My First Love Chap. 4

Standard

Author : Nisa Ayu Thayalisha Hadi (Nam Hyen Hyo)

Cast :

Choi Minho

Lee Hyeseung

Lee Taemin

Title : My First Love (Part 4)

Length : Chaptered

Genre : Romance

Rating : PG-13

Disclaimer : The casts are belong to God, and this Fan Fiction is belong to me kekekeke~ i own this plot ok?

Note : This is pure my imagination.

Credit Poster : cutepixie@darkreflection.so-pink.org

===============================================================

          -taemin POV-

Hari ini aku akan memulai shooting. Doakan aku. Aku sudah berada di lokasi shooting sekarang. Dan hyeseung menemaniku.

“kau gugup?” tanyanya sambil menatap mataku.

“tidak” jawabku gemetar. Sungguh aku memang gugup. Tapi bukan karna hal ini, melainkan karna hari ini aku putuskan, bahwa aku akan menyatakan perasaanku padanya. Aku tidak mau memendam ini terlalu lama. Aku tidak mau didahului orang lain.

“lalu…. Knp?” tanyanya lagi masih menatap mataku.

Aaaah!!! Aku tidak bisa menatap matanya. Aku malu!

“hm hyeseung, setelah ini selesai, aku ingin bicara denganmu. Serius” seruku kepadanya, sekarang aku menatap matanya. Karna aku ingin terlihat benar-benar serius.

“baiklah. Fighting taemin-ah^^ aku akan mencari makanan untukmu” ucapnya sembari meninggalkanku.

Beberapa jam berlalu. Shooting telah selesai. Sukses. Aku sukses hanya pada hari pertama. Hebat bukan? Tapi aku masih harus melakukan ini lagi besok. Baiklah.

Aku menarik nafas panjang dan menghembuskannya kembali.

“taemin-ah capek?” dia membelai rambutku. Sudah seperti pacar sendiri saja. Ya begini lah sikap seorang yeoja terhadap namjachingunya di dalam komik ataupun sinetron yang pernah aku baca dan aku tonton.

“aku…… hyeseung, bisakah kita tinggalkan tempat ini?” aku menarik tangannya dan membawakan tasnya.

Kini aku sudah berada di taman dekat rumahku. Dekat rumahku memang ada sebuah taman bunga yang sangat bagus. Ini romantis. Aku bisa mengajaknya nge-date atau apapun kesini.

“hyeseung….” Aku memulai pembicaraan dan memegang tangannya.

“taemin-ah, ini bagus sekali!! padahal rumahku ada didekat sini, tapi aku baru tau jika ada taman seperti ini” serunya gembira sembari menepukkan kedua tangannya pelan. Dia terlihat sangat excited sekali.

Aku sontak kaget mendengar pernyataannya, dekat sini? Itu berarti rumahku berada di dekat rumahnya!

“ah? Di dekat sini? Dimana?” tanyaku heran.

“ne taemin-ah, aku tinggal di apartement dekat persimpangan jalan sana” jelasnya sambil menunjuk arah apartemennya. “mengapa?” tanyanya lagi.

“rumahku berada sekitar 500 meter saja dari apartementmu hyeseung-ah”

“mwo???? Jinjja???? Dimana???? Mengapa kau tidak pernah bilang?” mukanya berubah. Suaranya meninggi, matanya melotot, dahinya berkerut. Dia kaget. Tentu, dia pasti kaget.

“bagaimana mungkin aku memberitahumu bahwa rumahku dekat apartementmu, aku saja baru tau apartementmu sekarang”

“ah ne, mianhae taemin-ah hahaha” mukanya sekarang sudah kembali normal. Ceria kembali. Senyum dan tawanya manis sekali.

“hyeseung-ah, dengarkan aku baik-baik. Aku serius” aku mengucapkannya sembari memegang kedua pipinya.

Dia hanya diam terpaku melihatku. Dia menatapku tajam. Aku gugup. Semakin gugup.

Hyeseung tolong jangan tatap aku seperti ini.

“aku…. Aku mencintaimu hyeseung. Sejak lama. Sejak pertama kali kita bertemu di Tokyo. Aku mencintaimu, aku ingin menjadi milikmu. Terimalah aku hyeseung-ah. Saranghamnida” kini aku melepaskan tanganku dari pipinya. Aku tertunduk. Malu. Tapi aku merasa lega karna sudah dapat menyatakan perasaan ini. Walaupun dia tidak menerimaku, it’s ok!

“mwo?? Taemin-ah, tatap aku!!!! Jangan tertunduk!” dia mendongakkan kepalaku. “kau serius?” tanyanya lagi. Mukanya masih sama seperti tadi. Sama sekali tidak ada raut senyuman di wajahnya. Aku diam. Dia diam. Suasana tegang.

“taemin-ah! Kau serius?!” ulangnya lagi.

“wae hyeseung-ah? Wae? Kenapa kau menanyakan ini lagi? Aku serius! Jika kau tidak suka padaku, silahkan katakan. Aku baik-baik saja. Toh aku juga tidak akan kehilanganmu, kan kita bisa menjadi teman” ucapku tegas.

“taemin-ah…. Aku…. Aku….” Dia gugup.  Sudah aku duga dia pasti hanya menganggapku sebagai namdongsaengnya saja!

“aku…. Aku juga. Nado saranghaeyo”

Sekarang dia yang tertunduk.

“jangan menunduk hyeseung-ah. Kau tidak usah malu, karna aku membalas perasaanmu” jawabku lalu memeluknya.

“aku mencintaimu” aku kini membelai rambut panjangnya.

“ne” jawabnya singkat.

Thanks God. Kau sudah membantuku untuk mengarahkan pembicaraan ini. Aku akan menjaganya, aku berjanji.

-taemin POV end-

-hyeseung POV-

“hyeseung-ah, dengarkan aku baik-baik. Aku serius” dia mengucapkan ini dengan sangat serius. Aku dapat merasakannya. Tangannya gemetar memegang pipiku. Dan lama kelamaan tangannya basah sehingga pipiku juga ikut basah terkena keringatnya.

Baru kali ini aku melihatnya begini. Dia diam, dia berdiri terpaku menatapku. Dia tegang. Akupun ikutan diam dan aku tegang. Aku takut. Taemin-ah apa yang akan kau katakan hingga kau menjadi seperti ini?

“aku…. Aku mencintaimu hyeseung. Sejak lama. Sejak pertama kali kita bertemu di Tokyo. Aku mencintaimu, aku ingin menjadi milikmu. Terimalah aku hyeseung-ah. Saranghamnida” akhirnya terlontarkanlah kata-katanya ini. Dia melepaskan tangannya dan tertunduk.

