Sadness Part 1

Standard

Author : Nisa Ayu Thayalisha Hadi (Nam Hyen Hyo)

Cast :

Cho Kyuhyun

Nam Hyen Hyo

Jang Hye Ri

Title : Sadness (Part 1)

Length : on going~

Genre : Romance, Angst

Rating : PG-13

Disclaimer : The casts are belong to God, and this Fan Fiction is belong to me kekekeke~ i own this plot ok?

Note : This is pure my imagination.

WARNING! TULISAN BERWARNA MERAH MERUPAKAN FLASHBACK

===============================================================

Preview

“Kyuhyun…. aku… aku hanya…”

“Jangan menangis Hyen-ah, jangan menangis ku mohon”

“Kyu… aku… maafkan aku”

“Aku, sungguh aku tidak bisa merelakanmu sepenuhnya”

“Hyen-ah, apapun yang terjadi aku akan tetap mencintaimu. sekalipun dunia memisahkan kita berdua, kau tetap istriku. Sekalipun aku hilang ingatan permanen, percayalah, dihati ini tetap kau satu-satunya”

Tuhan, jika aku bisa memohon untuk terakhir kalinya. Tolong jangan pernah memasukkan ‘sesuatu’ seperti ini kedalam hidupku. Ku mohon. Jadikanlah ini sebuah mimpi buruk untukku.

==========================================================

Semuanya tampak buram saat ini. Aku mengutuk diriku sendiri sekarang yang dengan bodohnya menjawab “Ne, aku bersedia” barusan. Kini semuanya sudah terlambat jika aku harus kembali kerumah perempuan itu dan membatalkannya. Aku hanya tidak mau nama keluarga Kyuhyun tercoreng hanya karna aksi bodoh dari perempuan bodoh sepertiku.

Umma, Appa, jika dulu aku menuruti permintaanmu untuk tidak menikahi Cho Kyuhyun, apakah garis hidupku tidak akan semiris ini? Jujur, dalam hati aku menyesal tapi semua perasaan itu terkalahkan dengan ego-ku yang selalu mengatakan bahwa Kyuhyun akan selalu mencintaiku apapun keadaanku. Sama seperti yang sudah dia ucapkan berulang kali padaku. Aku harap semuanya benar.

Semua tindakan bodohku yang baru saja aku lakukan 1 jam yang lalu di rumah perempuan itu kini terngiang-ngiang di kepalaku.

“Kau, maaf. Sebagai Istri sah-nya Cho Kyuhyun apakah anda bersedia?”

“Ne, aku bersedia”

“Apakah kau rela membagi dua Cho Kyuhyun dalam kehidupan rumah tanggamu?”

“Ne, aku rela”

Walaupun pernikahan itu akan berlangsung satu bulan lagi, tapi semua jawaban yang aku lontarkan tadi-lah yang sangat berpengaruh pada pernikahan itu. Tuhan, tidakkah kau ingin mengirimi kedua orang tuaku disaat keadaanku sedang terpuruk seperti ini? Walaupun aku tau mereka sudah menganggapku sebagai anak durhaka dan tidak ingin menganggapku anak lagi, tapi setidaknya, beri aku kesempatan untuk menangis dibahu mereka berdua dan menyesali semua perbuatanku.

“Hyen-ah, gwaenchana?” tanya Kyuhyun membuyarkan lamunanku. Aku hanya mengangguk. Kyuhyun tetap fokus pada jalanan di depannya.

“Kau sedang tidak memikirkan kejadian barusan bukan?”

“Ani, aku hanya sedang kecapekan. Bisakah kau mempercepat laju mobilnya agar aku bisa cepat sampai dirumah? Badanku sakit semua jika harus tidur disini” keluhku sambil menggosok-gosok tengkuk leherku.

“Ah ne”

Tiba-tiba suatu pikiran terbesit begitu saja dipikiranku. Haruskah aku menanyakan pertanyaan ini? Pertanyaan yang sudah pasti aku ketahui jawabannya ataupun pertanyaan yang pasti akan membuat hatiku sakit?

“Oppa, aku ingin menanyakan sesuatu” aku menggigit bibir bawahku, siap menanggung semua jawaban yang akan terlontarkan dari bibir seksinya.

“Hm?” Kyuhyun menggumam pelan, semakin membuatku menyesal akan jawabanku 1 jam lalu. Seandainya aku tidak mengatakan bahwa aku bersedia, Kyuhyun pasti masih dan akan seterusnya menjadi milikku seutuhnya. Waktuku untuk memiliki seutuhnya hanya satu bulan lagi, lalu setelah itu….

“Setelah kau menikah nanti, bagaimana pembagian kamarnya oppa? Apa kau ingin kami bertiga tidur sekamar? Hahaha” aku tertawa garing. Tertawalah Hyen, tertawalah. Tapi percuma, yang keluar dari mulutku malah terdengar seperti tawaan yang dipaksakan.

