My First Love Chap 1

Standard

Author : Nisa Ayu Thayalisha Hadi (Nam Hyen Hyo)

Cast :

Choi Minho

Lee Hyeseung

Lee Taemin

Title : My First Love (Part 1)

Length : Chaptered

Genre : Romance

Rating : PG-13

Disclaimer : The casts are belong to God, and this Fan Fiction is belong to me kekekeke~ i own this plot ok?

Note : This is pure my imagination.

Credit Poster : cutepixie@darkreflection.so-pink.org

===============================================================

-AUTHOR POV-

Februari 1996

“Minho-ssi~ sampai jumpa. Kita masih bisa berteman. Tenang saja. Jangan menangis seperti itu” seorang gadis kecil berbicara kepada teman yang sudah dikenalnya sejak umur 3 tahun ini. Sambil memegangi kepala temannya ini, si gadis kecil mengoceh lagi “ayolah minho-ssi, aku harus pindah ke jepang karna tugas ayahku. Minho-ssi, jangan terus menangis seperti ini. Sebisa mungkin, aku akan bermain ke seoul untuk menjenguk mu, percayalah” serunya seraya menenangkan sahabat kecilnya ini.

“Umma, ajak minho-ssi ke jepang. Kasian dia disini hanya seorang diri, sementara appanya entah pergi kemana dari 3 hari yang lalu. Dan taemin-ah juga kan masih kecil. Ayolah umma, kasian minho-ssi” rengeknya kepada ummanya.

“Tidak bisa hyeseung-ah. Dia tetap masih mempunyai orang tua, walaupun ibunya sudah meninggal, tapi dia masih memiliki seorang appa. Mungkin appanya sibuk. Jika kita membawanya ke jepang, kasian appanya pasti akan merindukan anaknya ini” seru ummmanya menolak.

“Hajiman…. Umma….” Serunya melihat ke arah ummanya lalu ke minho “minho-ssi, jaga dirimu baik-baik. Aku tidak bisa lama-lama disini. Appa ku sudah menunggu. Minho-ssi aku akan merindukanmu. Aku mencintaimu” di kecuplah keningnya oleh gadis mungil ini.

“Hyeseung-ah, berjanjilah padaku bahwa kau pasti akan datang kembali kesini untuk menemuiku” katanya sambil mengeluarkan air mata yang sedari tadi sudah membasahi pipinya. “Ya aku berjanji^^” jawabnya seadanya, walaupun dia tau dia tidak akan bisa datang ke korea lagi hanya sekedar untuk menjenguknya.

“Kau tidak boleh melupakanku!” tegasnya. “tidak akan oppa, karna aku menyayangimu^^” jawabnya sambil memegang sebuah boneka kelinci yang pernah diberi oleh namjachingunya ini. Ya, mereka berdua menganggap bahwa mereka sudah pacaran, padahal umurnya saja mereka masih dibawah  8 tahun.

-FLASHBACK-

“Hyeseung-ah” sapa seorang namja kecil di belakangnya.

“Ne oppa?” sahutnya membalikkan badan.

“Aku mencintaimu, jadilah pacarku. Ini untukmu” ucapnya sembari menutup matanya dan menyodorkan sebuah boneka kelinci kepada hyeseung. “terimalah” ucapnya lagi dan masih tetap memejamkan mata.

“Ne oppa. Aku mau^^” seulas senyum menghiasi wajah mungilnya.

“Benarkah?” sontak namja kecil ini mengangetkan.

“Ne oppa, aku serius.” Ujarnya sambil memegang tangan minho-ssi “kau mencintaiku kan? Aku juga, jadi mulai sekarang kami pacaran” serunya lagi sambil mengedipkan mata sebelahnya.

“Ne. haengbok~” ujar namja kecil ini.

-FLASHBACK END-

Sebelum pergi, minho lari ke arah hyeseung dan memeluknya untuk terakhir kali. Mereka berdua menangis layaknya seorang wanita dan pria dewasa yang akan dipisahkan.

“Oppa, jangan menangis, aku sedih melihatmu. Jika kau menangis aku tidak akan tenang berada di jepang nanti” pintanya pada minho.

“Hyeseung-ah, jaga dirimu baik-baik ya. Sampai jumpa” minho melepaskan pelukan itu dan memberikan lambaian tangan tanda perpisahan.

Hyeseung berumur 6 tahun dan minho berumur 7 tahun. Minho memang lebih tua darinya, tapi pikiran hyeseung lebih tua darinya, hyeseung berpikir lebih dewasa daripada minho. Minho hanyalah seorang namja kecil yang cengeng dan bodoh, pemalu serta sederhana. Berbeda dengan yeoja yang di anggapnya yeojachingu-nya ini, dia dewasa, cantik, pemberani serta berasal dari keluarga berada. Rumah mereka bersebelahan maka mereka dekat sejak kecil. Keluarga hyeseung memang selalu bersikap sederhana dan tidak pernah sombong walaupun mereka adalah keluarga yang kaya. Mereka membiarkan anaknya, hyeseung untuk bermain bersama seorang namja kecil yang usang dan kotor, minho.

Hyeseung adalah anak satu-satunya, sementara minho mempunyai seorang adik bernama Lee Taemin, marga mereka berbeda. Minho adalah choi minho, dan adiknya Lee taemin. Minho mengikuti marga ayahnya, dan taemin mengikuti marga almarhum ibunya. Taemin sekarang baru berusia 3 tahun, dia masih belum mengerti. Tapi dia juga ikut menitikkan air mata ketika melihat yeoja kecil yang sering bermain bersamanya pergi “unnie…. Dadah” hanya itu yang bisa di ucapkan oleh taemin waktu itu, dengan tidak jelas layaknya anak kecil.

Januari 2008

Seorang yeoja cantik dengan baju santainya, menggunakan sweater dan menggunakan celana di atas lutus berjalan menyusuri jalan. Dia terburu-buru, nampaknya akan ada sesuatu yang penting. Dia berlari melewati seluruh orang yang sedang mondar-mandir disitu. Dia membawa seberkas kertas dengan map biru menyelimutinya. Rambutnya yang panjang terurai berterbangan tertiup angin yang berhembus berlawanan arah dengan arah dia berjalan.