“mwo?? Taemin-ah, tatap aku!!!! Jangan tertunduk!” aku mendongakkan kepalanya agar mata kita dapat bertemu. Sudah lama aku mengaharapkan ini terjadi. Karna kau aku bisa melupakan namja kecilku itu. yang sekarang mungkin sudah melupakanku. Sakit hatiku karenanya. Taemin-ah, tidak alasan bagiku untuk menolakmu karna aku juga mencintaimu.

“taemin-ah! Kau serius?!” ulangku lagi.

“wae hyeseung-ah? Wae? Kenapa kau menanyakan ini lagi? Aku serius! Jika kau tidak suka padaku, silahkan katakan. Aku baik-baik saja. Toh aku juga tidak akan kehilanganmu, kan kita bisa menjadi teman” ucapnya tegas. Aku merasa sedikit takut, baru kali ini dia berbicara seperti ini. Ini mungkin reaksi karna dia malu dan takut atau apa itu entahlah aku tidak mengerti.

Aku gugup menjawabnya, aku juga malu. Aku sekarang sudah besar, aku harus menganggap semua ini serius. Tidak seperti waktu kecil dulu, tidak ada perasaan malu sedikitpun waktu dulu aku menjawab pertanyaan minho-ssi. Tapi sekarang aku baru merasakan bagaimana rasanya sangat malu dan bahagia. Aku sungguh sangat bahagia. Dan aku dapat merasakan bahwa inilah cinta yang sesungguhnya. Malu untuk mengungkapkan perasaaan sendiri kepada orang yang kita cintai dan sangat bahagia ketika orang yang kita cintai ternyata mencintai kita juga.

“nado saranghaeyo” kata-kata inilah yang terucap dari bibirku. Hatiku tidak dapat dipungkiri. Aku juga mencintainya. Sangat mencintainya.  Aku sungguh malu sehingga aku menundukkan kepalaku.

Hal yang sudah aku lakukan tadi kepada taemin-ah terulang, dia mendongakkan kepalaku dan berkata “jangan menunduk hyeseung-ah. Kau tidak usah malu, karna aku membalas perasaanmu”

Ne taemin-ah, kau memang membalas cintaku. Tapi mukaku memerah sekrang, aku malu.

“aku mencintaimu” sambungnya lagi dan sekarang aku sudah berada di dalam pelukannya. Hangat.

Aku tidak tau harus menjawab apa. Aku sudah tidak dapat berpikir lagi, aku terlalu senang. Jantungku berdegup kencang sekencang-kencangnya, darah yang mengalir di tubuhku tiba-tiba menjadi cepat mengalir.

“ne” inilah yang hanya bisa aku ucapkan. Hanya satu kata yang mungkin jika di jabarkan akan membuat suatu pernyataan yang sangat panjang. Aku juga mencintainya.

Setelah jalan-jalan mengelilingi taman tadi, kita akhirnya pulang dan ternyata benar rumahnya sangat dekat dengan apartemenku. Suatu kenyataan yang membuat hatiku senang sekali. kami tidak berada jauh. Kami dekat. Sangat dekat. Dekat dalam artian jarak maupun hati.

“ummaaaa…..” aku berlari kearah ummaku yang sedang menonton acara televisi dan memeluknya. Aku hanya bisa tertawa senang, aku ingin menangis. Sungguh aku ingin menangis. Aku bahagia sekali.

“wae hyeseung-ah? Waeyo? Kau kenapa?” Tanya umma penasaran, sekarang perhatiannya sudah beralih dari acara televisi dan kini dia menatapku.

“aku…. Aaaa umma!!! Aku sudah punya pacar^^” aku memeluknya semakin erat.

“oooh, pasti sama namja kecilmu itu kan? Kau sama dia kan memang dari kecil sudah pacaran” jawab umma datar dan mencari acara televisi yang bagus.

“hm? Mwo? Umma!!! Aku dan dia tidak pacaran, waktu itu kan masih kecil, itu hanya sebuah permainan. Aku sekarang sudah mempunyai pacar sungguhan. Aku sangat mencintainya umma!! Dan dia….” umma memotong pembicaraanku.

“aku dapat menebaknya! Pangeran online mu itu kan? Yang sekarang wajahnya hampir tampil di tv untuk iklan produk minuman itu?” tebakannya langsung kepada orang yang tepat!

“ne umma, lee taemin! Dia pacarku sekarang. Umma sudah tau dia kan? Umma pernah bertemu dia waktu itu di kantor”

“ne, umma tau sayang. Dia tampan, bagaimana jika dia untuk umma saja…” candanya kelewatan, aku tau dia hanya bercanda. Tapi aku kesal mendengarnya!

“AANIAAAAAA UMMAA!!!!! DIA PUNYAKU UMMA, DIA NAMJACHINGUKU! DIA AKAN MENJADI NAMPYEON-KU!!!” jawabku sambil teriak tidak santai, umma tidak merespon. Dia hanya tertawa.

Awalnya aku kira dia tertawa karna aku berbicara seperti itu. tapi itu semua ternyata karna umma sedang menonton acaranya ShinYoung unnie di acara Sang Sang Plus.

Hhhh aku sungguh kesal di buatnya. Aku jalan menuju kamarku dan membanting pintunya. Ku rebahkan tubuhku di atas kasur dan tiba-tiba saja ponselku berdering.

“annyeong!” jawabku ketus. Aku tidak melihat siapa yang menelponku, aku hanya mengangkatnya.

“hyeseung, kau kenapa?” suara seorang namja yang ku kenal menjawab, “taemin-ah????” jawabku kaget.

“ini namjachingumu, kenapa kau berkata ketus seperti itu kepadaku hah?!” dia marah, aku dapat mendengar nada suaranya yang meninggi. Dia marah! Aigoo, bagaimana ini.

“ah taemin ah, jagi dengarkan aku tadi aku….” Aku ingin menjelaskannya, tapi dia sudah terlanjut marah.

“ne, arasseo. Kau sudah membuatku kesal” dia sedikit membentakku.

“jeongmal mianhae taemin-ah mianhae jeongmal mianhae” aku memohon-mohon.

“kau ingin mendapatkan maafku?” tanyanya, sekarang nadanya sudah normal kembali.

“tentu”

“kalau begitu, sekarang kau keluar dari apartementmu”

“baiklah” tanpa berpikir panjang aku langsung keluar rumah sambil mengabaikan perkataan ummaku “hyeseung ah, kau ingin kemana?” umma bertanya tapi aku tidak menjawabnya.

Aku kini sudah berada di luar apartement. Tapi aku tidak dapat melihat apapun. Hanya ada mobil yang berlalu lalang serta orang-orang pejalanan kaki yang sedang menikmati musim gugur ini.

Aku sudah berdiri disini selama 30 menit. Aku tidak bisa melihatnya. Aku pikir tadi dia ada disini. Tapi ternyata tidak. Dia tidak ada.

“dia tidak ada” aku menghembuskan nafas dan membalikkan tubuhku untuk bersiap-siap memasuki apartement.