“Ani. Sudah kubilang, istriku hanya kau Nam Hyen Hyo! Hanya kau. Tentunya kami akan tetap tidur sekamar. Biarkan dia tidur di kamar lain, arasseo?” Aku menundukkan kepalaku dalam. Jawabanmu membuatku senang sekaligus bingung Kyu.

“Tapi oppa….”

“Dengarkan aku Hyen-ah. Sekalipun aku menikahi 100 gadis, dihatiku istriku hanya satu. Kau. Percayalah. Sejak kapan seorang Cho Kyuhyun sering berbohong? Kau bisa mempercayai kata-kataku? Dan tolong, jangan tanyakan soal ini lagi padaku, arasseo?”

Iya aku percaya untuk saat ini, tapi tidak untuk 1 bulan kedepan saat aku sudah melihat semua kenyataan yang ada. Saat aku melihat bagaimana kau membohongi diriku dan bagaimana kau memberikan aku bualan indahmu ini Cho Kyuhyun. Sambungku dalam hati.

Aku mengangguk mengerti dan menyandarkan kepalaku ke jok mobil. Kepalaku terasa sangat berat. Kenapa cobaan hidupku harus seberat ini Tuhan? Sebegitu bencinya kah kau padaku? Atau mungkin ini adalah balasan bagi anak-anak durhaka sepertiku?

***

Aku menggeliat merasakan silaunya matahari yang masuk melewati celah jendela di kamarku. Aku menoleh ke kiri dan mendapati Kyuhyun yang masih tidur dengan lelapnya dan mengarah ke arahku. Tangannya masih memeluk perutku, aku mengangkat tangannya perlahan dan duduk menghadap Kyuhyun. Memandangi setiap inchi wajahnya, menelusuri hidungnya dengan ujung jari telunjukku, lalu menyentuh bibirnya. Seketika air mataku terjatuh mengenai pipinya, dengan segera aku menghapus air mataku dan mengikat rambutku asal.

Aku menepuk pipi Kyuhyun dan membisikkan sesuatu padanya, “Tuan Cho, bangunlah, sudah siang. Matahari sudah menyambut! Hey!” sekali lagi aku menepuk pipi Kyuhyun tapi dia tidak kunjung bangun dan hanya menggeliat. Tangannya lagi-lagi meraih pinggangku dan memeluknya “5 menit lagi Nyonya Cho” balasnya. Tersungging sebuah senyuman tipis di bibirku. Akankah  1 bulan yang akan datang ini terjadi lagi?

“Sudah hampir 5 menit Tuan Cho” aku mengelus rambutnya pelan “Ini baru 1 menit Nyonya Cho, masih 4 menit lagi” balas Kyuhyun tidak mau kalah. Aku hanya mengangguk walaupun Kyuhyun tidak bisa melihat gerakan kepalaku.

“Kau ingin makan apa?”

“Jangan urusi itu dulu. Aku ingin kau diam disini dulu. Sebentar lagi”

Aku menggigit bibir bawahku, menahan air mata yang hendak jatuh menyusuri pipiku. Jangan menangis sekarang Hyen, air matamu bisa mengenai pipi Kyuhyun dan membangunkannya. Batinku. Dengan pelan aku menggerakkan tanganku untuk menghapus air mataku, namun Kyuhyun menahan tanganku dan bangun. Ia duduk dan langsung mengelap air mataku dengan ibu jarinya.

“Kenapa kau menangis lagi? Kenapa kau niat sekali membuatku sakit Hyen?” tanya Kyuhyun. Bukannya berhenti menangis, aku malah semakin menangis tersedu-sedu.

“Hyen, jangan menangis! Katakan ada apa?” tanya Kyuhyun khawatir dan menarikku ke dalam pelukannya.

Kyu, apakah satu bulan yang akan datang aku masih bisa menghirup wangi tubuhmu dengan bebas seperti ini?

“Katakan ada apa” desak Kyuhyun.

“Aku hanya takut kehilanganmu Kyu. Aku hanya takut perhatianmu terbagi kepada perempuan itu juga. Aku tidak mau. Aku tidak rela. Aku terlalu mencintaimu” kataku pada akhirnya. Ada perasaan lega dalam hatiku untuk saat ini. Setidaknya sedikit dari isi hatiku bisa terlontarkan dengan jelas.

“Tidak akan Hyen-ah! Tidak akan! Harus berapa kali aku bilang bahwa hanya satu-satunya kau dihatiku? Apa kau tidak percaya dengan semua ucapanku?”

“Aku percaya, hanya saja aku takut semua omonganmu akan menjadi dusta saat perempuan itu sudah resmi datang ke kehidupan kita Kyu” isakku masih dalam pelukannya.

“Tidak Hyen-ah, tidak akan. Haruskah aku melakukan sesuatu yang bisa membuatmu yakin padaku dan tidak membuatmu risau sedikitpun?” aku menggeleng dengan cepat dan Kyuhyun bergumam membalas gelengan kepalaku.

