendiri. Aku membalikkan tubuhku malas memasuki kamar dan menutup pintu kamar dengan kerasnya.

Beberapa menit setelah itu, entah suara berasal darimana, tapi aku bisa mendengar suara teriakan orang yang sangat berisik, aku keluar kamar dan mendapati Kyuhyun sedang berbicara sendiri dengan laptop yang ada di hadapannya. Dia protes dengan game yang sedang di mainkannya sendiri.

“Kau seperti orang bodoh Cho Kyu” gumamku.

Aku berdiri di sebelahnya, mengamati permainan apa yang sedang dia mainkan.

“Hyen, kakimu, tadi terjatuh huh? Kau bahkan lebih bodoh dariku jika kau memang terjatuh” balasnya tanpa melihat ke arahku. Kurang ajar!

“Aku tidak terjatuh, tapi ada yang menyandungku!” ucapku ketus sambil menggeplak kepalanya. Dia memutar badannya menghadap ke arahku. Aku tetap mendekapkan tanganku di depan dada dan melihat ke arahnya dengan tatapan membunuh. Kyuhyun berdiri dan memegang pundakku lembut, badannya sedikit membungkuk untuk menyetarakan tinggi kami berdua. Aku menelan ludahku dengan susah payah, dalam hati aku bersumpah akan melenyapkan namja berdosa ini yang setiap hari membuat hatiku merasa tidak karuan.

“Mau apa?” tanyaku sedikit gugup.

“Jika aku memberikan sebuah pernyataan yang serius, apa kau akan menanggapinya?” tanyanya dengan tampang yang memang benar-benar serius. Aku terdiam sebentar menimang-nimang jawaban apa yang pantas lalu aku mengangguk.

“Jika aku memberikan sebuah janji padamu, apa kau akan menepati janji itu?” tanyanya lagi. aku menautkan kedua alisku tidak mengerti. Kyuhyun menegapkan badannya dan melepaskan pegangannya pada bahuku sebelum aku menjawab. Ia menutup laptopnya asal dan menentengnya.

“Baiklah. Kau bahkan tidak bisa menjawab” putusnya langsung.

“Aku bisa menepati janji” sambarku segera.

“Oh ya? Kalau begitu, jangan dekat dengan namja lain selain aku. Ah… begini saja, jangan dekat dengan namja lain di depanku. Jangan bicarakan namja lain di hadapanku. Dan jangan… dekat-dekat dengan Jae Hyo. mengerti? Kau bisa menepati janjimu seperti pernyataan yang baru saja kau lontarkan? Aku percaya padamu Hyen” dia mengacak-ngacakkan rambutku sebentar dan segera menghilang di balik pintu utama. Dia pergi. Keluar dari rumahku. Meninggalkanku yang masih bengong tidak mengerti dengan apa yang barusan saja di katakannya.

Aku memegang kalung liontin pemberiannya dan menggenggamnya.

“Perjanjian macam apa huh?” tanyaku pada liontin pemberiannya.

***

BONUS (JAE HYO POV)

Jae Hyo POV

“Hyung, wajahmu kenapa kusut?” tanyaku bingung saat melihat Kyuhyun-hyung dengan wajah kusut yang baru saja masuk ke rumah.

“menurutmu? Bisa tidak kau tidak menggangguku? Dan satu lagi, bisa tidak kau tidak dekat-dekat dengan Hyen Hyo huh?” pertanyaan dari Kyuhyun-hyung kali ini membuatku terlonjak kaget dan tidak berhenti-hentinya keheranan, apa maksudnya?

“dia adalah pacarku. Berani-beraninya kau menyentuhnya, kau habis di tanganku Jae” ancam Kyuhyun-hyung sambil berjalan melaluiku dan menabrak pundakku dengan sengaja. Aku menatap punggungnya yang sedang menaiki anak tangga sambil menyipitkan mataku. Hyen hyo pacarnya Kyuhyun? Bukankah itu hanya status pura-pura? Atau mereka sudah…..