“Aku ada” mataku terbelalak. “taemin?” aku membalikkan tubuhku lagi dan mendapatinya sedang membawa seikat bunga. Dia berada di seberang jalan dan kini ia menyebrangi jalan itu. tubuhnya hampir saja tidak terlihat terhalang oleh kendaraan yang berlalu lalang.

“taemin-ah cepat kesini” ucapku yang hanya bisa di dengar olehku.

“kau” dia kini sudah berada di hadapanku. Rambutnya acak-acakan karna terkena angin. Tampan sekali. seksi.

“ingin dapat maafku?” lanjutnya lagi.

Aku hanya diam tertunduk. Taemin-ah maaf. Sedari tadi tidak terdapat seulas senyuman pun di wajahnya. Padahal dia sering sekali tersenyum. Aku takut.

“kau sekarang pacarku” dia berkata lagi “dan aku mau kau memelukku sekarang”

Ah???? Memeluknya? Disini???? Di tempat umum seperti ini? Aniaaaa aku malu!!!

“kenapa? Kau tidak mau? Baiklah, kita akhiri saja hubungan ini” dia membalikkan tubuhnya, dia ingin pergi meninggalkanku. Hampir saja dia meninggalkanku jika aku tidak bertindak cepat. Aku langsung refleks memeluknya dari belakang.

“taemin-ah mianhae” aku tidak dapat menahan tangisku. Entah mengapa tiba-tiba saja aku menangis seperti ini. Aku merasa sangat bersalah.

“hahaha akhirnya. Sedari tadi sebenarnya aku hanya bercandi kali jagi^^ masa iya kita baru saja jadian kita sudah marahan bahkan sampai meninggalkanmu hahaha akting ku sukses” dia tertawa puas melihat tingkahku! Aku melepas pelukannya dan cemberut. Aku tidak berkata apapun. Ku hapus air mata yang mengalir dipipiku dan ku injak kakinya dengan sengaja. Dapat kudengar rauman suaranya “Aw” dia mengeluh kesakitan “mianhe jagi, aku kan sedang berlatih akting saja. Kau mau ini?” dia menyodorkan seikat bunga yang sedari tadi sudah dipegangnya.

Aku tidak menjawabnya, hanya mengambil bunga itu dan pergi meninggalkannya.

Aku memasuki rumahku, aku masih kesal dengannya. Aigooo tidak dapat ku sangka ternyata sedari tadi dia mengikutiku dan sekarang dia sudah berada didalam rumahku.

“eommona sedang apa?” inilah yang menyadarkanku bahwa dia mengikutiku dan sekarang sudah berada di dalam rumahku. Ternyata benar, terdapat sosok tampannya disana, di samping umma dan sedang mengobrol.

“hya!! Taemin-ah! Kau sedang apa?” tanyaku kaget.

“aku mengikutimu” jawabnya tanpa ekspresi!

“aishh” jawabku kesal lalu meninggalkan mereka berdua. Aku masuk ke kamarku. Aku dapat mendengar pembicaraan mereka.

“eommona, aku baru saja mengerjai anakmu itu dan dia marah padaku hahaha” seru taemin sembari tertawa puas. Ummaku juga tidak kalah puasnya untuk tertawa.

“yang benar? Ah dia memang sering sekali begitu taemin-ah, baru saja aku juga membuatnya kesal”

“jinjja? Kau apakan anakmu itu?”

“aku menggodanya untuk merebutmu darinya hahaha” ucap umma jujur sekali.

“dia orangnya cemburuan ya? Hm eommona, izinkan aku untuk menjaganya” sekarang suasananya menjadi sepi, sunyi.

“aku serahkan semuanya kepadamu. Jaga anakku baik-baik ya taemin-ah, aku mempercayaimu. Tolong cintailah dia setulus-tulusnya. Dia sungguh sangat mencintaimu” jawab umma.

“ne eommona” seru taemin.

“panggil saja aku umma”

“ne arasseo umma”

Aaa taemin-ah! Aku dengan segera keluar kamar dan menghampiri ruang tengah dimana tadi terdapat taemin dan umma sedang mengobrol disini.

“taemin-ah?” dia sudah tidak ada TT

“namjachingumu sudah pulang, kenapa? Kangen? Makannya jangan suka ngambek-ngambekan gitu” umma meledekku.

“hhh!!! Aku pinjam telfonmu umma, pulsaku habis!” ku raih ponsel yang ada di depan mejanya dan mengetik nomor telpon taemin.

“jagi, ini hyeseung. Saranghaeyo”

Aku hanya ingin berkata seperti itu dan mematikan telfonnya. Aku yakin dia akan menelfonku balik. Ternyata benar, ponselku kini berdering.

“kau tadi menelfonku?” suara taemin-ah yang aku rindukan, sekarang aku dapat mendengarnya.

“ne, itu nomer umma”

“kau mencintaiku?”

“tidak mungkin aku menjadi pacarmu jika aku tidak mencintaimu”

“ne arasseo jagi. Nado saranghaeyo. Sarang sarang sarang neol sarang hahaha”

Aku ingin tertawa, tapi aku ingin menutupinya, ternyata aku tidak bisa menutupinya. Aku tertawa terbahak-bahak.

“akhirnya kau tertawa”

“hahaha memang kau yang bisa membuatku tertawa taemin-ah”

“bisa saja. Jagi, kau sedang apa?”

“menelfonmu. Kau?”

“memikirkanmu”

“isssh”

“hahaha”

-hyeseung POV end-

-seoyun POV-

Hari ini aku sudah janjian dengan namja yang aku cintai pada pandangan pertama kekeke. Minho-ssi, ne aku akan bertemu dengannya! Berkat bantuan dari oppa kesayanganku! Ah kamsha hamnida oppa!

Aku sudah bersiap, 10 menit lagi aku akan berangkat. Kami bertemu di mall saja.

Rambutku sudah ku roll, poniku sudah rapih tersusun menutupi dahiku. Mataku bagus, hidungku mancung. Kulitku putih walau tidak menggunakan bedak. Bajuku tidak terlalu terbuka. Aku menggunakan dress hitam dan high heels. Ini adalah dandanan biasaku seperti jika aku ingin pergi dengan teman-temanku atau oppaku.

Ini memang istimewa bagiku, tapi aku tidak ingin berdandan secara berlebihan, itu akan membuatku terlihat norak.

“sudah siap seoyun-ah?” suara oppa terdengar dibalik pintu kamarku. Aku memang meminta donghae oppa untuk mengantarku. Jadi kami tidak hanya berdua saja untuk pergi.

“ne oppa, sebentar lagi” jawabku kepadanya.

Kau tau? Kita ini adalah orang yang kaya, kita mempunyai banyak mobil, dan rumah kita sangat besar dan mewah. Tapi oppaku ini memang typical orang yang selalu ingin menghasilkan sesuatu dengan kerja keras. Dengan keringatnya sendiri, maka dari itu dia sekarang bekerja sebagai pelayan.