“Baiklah. Sudah, jangan menangis. Kau ingin memasakkan aku apa sekarang? Lihatlah, cacing diperutku sudah bunyi semuanya” keluh Kyuhyun. Aku tersenyum sebisa mungkin dan menghapus air mataku “Kau mau apa? Akan ku buatkan apapun yang kau mau”

“Makan dengan nasinya saja asal kau ada disampingku cukup membuatku puas”

“Oppa! Kau menggombal saja! Ini masih pagi!”

“Hahaha. Aku rindu pukulan manjamu Jagi~” genit Kyuhyun dan mencubit kedua pipiku lalu langsung kabur masuk ke dalam kamar mandi.

“Oppa! Sakit!!”

Tuhan, aku mohon padamu agar tidak pernah membuang sikap Kyuhyun yang seperti ini!

***

“Selamanya kita akan hidup bersama tanpa ada yang mengusik, oppa?”

“Ne, aku janji”

“Tapi bagaimana jika hari itu datang?”

“Hari apa?”

“Hari dimana ibumu menjanjikan bahwa kau akan di jodohkan?”

“Tidak akan mungkin datang! Maka dari itu ayo kita segera menikah dan tinggalkan Seoul”

“Kita ingin kemana oppa?”

“Kemana saja, asal kau ada disampingmu, aku bersedia”

“Oppa!”

Sebelum menikah, aku sudah tau hari ini akan datang. Tapi Kyuhyun selalu meyakinkan aku bahwa hari itu tidak akan pernah datang. Tapi kenyataannya, hari ini tetap datang. Dan hari ini datang disaat yang tidak tepat. Hari ini datang disaat kebahagiaanku telah mencapai puncak. Disaat aku dan Kyuhyun sedang bahagia-bahagianya. Kau tau? Ini rasanya sama saja seperti kau sedang diterbangkan ke langit lalu dijatuhkan kembali sampai kau mati tidak bernafas.

Aku melangkah menuju dapur dan membuka kulkas, persediaan bahan makanan sudah hampir habis! Apa yang harus aku buat untuk Kyuhyun?

“Jagi, kau belum membuat apa-apa?” tanya Kyuhyun yang melihatku masih berdiri mematung di kulkas. “Aku bingung harus membuat apa” kataku sambil mengubrak-abrik isi kulkas.

“Kebetulan sekali. Bagaimana jika kita makan diluar saja? Ayo jangan menolak! Aku ingin jajangmyeon!” Kyuhyun langsung menarik tanganku, menyuruhku masuk ke dalam mobil, seperti tidak peduli dengan diriku yang masih memakai pakaian tidur semalam “Aku belum….”

“Kau tetap terlihat cantik” potong Kyuhyun. Aku mendesah kesal, sebanyak apapun aku protes, pasti tidak akan digubris oleh Kyuhyun jika namja ini sudah memiliki kemauan. Dasar egois! Gerutuku.

Akankah satu bulan yang akan datang Kyuhyun masih sering memperlakukanku seperti ini? Memaksaku dan tidak peduli dengan keadaanku? Aku selalu rindu dengan sikapnya yang seperti ini. Aku hanya takut dia akan mempelakukan wanita itu sama seperti Kyuhyun memperlakukan aku! Bisa kubayangkan bagaimana remuknya hatiku nanti saat mengetahuinya.

“Mau makan dimana oppa? Dari tadi kau hanya muter-muter disini saja! Sudah berapa kali kita melewati jalan yang sama huh? Kau menyadarinya tidak sih?”

“Aku tidak ingin makan. Tapi aku ingin menghabiskan waktu pagimu bersamamu Hyen-ah! Aku hanya takut satu bulan yang akan datang kita jadi jarang pergi berdua, tapi bertiga” jawab Kyuhyun membuatku sadar bahwa mulai sekarang, setiap apapun yang aku dan Kyuhyun lakukan, harus mengingat akan kejadian yang mungkin terjadi satu bulan kedepan. Aku menundukkan kepalaku dan menggigit bibir bawah, lagi-lagi hanya untuk menahan air mata.

“Dari dulu aku tau hari ini akan datang. Tapi kau selalu meyakinkanku bahwa hari ini tidak pernah datang dan nekat mengajakku menikah”

“Aku selalu takut hari ini akan datang. Dan hari ini memang benar-benar datang” sambungku lagi.

Kyuhyun menghentikan mobilnya dan mengusap puncak kepalaku lembut “Hari itu tidak akan menjadi hari terburuk dalam hidupmu. Hari itu tidak akan seburuk yang kau kira” Kyuhyun mencoba menenangkan, namun hasilnya nihil. Egoku lebih mendominan! Aku yakin hari itu akan datang dan menghancurkan hidupku!

“Satu hal yang harus selalu kau ingat dan kau camkan dalam hati dan pikiranmu saat hari itu datang,” ucap Kyuhyun masih menggantung.

“Apa?”