***

“Ya! Kau berpacaran dengan Kyu-hyung?” aku menghampirinya yang sedang duduk sendiri di kantin sambil melahap makanannya dan segera menyambarnya dengan pertanyaan yang semalaman membuatku tidak bisa tidur.

“uhuk uhuk…” dia tersedak dan memegangi lehernya. Tangan kirinya berusaha menggapai minumnya tapi tidak sampai. Aku mengambilkannya dan memberikannya padanya.

“Kau bicara apa barusan?”

“Kau berpacaran dengan kyu-hyung?” ulangku lagi.

“Jika kau datang kesini hanya untuk menanyakan itu, lebih baik tidak usah. Lagipula aku tidak pacaran dengannya. Siapa yg mau pacaran dengan orang seperti itu? Tch!”

***

Aku akan menutup pintu mobilku, namun terhenti saat melihat pemandangan apa yang sedang ada di depanku sekarang. Kyuhyun! Dia menarik Hyen Hyo paksa keluar dari kampusnya sampai menuju mobilnya. Aku mengikutinya, berusaha untuk menyelamatkan Hyen Hyo. aku tau Hyen Hyo tidak mau. Dia memang keras kepala, dan tidak bisa di paksa. Tapi bukan dengan cara seperti itu untuk bisa meluluhkan hati seorang yeoja yang keras kepala.

Baru saja aku akan menggedor kaca mobilnya, Kyuhyun melirikku tajam dan langsung menyambar bibir Hyen dengan kasar. Berkali-kali Hyen menolaknya, tapi semakin erat Kyuhyun menarik tengkuk Hyen agar mau terus di lumat bibirnya dengan Kyuhyun. Aku membalikkan tubuhku dan menggigit bibir bawahku. Dalam hati aku bersumpah tidak akan pernah lagi melihat pemandangan seperti tadi. Dan dalam hati juga aku bertekad suatu saat aku akan melepaskan Hyen dari Kyuhyun. Tidak akan pernah membiarkannya seperti tadi.

Tae Hyo menepuk pundakku dari samping, dia membuyarkan lamunanku. Hampir saja dia melihat isi mobil Kyuhyun yang kini berada di belakangku, tapi dengan sigap aku mendorong badannya menjauhi mobil Kyuhyun. Tae Hyo tidak boleh melihatnya, ini terlalu mengenaskan saat dia tau Kyuhyun yang selalu Ia idam-idamkan ternyata bersifat pemaksa seperti itu.

BACK TO HYEN POV

Kyuhyun menarik tanganku paksa saat aku baru saja keluar dari kampusku. Genggamannya di sekitar pergelangan tanganku awalnya biasa saja, namun semakin erat entah karena apa. Aku berlari kecil agar bisa mengiringi langkah kakinya yang panjang dan tergesa-gesa. Semua manik mata memandang kami heran.

Kyuhyun memasukkanku ke dalam mobilnya, awalnya aku hanya diam dan ingin memarahinya saat dia juga sudah masuk ke dalam mobilnya. Namun semua niatku menghilang begitu saja saat aku merasakan bibir hangat dan halus Kyuhyun mengecup bibirku juga. Tangan kanannya menyusup ke balik kepalaku, mendorong tengkukku terus agar kita berdua semakin memperdalam ciuman kita. Tunggu! Ini bukan ciuman. Lagi-lagi ini paksaan!

Aku mendorong tubuh Kyuhyun sekuat mungkin, melepaskan ciumannya yang sedari tadi sangat kasar di bibirku.

“GILA!” teriakku. Dan bersamaan dengan itu, aku menampar pipinya sampai berbekas, dia hanya memegang pipi bekas tamparanku sambil menyeringai. Dia menjilat bibir bawahnya lalu kedua tangannya beralih memegang stir mobil.

“Aku gila mencintaimu Hyen” dia menatapku tajam seolah ingin menelanku hidup-hidup. Aku menyipitkan mataku, mencari kebenaran dalam mata Kyuhyun yang telah dipenuhi siratan kebencian. Tidak. Kyuhyun tidak mencintaiku, dia berkata begitu agar aku masih mau mengikuti permainannya, menjadi pacar pura-puranya.