Dia menyebrangi jalan, tetap jalan terus menyusuri setiap jalan sampai akhirnya sampai di tempat tujuannya. Hanya sebuah apartemen. Well, apartemen mewah. Dia menaiki sebuah lift dan memasuki kamarnya. Dia meletakkan map itu di mejanya dan berbaring di kasurnya. Tak lupa ia mengunci kamarnya lalu duduk di kursi tepat di depan meja dimana map biru tadi disimpan. Dibukanya lah map itu. berlembar-lembar foto tampak di dalam map tersebut, dan secarik surat yang sudah lusuh dipegangnya.

Dia membuat kopi hangat ke dapur dan kembali duduk ke tempat awal dengan boneka yang kini sudah di pegangnya. Ne, boneka apalagi jika bukan boneka kelinci  pemberian cinta monyetnya waktu kecil itu.

-AUTHOR POV END-

-HYESEUNG POV-

Aku berkuliah di Jepang, selain menjalani kuliah, Aku juga bekerja di sebuah perusahaan warisan appa-ku. Perusahaan sebuah stasiun televisi di Jepang. Aku menjadi manager disana, sebenarnya, aku merasa keberatan dengan pekerjaan ini. Walaupun aku tau perusahaan appa-ku ini perusahaan terkenal di jepang maupun di luar negeri. Sebenarnya appaku menyuruh begini, karna jika sudah selesai Kuliah nanti, aku akan pulang ke Seoul dan harus menjalankan perusahaan appaku yang di Seoul seorang diri. Aku terlalu sibuk dengan pekerjaan ku ini. Aku harus menghadapi beberapa client dan melakukan meeting untuk membuat iklan suatu produk sampai tidak sempat untuk memikirkan namja yang sangat aku cintai, namja yang sampai saat ini pun masih aku ingat wajahnya, sifatnya, dan juga tingginya. Dulu dia memang tidak lebih tinggi dariku. Hahaha aku selalu saja ingin tertawa mengingatnya.

Kini aku sudah terduduk manis di depan meja kesayanganku. Meja tempat barang-barang yang mengingatkan aku dengannya. Aku masih mengingat namanya. CHOI MINHO. Dan juga adiknya yang lucu. LEE TAEMIN. Aku merindukan keduanya. Ku peluk erat boneka pemberian darinya. 12 tahun sudah kita tidak bertemu. Bagaimana kah keadaannya? Bagaimana wajahnya saat ini? Apakah tingginya sudah melebihi ku? Apakah sifatnya sudah dewasa? Dan yang paling penting adalah apakah dia mengingatku? Seorang yeoja kecil yang di anggapnya sebagai yeojachingu-nya ini.

Ku lihat satu persatu foto yang ada di hadapanku. Foto ketika kita sedang tertawa karna melihat taemin jatuh dari kursi. Foto ketika kita sedang menangis ketika jatuh dari sepeda bersama dan yang lainnya. Semua foto itu umma ku yang mengambilnya. Dia memang senang sekali dengan dunia fotografi, dan kini ummaku bekerja sebagai photographer di perusahaan appa-ku.

Aku telah berjanji kepadanya, bahwa aku akan kembali ke Seoul untuk menjumpainya. Tapi nyatanya, setelah 12 tahun aku ada di Tokyo, Jepang, belum pernah sekalipun aku kembali ke Seoul. Orang tuaku tidak mengizinkan. Aku rindu sekali dengannya. Teringat kata-katanya saat itu “kau tidak boleh melupakanku!” ne, aku tidak melupakanmu minho-ssi. Tapi apakah kau mengingatku? Atau mungkin kau sudah melupakanku? Aku sadar kau pasti membenciku karna aku tidak menepati janjimu. Dari awal aku sudah mengetahuinya jika aku  tidak akan kembali lagi ke Seoul sebelum appaku menyatakan bahwa aku mampu menangani sebuah perusahaan dan tentunya sebelum aku lulus dari kuliahku. Sekarang, appaku sudah mempercayai kemampuanku, aku ingin kembali kesana, sebagai yeojachingu-mu yang real. Bukan hanya sekedar permainan anak kecil. Tapi sayangnya, kuliahku belum selesai, dan appaku belum sepenuhnya mempercayaiku.

“Aku masih mencintaimu CHOI MINHO.” Ku teriakkan nama choi minho sambil memeluk erat boneka itu dan menitikkan air mata, aku tidak kuat. Aku sangat rindu dengannya. Aku ingin kembali kedekapannya, dengan sejuta candaan dan tawa. Aku lebih nyaman tinggal di Seoul daripada di Tokyo.

Ku buka secarik kertas yang sudah aku lipat menjadi beberapa bagian, surat itu diberikan oleh minho-ssi ketika aku ingin pergi ke Tokyo. Sebuah tulisan tangan yang tidak beraturan menggunakan hangul dengan sebuah tinta yang sudah mulai pudar, ku baca lagi. Sudah berulang kali aku membacanya. Dan aku tidak pernah merasa bosan.

PS : jika suatu saat nanti kau bertemu denganku, janganlah sombong, terus ingat aku. Jangan pernah kau mencoba untuk melupakanku, karna aku tidak akan pernah mencoba untuk melupakanmu. Walaupun aku lupa padamu nanti, hatiku tetap tidak akan melupakanmu. Saranghaeyo hyeseung. CHOI MINHO

Setelah membaca surat itu, aku berinisiatif untuk menelfon umma ku, memberitahukannya bahwa aku ingin pergi ke Seoul untuk menemui Minho-ssi.

“Annyeong haseyo umma^^ eotteohke dangsin-i isseumnida? Aaah ne, aku baik-baik saja. Jaga kesehatanmu umma. Aku hanya sedang sibuk dengan client umma, berbagai meeting disana-sini. Aku pusing. Ne, ne, ihae. Umma, aku punya satu permintaan. Aku ingin kembali ke Seoul. Tolonglah umma, aku rindu dengannya” pintaku dengan nada memelas

“Ani-aa!!! Kau harus berusaha mendapatkan kepercayaan penuh dari appamu terlebih dahulu, karna itu penting untukmu, kau kan harus mengurus perusahaan appamu yang di Seoul nanti seorang diri. Appamu sudah memberikan kepercayaannya kepadamu, janganlah kau membuatnya kecewa hanya karna dia. mengerti?” serunya, jawabannya membuatku sedih dan bingung.