“Aku tetap suamimu. Aku tetap suamimu yang selalu mencintaimu sekalipun wajahmu sudah berubah menjadi buruk rupa! Kau mengerti? Statusku sebagai suamimu tidak akan pernah hilang sekalipun salah satu dari kita harus meninggalkan dunia dan tidak pernah kembali. Cintaku padamu tidak akan pernah hilang sekalipun kau membunuhku dengan tanganmu sendiri. Kau mendengarkanku?” aku mendongak menatap Kyuhyun dan sebulir bola kristal jatuh dari mataku dan menelusuri pipiku dengan gerakan lurus. Kyuhyun menghapus air mataku dan tersenyum tiga jari. Senyuman yang selama ini sudah menjadi biusku. Senyum yang selama ini telah menemani hidupku. Senyum yang bisa membuatku tenang dan selalu berpikiran positif akan segala hal yang sudah kulakukan.

“Aku mengerti dan aku mendengarkan oppa!” jawabku mantap.

“Bagus! Kau memang pintar! Istriku tidak mungkin bodoh, ya kan?”

“Oh itu pasti!” aku tertawa riang, sejenak melupakan rasa sakit yang ada dihatiku untuk saat ini.

Tuhan, aku mohon padamu jangan cabut kotak tertawaku!

***

“Oppa, katanya kau ingin kita berdua pergi dari Seoul setelah menikah?”

“Tidak jadi Hyen-ah, orang tuaku mengancamku. Jika aku pergi dari Seoul, mereka dan keluarga besar tidak akan lagi menganggapku!”

“Oh”

Kau tidak pernah tau rasanya aku saat itu Oppa! Saat aku memutuskan untuk menikah denganmu dan membantah kedua orang tuaku lalu kabur dari rumah. Semua keluarga besarku sepakat untuk tidak menganggapku. Aku rela. Demi hidup bersamamu. Tapi kau tidak rela walaupun alasannya untuk hidup denganku dengan nyaman. Aku jadi meragukan semuanya. Apakah kau mencintaiku sama seperti aku mencintaimu?

Hari semakin hari aku mencoba untuk menghilangkan pikiran itu. Sebesar apapun aku berusaha, nyatanya aku tidak bisa menghilangkan pikiran itu oppa! Aku hanya takut cintamu kepadaku tidak sebesar aku mencintaimu. Aku hanya takut…. suatu hari kau meninggalkanku. Disini sudah ada kesempatan. Kesempatan besar atau mungkin bisa dibilang sebagai kemungkinan besar. Kemungkinan besar kau akan meninggalkanku jika cintamu padaku tidak sekuat aku mencintaimu. Ada satu wanita lagi yang mencintaimu dan akan hidup bersamamu oppa! Aku hanya takut… Kau akan meninggalkanku demi gadis itu dan mengacuhkanku!

Aku menggeleng cepat dan memejamkan mata dengan erat.

Aku membuka mataku perlahan dan sudah mendapati Kyuhyun berjongkok di hadapanku sambil tersenyum.

“Wae Tuan Putri?” senyum itu………

“Ani oppa, tadi baru saja aku melihat drama sedih, aku berharap kisah hidupku tidak akan sesedih itu hehehe” ucapku mengeles.

“Memangnya tentang apa?” dia pindah duduk di sebelahku dan merangkul pundakku.

“Seorang wanita yang ditinggalkan namja-nya hanya demi kekasih lain”

“Oh, kau takut aku meninggalkanmu?”

“Tentu!” sambarku cepat.

“Kau lucu Hyen-ah! Mana mungkin aku meninggalkan seorang istri yang begitu unik yang hanya ada satu-satunya di dunia seperti ini. Jika aku meninggalkanmu, itu sama saja namanya aku dengan bunuh diri. Kau tau?” aku menggeleng.

“Aish! Kau harus tau!”

“Iya oppa, sekarang aku sudah tau ko J” aku tersenyum tulus padanya.

“Kau harus tau apapun tentangku termasuk keinginan terbesar dalam hidupku”

“Memangnya apa keinginan terbesar dalam hidupmu oppa?”

“Memiliki anak bersamamu!” jawab Kyuhyun cepat.

“OPPA!” aku memukul pundaknya pelan dan menarik hidungnya.

“Hahaha” Kyuhyun hanya tertawa dan balik menarik hidungku sampai merah. Aish! Kyuhyun, andai kau bukan suamiku, pasti kau sudah kulempari seluruh peralatan dapur!! Gerutuku.

Tuhan, jika aku boleh meminta satu lagi permintaan, jangan pernah hilangkan senyum terindah yang selalu terhias di wajahnya seperti ini. Ini adalah salah satu alasan aku masih mau bertahan hidup di dunia-mu yang penuh penyiksaan.

***

“Oppa! Air panasnya sudah ada, cepat mandi!” teriakku dari dapur. Ini sudah jam 8, tapi dia belum mandi. Padahal dia kan harus berangkat ke kantornya dan mengurus perusahaannya. Dasar pemalas!

“Hari ini aku malas ke kantor Jagi, biarkan saja si Lee Donghae yang mengatur semuanya hari ini, sudah kubilang padanya kok” teriaknya lagi dari dalam kamar.

Aku menghampirinya ke kamar dan berkacak pinggang “Jangan malas!” omelku.

“Sampai kapan kau mau terus mengomeliku? Kau tidak akan pernah berhenti mengomeliku seumur hidup sepertinya” ucap Kyuhyun malas sambil memainkan psp-nya.