“Sekarang kita ke SM, hari ini kita harus berpura-pura lagi” ujar Kyuhyun sambil menstarter mobilnya. Aku menyandarkan tubuhku di jok mobil dan memandang keluar melalui jendela. Entah apa yang bisa aku lakukan sekarang, tapi bibirku rasanya kering, tidak bisa terbuka. Lidahku rasanya kelu, seperti tidak bisa di gerakan. Tenggorokanku pun tercekat.

Tuhan, aku sudah bilang bukan? Aku tidak mau jatuh cinta, jatuh cinta membuat setengah kepribadianku hilang. Bahkan tiga perempat, bukan lagi setengah. Dan aku tidak mau masuk ke dalam dunia ini terlalu dalam. Aku tidak mau semua kepribadianku hilang. Ini bukan diriku. Kembalikan aku Tuhan.

***

“Ya, Kyuhyun-ah, kenapa pipimu merah seperti itu?” tanya salah seorang dari banyaknya orang yang berlalu lalang. Kini Ia berdiri di dekat kami dan mendekati Kyuhyun. Aku mendecakkan lidahku karna sebal lalu menatap Kyuhyun tajam.

“Eh Yunho-hyung. Yah, biasa, ada masalah dengan pacarku. Jadi dapet tanda deh” gurau Kyuhyun. Aku memicingkan mataku menatap Kyuhyun tidak suka lalu beralih ke orang yang tadi di panggil ‘Yunho-hyung’ oleh Kyuhyun. Dari tadi dia terus menatapku tanpa mengucapkan satu patah kata pun.

“Dapat darimana kau gadis seperti ini?” aku membelalakkan mataku, seolah semua bola mataku ingin jatuh keluar dan menggelinding ke tanah. Kurang ajar! Apa dia ingin menyindirku? Kata-katanya pedas sekali. Liat saja nanti.

“Tidak tahu. Dia temannya Ah Ra-unnie, karna itu aku bisa kenal dengannya, wae hyung?”

“Cantik” dia tersenyum ke arahku dan segera mengalihkan lagi pandangannya saat aku memelototinya. Dia menepuk pundak Kyuhyun dan berlalu dari kami berdua. Senyum yang tersungging di bibir Kyuhyun mulai sirna dan dia melihat ke arahku seakan-akan dia ingin membunuhku. “Ya! Pipiku jadi seperti ini! Aish, jinjja!” teriaknya lalu meninggalkanku. Aku hanya mengangkat bahu dan mengikutinya dari belakang. Bukan karna apa-apa, tapi karna aku tidak ingin nyasar di sini. Terlalu memalukan.

“Aigo, yeoja ini datang lagi” Yesung menggeleng-gelengkan kepalanya saat melihatku. Kalau tidak salah sih namanya Yesung. Pokoknya aku hapal betul dengan raut wajahnya. Dia itu kan tidak menang di acara Immortal Song. Huh. Bodoh sekali.

“Kyuhyun-ah, pipimu, wae?” tanya Donghae yang menyadari adanya bekas merah di pipi kanan Kyuhyun. Kyuhyun melirikku sebentar dan tidak menjawab apapun pada Donghae. “Ah, arasseo. Kau pasti di tampar oleh Hyen, ya kan?” tebak si monyet tepat sasaran. Dalam hati aku menambahkan, ya iyalah Kyuhyun aku tampar, seenaknya saja dia menciumku. Kurang ajar!

“Dia menciumku seenaknya!” ketusku. Si cantik, si banci berboneka pink, si badan besar berkepala kecil dan si Yesung memelototi Kyuhyun tidak percaya. Serentak mereka berempat berdiri dari duduknya dan mendekati Kyuhyun.

“Ya ya ya hyung! Bohong, dia bohong!!”

“Kau benar telah di cium oleh Kyuhyun?” tanya Donghae yang diikuti anggukan dari si monyet. Aku hanya mengangguk dan memutar bola mataku.

“Kyu! Kalau sampai anak ini bilang kepada netizens bahwa kau mencium yeoja bagaimana????” sembur Yesung.