“Hajiman umma….. naneun jeongmal geuleul geuliwo. 12 tahun sudah kita tidak bertemu, umma tolong izinkan aku sekali ini saja.  Aku berjanji akan kembali lagi ke Tokyo dalam waktu cepat” rengekku seperti anak berumur 5 tahun yang menginginkan permen kepada ummanya

“Arasseo arasseo, akan aku bicarakan masalah ini dengan appamu. Istirahatlah” ujarnya. Huh, suatu pernyataan yang sedikit membuat ku tenang

“Ne, gomawo umma. Saranghaeyo. Bujuklah nampyeon mu itu umma^^ yayaya? Arasseo, gomawoyo umma. annyeong” jawabku dengan nada yang kembali riang dan menutup telfonnya.

Ku rebahkan diriku di kasur. Aku merasa sedikit lega, tapi tidak sepenuhnya lega, karna aku harus mendapat persetujuan dari appaku

“Minho-ssi, tunggu aku. Aku akan datang menjumpaimu. Semoga kau tidak melupakanku” seruku pada diri sendiri

-HYESEUNG POV END-

– MINHO POV-

Sampai sekarang, aku masih menunggunya. Appaku sudah meninggal, kini aku hanya tinggal berdua dengan taemin, untung aku sudah besar jadi bisa mencari nafkah untuk aku dan untuk adikku juga tentunya. Pamanku menawarkanku dan taemin untuk tinggal dirumahnya. Aku menyetujui pendapatnya itu, tapi tidak sekarang. Mungkin setelah aku pergi ke Tokyo untuk mencarinya.

Aku kadang berpikir, apakah dia masih mengingatku? Aku sempat melihat di majalah, dengan tidak sengaja waktu itu aku membaca sebuah majalah yang membahas seorang yeoja ‘seorang wanita muda dengan karirnya yang sukses’ itu lah judul bagian paling atasnya, terpampang foto yejoa disitu dan juga nama lengkapnya LEE HYESEUNG. Aku kaget membaca nama itu. apakah itu lee hyesung yeoja kecil-ku dulu? Tapi ini kan majalah Korea, sedangkan dia ada di Jepang.

Lusa, aku berniat untuk meninggalkan rumahku dulu, rumah yang berada tepat di samping rumah yeoja yang ku cintai dulu. Aku sepakat dengan taemin untuk menemui nya di Jepang dan tidak akan kembali kerumah itu, melainkan kerumah pamanku. Mungkin dia tidak sempat datang kesini karna dia sibuk dengan pekerjaannya ataupun sekolahnya. Maka dari itu, aku lah yang akan menyusulnya. Tapi apakah dia masih mengingatku? Itu lah yang membuatku ragu.

“Hyung…..” serunya mengagetkanku

“Ada apa Taemin?” tanyaku tanpa menatap matanya

“Jadikah kita lusa menjumpai hyeseung noona?” tanyanya dengan penuh semangat

“Molla… aku ragu, apakah dia masih mengingat kita?” jawabku dengan tidak semangat, berbalik dengan taemin.

“Ayolah hyung… aku kangen noona-ku” ujarnya sambil menarik-narik lenganku. Usianya sekarang sudah 15 tahun. Tapi sikapnya masih saja seperti anak kecil, tapi itu memang pantas karna muka imutnya sangat mendukung sekali.

“Kita pikirkan nanti, aku akan memikirkannya nanti malam. Sekarang tidurlah” pintaku padanya

“Ne hyung. Kau juga, annyeonghi jumuseyo” ucapnya dengan suara imutnya itu. dia cowok tapi mukanya cantik, mungkin dia mirip dengan ummaku. Aku sendiri hanya bisa melihat ummaku dari sebuah foto. Karna ummaku meninggal setelah melahirkan taemin, sementara aku masih berumur 4 tahun. Seharusnya aku ingat, tapi pada kenyataannya, aku tidak mengingatnya.

– MINHO POV END-

-AUTHOR POV-

Appa hyeseung tidak mengizinkan hyeseung untuk kembali ke seoul, dia tetap harus meneruskan pekerjaan serta pendidikannya. Dan konsentrasinya tidak boleh goyah sedikitpun.

Sementara minho dan taemin, pada akhirnya tetap menjalankan rencananya untuk datang ke jepang demi bertemu dengan yeoja yang dicintainya.

-AUTHOR POV END-

-HYESEUNG POV-

“Appa…. Izinkan aku” rengekku memohon-mohon menarikki celana appaku.

“Tidak hyeseung-ah, appa akan menetap di Tokyo, jika kau tidak bisa mengendalikan perusahaan siapa yang akan mengendalikan perusahaan appa yang di Seoul nanti? Maka aku akan mendidik mu dari sekarang. Apakah kau lebih memilih namja itu dibanding appamu?” tanyanya.

Aku sudah tidak dapat menjawabnya, tidak mungkin aku menjawab lebih memilih minho-ssi didepan appaku ini

“Ani-aa appa, aku lebih memilihmu. Mianhae appa. Aku akan menurutimu untuk tidak kembali ke Seoul” jawabku datar. Aku pun tidak mengerti mengapa dapat mengatakan ini dengan sepenuh hati, padahal aku ingin sekali bertemu dengannya, tapi seperti ada perasaanku yang mengganjal, memberitahuku untuk tidak kembali ke Seoul karna dia akan datang. Aku tidak tau berasal dari manakah perasaan ini, tapi aku yakin dia akan datang.

“Hyeseung-ah~” teriak ummaku membuyarkan lamunanku.

“Ne umma?” jawabku masih menatap jendela.

“Aku ada kabar bagus sayang”

“Apa itu?” tanyaku tidak tertarik.

“Aku menemukan seorang namja sedang berjalan membawa banyak barang dengan ya mungkin seorang dongsaengnya, dia mempunyai karisma. Tampan, tapi aku rasa dia bukan orang jepang” serunya mendeskripsikan.

“Lalu?” jawabku tidak mengerti.

“Aku akan menawarkannya pekerjaan, sebagai model. Dan aku akan menjadi photographernya! Oh ya, aku akan menunjukkan fotonya padamu” katanya sambil mengutak-atik kamera DSLR yang ada ditangannya. “ah shit! Batrenya habis, hyeseung-ah~ besok ketika di kantor, datanglah ke ruanganku untuk melihat wajah tampannya. Aku mempunyai nomer ponselnya, apakah kau berminat? Siapa tau dia bisa membuatmu melupakan namja kecilmu itu” ujarnya sedikit bercanda.

“Ani-aaaa!!!!! Umma……” aku menjawabnya dengan teriak dan memukul-mukuli lengan ummaku pelan “umma…. Tidak ada seorang namja manapun yang bisa menggantikannya. Umma tau itu kan?” Tanya ku memelas.