“Oppa! Ayo mandi dan berangkat kerja”

Kyuhyun melempar psps-nya asal ke atas kasur dan berdiri di hadapanku, meraih pinggangku dan menarikku ke dalam pelukannya dalam sekali hentakan “Aku ingin bersamamu hari ini Jagi” bisik Kyuhyun manja di telingaku. Aku menjauhkan diriku dari Kyuhyun dan berusaha berbalik. Bukan untuk menghindari Kyuhyun, tapi untuk menghindari pikiran-pikiran negatifku yang mampu membuat hatiku jatuh sakit dan kelenjar air mataku bekerja. Jika satu bulan yang akan datang Kyuhyun tidak bekerja seperti ini, apakah alasannya akan sama dengan alasan yang Ia lontarkan saat ini? Tidakkan dia nanti akan berkata “Aku ingin bersama kedua istriku hari ini” Aku memejamkan mataku sebentar dan melangkah lagi keluar kamar. Kyuhyun menarik sikuku dan membuatku menghadapnya. Aku memejamkan mataku, tidak ingin membalas tatapan Kyuhyun yang aku yakini sekarang pasti akan menatapku tajam sampai aku tidak mampu lagi mengalihkan semuanya, serasa hanya Kyuhyun dan akulah yang sekarang masih mampu berdiri di dunia ini.

“Buka matamu!” sentak Kyuhyun. Baru kali ini aku mendengar dia menyentakku. Tuhan, ada apa ini?

“Aku tau kau memikirkan nasib kita untuk satu bulan kedepan lagi kan? Jujur padaku Cho Hyen Hyo!”

“Namaku Nam Hyen Hyo!” sergapku.

“Kau istriku berarti kau bermarga Cho!”

“Aku memang istrimu, istrimu yang bodoh Cho Kyuhyun”

“Sudahlah! Lupakan masalah itu Hyen-ah. Aku tidak mau melihatmu terlihat bersedih setiap saat. Ini membuatku merasa menyesal dan menganggap diriku adalah pria bodoh sedunia untuk mengambil keputusan ini. Ini bukan kehendakku Hyen-ah!” Aku mengangguk mengerti. Sangat mengerti.

“Kyu, apakah keputusanku untuk menikah denganmu salah?” tanyaku ragu.

“Siapa bilang salah? Ini sudah takdir Hyen-ah! Kau menjadi istriku karna Tuhan menyuruh seperti itu”

Aku menarik nafas panjang, berusaha menetralisir rasa ragu dan gundah dihatiku, namun hasilnya nihil, hatiku tetap bergejolak merasa aku menyesal telah mengambil keputusan ini. Apalagi keputusan yang baru saja terlontarkan dari mulutku saat aku berada di rumah perempuan itu.

“Maaf, ini bukan mauku”

“Aku tau”

“Aku tidak akan pernah merebut Cho Kyuhyun darimu”

“Aku tau”

Tuhan, berapa kali sudah aku memohon padamu? Masih bolehkah aku meminta? Satu kalimat yang terlontar dari wanita itu, semoga bukan hanya bualan untuk menangkan hatiku saat itu

***

Aku duduk berhadapan dengan seorang wanita yang baru kedua kalinya kutemui. Seorang wanita yang nantinya akan tinggal serumah juga denganku. Seorang wanita yang nanti statusnya akan menjadi istri suamiku, Cho Kyuhyun. Pelayan datang dan menaruh 2 kopi hangat pesanan kami berdua. Aku menyesap kopi itu dan meminumnya sedikit lalu kembali fokus menatap wanita yang kini sedang duduk di hadapanku dengan kacamata berframe pink-nya.

Hening.

Kami berdua terdiam, aku terus memandangnya yang sedang mengaduk-ngaduk kopi hangatnya dengan sendok kecil. Aku tau, itu bukan alasannya. Aku tau dia takut denganku.

Menatap wajahnya yang lugu dan seperti tidak tahu apapun, membuatku sangsi untuk mengatakan ini padanya. Aku berdeham, membuatnya mendongak dan menatapku.

“Ada yang ingin kukatakan”

“Aku tau, katakanlah” jawabnya enteng dan kembali mengaduk-ngaduk kopinya asal.

Aku memainkan jariku, berpikir sekali lagi apakah aku pantas membicarakan ini padanya yang sudah jelas-jelas dia pasti nanti akan melakukan ini saat sudah sah menjadi istri Cho Kyuhyun.

“Kau, menikah dengan Cho Kyuhyun bukan karna suatu hubungan bukan? Ah, maksudku, kau menikah dengannya bukan karna kau mencintainya bukan?”

“Tidak. Aku menikah dengannya karna aku dijodohkan” aku mengangguk mengerti dan menarik nafas lalu menghembuskannya dengan panjang. Merapihkan bajuku dan menyibakkan rambut panjangku ke belakang. Berdiri dengan tegak lalu menaruh tanganku di atas meja.