“Kajja oppa!” ajakku.

“yuk. Kau cantik hari ini^^” puji oppa kepadaku.

“biasa saja, ah oppa jangan membuatku tersipu seperti ini hahaha” aku tertawa “hm oppa, apa minho-ssi akan menyukaiku?” tanyaku lagi.

Donghae oppa diam, dia terlihat seperti sedang berpikir “pasti, dia pasti akan menyukaimu” jawabnya.

“jinjja?” tanyaku sambil menatapnya, tapi dia tidak menatapku karna dia sedang mengemudi mobil ini.

“ne, kau ini cantik, tidak mungkin jika minho tidak menyukaimu” seru oppa kepadaku.

Aku menunggunya sudah 45 menit. Tapi aku tidak sendiri, bersama oppaku tentunya. Donghae oppa memutuskan untuk tidak bergabung di mejaku, dia duduk jauh dibelakang mejaku.

Berkali-kali aku lihat jam yang ada di tangan kiriku. Kemana dia? apa dia lupa?

“oppa?” aku menoleh ke arah oppaku dan mendongakkan kepala, menaikkan kedua tanganku dan menunjuk-nunjukkan jam yang ada di tanganku. Maksudku adalah “oppa? Mana dia? aku sudah menunggu lama” oppa pasti mengerti apa yang kumaksud. Pasti. Karna bahasa isyarat seperti ini adalah bahasa kedua yang sering kita pakai jika sedang berada di rumah, bahkan di luar rumah.

“annyeong” aku yang sedari tadi sedang menghadap kearah oppaku, tiba-tiba membalikkan badan dan mendapati seorang namja yang sedari tadi aku tunggu sudah berada di depan mataku.

“mianhae aku telat” dia menarik kursi dan duduk.

“ne, gwaenchana” jawabku tersipu malu.

“minho-ssi kau ingin pesan apa?” aku menawarkan makanan kepadanya, berharap akan lama bersamanya disini.

“ah tidak usah repot-repot. Kau…. Ada apa mengajakku kemari?” tanyanya sembari melihat jam tangannya. Sepertinya dia sedang tidak senggang. Mungkin ada urusan lain.

“ah ne, mianhae. Hm aku hanya… hanya ingin bertemu kau” ucapku gugup.

“bertemu? Bukankah ada maksud lain dibalik itu semua?” aaaaah aniaaa dia seperti menyindirku! Dia sudah tau apa maksudku! Bagaimana ini?

“ne, sssa… minho-ssi, saranghaeyo” seruku menundukkan kepala dan memegang tanganku erat.

Dia diam, tapi aku dapat melihatnya dari balik rambutku, dia tidak sedang melihat ke arahku. Tapi ke arah lain. Aku ingin mendongakkan kepalaku tapi aku tidak berani. Aku ingin tahu kepada siapakah dia melihat. Minho-ssi please, cepat jawab pertanyaanku. Aku butuh jawaban itu.

“ne, saranghamnida” ucapnya, mataku terbelalak, mukaku pasti memerah, sebuah senyuman lebar menghiasi wajahku. Aku mendongakkan kepalaku dan “aa…” dia memotong pembicaraanku “jagi, aku ada urusan lain. Sampai jumpa. Kita bisa berkomunikasi nanti. Ini nomer ponsel dan e-mailku” dia pergi dan meninggalkan sebuah kertas kecil yang memang sengaja diberikan untukku. Isinya adalah sebuah nomer ponselnya dan alamat e-mailnya.

“ne, kamsha hamnida” suaraku tidak dapat didengar olehnya, karna dia sudah lari jauh. Ternyata benar dia ada urusan. Sejak pertama datang dia sudah kelihatan gelisah.

Baiklah. Itu bukan masalah, karna sekarang aku sudah menjadi miliknya.

“oppa^^” aku hampir saja melupakannya. Oppaku. Melupakannya bahwa dia ada disini. Aku menghampirinya dan memeluknya, dia mengucapkan selamat dan memintaku untuk menlaktirnya, baiklah.

“ajak aku makan disana ya jagi, jangan disini” oppa menggodaku.

“aniaaa hanya minho-ssi yang boleh memanggilku jagi, oppa!”

“ah? Jinjja? Aku jadi merasa menyesal karna telah mengenalkanmu kepadanya. Aku kan jadi tidak bisa bermanja-manja denganmu yeodongsaeng kesayanganku” dia menyubit pipiku.

“aaah sakit! Bagaimana aku tidak bisa jadi yeodongsaeng kesayanganmu? Yeodongsaengmu kan hanya aku seorang!”

“hahaha benar, kau pintar” sekarang dia mengacak-ngacakan rambutku. Ya, seperti inilah tingkahnya jika sudah bertemu denganku. Menyebalkan. Tapi menyenangkan juga mempunyai oppa seperti ini.

“oppa, gomawoyo atas semuanya. Maaf sudah membuatmu berbohong kepadanya”

“ne, cheonmaneyo. memang sudah kewajibanku sebagai oppamu untuk membantu dan membahagiakanmu. Masalah berbohong, itu bukan hal besar. Asal kita bedua bisa saling menutupi kebohongan itu, semuanya tidak akan terbongkar” jelas oppa panjang lebar. Oppa memang baik.

“ne”

-seoyun POV end-

-minho POV-

Seoyun mengajakku bertemu hari ini. Donghae hyung yang memberitahuku. Dengan berat hati dan untuk menghargainya, aku datang kesana. Untuk memuaskan hatinya juga. Aku sudah tau apa maksudnya, donghae hyung memberitahuku dan dia memintaku untuk tidak mengecewakannya. Sudah kuputuskan secara matang bahwa aku akan berusaha untuk mencintainya dan melupakan hyeseung. Aku ingin membuat hidupnya bahagia di akhir-akhir kehidupannya karna dia mengidap leukemia stadium 3.

Tapi tetap saja hyeseung yang telah menempati hatiku terlebih dahulu dan tidak bisa untuk digantikan dengan siapapun. Bahkan sampai sekarang hyeseung masih saja singgah dihatiku.

Aku telat datang kesini karna aku telat bangun. Di tambah lagi jalanan yang macet sehingga aku tidak dapat mengebut saat dijalanan tadi. Sesungguhnya hari ini aku sudah janji dengan taemin, entah mengapa dia mengajakku bertemu di taman bermain yang terletak di pusat kota seoul ini.

Aku sudah sampai ditempat kita janjian, aku mencarinya dan melihat seorang yeoja yang sedang membelakangiku. Aku yakin itu adalah seoyun-ah.

“annyeong” sapaku, dia membalikkan badan dan ternyata benar itu adalah seoyun-ah.