“Ne sayang, aku tau” jawabnya sambil mengelus rambutku. Aku merindukan ini. Aku rindu kepalaku dipegang olehnya. Oh Minho-ssi datanglah. Maafkan aku minho-ssi mianhae. Jeongmal mianhae.

“Umma, aku merindukannya” keluhku pada ummaku.

“Cepatlah selesaikan sekolahmu, dan fokus pada perusahaan itu. jika appamu sudah yakin bahwa kamu sudah bisa mengendalikan perusahaan, pasti beliau akan mengizinkanmu untuk kembali ke Seoul, untuk mengendalikan perusahaannya yang di sana tentunya” jelas umma.

“Ne umma, aku mengerti” jawabku tidak semangat. Masih lama-kah itu akan terjadi? Aku rasa iya.

-hyeseung POV end-

-taemin POV-

Orang yang tadi minta nomer telfon hyung sambil bawa kamera kok aku kaya kenal ya? Mukanya kaya pernah liat, tapi siapa? Aku membuka tasku dan mencari majalah itu. ya, membuka halaman yang memuat tentang hyeseung noona. Aku membolak-balikkan halamannya. Yap! Ketemu!

Orang yang tadi mirip hyeseung noona, tapi dia bukan hyeseung noona. Lalu siapa?

“Hyung…. Orang tadi mirip hyeseung noona” sambil menunjuk muka hyeseung di majalah

-taemin POV end-

-minho POV-

Aku bingung akan tinggal dimana. Sementara kami berdua disini tidak mengenal siapa-siapa. Aku tidak ingin menyusahkan taemin. Cepat atau lambat aku harus menemukan tempat tinggal itu. aku tau tidak akan selamanya lah aku ada disini, hanya untuk 1 minggu ini saja. Hitung-hitung refreshing sembari mencarinya. Aku merindukannya. Sangat. Kau dimana sekarang? Aku disini hyeseung-ah~ kemarilah.

“Hyung…. Orang tadi mirip hyeseung noona” seru taemin sambil menunjuk muka hyeseung dimajalah.

“Orang yang mana?” tanyaku heran.

“Itu loh yeoja yang tadi memakai kacamata, mantel merah dan kain di kepalanya. Yang meminta nomer hyung dan membawa kamera” jelasnya.

“Oh yang itu. jangan ngarang kamu” jawabku tidak percaya.

“Tapi tadi  mirip loh hyung, mirip sama yang di foto ini” taemin tetap tidak ingin kalah sambil menunjuk foto Lee Hyeseung di majalah.

“Tau dari mana kau dia mirip hyeseung? Mukanya saja kau tidak tau, jangan selalu mengambil pendapat dengan alasan yang tidak jelas taemin! Kita kan tidak tahu apakah yeoja di foto itu memang benar Hyeseung noona kesayanganmu atau bukan. Kita tidak tau pasti kan?!” jelasku padanya.

“Ah hyung….. arasseo, mianhae-_- lagi pula, aku kan tidak tau wajah dia dengan jelas. Dulu aku masih kecil dan tidak terlalu ingat. Memangnya hyung tidak ingat mukanya?” tanyanya.

“Aku ingat muka dia ketika kecil. Muka orang jika sudah dewasa kan akan berubah.” Ujarku rada sedikit kesal.

“Oh iya hyung benar, ya sudahlah” seru taemin mengalah.

“Ayo kita cari tempat tinggal” ajakku.

“Kajja…. Uang itu masalah gampang” serunya menyepelekan.

“Bagaimana bisa kau bilang bahwa uang itu masalah gampang taemin-ah?” nadaku meninggi, kesal. Aku berbicara sambil menepak topi yang di pakai di kepalanya.

“Uh hyung mianhae hyung… eh hyung, ngmg-ngmg orang tadi ngapain  ya minta nomer telfon hyung? Sebelum dia datang, hyung ngerasa ada flash nyamber-nyamber ga sih?” seru taemin rada serius.

“Tau, suka kali sama aku. Aku kan namja korea idaman^^ tidak, biasa saja, mungkin itu sinar terik matahari. Sekarang kan sedang musim panas” terangku kepadanya yang masih saja penasaran dengan yeoja tadi.

“Oh iya mungkin saja hyung”

“Masih ingin bertanya?” tanyaku ingin tau.

“Tidak” huff baiklah. Akhirnya. Capek aku dengar omelannya.

-minho POV end-

-hyeseung POV-

“Lagi-lagi aku memimpikannya hm” seruku sambil menggeliat.

Ya, aku baru bangun dari mimpi indahku. Bertemu dengan namja kecilku di alam mimpi. Aku ingin bertemu dengannya. Tapi apa boleh buat, appaku melarang. Ku lirik jam dinding yang ada di sebelah kiriku.

“Aniaaa!!! Sudah jam 10? Oh tidak, aku sudah ada janji dengan client jam 9 pagi ini!” aku tergesa-gesa menuruni tempat tidurku dan cepat mencari ponsel ku. Ku lihat 13 panggilan tak terjawab dari asistenku dan 5 panggilan tak terjawab dari appaku serta pesan-pesan bertumpuk yang menyatakan “hyeseung-ah cepat datang kemari, sampai kapan kita harus menunggumu? Jika kau tidak datang dalam waktu 5 menit ini, meeting akan segera dimulai tanpa kau.” Itulah pesan yang aku baca, dari appa. Mianhae appa mianhae.

Aku terlalu asik dengan mimpi ku sendiri sehingga lupa kalau pagi ini ada janji. Aniaaa! Mengapa aku duduk lagi? Cepat mandi hyeseung ah~!! Oh tidak! Aku tidak usah mandi. Langsung saja aku berangkat.

Aku buka lemari pakaianku dan segera mengganti baju tidurku dengan kemeja dan rok dengan panjang selutut. Aku meraih hand-bag ku dan tak lupa aku merias penampilanku. Ku semprotkan parfum agar tubuhku wangi dan memakai bedak serta handbody. Oke, sudah tidak ada waktu lagi. Aku akan segera berangkat.

“Semoga appa tidak memarahiku” gumamku dalam hati sembari mengambil napas panjang lalu menghempaskannya kembali.

Hobi ku memang membawa mobil dengan kecepatan tinggi. Kini aku sudah hampir sampai di depan perusahaan dan byuuuuuur apa yang terjadi? Mobilku melewati genangan air dan menyemprotkan air itu kepada pejalan kaki dipinggirnya. Untung tidak ramai, tetapi ada dua orang namja disitu yang menjadi korbanku.