“Apakah kau tidak akan keberatan jika selama kau menjadi istrinya Cho Kyuhyun kau tidak melakukan hubungan suami-istri dengannya?” dia membelalakkan matanya kaget mendengar ucapanku barusan, dan aku merutuki diriku sendiri yang sudah tau kalau aku salah bicara.

Aish! Sudah kubilang, jangan katakan! Kenapa mulut ini bergerak semaunya! Gerutuku.

“Aku tidak tahu. Seandainya aku mau menerima tawaranmu, tapi bagaimana jika orang tuaku meminta aku untuk segera hamil?” aku menunduk, Benar juga! Batinku. Aku tidak bisa seenaknya sendiri memutuskan ini! Bagaimanapun juga dia nanti akan sama sahnya seperti aku, sama-sama sah istri dari seorang Cho Kyuhyun yang mempunyai kewajiban sama denganku! Merawatnya, menjaganya, menurut padanya dan menaati segala yang Ia mau termasuk memiliki anak.

“Hm, maaf aku lancang. Terima kasih untuk hari ini, aku tidak memiliki banyak waktu lagi. Sampai jumpa lagi…. emmm calon istri Cho Kyuhyun” aku memaksakan senyum tersungging di bibirku. Bagaimana pun juga, sebaik apapun aku, jika aku disuruh untuk membagi dua Cho Kyuhyun dalam kehidupan rumah tanggaku, aku tetap tidak rela. Sekalipun dimulut ini aku berani bicara bahwa aku bersedia, tapi hatiku menolak mentah-mentah. Sekalipun aku berusaha untuk ikhlas, pasti masih ada satu titik rasa yang tidak bisa ikhlas untuk menerimanya.

“Unnie….” cegahnya. Aku membalikkan badanku dan membenarkan topi wol putihku yang sedikit miring karna pergerakanku yang begitu cepat saat menoleh tadi.

“Maafkan aku, sekali lagi maafkan aku” dia membungkukkan badannya dalam. Aku hanya tersenyum tipis dan bergumam tanpa mengeluarkan satu patah katapun lalu pergi meninggalkannya yang –aku lihat- sudah berkaca-kaca. Semerasa bersalahnya kah dia? Atau itu hanya air mata buaya?

“Darimana?” tanya Kyuhyun sambil mengecup keningku dan menyuruhku masuk ke dalam mobil “Baru saja bertemu teman lamaku, terima kasih sudah menjemput” jawabku saat Kyuhyun sudah duduk di depan kemudi. “Sekarang kita kemana?” tanyanya sambil menarik rem tangannya “Terserah saja. Pulang lebih baik, badanku pegal semua” kataku sambil menggerakkan kepalaku ke kanan dan ke kiri.

“Jagi, mau aku pijatkan?”

“Tidak usah oppa, aku hanya kecapekan”

“Kau belum tau ya pijatanku bisa menyembuhkan penyakit pegal seseorang dalam sekejap? Sini pundakmu!”

Akankah kejadian itu terulang lagi? Masa-masa dimana aku dan Kyuhyun sedang menikmati pernikahan kita. Benar-benar menikmati.

***

Aku menjetikkan jariku di atas meja makan, menunggu Kyuhyun datang. Ini sudah hari ke 5 setelah pertemuan itu. 25 hari lagi menuju neraka bagiku. Aku menenggelamkan kepalaku di atas meja makan. Mataku terasa berat, kepalaku juga berat, terlalu berat untuk memikirkan bagaimana nasibku untuk 25 hari kedepan nanti. Saat dihadapi dengan kenyataan yang benar-benar nyata dalam hidupku. Saat aku harus menunggu Kyuhyun berduaan dengan wanita itu. Saat aku harus melihat dia juga mencium kening Kyuhyun saat Kyuhyun ingin berangkat bekerja. Saat aku harus memasak berdua dengannya untuk Kyuhyun. Saat aku harus melihatnya tertawa bersama Kyuhyun dan semuanya! Tuhan, aku benci semuanya!!! Aku benci dengan semua pikiran yang kini tengah merasuki otakku dan berkelebatan dengan bebasnya tanpa henti!

Tuhan, bisakah kau men-skip 25 hari kedepan dan seterusnya?

***

Aku menggelinjang kecil di sofa, menunggu Kyuhyun di malam hari memang tidak pernah membuatku tenang. Selalu saja ada pikiran-pikiran negatif yang mampir di otakku. Aku memencet-mencet tombol next di remote untuk mengganti channel, tapi tidak ada satu acarapun yang mampu menarik perhatianku saat ini. Karna kesal, aku memencet tombol power dan tv-pun menampilkan layar hitam kosong. Aku semakin memerosotkan tubuhku di sofa dan mengambil majalah mingguanku. Semuanya sudah ku baca, dan ini membosankan jika aku harus membacanya ulang. Aku membanting majalahku asal dan tiduran di sofa.

Saat-saat seperti ini yang selalu aku benci. Saat aku resah, saat aku gundah dan saat aku bingung, saat aku merasakan tidak ada yang harus aku lakukan atau tidak ada yang bisa aku pikirkan, pikiran-pikiran itu datang mengisi seluruh ruang di otakku. Membuatku penat dan kepalaku rasanya seperti ingin meledak.