“Hyung, semua orang kan taunya aku ini pacaran dengannya. Jadi ya wajar saja~” jawab Kyuhyun enteng sambil angkat bahu. Ah iya, benar juga, aku jadi tidak bisa mengancamnya. Sial.

***

“Hyen, aku sudah di basement” seru Jae Hyo dari seberang, aku hanya menggumam dan memutuskan sambungan telfonnya. Dengan cepat aku mengambil tas-ku yang tergantung di lemari dan segera berhambur keluar apartemen. Lagi-lagi aku bangun kesiangan. Tch!

“Mianhae, aku kesiangan” keluhku saat menutup pintu mobil Jae Hyo.

“Hyen-ah~ kau lama sekali!” protes Tae Hyo sambil menyandarkan bahunya di jokku. “Kan sudah kubilang maaf, aku kesiangan!” geramku sambil meliriknya sinis. Dia langsung beringsut menjauhkan dagunya dari jokku dan segera bersandar di jok belakang.

“Masih pagi sudah mulai debat, aigo~” Jae Hyo menggeleng-gelengkan kepalanya.

Ada yang beda! Apa ya??? AH! rambutnya…

“Jae Hyo-ssi, kau memotong rambutmu?!” kagetku saat melihat rambutnya tidak selebat yang dulu. Sekarang rambutnya sama dengan Tae Hyo. hanya saja Tae Hyo berwarna coklat, dan Jae Hyo hitam. Tapi bentuk rambutnya sama. Padahal dulu rambut Jae Hyo jauh lebih lebat daripada ini.

“Kau menyadarinya? Kau memperhatikanku juga ternyata hahaha” guraunya. Aku mencubit lengannya dengan keras hingga membuatnya merintih kesakitan. Aish!! Dia bilang aku memperhatikannya, itu sudah cukup membuat hatiku berdetak tidak karuan!

“Kalau aku, menurutmu ada yang berubah tidak?” sambar Tae Hyo sambil menepak pundakku pelan, aku menolehkan kepalaku menghadap ke arahnya “tidak ada, kurasa” jawabku singkat. Dia hanya mengangguk dan tersenyum “Kau memperhatikan kami berdua! Hahaha” tawanya menggelegar, dan bersamaan dengan itu Jae Hyo dan Tae Hyo langsung tos. Entah ada angin apa, aku malah tersenyum melihat tingkah mereka. Ternyata anak kembar itu lucu. Saat sudah menikah nanti, aku jadi ingin punya anak kembar.

Ngomong-ngomong soal anak, kira-kira nanti aku akan menikah dengan siapa ya? Hm… aku ingin punya 2 anak laki-laki kembar seperti mereka, kalau aku nikah dengan Jae Hyo, pasti anaknya mirip dengan appa-nya, pasti tampan. Tapi kalau aku menikah dengan Kyuhyun… pasti anaknya..

EH? KYUHYUN?!

Aku menepak keningku dengan keras.

“Wae Hyen-ah?!” panik Tae Hyo, sementara Jae Hyo tetap fokus pada jalanan yang ada di depannya.

“ah? eh? Anu.. hm, ani, tadi aku merasa ada nyamuk di dahiku” ucapku berbohong, sementara Jae Hyo hanya tersenyum, dia sepertinya tau aku berbohong. Tae Hyo mengerutkan keningnya tidak mengerti “Nyamuk? Mana mungkin di mobil ini ada nyamuk” serunya bodoh sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Raut wajahnya masih sama, memandangku heran dan bingung. Sementara aku hanya nyengir kuda dan ikut-ikutan menggaruk kepalaku yang sama sekali tidak gatal. Aish!! Ini gara-gara Kyuhyun! Kenapa Kyuhyun tiba-tiba muncul di pikiranku?!

***

“Yang ini saja!” paksa Kyuhyun sambil menempelkan baju yang masih tergantung itu dibadanku. Dia mengajakku ke Mall agar menarik perhatian banyak orang, dia tetap ingin ‘mempromosikan’ diriku ini sebagai pacarnya. Aish, jinjja! Rasanya aku ingin menelannya hidup-hidup jika aku tidak terikat dengan kontrak bodoh ini.