“mianhae aku telat” aku duduk. Aku melihat jam di tanganku untuk pertama kalinya. Waktunya sudah sangat mepet sekali. sekarang sudah jam 9, sedangkan aku janji dengan taemin-ah jam 9.30. belum lagi menghitung waktu yang akan ditempuh dari sini sampai sana.

“ne, gwaenchana”

“minho-ssi, kau ingin pesan apa?” sambungnya lagi menawarkanku makanan. Bukannya aku bermaksud untuk menolaknya, tapi ini pasti akan lama. Aku tidak ingin taemin menunggu lama. Kasihan dia.

“ah tidak usah repot-repot. Kau…. Ada apa mengajakku kemari?” aku pura-pura untuk bertanya, padahal sebenarnya aku sudah tau maksudnya. Sekarang adalah kedua kalinya aku melirik jam tanganku.

“ah ne, mianhae. Hm aku hanya… hanya ingin bertemu kau” ucapnya yang terdengar sedikit gugup.

“bertemu? Bukankah ada maksud lain dibalik itu semua?” aku langsung saja mengarahkan ini kedalam inti topik pembicaraan. Aku tidak ingin membuang-buang waktu hanya untuk berbasa-basi. Dan akhirnya dia menyatakan perasaannya. Bukankah ini sedikit aneh? Seorang yeoja menyatakan perasaannya terlebih dahulu kepada namja? Arasseo, mungkin ini biasa saja. Tapi ini aneh bagiku.

“ne, sssa… minho-ssi, saranghaeyo” serunya menundukkan kepala. Wajahnya tidak terlihat karna tertutupi oleh rambutnya.

Aku tidak langsung menjawabnya. Aku tau donghae hyung ada sini, aku mendapatinya sedang duduk sendiri memperhatikan meja kita berdua secara serius. Aku menatapnya dan sedikit mengernyitkan dahiku. Dia bilang “terimalah” dengan bahasa isyaratnya, aku dapat mengerti apa yang dimaksud. Aku menggoyang-goyangkan kepalaku. Aku tidak mau. Dia memohon-mohon kepadaku. Matanya seperti ingin menangis. Ah mungkin ini karna efek aku melihatnya dari jauh.

Aku menghembuskan nafasku dan “ne saranghamnida” ucapku menyerah akhirnya. Aku sangat menghargai donghae-hyung, maka dari itu aku tidak ingin mengecewakannya. Jadi aku mencintainya semata-mata hanya karna aku sangat menghormati donghae-hyung.

Aku segera permisi kepadanya, tidak lupa aku meninggalkan secarik kertas berisikan nomor ponsel dan alamat e-mailku. Karna tidak mungkin aku langsung segera pergi saja, aku tidak ingin membuatnya berpikir bahwa aku tidak peduli dengannya. Padahal baru saja aku juga mengucapkan perasaan yang sama kepadanya, walaupun itu tidak seluruhnya dari hatiku. Ada sedikit paksaan. Atau mungkin banyak? Entahlah. Aku tidak mengerti.

Status ku kali ini bukan lagi seorang namja yang sendirian, tapi aku sudah mempunyai seorang yeojachingu dan aku harus menjaganya. Apakah aku bisa? Akan ku lakukan semaksimal mungkin walau ini bukan aku jalani dengan hyeseung. Yeoja yang benar-benar aku cintai.

-minho POV end-

-taemin POV-

“hyung kemana ya?” tanyaku pada diri sendiri.

“jagi, nih minum untukmu. Kita sedang menunggu siapa sih?” yeojachinguku datang membawakan minuman yang baru saja dibelinya tadi.

“hyungku jagi, aku mengajaknya dia kesini karna ingin memperkenalkan kau keoadanya. Kau tidak keberatan kan?”

“oh begitu. Tidak lah. Kau punya hyung? Dimana dia sekarang?”

“entahlah, dia belum datang juga sampai sekarang” ucapku pelan.

“coba saja di telfon” dia memberiku masukan. Ya! Mengapa tidak di telfon saja ya? Aku sama sekali tidak terfikirkan untuk menelfonnya.

“ah ne jagi kamsha hamnida kau sudah mengingatkanku^^” aku acak-acakan rambutnya dan dia mencibir ke arahku. Sebenarnya tidak pantas, karna usiaku dengannya berbeda 3 tahun dan dia noonaku -_- tapi usia tidak jadi suatu masalah. Sekarang, kita sudah menjalin suatu hubungan.

“annyeong hyung, kau dimana? Ah? Ne, gwaenchana, jangan lama-lama ya. Ne, annyeong” ucapku sembari memutuskan sambungan telfonnya. “apa katanya?”

“dia bilang dia akan telat karna tadi baru saja bertemu dengan seseorang dan sekarang jalanan macet, sekarang kan hari libur” seruku padanya.

“oh iya benar juga, bagaimana jika kita naik satu wahana dulu? Satuuuu saja” mungkin dari tadi dia bosan menunggu minho hyung disini, dia sudah menghargaiku, dia mau menemaniku untuk menunggu minho hyung. Jadi apa salahnya kalau aku juga mau untuk menemaninya menaiki satu wahana saja?

“ne arasseo, kau mau kemana jagi?” ajakku sambil menggandeng tangannya.

“aaaah aku malu haha”

“kenapa malu? Kau kan pacar resmi ku, jadi tidak usah malu^^” sekarang aku menggenggam tangannya.

“baiklah. Kita kesana saja. Aku janji tidak akan lama, satu wahana saja”

“iya aku mengerti jagi, kajja^^ aku akan menyenangkanmu hari ini. Apapun yang kau mau akan aku turuti” ujarku sambil berjalan kecil bersamanya menuju wahana yang ingin dinaiki.

“gomawoyo taemin-ah, kau baik sekali. jeongmal saranghaeyo”

“nado sarang sarang sarang sarang saranghaeyo”

Kami tertawa bersama. Sungguh ini sangat menyenangkan sekali. aku ingin menaiki beberapa wahana lagi, tapi sepertinya hyeseung benar-benar mengerti keinginanku. Dia mengajakku untuk menunggu hyungku saja dan melanjutkannya bersama-sama nanti. Aku memang tidak salah memilih seorang yeoja. Dia sangat baik sekali. bahkan dia tidak keberatan jika kita jalan-jalan bersama hyungku. Padahal biasanya yeoja tidak ingin jalan bertiga dan tidak romantis. Tapi aku lihat sepertinya dia sangat menikmati. Maka aku juga pasti akan sangat menikmati. Aku tidak akan membuatnya merasa bosan hari ini. Aku akan memuaskannya.

“taemin-ah” suara seorang namja terdengar ditelingaku. Seperti suara hyung. Aku menoleh ke kanan, ke kiri dank e belakang tapi aku tidak mendapati sosoknya. Dimana asal suara itu?