24 hari lagi menuju hari itu. Hari dimana aku merasa Tuhan sudah ingin benar-benar membuangku ke neraka dan tidak ada satu orang pun yang mau menolongku.

24 hari lagi menuju ketersiksaan batinku. 24 hari menuju panah-panah siap meluncur dan mendarat mantap di hatiku saat aku melihat mereka berdua berdiri di depan altar, mengucap janji setia mereka, melihat Kyuhyun mengecup bibir wanita itu….. dan…. mereka resmi menikah.

Malamnya, aku harus membantunya terlepas dari gaun pengantinnya, membantunya menghapus make-upnya, sampai Ia terlihat santai dan harus tidur sekamar dengan Kyuhyun….. meninggalkan aku yang terus menerus meneteskan air mata di kamar lain. Membayangkan apa yang terjadi di dalam kamarnya antara Kyuhyun dengan wanita itu. Tuhan…… kenapa kau buat jalan hidupku harus semenyedihkan ini?

“Ah~ aku lelah!”

“Kau tidak boleh lelah Jagi”

“Eh?”

“Sekarang kan malam pertama kita! Kau melupakannya? Padahal baru tadi siang kau sah menjadi istriku, tapi sekarang kau sudah melupakannya”

“Lalu?”

“Kau tidak mau kita melakukan itu?”

“Melakukan apa?”

“Kau mau aku langsung bertindak?”

“OPPA!”

“hahahaha”

Aku tersenyum pahit mengingat kejadian itu. Saat pertama kalinya kami ada dalam kamar yang sama, tidur bersama, saling tertawa bersama sampai 3 tahun lamanya. Namun semuanya serasa hancur begitu saja saat orang tuanya tiba-tiba memanggil Kyuhyun untuk datang kerumahnya bersamaku.

Membuat suatu keputusan yang –aku bersumpah- tidak akan pernah melupakannya. Salah satu hal terpahit dalam hidupku. Bahkan mungkin bisa dibilang sebagai inti terpahit dalam hidupku, karna dengan keputusan itu, kepahitan itu kini telah menyebar dan menyeruak mengelilingi hidupku tanpa aku bisa melawan dan lepas dari kepahitan itu.

“Ini sudah ku janjikan dari awal, sebelum kalian sempat menikah. Kalian mengingatnya?” aku dan Kyuhyun mengerutkan kening heran sekaligus bingung.

“Tuan Jang, kemarilah” seorang wanita paruh baya, pria paruh baya dan seorang gadis –yang aku pikir sebagai anaknya- masuk dan duduk berhadapan dengan kami. Seorang gadis yang memiliki lekuk tubuh yang sangat indah sampai aku yang berperan sebagai wanita di dunia ini tidak bisa mengalihkan perhatianku dari tubuh indahnya. Rambutnya yang berwarna coklat sebahu, dan juga kacamata berframe pink yang selalu melekat di wajahnya.

Aku dan Kyuhyun kembali menatap umma dan appa Kyuhyun untuk meminta penjelasan lebih. Kami terlalu bingung dengan semua yang terjadi saat ini. Aku memainkan kontak mata dengan Ah Ra-unnie, kakak Kyuhyun, namun dia menunduk dan tidak ingin menjelaskan semuanya.

“Cho Kyuhyun, putra keluarga Cho, akan kami jodohkan dengan Jang Hye Ri, putri keluarga Jang, seorang pengusaha ternama di Korea Selatan”

Saat itu, sontak aku dan Kyuhyun membelalakkan mata. Mendengarkan dengan seksama suara umma Kyuhyun yang terlalu di tekan dan terdengar tegas. Berkali-kali kata-kata itu terngiang di kepalaku. Bahkan sampai sekarang. Sampai saat ini.

Kejadian itu baru saja terjadi 2 bulan lalu! Tapi itu semua serasa baru saja terjadi kemarin. Semuanya masih terasa jelas di telingaku. Suara umma Kyuhyun selalu menggema di telingaku. Raut wajah Kyuhyun yang kaget dan kecewa saat itu masih dapat kuingat. Ekspresi sedih Ah Ra-unnie yang tidak sanggup melihatku terpuruk masih sangat aku ingat, dan ekspresi wajah angkuh umma dan appa Kyuhyun juga masih dapat dengan jelas ku ingat. Aku memijat alisku dan terduduk. Mencoba untuk melupakan kejadian itu yang seperti terulang bagaikan film yang tersetel di otakku. Memori terpedih dalam hidupku.

Aku berjalan menuju dapur dengaan gontai, mencoba untuk mengambil segelas air putih hanya untuk menenangkanku. Aku masih terus memijat pelipisku, rasanya kepalaku pening sekali sekarang.