“Huhu jeongmal mianhae” teriakku dari dalam mobil sambil melongokkan kepalaku dari jendela, aku rasa mereka bisa mendengarnya.

“Ash hyeseung-ah! Bagaimana ini? Apakah mereka akan marah? Apa yang harus ku lakukan sekarang? Appa menungguku, sementara namja tadi, kasihan badan mereka jadi kotor. Mianhae mianhae mianhae mianhae. Hyeseung babo babo babo!!!” gumamku pada diri sendiri dan mengetok-ngetokkan kepala dengan tangan kananku.

-hyeseung POV end-

-minho POV-

Hari ini adalah hari yang cerah, tadi malam hujan deras. Padahal sekarang adalah musim panas. Ya begitulah cuaca, tidak menentu, terkadang memang susah untuk di prediksi. Cuacanya dingin sekali, tetapi tetap ada cahaya terik matahari menyinari Negara ini. Aku dan Taemin berniat untuk jalan-jalan, hanya sekedar untuk menikmati kota Tokyo. Kami tidak akan lama berada disini, jadi kami harus pintar-pintar memanfaatkan waktu liburanku. Ne, lebih tepatnya waktu untuk mencari yeojaku itu. dimana ya dia sekarang.

BYUUUUUUR

Cipratan air dari mobil mewah berwarna merah itu mengenai seluruh tubuhku, Taemin tidak, karna dia berada disebelahku. Sebenarnya dia juga terkena cipratan air kotor itu, hanya saja tidak sebanyakku.

Aku sontak kaget. Yang awalnya aku sedang memikirkan sesuatu tiba-tiba saja air mengguyur kearahku seolah aku sedang di bangunkan dari mimpiku.

Aku dapat melihat seorang yeoja cantik membuka kaca mobilnya dan berkata “huhu jeongmal mianhae” dia mengatakan itu dalam posisi mobilnya masih menyala. Apakah dia tidak takut mati? Itu kan bahaya. Dia memasukkan kepalanya kembali dan laju mobil semakin cepat.

“Hari sialku” dumel ku pada diri sendiri.

“Aku kan tadi sudah bilang pada hyung, minggir lah, ada mobil ingin lewat. Hyung tetap saja diam dengan pandangan lurus ke depan tanpa memperhatikanku” omelnya.

“Ohya?” tanyaku tidak percaya.

“Iya hyung. Sebenarnya apa sih yang sedang kau pikirkan?” Tanya taemin menyelidik.

“Tidak ada. Hanya saja, aku sedang berpikir bagaimana keadaaannya skg”

“Hyeseung-noona pasti akan baik-baik saja. Dia kan orang kaya, perusahaan appanya tersebar dimana-mana.” Taemin menenangkan.

Benar apa kata taemin, dia pasti akan baik-baik saja. Jadi aku tidak boleh khawatir dengannya. Toh dia pasti akan bahagia disini dan tidak kesusahan.

Tapi aku merasakan sedikit aneh dengan yeoja tadi, dia mengatakan “jeongmal mianhae?” ini kan jepang, bukan korea. Ah mungkin saja dia bisa berbahasa korea juga, atau tidak dia memang sedang belajar bahasa korea. Ne arasseo, bukan urusanku.

-minho POV end-

-hyeseung POV-

“Ohayou gozaimasu, ohayou, hai ohayou^^” para pegawai disini menyapaku, aku menyapa mereka kembali sembari menundukkan badanku setengah berlari menuju ruang meeting.

“Hyeseung-ah, cepat sedikit, appamu menunggumu” ku dengar suara seorang yeoja, ku lihat ummaku sedang melihat-lihat foto di kameranya sambil berbicara seperti itu padaku

“Ne umma. Gomawoyo” jawabku sambil lari menuju ruangan.

Aku memang selalu menggunakan bahasa korea untuk berkomunikasi dengan appa dan ummaku.

“Shitsureishimasu, gomen nasai saya terlambat. Sumimasen” sapaku saat baru saja masuk ke ruang meeting. Appa duduk sambil memijat pelipisnya. Aku tau dia sangat marah padaku. Aku tersenyum bersalah pada semua client dan duduk di tempatku.

-hyeseung POV end-

-AUTHOR POV-

Meeting berjalan mulus. Mereka membicarakan pembuatan sebuah iklan tentang suatu produk. Yaitu sebuah makanan yang terkenal di Jepang, Udon. Tetapi untuk model yang akan digunakan, masih tetap ragu. Mereka hanya membicarakan jalan ceritanya saja dan akan merundingkan kembali untuk modelnya minggu depan.

Dua Namja korea yang sedari tadi berjalan-jalan kini duduk di sebuah bangku taman pinggir kota. Mereka bingung harus mencari hyeseung kemana lagi. Akhirnya mereka pasrah dan tetap duduk untuk beristirahat.

-AUTHOR POV end-

-hyeseung POV-

Baiklah meeting sudah selesai. Kugoyangkan kepalaku ke kiri dan ke kanan karna pegal. Ummaku sedang menunggu kami, aku dan appa di depan ruang meeting.

“Sudah selesai?” tanyanya pada nampyeonnya itu.

“Sudah. Maaf sudah membuatmu menunggu begitu lama jagi” appaku berkata.

“Baiklah, kita cari makan sekarang. Kalian pasti sudah lapar kan? Kajja!” ajak ummaku kepadaku dan appa.

“Uhm, mianhae umma. Tadi pagi mobilku kecipratan air kotor nih, aku harus membawanya ke tempat cuci mobil. Aku akan mencari makanku sendiri. Aku berjanji umma, aku akan makan” pintaku kepadanya.

“Ne arasseo. Jangan lupa makan ya hyeseung-ah, pokoknya kamu harus jaga kesehatanmu. Ihae?” tanyanya kepadaku.

“Ne umma, jangan khawatir. Hati-hati” ujarku sambil melambaikan tangan.

Umma dan appaku hanya tersenyum saja.

Aku akan membawa mobilku ke tempat cuci mobil, aku tidak ingin mobilku kotor. Seperti biasa, aku mengendarainya dengan kecepatan tinggi dan sreeeeeeeeek suara ban mobil yang sedari tadi sedang mengebut tiba-tiba mengerem mendadak. Mataku tertuju pada kedua namja yang sedang duduk lelah di kursi taman. Ku pinggirkan mobilku dan kuhampiri mereka.