“Ani Kyuhyun-ah, aku ingin yang ini saja!” bantahku sambil mengacungkan baju berwarna kuning. Kyuhyun tetap pada pilihannya, dress pendek berwarna pink yang harus aku pakai. Aku mendudukkan badanku di kursi saat Kyuhyun merebut baju pilihanku dengan kasar.

“Ayo pakai, masuk ke kamar pas hahaha” ucap Kyuhyun pas dan bangga. Aku hanya mengikuti omongannya dan masuk ke kamar pas.

“YAAA!!! BAJU APA INI!?” teriakku dalam hati saat melihat pantulan diriku di cermin. Tuhan…. lihatlah, belahan dadaku terlihat, dan juga ini sangat minim. Kyuhyun seperti ingin menyantap tubuhku habis jika Ia menyuruhku memakai baju seperti ini. Ini sama saja seperti aku tidak memakai baju!

Cepat-cepat aku langsung mengganti bajuku lagi. aku keluar dengan baju yang tadi aku pakai.

“Kenapa baju pilihanku tidak kau pakai? Aku ingin melihatnya” kata Kyuhyun sambil melipat kedua tangannya di dada dan bersandar di tembok tepat di depan kamar pas-ku.

“Aku tidak mau! Kau saja yang pakai!!! Sekali lagi kau memaksaku, aku akan berteriak di ruang informasi bahwa aku hanyalah pacar pura-puramu. Arra?! Ambilkan baju pilihanku yang tadi!” ancamku sambil memberikan baju pilihan Kyuhyun kepadanya. Ia menatapku tajam seolah ingin menjambak rambutku kasar namun aku menatapnya balik, sama tajamnya, mungkin lebih tajam. Kyuhyun berjalan dengan kesal dan kembali dengan membawa baju berwarna Kuning pilihanku tadi.

Baju dengan lengan sesikut berwarna kuning yang sangat pas di badanku dan juga hot pants berwarna cream yang pendeknya 25-30 cm di atas lutut. Aku rasa aku cukup berpakaian seperti ini. Ini sama sekali tidak terlihat bahwa aku ini tukang jualan daging bukan? Walaupun aku bukan tukang jualan daging, tapi Kyuhyun pernah berkata seperti itu. Dasar kambing! Seenaknya saja dia mengataiku. Kurang ajar.

Aku mencangklekkan tas selempanganku di bahu kanan dan segera keluar.

“Seperti ini lebih terlihat simple dan modis. Aku juga sudah tidak seperti tukang daging lagi bukan? Ayo cepat bayar bajunya!” aku mendorong punggung Kyuhyun hingga menuju kasir, aku memberikan struk yang tadinya masih menggantung di bagian punggung bajuku kepada pelayannya dan dengan dalam sekali gesekan, semua barang-barang mahal ini terbayar lunas.

Baju berlengan sesikut yang sangat simple ini saja harganya sampai beribu-ribu won. Jinjja…. yang jauh lebih mahal sebenarnya adalah sepatu ini…. bentuknya ribet, berbelit-belit tapi aku menyukainya karna sepatu ini tidak ada haknya. Lebih simple!

Kyuhyun merangkulku saat kami berdua keluar dari toko. Ingin rasanya aku menepiskan tangannya sekarang juga, tapi tidak mungkin mengingat kami berdua sekarang sedang akting. Lagi-lagi masalah kontrak. Bodohnya aku bisa menerima tawaran Kyuhyun tanpa berpikir secara matang.

Berderet-deret yeoja berdiri mematung di samping-samping kami. Semuanya terperangah, ada beberapa dari mereka yang sampai menggigit jari dan memperbesar kelopak matanya seperti sudah siap mengeluarkan bola matanya. Aku memutar bola mataku karna begitu kesal melihat berbagai ekspresi di raut wajah orang-orang saat ini.