Aku mengambil segelas air hangat dan meminumnya, beberapa detik kemudian, semuanya terasa berputar dengan cepat di sekitarku, kepalaku terasa sakit. Sangat sakit. Aku menggenggam gelas yang ada di tangan kananku dengan erat, tangan kiriku masih ku gunakan untuk memegang kepalaku. Seketika, aku merasakan perih di pantatku saat aku mendaratkan pantatku di lantai dengan keras. Lalu sedetik kemudian, segalanya terasa gelap. Hanya sebuah pecahan gelas yang bisa aku dengar sedetik sebelum aku tertidur lelap dan tidak mengetahui apapun.

Tbc-

44 responses »

  1. “Oppa, aku ingin menanyakan sesuatu” aku menggigit bibir bawahku, siap menanggung semua jawaban yang akan terlontarkan dari bibir seksinya.” grrr -__- hahaha

  2. ckckck, kenapa hyen bisa punya hati sebaik ituuu, merelakan suaminya buat perempuan laiiiin?! (teriak geje)
    beneran deh, kyu.
    tapi romantis deh kyu sama hyen.. #aku pas baca part ini, berharap part selanjutnya banyakin adegan kyu-hyen yag romantisnya, trus sadnya dikit.
    ternyataa,

    lanjut!
    good story bebskey #aku manggil author tu aja ya, gpp? kita seumuran da.🙂

  3. Anyyonghaseyo aku reader baru🙂 ini ff taun lalu sedih banget aku baru nemu hehe salam kenal .. Aku suka sama ff kaya gini menguras emosi oh god tapi aku ga tau sanggup apa ngga baca lanjutannya di part1 aja udh sedih banget aaaaaaaaaaaa tapi penasaran sama tiap partnya ..semoga ssanggup ! Fighting!

    • Serius udah nangis?😀 hahahhaha asik asiiik^^ coba ayo baca selanjutnya sampe selesai😀

      Aiiih unnie ya._. aku Nisa 97lineeee^^
      Selamat singgah diblog-ku un^^

  4. ide cerita yg menarik…cerita kyk gini emang udah sering d’angkat jd fanfic dan byk jg film yg jalan cerita kyk gini.tp jujur cerita ini masih bikin penasaran sebelum bc smpe endingnya…jd ku bkal bc setiap partnya…tp ffnya daebak loh…gk bikin bosen bcnya walau udah sering bc ff yg inti cerita hampir sama…it’s ok….
    btw judul fanfic sadness udah pasti intinya kesedihan n’ kyknya ini fanfic bkal nguras emosi bangt,jd ku udah siapin tisu bnyak bwt bc ff ini…smoga next part mkin bgus deh critanya…

    • Hehhehe iya jalan ceritanya pasaran yaa 8-| abis aku bingung kalau harus bikin jalan cerita hmmm
      wkwkwk ayo dibaca dulu un biar tau isinya kaya apa ;))

    • Annyeeooooong Sung Yong Neul^^ Boleh kok sayang, santai aja ya sama aku mah🙂
      Hahahhaa masa? Ayo dilanjutin bacanya sampe ending😀 nanti kalau masih penasaran sama cerita selanjutnya (pasca ending) bisa dibeli bukunya di NulisBuku.com Buku Sadness loh^^

  5. hai. kita seumuran. tp lebih tua dirimu beberapa bulan. jd panggil onnie aja ya? *pengen awet muda* hwaaaa! ff ini nyesek banget. keren pas onnie menyampaikan nih cerita. bikin sakit di dada. aigoo! seolah ngerasain yg hyen rasain. keren nih! ide ceritanya jarang yg beginian. hehe. satu lg onn, sakit. bener2 sakit. oke sekian. salam kenal~

    • Ooooo tidak bisaaaaa enak sajo dirimu memanggilku unnie -_- #gamaudibilangtua
      Waduw! Awas tuh! Jangan2 sakit jantung xD buakakaakakakak
      Sakit ya? Jadi inget waktu nulis diary isinya ‘sakit’ semua😮 /curcol/ /hilang/ thanks for read this (unimportant) story :”D

  6. aaaaahh~ sepertinya aku bener” ga sanggup baca part selanjutnya ,,
    nyesek banget ,, T.T
    aku langsung ke ending nya aja deh ,,

  7. wahhhh, ternyata kyuhyun dijodohinnnnnnnn >o<
    Kan kyu udd pny istri knp djodohin lg? Heolll~
    Kek ny bakal seru in cerita nya..
    Oke nextt🙂

  8. annyeong aku ga sengaja terdampar diblog ini, baca ff ini ditambah lagu yesung langsung mewek u.u , ga tau harus ngomong apa tapi sumfeh *alay nyesek banget ceritanya. Keren . aku ijin lanjut baca ffnya ya .
    Oh ya naneun gina imnida, Elfcirebon , 98line bangapta~~

  9. Saenggg yaaa??

    Aq numpang acak acak lagi yaaa,, kaik’a ada yg baru dah lamaaaa beud gga acak” ni blog..

    Permioss mo ngacak ya saeng😀 ᵔ.ᵔ

  10. ga kebayang dh gmn kalau jd hyen..pasti berat bgt..suami sndri mau nikah sm orng lain..
    apa kptusan dia bwt nkah sm kyu itu salah??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s