“taemin-ah maaf sudah membuatmu menunggu lama” tiba-tiba saja tubuh hyung sudah berada tepat di depanku. Dia membungkukkan badannya dan tangannya memegangi lututnya. Sepertinya berlari, terlihar capek sekali. sedikit berkeringat.

“hya! Hyung! Kau mengagetkanku! Darimana saja kau?”

“mianhae taemin-ah, macet”

“kasian hyeseung-ah jadi menunggu lama”

“ah, gwaenchana, aku baik-baik saja kok”

Setelah hyeseung berbicara, minho hyung langsung menegakkan badannya lagi dan “mianhae mianhae” dia mengucapkan maaf kepada hyeseung. Mungkin dia merasa tidak enak dengannya.

“ah? Ini kan namja yang waktu itu di Tokyo, yang duduk bersamamu itu kan taemin-ah? Yang duduk di taman pinggir jalan itu?”

“ne hyeseung-ah, dia hyungku”

“oooh jadi dia itu hyung mu toh. Aku kira temanmu. Habis rada-rada tidak mirip sih, awalnya sempat curiga juga kalau kalian kakak-adik saat kau memanggilnya hyung waktu di Tokyo itu, tapi kok tidak mirip ya? Dan mukanya seperti sepantaran” dia mengatakannya dengan panjang lebar dan setail. Dia ingat semua kejadian waktu itu. padahal itu sudah terjadi 3 tahun yang lalu.

“ne hyeseung-ah, dia mirip sekali dengan appa. Dan aku katanya mirip dengan ummaku”

“katanya?” dia menanyakan kata-kataku yang baru saja terucap.

“ummaku meninggal saat melahirkanku”

“uuuuh jeongmal mianhaeyo taemin-ah”

“ne, gwaenchana” aku senyum dan merangkulnya.

“oh ya, oppa kenalkan namaku hyeseung^^” dia memperkenalkan dirinya terlebih dahulu.

“minho. Choi minho”

Tidak tau apa sebabnya tiba-tiba muka hyeseung tegang. Speerti membeku. Apa penyebabnya entahlah, aku memanggil namanya 3 kali tapi dia bersikap seolah-olah tidak mendengar perkataanku. Aku guncang-guncangkan badannya dan dia juga bersikap seperti tidak merasakan apapun. Aku menaruh jari-jariku di depan matanya dan menggoyangkan telapak tanganku tapi dia bersikap seolah dia tidak bisa melihat apapun. Ada apa dengannya?

Setelah mendengar nama ‘choi minho’ ne aku yakin pasti setelah hyung mengatakan choi minho.

“hyeseung-ah” ini adalah ke empat kalinya aku memanggil namanya. Dia tetap tidak bergerak, seperti patung. Bahkan tangannya saja masih menggenggam tangan hyung.

Minho hyung saja bingung mengapa yeoja ini bisa jadi sangat aneh seperti ini dengan cara tiba-tiba.

“tangannya erat sekali, aku tidak bisa melepaskannya” ucap hyung berbisik.

Baru saja aku membuka mulut hendak memanggil namanya lagi tapi dia sudah tersadar terlebih dahulu. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya dan mengedip-ngedipkan matanya. Seperti orang linglung atau pusing.

“mianhae” serunya kepadaku dan hyung “taemin-ah, min..minho op- oppa mari kita bermain J” dia mengucapkan nama ‘minho-oppa’ dengan gugup.

Dia memang memberikan senyuman kepadaku dan kepada hyung, tapi aku tau itu bukan senyuman tulusnya. Seperti ada yang mengganjal hatinya, entahlah aku bukan dia. jadi aku tidak bisa tau detail apa masalahnya.

Dia berubah entah karna apa. Tapi dia berubah dengan tiba-tiba.

“jagi…..” hyeseung menarikku menjauhi minho hyung.

“umurmu berapa sekarang?” aneh sekali pertanyannya ini.

“18” jawabku seadanya.

“apakah umur hyungmu itu 22?” dia menanyakan pertanyaan yang aneh lagi.

“ne, bulan desember nanti dia akan 22. Sebentar lagi” aku juga menjawab seadanya, sesuai fakta dan tanpa menutup-nutupi.

“tanggal 9 desember?” dan lagi-lagi dia menanyakan pertanyaan aneh lagi.

“bagaimana bisa kau tau?” tanyaku heran.

“tidak, aku hanya menebak saja. Tidak tahukan kamu bahwa yeojachingumu ini pintar sekaligus cerdas? Hahaha” dia mengaitkan lengannya di lenganku “kajja jagi! Kita bermain!”

-taemin POV end-

-hyeseung POV-

Aku baru saja keluar toilet, ternyata hyungnya taemin sudah datang. Aku belum dapat melihat mukanya karna badannya membungkuk dan tangannya memegangi lututnya (kaya orang rukuk)

“kasian hyeseung-ah jadi menunggu lama” hanya ini yang dapat aku dengar dengan jelas karna tadi aku masih berada jauh dari mereka.

“ah, gwaenchana, aku baik-baik saja kok^^” taemin langsung menengok ke arahku, mungkin dia kaget karna tiba-tiba aku sudah ada disini.

“mianhae mianhae” seru kakak taemin kepadaku. Ah gwaenchana, aku jadi tidak enak.

Dan tiba-tiba blak! Dia menegakkan badannya. Wajahnya terlihat jelas. Otakku berputar memikirkan sesuatu sekitar 3 tahun yang lalu. Di Tokyo, ne di Tokyo.

“ah? Ini kan namja yang waktu itu di Tokyo, yang duduk bersamamu itu kan taemin-ah? Yang duduk di taman pinggir jalan itu?”

“ne hyeseung-ah, dia hyungku” samber taemin cepat.

“oooh jadi dia itu hyung mu toh. Aku kira temanmu. Habis rada-rada tidak mirip sih, awalnya sempat curiga juga kalau kalian kakak-adik saat kau memanggilnya hyung waktu di Tokyo itu, tapi kok tidak mirip ya? Dan mukanya seperti sepantaran” aku menjelaskan kesalahpahaman yang terjadi pada diriku sendiri karna mengira bahwa dia adalah temannya taemin bukan kakaknya.

“ne hyeseung-ah, dia mirip sekali dengan appa. Dan aku katanya mirip dengan ummaku”

“katanya?” aku bertanya heran. Mengapa harus ‘katanya’? kalau memang mirip ummanya, ya udah saja katakana.

“ummaku meninggal saat melahirkanku” jlep! Dadaku tiba0tiba seperti ditekan. Aduuuh taemin-ah jeongmal mianhae aku tidak tahu. Jadi ini alasanmu tadi mengatakan ‘katanya’ aaah mianhae taemin-ah.

“uuuuh jeongmal mianhaeyo taemin-ah” aku mengucapkan maaf kepadanya, aku merasa sangat tidak enak sekali.

“ne, gwaenchana” dia senyum lalu merangkulnya.