Kyuhyun tetap merangkul bahuku tanpa peduli dengan keadaan sekitarnya, namun kemudian dia membungkukkan sedikit badannya dan menyusupkan wajahnya ke balik rambutku “peluk pinggangku jagiyaaa” desisnya tajam. Hembusan nafasnya yang ganas serasa masuk seluruhnya kedalam kupingku. Dengan kejadian ini pula, ada 2 orang yeoja yang aku lihat sedang menangis sambil menggigit jarinya. Aishhh apakah mereka sebegitu cintanya dengan Kyuhyun? Apa yang harus di banggakan dari makhluk menyebalkan yang tidak kalah persisnya dengan Kambing?!

Aku memeluk pinggang Kyuhyun dengan enggan, lalu Kyuhyun menatapku dan tersenyum seraya mengacak-acakkan rambutku. Setelah itu, Kyuhyun tebar pesona dengan melemparkan senyumannya kepada yeoja-yeoja yang tengah mematung di sekitarnya, kami terus berjalan sampai memasuki toko buku. Kebetulan sekali, aku ingin membeli buku. Beli saja yang banyak, mumpung gratis…. pikirku.

***

“Hyen..” gumam Kyuhyun saat Ia sedang mengendarai mobilnya menuju Dorm Super Junior. Aku hanya menggumam menyahutinya tanpa melirik ke arahnya. Tidak niat.

“Semua yang aku lakukan tadi hanya akting, tolong jangan jatuh cinta padaku” refleks aku memutar kepalaku menghadap ke arahnya. “Jatuh cinta padamu? Hey…” aku tidak sempat melanjutkan kata-kataku saat tiba-tiba otak dan hatiku bekerja. Otakku memikirkan kata-katanya barusan, mengulang-ngulangnya secara terus menerus tanpa henti. Hatiku pun merasakan perasaan yang aneh saat otakku terus bekerja mengulang pernyataannya barusan.

“Semua yang aku lakukan tadi hanya akting, tolong jangan jatuh cinta padaku”

Hatiku rasanya sesak….. Tuhan, berikan aku oksigen yang lebih, kenapa aku jadi sulit untuk bernafas?

“Mana mungkin haha” jawabku canggung setelah sekian lama terhenti.

Kyuhyun hanya menganggukkan kepalanya singkat dan setelah itu tidak ada lagi yang berbicara. Aku memandang keluar jendela dan tanpa sadar satu tetes air mataku mengalir membasahi pipi kananku. Aku mengusapnya pelan dan memejamkan mataku, berharap untuk bisa tidur agar tidak kepikiran soal tadi. Aku baru tau sekarang, aku menyadarinya. Tuhan, aku tau aku mencintainya. Aku sadar bahwa sekarang ternyata aku telah mencintai Kyuhyun. Kumohon jangan buat aku menderita lebih lagi Tuhan.

***

“Hyen-aaaaaaaaaah~~~” teriak si Monyet bernama ganda itu. Lee Hyuk Jae dan Lee Eun Hyuk. Orang tuanya sangat rajin ya sampai membuat namanya 2 seperti itu.

Aku menjatuhkan badanku di sofa dan menyenderkan kepalaku, memijat-mijat keningku yang terasa berat. Hah. Tidak peduli dengan makhluk-makhluk aneh yang kini sedang berada di dekatku dan melihatku bingung. Aku hanya ingin menetralisikan perasaan kecewa dan sakit hatiku saat ini.

“Kyuhyun, antarkan aku pulang” belum ada 5 menit disini, aku langsung meminta Kyuhyun untuk mengantarku pulang, Kyuhyun hanya menurut karna menurut janjinya, Ia ke dorm Super Junior hanya untuk mengambil handphone-nya yang tertinggal, setelah itu Ia mengantarkanku pulang.

***

“Hyen Hyo…” panggilnya saat aku baru ingin menutup pintu apartemenku. perasaanku saat ini masih kacau. Jangan ganggu aku dulu Kyu, kau pergi saja.