“Konnichiwa” sapaku ragu, “apakah benar ya mereka yang tadi menjadi korban cipratan air kotor itu?” gumamku dalam hati sambil menggarukkan kepalaku yang tidak gatal.

“Ne? annyeong” jawabnya. Aku kaget. Mereka bisa menggunakan bahasa korea? Apakah mereka orang korea?

“Kalian orang korea?” tanyaku langsung

“Ne noona” jawab namja yang mukanya imut-imut itu. namja yang satunya terlihat diam saja, bahkan aku tidak di gubrisnya.

“Mianhae mianhae, tadi pagi kalian menjadi korbanku. Mianhae, tadi pagi aku sedang buru-buru dan aku tidak melihat ada genangan air dan….”

“Ne noona, tidak apa-apa. Kami baik-baik saja. Ya kan hyung?” Tanya namja imut ini kepada namja lainnya yang di panggil hyung itu.

Namja itu tidak menjawabnya, masih sama pada posisinya tadi memandang lurus ke depan dan tidak menatapku. Ya sudahlah, mungkin dia lelah. Aku merasa tertarik untuk mengobrol dengannya, si namja imut ini.

“Siapa namamu?” tanyaku penasaran padanya.

“Namaku Tae…..” oh tidak ponsel ku berbunyi!

“Sebentar ya, ada panggilan masuk” seruku sambil menjauhi mereka berdua.

“Ne appa? Ne ne, tp aku harus ketempat cuci mobil terlebih dahulu. Mobilku kotor. Sebentar saja. ne arasseo, ne, ihae. Annyeong.” ku tutup ponselku dan…..

“Kemana mereka?” tanyaku heran. Kedua namja itu sudah tidak ada ditempat. Yasudahlah, aku langsung saja berangkat. Tanpa berpikir panjang, aku melanjutkan perjalananku.

-hyeseung POV end-

-minho POV-

Aku lelah, aku bingung akan kemana lagi. Tidak mungkin aku dapat menemukan hyeseung-ah di Negara yang besar ini. Aku tau dia tinggal di Tokyo, tapi penduduk Tokyo itu banyak sekali, dan tidak mungkin jika aku akan menanyakan nama mereka satu persatu dan menanyakan ‘apakah kamu teman kecilnya CHOI MINHO?’ Itu tidak mungkin!

Aku tau ada seorang yeoja menghampiriku, tapi aku tidak tertarik untuk melihatnya, aku tetap saja memikirkan hyeseung. Apakah Tuhan akan memberikan keajaibannya untuk mempertemukan hyeseung denganku?

“Konnichiwa” sapanya dengan nada sedikit ragu. Aku tidak berniat untuk menjawabnya. Aku yakin taemin akan menjawab, dia cepat akrab dengan orang yang baru saja dikenalnya. Berbeda denganku. Aku butuh waktu lama untuk menyesuaikan diriku dengan orang baru.

“Ne, annyeong” jawab taemin semangat. Benar dugaanku. Taemin pasti akan menjawabnya, jadi aku tidak usah sibuk-sibuk untuk meladeni yeoja ini.

Aku terlarut dalam keheningan, memikirkan yeoja yang ku cintai itu, sampai akhirnya aku tidak bisa mendengar perkataan mereka. Aku tersadar dari lamunanku ketika sebuah ponsel berdering.

“Dering ponsel siapa?” tanyaku pada taemin.

“Noona tadi” jawab taemin.

“Oh” jawab ku singkat “siapa namanya?” lanjutku penasaran

“Tidak tahu, tadi dia menanyakan namaku terlebih dahulu, tapi ketika aku ingin memberitahu namaku, ponselnya berdering” jelas taemin.

“Oh begitu. Aku lapar. Ayo kita cari tempat makan di dekat sini” ajakku padanya.

“Baiklah” jawab taemin menurut.

-minho POV end-

-hyeseung POV-

“Annyeong umma, appa. Ada apa?” tanyaku heran karna tiba-tiba appa menelfonku untuk cepat-cepat datang.

“Begini hyeseung-ah, 3 bulan lagi kau akan menjalani wisuda, itu artinya kau sudah akan menyelesaikan pendidikanmu. Dan dalam waktu 3 bulan ini, kau harus mengambil penuh kepercayaan yang akan appa berikan padamu. Jika tidak, maka terpaksa kaulah yang akan tinggal disini dan appa yang akan mengurus perusahaan di Seoul” jelas appa ku panjang lebar.

Anni-aaaa aku tidak mau itu terjadi! Yang ada malah aku tidak akan bisa bertemu minho-ssi sampai ajal menjemputku.

“Baiklah appa, akan aku lakukan yang terbaik untukmu” jawabku sambil mengulas senyum manis di wajahku.

“Bagus anakku” jawab appa sumringah dan mengelus kepalaku.

“Ayolah hyeseung-ah, fighting!” ujar ummaku menyemangati.

Ummaku memang sudah seperti temanku sendiri, teman curhatku, dan juga bisa serasa menjadi kakaku. Aku memang anak paling beruntung yang mempunyai umma baik seperti ini.

“Gomawoyo umma” ucapku kepadanya.

***

Aku masih saja penasaran dengn namja tadi, siapa ya namanya, sepertinya dia masih muda. Seperti masih berumur 16 tahun-an dia imut sekali. dan namja satunya, mungkin dia kakaknya. Tapi kok aku seperti pernah melihat wajahnya ya? Matanya yang besar, hidungnya mancung dan juga tampan. Ah tapi aku tidak ingat pernah bertemu dengannya kapan dan dimana. Tapi wajahnya tidak asing bagiku, aku merasa seperti sudah sering sekali melihatnya.

Ku buka kotak yang berisi map-map dan segala macam barang kenang-kenangan aku dengannya, dengan choi minho. Ne, siapa lagi kalau bukan dengannya. Kulihat satu persatu fotonya dan…….

“Mengapa namja tadi mirip dengan minho-ssi?” tanyaku heran “Tidak mirip sih, hanya saja ada sedikit kemiripan yaitu di bagian mata dan hidung. Tapi… bibirnya juga mirip” lanjutku “Tapi tidak mungkin itu minho-ssi” pikirku.

Setelah melihat kembali semua barang-barang itu, ku rebahkan tubuhku di kasur. Badanku pegal, capek. Aaaah aku merindukan minho-ssi, dia pasti bisa menghibur ku dalam keadaanku yang seperti ini. Minho-ssi 3 bulan lagi. Tunggu lah aku.