Omo!! Aku lupa kalau kita berdua sudah keasikan ngobrol sendiri saja sedangkan seorang namja yang sedang berdiri dibelakang kita sedang menatap kita dengan tatapan memelas. Tatapannya sedih. Entah mengapa. Mungkin dia bosan. Aku saja dulu yang mengajaknya mengobrol. Aku memperkenalkan namaku kepadanya.

“oh ya, oppa kenalkan namaku hyeseung^^”

“minho. Choi minho” dia menjawab. Jlep! Lagi-lagi dadaku seperti ada yang menekan. Tapi ini lebih dasyat lagi. Entah mengapa aku teringat akan masa kecilku. Namanya terngiang-ngiang di kepalaku. Lee taemin. Choi minho. Lee taemin. Choi minho. Mata yang besar. Hidung yang mancung. Bibir yang seksi. Choi minho. Hyung. Lee taemin. Namdongsaeng. Ummanya meninggal ketika melahirkan taemin. Apakah???? Aigooo tidak!! Jangam sampai! Tapi jika ini semua benar bahwa dia adalah namja yang dulu aku kenal bagaimana? Bagaimana sikapku untuk menghadapi semua ini? Aku sudah menjadi miliknya, taemin. Aku sangat mencintainya. Tapi jika dia sudah datang kembali kedalam kehidupanku. Entahlah, perasaan ini tiba-tiba berubah. Ya Tuhan. Aku tidak sadar selama begitu lamanya, yah mungkin 5 menit dan selama 5 menit ini pun aku masih menjabati tangannya.

Hyeseung-ah, ini bukan choi minho-mu. Percayalah. Dia bukan!!!! Oke, baiklah. hhh aku menghembuskan nafas panjang dan menggeleng-gelengkan kepadaku. Dia bukan choi minho-mu! Aku mengedip-ngedipkan mataku berharap mukanya akan berubah, tidak persisi dengan choi minho-ku. Tidak persis memang, tapi hidung, mata dan bibirnya sama.

“taemin-ah, min..minho op- oppa mari kita bermain J” aku mengucapkan nama ‘minho-oppa’ dengan gugup. Aaah ania andwae, aku tidak boleh terlihat gugup. Arasseo. Hyeseung tenangkan pikiranmu. Jangan terlihat gugup ataupun takut. Santai. Dia bukan choi minho-mu.

“jagi…..” aku menarik taemin menjauhi minho.

“umurmu berapa sekarang?” aku ingin tahu umurnya, umur taemin dan umurnya berbeda 4 tahun.

“18” jawabnya singkat dengan ekpresi muka heran.

“apakah umur hyungmu itu 22?” aku langsung menanyakan kedalam topic pembicaraan. Ya Tuhan mudah-mudahan bukan.

“ne, bulan desember nanti dia akan 22. Sebentar lagi” andawe!! Andwae! Omo… aigo aigo taemin-ah 18, minho-ssi 22. Mereka berbeda 4 tahun. Aku 21, memang seharusnya minho-ssi berumur 22 sekarang. Dan taemin-ah 18. Apa mereka taemin dan minho masa laluku? Aku harap bukan, tapi faktanya menuju kea rah yang benar. Sudah banyak fakta yang aku dapat, ditambah lagi taemin-ah bilang ulang tahunnya bulan desember.

Ok, baiklah hyeseung-ah, sekali lagi mohon tenangkan hatimu. Mungkin ini hanya kebetulan. Sekarang Tanya tanggal lahirnya. Kesempatan terakhir yang mungkin sangat menentukan. Dan jika memang tanggalnya sama, aku harap dia bukan minho-ssi ku dulu.

“tanggal 9 desember?” deg deg deg jantungku berpacu cepat.

“bagaimana bisa kau tau?” aaaaaah badanku leams! Walaupu taemin tidak mengatakan ‘iya’. tapi pertanyaannya ini menunjukkan bahwa minho-ssi memang berulang tahun tanggal 9 desember.

Ya Tuhan bagaimana ini? Tolong terimalah permohonanku, mudah-mudahan dia bukan minho-ssi ku dulu. Berharap bukan. Bisa kacau urusannya jika begini. Perasaanku ke taemin pasti akan memudar dan aku akan kembali mencintainya penuh seperti dulu. Aku tidak ingin menyakiti taemin-ah. Dia pacar pertamaku yang nyata. Aku sangat mencintainya dan tidak ingin kehilangannya.

Yap! Hyeseung, buatlah jiwaku untuk kembali normal, jangan merasa heran dan jangan terlalu lama meninggalkan minho-ssi supaya dia tidak curiga. Haengbok. Haengbok. Haengbok. Baiklah, haengbok hyeseung-ah. Haengbok. Walaupun kau tidak bisa, usahakanlah agar kau bisa berpura-pura senang. Hyeseung-ah. Fighting!

“tidak, aku hanya menebak saja. Tidak tahukan kamu bahwa yeojachingumu ini pintar sekaligus cerdas? Hahaha” dia mengaitkan lengannya di lenganku “kajja jagi! Kita bermain!” ajakku sambil menggandeng tangannya. Aku memang lebih tua darinya, tapi aku selalu ingin bermanja-manja dengannya.

“kajja yeobo^^ poppo”

“aniaaaaa!!!” jawabku melepaskan gandengan tangaku dan memukulnya pelan.

“aku hanya bercanda” dia menyubit pipiku keras sekali. sakit!!

-hyeseung POV end-

-minho POV-

“aaaah shit! Kenapa harus macet seperti ini sih??” tiba-tiba ponselku berdering “pasti taemin-ah. Benar dugaanku, taenub menelfon. Ne, annyeong. Sebentar lagi, tunggu disini macet. Ne, annyeong” hhh kuhembuskan nafasku untuk yang keberapa kalinya.

Tiiiin tiiiin inilah suara klaksin mobilku yang sudah berkali-kali aku tekan. Macet total!

Banyak orang datang dari luar kota maupun negeri, karna ini adalah hari libur. Lama kelamaan jalan menjadi sedikit longgar, aku jadi bisa bernafas sedikit lega.

Aku memarkirkan mobilku di tempat parkir mobil taman bermain ini. Sudah pasti aku memarkirkannya di tempat parker. Aku berlari memasuki taman bermain ini dan mencari taemin.

Aku berlari. Seperti sedang di tunggu seorang yeoja, entahlah aku merasa ingin cepat-cepat sampai sini dan bertemu dengannya. Dengan siapa? Taemin? Setiap hari aku bertemu dengannya walaupun tidak mengobrol karna kita saling sibuk. Masa iya dengan taemin? Lalu dengan siapa? Hye… hyeseung? Aaah ania!!! Aku tidak boleh menyukainya! Dia adalah yeoja kesayangannya taemin. Apakah mereka sudah menjadi sepasang kekasih ya? Aah itu bukan urusanku!