See? Kepribadianku menghilang 100% bahkan 200%! Ini bukan aku! Aku tidak seperti ini. Aku ini bukan orang lemah dan manja! Tapi saat perasaan itu datang, semuanya berhasil mengubah total seluruh hidupku menjadi yeoja lemah seperti ini.

Aku mendongak menatap Kyuhyun yang jauh lebih tinggi dariku, Ia berjalan mendekat ke arahku dan mendongakkan daguku lalu menyambar bibirku dengan cepat.

Satu detik…

Dua detik…

tiga detik….

Empat detik…

Sepuluh detik…

“Masuklah! Selamat tidur!” Kyuhyun melepaskan ciumannya dan langsung pergi menghilang dari pandanganku. Aku hanya bisa berdiri mematung sambil memegang gagang pintu dengan tatapan mata lurus ke depan tanpa menoleh dan menggoyangkan bola mataku sedikitpun. Ini…. MIMPIKAH?!

***

“Yeobosaeyo? Huaaah” ucapku lemas sambil menguap. Jika bukan karna panggilan ini, mana mungkin aku sudah bangun jam segini.

“Kau baru bangun? Aku sudah di depan apartemen-mu. Cepat bersiap, jika tidak ingin telat. Kita ada kelas di awal bukan? Kau lupa?” sahut seorang namja di seberang sana yang aku yakini adalah Jae Hyo.

“HYEN-AH! PPALIWA!!!” teriak Tae Hyo dari kejauhan namun aku masih bisa menangkap suaranya. Aku mendecak kesal lalu membanting asal ponselku ke kasur.

Dengan gerakan kilat aku mandi dan mengganti pakaianku hanya dalam waktu 15 menit. Aku berlari menuju pintu kamar namun lagi-lagi aku terhenti dan berjalan mundur sampai badanku lurus dengan meja rias. Aku mendekatinya dan mendudukkan tubuhku di kursi, menatap pantulan wajahku yang terlihat datar lalu tersenyum miris. Manik mataku turun menjalan menatap bibirku di kaca. Bibir yang tadi malam baru saja di cium Kyuhyun dalam arti sebenarnya. Bukan ciuman seperti waktu di mobil itu. Itu paksaan. Namun tadi malam… walaupun hanya menempel saja, tapi aku tau dia tulus. Tapi Tuhan, apa maksudnya?!

“Ya! Lama sekali!” sembur Tae Hyo saat aku baru saja mendaratkan pantatku untuk duduk di jok depan. Aku tidak mengiraukannya, tetap diam dan tidak bicara apapun.

“Ada Kyu-hyung”

“hah?!” tanyaku langsung.

“Ani, aku hanya bercanda hahaha habis kau diam saja, jadi aku goda sedikit” gurau Tae Hyo yang barhasil membuat emosiku naik ke puncak! Jika dia bukan anak orang, sudah ku jamin rambut coklat-nya itu pasti sudah hilang dari kepalanya!!!

“Bagaimana hubungan kau dengan Kyu-hyung?” sekarang giliran Jae Hyo yang bertanya. Aku tidak menjawab, hanya diam dan berpura-pura tidak dengar. Karna semua pertanyaan itu tidak penting menurutku.

“Hyen-ah! kau masih mau jadi pacar pura-pura Kyu-hyung?” tanya Tae Hyo.

“tidak”

“lalu? Kenapa masih sampai sekarang?”

“Karna sudah terikat kontrak. Bodoh sekali aku menandatangani surat itu!” ucapku geram saat mengingat kejadian dimana aku menandatangani surat perjanjian itu! Tch! Waktu itu aku seperti di bius, tidak sadar kalau ternyata tanganku sudah bergerak untuk membuat coretan tangan yang mengakibatkan hidupku harus begini. Bodoh!

“Hyen….” panggil Jae Hyo lembut, aku menoleh ke arahnya dan mengangkat dagu.

“Apa Kyu-hyung berubah sikapnya?” tanyanya. Aku tidak langsung menjawab, melainkan menimang-nimang jawaban yang pas. Dia memang berubah… sejak… menciumku.

Aku menundukkan kepalaku dalam, melirik bandul liontin pemberian Kyuhyun dengan tatapan nanar. Tuhan…. selemah ini kah sebenarnya aku?