-hyeseung POV end-

-AUTHOR POV-

3 bulan kemudian

Yeoja cantik yang sedari dulu sudah mengharapkan untuk kembali ke Negara asalnya akhirnya terwujud. Appanya mengizinkannya untuk kembali ke Seoul karna dia sudah mendapat kepercayaan dari appanya untuk mengurus perusahaan appanya. Padahal tujuan terbesarnya kembali ke Negara asal adalah untuk bertemu dengan cinta monyetnya. Choi minho.

-AUTHOR POV end-

“Hyeseung-ah, umma akan ikut kau kembali ke Seoul” pinta ummaku.

“Baiklah umma, aku akan merindukanmu jika kau tidak ikut denganku” seruku membuatnya senang.

“Hati-hatilah disana jagiya, jaga anak kita, awasi dia, jangan sampai dia tidak fokus dengan perusahaan kita. Nanti kita bisa bangkrut. Hyeseung-ah apakah kau sudah siap menanganinya sendirian?” seru appaku.

“Tenang saja jagi, aku akan mengawasinya” ujar ummaku.

“Ne appa, aku berjanji. Doakan aku, semoga aku bisa. Ne, aku siap” tegasku.

“Baiklah. Jika ada sesuatu yang tidak benar pada perusahaan, katakanlah cepat pada appa. Mianhae, appa tidak bisa mengantar kalian besok ke bandara karna akan ada meeting yang sangat penting sekali.”

“Ne appa” jawabku.

“Gwaenchana…” gumamku bersamaan dengan umma.

Aku dan umma tertawa bersama dan menepuk tangan. Benar-benar serasa sedang bermain dengan teman yang seumuran. Ummaku ini memang asik sekali orangnya.

***

Ne, hari ini, aku dan ummaku baru saja tiba di Incheon Airport, bandara Internasional di Seoul. Aku hanya memakai kemeja warna putih polos dan sedikit menerawang, aku memakai tangtop tentunya. Berwarna hitam. Aku menggunakan celana jeans panjang dan high heels sekitar 5cm. aku memakai kacamata dan semua mata namja tertuju padaku.

“Kau lihat sayang? Semua namja disini melihatmu, kau begitu cantik hingga menarik perhatian begitu banyak orang” ujar ummaku senang.

“Ne umma, aku tau. Tapi tidak ada satupun dari mereka yang dapat menarik perhatianku. Hanya Choi Minho umma. Hanya dia cintaku” seruku pada umma.

Aku tidak akan tinggal di rumah kita dulu, karna rumah itu sudah dijual. Karna kami hanya berdua, maka kami putuskan untuk tinggal di apartemen saja. Sepertinya akan menjadi lebih simple.

Perusahaan ini akan sepenuhnya menjadi milikku, dan umma akan menjadi managerku sekaligus photographer untuk perusahaan ini. Perusahaan salah satu channel TV nasional di Seoul. Peresmiannya akan di adakan ketika appaku datang kesini, mungkin lusa. Karna sekarang seperti yang aku dan umma ketahui, beliau sedang sangat sibuk dengan urusannya.

Dan mulai lusa itulah kesibukanku pasti akan semakin parah.

-hyeseung POV end-

-minho POV-

Sudah lama sejak aku kembali dari Tokyo ke Seoul, aku putus asa mencarinya. Mungkin kita memang sudah tidak ditakdirkan untuk bersama. Aku kini hanya membantu pamanku bekerja, dia mempunyai sebuah restaurant dan aku menjadi pelayan disana. Awalnya pamanku tidak mengizinkan, tapi aku membujuknya, karna aku ingin menghasilkan uang dengan jeri payahku sendiri.

Pamanku ini adalah seseorang yang cukup berada, dia mempunyai restaurant dimana-mana tapi masih di sekitar Seoul. Belum ke luar kota bahkan keluar negri.

Aku menjadi pelayan di restaurant ini, sementara taemin membantu bibiku dirumah bersih-bersih. Jika tidak ada pekerjaan, dia hanya online dan chatting, dia bilang untuk mencari pacar. Yah, minat adikku untuk mencari pacar memang besar, tidak sepertiku. Padahal, jika taemin ingin memiliki seorang yeojachingu, aku yakin banyak yang menginginkannya, dia tampan. Sangat-sangat tampan. Tapi tetap saja tidak bisa melebihiku hahahaha.

Pamanku menjadi koki utama di restaurantnya ini.

“Paman, ayo kita segera berangkat, ini sudah siang. Restaurant harus sudah buka” ajakku kepada paman. Memang jarak restaurant dengan rumah kami tidak jauh, dapat di tempuh dengan jalan kaki hanya selama 10 menit. Jadi kita tidak butuh kendaraan yang akan mengantar kita kesana.

“Ne, kajja!” ajak pamanku cepat.

“Taemin-ah, jangan lupa bantu bibi. Kasian dia, jangan terus membuka laptopmu dan mencari pacar. Ihae?” seruku pada taemin.

“Ne hyung, aku mengerti. Hyung….” Seru taemin.

“Ne dongsaeng?” jawabku

“Cium pipiku doooong” ujar taemin tidak wajar.

Ah dia kan sudah besar, masa iya masih minta cium. Aku tau dia sangat mencintaiku, sebagai kakaknya. Tetapi kan….. sifatnya yang kekanak-kanakan itu loh…. Tapi itulah yang membuatnya selalu terlihat lucu dan aku gemas padanya.

“Aniaaaa kau sudah besar! Cepat bantu bibimu di dapur” suruhku.

“Yah hyung tidak cinta aku ya?” Tanya taemin dengan nada sedikit memelas.

“Ayolah minho, cium adik mu ini, dia begitu lucu. Dia sangat ingin mendapatkan ciuman dari kaka yang sangat di sayanginya” ujar pamanku.

“Ne arasseo” jawabku akhirnya menyerah.

Ku cium pipinya tidak lama, hanya sekedar bibirku menempel di pipinya dan sudah. Kau tau bagaimana reaksinya??? Dia jatuh duduk di kursi dan memegangi pipinya itu. senyum sumringah tampak di wajah imutnya.

“Hyung… kau benar-benar menciumku. Hyung… saranghaeyo” ucapnya sambil meletakkan kedua tangannya di kepala membentuk hati.

“Ah kau ini. Baru segitu saja. Ayo paman, kita segera berangkat” ajakku cepat karna ingin menghindari adikku ini. Bukan karna kesal, tapi karna aku tidak tahan melihat sikap lucunya tadi, bisa-bisa aku akan menciumnya berkali-kali.