Lagi pupla, mungkin saja taemin hanya ingin mengajakku bermain. Aku mendapati sosok taemin sedang duduk seorang diri. Aku menghampirinya. Karna capek, aku membungkukkan badan dan memegangi lututku.

“taemin-ah maaf sudah membuatmu menunggu lama”

“hya! Hung! Kau mengagetkanku! Darimana saja kau?” sudah aku duga pasti nada suaranya akan seperti ini. Dia sedang kesal.

“mianhae taemin-ah, macet” seruku mencoba menjelaskan.

“kasian hyeseung-ah jadi menunggu lama” oooh jadi init oh alasannya dia kesal padaku karna datang telat, dia kesini dengan yeoja itu. hm. Entah mengapa hatiku merasa senang dan aku merasakan bibirku mengembang membentuk sebuah senyuman kecil.

“ah, gwaenchana, aku baik-baik saja kok^^” tiba-tiba seorang yeoja menghampiri kita. Aku tidak asing dengan mukanya karna sudah pernah bertemu lebih dari 3x.

“mianhae mianhae” aku meminta maaf padanya. Tidak enak.

Yeoja ini melontarkan sebuah pertanyaan yang mungkin ditujukan untuk taemin, karna dia menanyakannya kepada taemin-ah. Tapi sesungguhnya isinya adalah buatku. Dia menanyakan tentangku.

Taemin menyahut kata-kata yeoja ini dan mereka jadi mengobrol sendiri. Aku seperti dianggap tidak ada. Aku sedih, hatiku sakit. Bukan karna dianggap tidak ada. Tapi karna melihat kedekatan taemin dengan hyeseung. Aaaah!!! Sebenarnya ini perasaan apa? Hyung seperti apa aku ini jika bisa menyukai  yeoja yang disukai oleh namdongsaeng-nya juga? Minho=ssi, baru saja kau mempunyai seorang yeojachingu! Sadarlah, kau tidak boleh mencintainya! Aku sudah memiliki seoyun-ah dan cintaku hanyalah lee hyeseung! Bukan hyeseung yeojanya taemin ini.

Aku berusaha untuk menormalkan kembali wajahku, tapi sepertinya aku tidak mampu. Wajahku terlihat sedih, aku tidak dapat melihatnya memang, tapi aku dapat merasakann ekspresi wajahku sendiri. Dia menatapku, “oh ya oppa kenalkan namaku hyeseung^^” memperkenalkan diri, dia menyodorlan tangannya. Aku balas, sehingga sekarang kami berjabatan tangan “minho. Choi minho” jawabku berlaga sok tenang.

Yang membuatku heran, aneh dan bingung adalah dia diam. Dia bengong. Dia berdiri terpaku seperti patung. Tangannya masih menjabat tanganku erat. Tidak bisa dilepas, terlalu erat. Sakit sesungguhnya.

“dia menggenggam tanganku erat. Tidak bisa terlepas” ujarku sedikit berbisik kepada taemin. Sikapnya kewalahan melihat yeoja kesayangannya tiba-tiba bersikap seperti patung ini.

Dia sudah sadar, menggeleng-gelengkan kepala dan mengedip-ngedipkan matanya. Seperti baru bangun dari tidur pulas atau mimpi buruk.

“taemin-ah, min..minho op- oppa mari kita bermain J” mengapa dia mengucapkan ‘minho-oppa’ dengan gugup? Apa dia takut denganku? Memangnya aku seram? Memangnya aku terlihat seperti penjahat? Aku kan namja paling ganteng di seoul kekeke.

Baru saja kita berjalan beberapa langkah, hyeseung menarik taemin dan menjauhi dariku. Mereka tampak sedang mengobrol. Hh entah apa saja yang sedang mereka katakana. Tapi aku sungguh bête di biarkan sendiri seperti ini. Aku tau mungkin mereka saling mencintai, tapi tolong ingat aku ada disini!! Aaah jengkel sekali! sebenarnya aku bosan karna aku….. ah lupakan!!!!

Mereka sekarang sudah kembali dengan bertingkah mesra. Hhk. Aku menelan ludah. Sakit. Taemin berkata “kahha yeobo^^ poppo”

YEOBO????? MEREKA SUDAH JADIAN?? JINJJA??? POPPO? Bahkan taemin sudah meminta poppo padanya.

Aaaaaaaaah jangan biarkan aku mati sekarang, disini! Tolonglah!

“aniaaa!!” hyeseung menolaknya, mungkin mereka akan  melakukannya jika tidak ada aku disini.

“aku hanya bercanda” taemin menyubit pipinya. Mesra sekali mereka! Aaah ini membuat hatiku bergejolak. Aneh. Perasaan apa ini?!

“yeobo? Kau sudah jadian dengannya?” aku bertanya frontal dengan ekspresi datar tanpa menatapnya dan menunjuk ‘dengannnya’ hanya dengan tatapan mata dan gerakan alis kea rah hyeseung.

“ne hyung, baru saja 3 hari yang lalu. Mianhae ya hyung tidak memberitahumu, kau kan tau aku sibuk. Kau juga sibuk. Kita jadi jarang bertemu”

“oh begitu. Aku juga baru saja mempunyai seorang yeojachingu” seruku dan berhenti melangkah. Aku sedang mengantri sekarang. Aku ingin menaiki wahana ekstrim ini.

“jinjja???? Dengan siapa??” tanyanya menggoyang-goyangkan lenganku.

“sebaiknya kau jangan bersikap begini kepadaku di depannya, nanti dia cemburu padaku” sebenarnya aku yang cemburu pada taemin. Bukan hyeseung yang cemburu padaku hanya karna taemin memegang lenganku. Hhhh.

“ania oppa! Kau jangan meledekku. Aku tidak cemburu. Kau ingin naik wahana ini? Ini adalah wahana favoritku” WAHANA FAVORIT? JINJJA???? Ini kan wahana favoritnya hyeseung ketika kecil. Dulu aku sering di ajak menaiki wahana ini, tapi aku selalu menolak karna aku takut dan sekarang aku ingin mencobanya. Untuk yang pertama kalinya. Awalnya aku berniat untuk menaiki ini sendiri saja. Tapi hyeseung meminta ikut. Baiklah. Sementara taemin tidak. Dia takut ketinggian.

“kau suka wahana ini?” tanyaku padanya.

“ne oppa, aku sangat suka sekali” jawabnya senang. Dia terlihat senang sekali. tawanya…. Aku seperti sering sekali melihatnya. Dimana? Kapan? Siapa yeoja ini sebenarnya? Perasaanku aneh setiap berada didekatnya. Perasaanku hancur ketika melihatnya bersama taemin.

“teman kecilku juga sangat suka wahana ini” tiba-tiba saja aku ingin mengatakan ini padanya.

“benarkah? Siapa dia?”

“ne, lee hyeseung”

-minho POV end-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s