“Sudah kubilang aku hanya takut dia memanfaatkanmu. Kau masih ingat kata-kataku?”

“Ne” ucapku parau. Tae Hyo yang terlihat tertarik dengan obrolan kita berdua langsung memajukan duduknya dan memposisikan wajahnya di antara aku dan Jae Hyo. tatapan matanya menyelidik, dahinya mengerut dan bibirnya mengerucut.

“Kyu-hyung hanya ingin memanfaatkanmu” ulang Jae Hyo lagi. Ne, aku tau Jae Hyo-ssi, dia hanya ingin memanfaatkanku. Tap ciuman itu…….

“Aku harap kau tidak luluh dengan perbuatan palsunya. Semuanya dusta, kau sadar?” sungguh. Baru kali ini aku mendengar Jae Hyo berbicara setegas dan seserius ini. Ucapannya, semuanya masuk akal. Tapi… Tuhan, aku sudah terlanjur mencintainya. Kenapa disaat aku sudah mencintainya kau harus membuat kami menjauh? Kenapa Kyuhyun berubah sikap? Kenapa Ia tiba-tiba pergi dan menghilang meninggalkanku? Tanpa menelfon ataupun mengirim pesan untukku. Dia jadi jutek dan bukan Kyuhyun yang ku kenal. Kyuhyun yang evil, Kyuhyun yang usil, Kyuhyun yang galak, Kyuhyun yang menyebalkan dan segala macam sifat menyebalkannya. Kenapa sekarang dia jadi seperti ini Tuhan? Apakah dia ada masalah? Tapi….. jika akhirnya harus seperti ini, kenapa kau berikan aku sebuah perasaan tak menentu yang dapat membuat diriku sakit seperti ini?!

“Hyen-ah, kenapa kau jadi seperti ini? Kau berubah. See? Ini bukan dirimu! Aku seperti tidak mengenalmu. Kau… benar-benar mencintai Kyu-hyung?” sergap Tae Hyo saat menyadari perubahan pada pribadiku. Aku meliriknya tajam tanpa menjawab, dia hanya nyengir kaku dan menjauhkan wajahnya dari wajahku.

“Hyen, kami berdua siap menjadi sandaran hidupmu. Jangan sungkan-sungkan” alih Jae Hyo dan segera diikuti dengan angguan Tae Hyo. aku tersenyum tipis. Mereka baik, tapi untuk apa aku hidup dikelilingi oleh orang yang sangat sangat sangat baik padaku tapi orang yang kucintai malah seperti itu? Aku tidak bisa sepenuhnya hidup bahagia!

“Hyen, jika kau tidak keberatan, jadilah pacarku. Aku mencintaimu”

GLEK! Jae Hyo-ssi….. Neo????

“Sungguh Hyen, aku mencintaimu! jadilah pacarku!”

God… eotte?? Jantungku berdebar dengan kencangnya…. aku bernafas tidak normal. Aku merasakannya. Mukaku memanas, aku merasakannya. Mataku terbuka lebar, aku pun merasakannya. Badanku menegang, aku juga menyadarinya. Ini…… seperti mimpi.

Apa aku sedang berada di dunia mimpi saat ini?!

“Jadilah pacarku” ulangnya lagi.

 

18 responses »

  1. Pingback: My Nightmare Season II ♥♥Part 1♥♥ | FFindo

  2. Pingback: My Nightmare Season II ♥♥Part 1♥♥ « Nisa Ayu Thayalisha Hadi's

  3. Pingback: [FICLET] My Nightmare Season II : Hotel (Part 4) « Nisa Ayu Thayalisha Hadi's

  4. Pingback: My Nightmare Season II : Hotel | FFindo

  5. Aq gg bsa coment di part 8 trus aq kok bingung part nie kayak ad yg ilang part nya , maksud aq kok lanjutan.a beda dr part sebelum.a , tp aq ngerasa gg ada yg kelewat , jd bingung baca.a , coz aq gg tau part sebelum.a:/
    h

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s