“Kalian ini memang kakak-adik yang harmonis ya, paman senang memiliki ponakan seperti kalian” seru paman kepadaku ketika kami meninggalkan rumah. Aku tidak menjawab, dan hanya mengulas sebuah senyum di wajahku. Aku tau paman melihatku.

***

Tiba-tiba langkahku terhenti ketika ada seorang yeoja dengan yeoja tua memasuki restaurant ini, mereka tampak celingukan, mungkin mencari tempat duduk atau mencari seseorang aku tidak tau. Lalu mereka menempati meja kosong di pojok ruangan. Aku menghampirinya, ah aku ingat! Dia adalah yeoja jepang yang waktu itu mengotoriku dengan air cipratan itu! Dan yeoja yang satunya, mukanya tidak jelas, dia mengenakan kacamata hitam dan masker penutup muka sehingga hidung dan bibirnya tidak kelihatan. Mungkin itu karna cuaca diluar yang sangat dingin.

Ku hampiri mereka dengan membawa buku menu dan secarik kertas dan pulpen.

“Ingin pesan apa?” tanyaku santai dan sopan sembari menundukkan kepala agar yeoja itu tidak mengetahuiku.

-minho POV end-

-hyeseung POV-

Baru saja kami menyewa apartemen dan tertidur karna capek. Esok harinya, kami tidak punya persediaan bahan untuk masak. Alhasil, umma mengajakku untuk makan di restaurant saja katanya. Hah aku malas keluar rumah.

“Ayo sayang, kita jalan saja. Restaurantnya dekat dari sini. Kita tidak perlu mengeluarkan mobil kita” seru ummaku sambil menarik-narik tanganku.

“Ne umma, tunggu sebentar, aku harus mengganti bajuku dulu.” Ujarku padanya.

Setelah selesai mengganti bajuku, “kajja” ajakku pada umma.

Yah sekitar 20 menit kami berjalan dan mendapati sebuah restaurant mewah. Kami memasuki ruangan itu dan WAW ternyata disini penuh dengan pembeli. Banyak sekali orang yang datang kesini. Hm selera ummaku memang tidak pernah salah. Aku dan umma celingukan mencari meja kosong. Mataku tertuju pada sebuah meja di pojokan sana.

“Umma, itu di pojok kosong” seruku pada umma

Umma tidak menjawab, dia langsung saja berjalan kearah meja tersebut dan duduk. Aku menyusulnya.

Tanganku melambai-lambai tanda memanggil pelayan, seorang namja datang menghampiri meja kita “ingin pesan apa?” tanyanya santai dan sopan. Tapi pelayan ini aneh, menundukkan kepalanya. Ku lihat wajahnya dari bawah dan…………..

Mataku terbelalak ketika melihat wajahnya. Aku merasa seperti kenal dengannya, aku memulai pembicaraan.

“Kau…. Hm kau, pernah ke Tokyo ya?” tanyaku dengan ragu dan terbata-bata karna jika dugaan ku salah, mau di taruh dimana mukaku ini.

“Tidak” jawabnya singkat.

Aigooo lagi-lagi aku salah mengira orang. Aku memang saja selalu begini. Baiklah, untuk menutupi rasa maluku, aku akan mengalihkan pembicaraan.

“Satu makanan special disini, beserta minumannya” ujarku lembut tapi tidak menatapnya.

Ummaku lalu memesan makanannya dan namja tadi pergi meninggalkan meja kami sambil berkata “baiklah. Silahkan di tunggu” aku yakin mukaku memerah saat ini. Ya Tuhan aku malu sekali.

“Hyeseung-ah, kau kenal dengannya?” Tanya ummaku

“Tidak umma, aku hanya merasa pernah bertemu dengannya di Jepang, maka dari itu tadi aku menanyakan pertanyaan seperti tadi” jelasku pada umma

“Oh begitu yasudahlah, ini memang penyakitmu. Selalu saja mengira pernah melihat seseorang dan wajahnya merasa tidak asing bagimu. Selalu saja begitu. Sampai kapan kau akan terus begitu?” Tanya ummaku meledek.

“Molla…” jawabku singkat sambil mengangkat bahu.

-hyeseung POV end-

-minho POV-

“Kau…. Hm kau, pernah ke Tokyo ya?” tanyanya dengan ragu dan terbata-bata

“Tidak” jawabku singkat.

Aku berbohong kepadanya. Aku berbohong bukan karna aku membecinya. Tetapi karna aku malas mengingat kejadian itu. itu sudah terjadi begitu lama bagiku, walaupun baru 3 bulan yang lalu. Aku tidak ingin lagi mengingat-ingat tentang Tokyo. Pupus sudah harapanku disana untuk bertemu dengan hyeseung-ah.

Sesungguhnya aku sangat merindukannya, tapi aku tidak tau harus mencarinya kemana lagi. Dia pun tidak pernah mencariku, dia berjanji akan menemuiku tapi sampai sekarang dia tidak pulang ke Seoul. Dan aku akan mencoba untuk melupakannya. Mencari yeoja lain yang mungkin memang sudah di takdirkan untuk bersama-sama denganku. Ya! Harus bisa!

-minho POV end-

TBC

HUAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA ANNYEOOOOOOOOOOONG KEMBALI LAGI DENGAN SAYA NISA AYU THAYALISHA HADI KE DALAM FFINDO DALAM RANGKA SELESAI UJIAN AKHIR SEMESTER!!!! WUHUUUUUUUU BEBASSSS!!!!! besok bagi rapot loh ._.

aduuuuuh apa kabar chingudeul????????????

MASIH INGET SAYA KAN?! author yang cantik dan lucu + mirip Krystal pembuat My Nightmare dan Sadness???? HAYOOOOO LUPA YA?! maaf ya udah lama ga ngepost tuh 2 FF, dikarenakan, yaaaahhh kalian semua tau kan kalau saya sibuk KEKEKEKEKE *kabur*

Hey, asal kalian tau aja ya, ini itu FF ber-chaptered pertama aku ._. tapi baru di publish sekarang ya? hahahahahaha

gimana ceritanya? kalau tertarik, ayo komen! biar entar aku bisa ngepost part 2-nya^^

tenang aja, aku ga lupa buat ngepost My Nightmare dan Sadness ko^^

Udah dulu ya, akunya mau telfonan sama temen…………. *ga penting* kekekekkee MOHON BACAANNYAAAAA DAN KOMENNYA JUGAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA

*bow*

3 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s