My First Love Chap. 5

Standard

Author : Nisa Ayu Thayalisha Hadi (Nam Hyen Hyo)

Cast :

Choi Minho

Lee Hyeseung

Lee Taemin

Title : My First Love (Part 5)

Length : Chaptered

Genre : Romance

Rating : PG-13

Disclaimer : The casts are belong to God, and this Fan Fiction is belong to me kekekeke~ i own this plot ok?

Note : This is pure my imagination.

Credit Poster : cutepixie@darkreflection.so-pink.org

===============================================================

-hyeseung POV-

“benarkah? Siapa dia?”

“ne, lee hyeseung”

“namaku dong? Hahaha”

“iya. Tp bukan kau orangnya” ucapnya ketus.

“ne, aku tau” jawabku sambil mencibirkan bibirku.

6 bulan berlalu, aku dan taemin masih menjalani hubungan seperti dulu. Aku sangat mencintainya, begitupun dengannya. Akunya. Dia sering bermain ke rumahku, kami mengobrol bertiga. Umma, aku dan taemin.

Rasanya taemin sudah seperti keluargaku sendiri. Lebih tepatnya sebagai suami mungkin? Aaah aku berpikir terlalu jauh! Lupakan!

Besok hari ulang tahunya. 18juli. Aku ingin memberinya apa ya? Hm….

“umma”

“ne? ada apa?”

“besok taemin-ah ulang tahun, aku….” Umma memotong pembicaraanku lagi.

“buatkan kue untuknya dengan jeri payahmu sendiri” sahut umma.

“hajiman umma….” Jujur aku kurang ahli dalam hal masak-memasak. Bagaimana bisa aku membuatkan kue untuk namjachinguku? Lalu rasanya tidak enak… aaah!!!

“umma akan memberimu contoh sekarang, mari kita belanja bahan-bahannya. Umma akan membuat kue, tapi kau juga membuatnya nanti. Jadi masing-masing dari kita membuat kue. Kue buatanku untuk kita berdua, kue buatanmu untuk taemin. Bagaimana? Kita adu kelezatan rasanya ya” tantang umma kepadaku. Aku memang tidak suka memasak, tapi karna umma menantang. Aku jadi terpacu untuk bisa memasak. Aku sangat suka tantangan seperti ini. Ini seru.

“baiklah! Kajja umma kita ke supermarket” ajakku.

Di dalam dapur yang kecil ini, suara tawa terdengar nyaring. Aku dan umma saling tertawa. Memasak ternyata tidak capek. Ah tidak capek karna aku dapat bercanda gurau dengan umma, jadi tidak terasa. Bagaimana jika aku memasak sendiri? Ah tidak dapat kubayangkan.

Kuenya sudah jadi, aku tidak tau rasanya. Aku tidak ingin menghancurkan kue ini walaupun hanya dengan satu toelan saja. Aku simpan kue ini di dalam lemari pendingin. Tinggal menunggu jam saja menjelang hari ulang tahunnya.

“hyeseung, besok tolonglah datang ke Tokyo, appa ingin memberikan sesuatu. Sekalian juga kau berlibur gitu hehe” ucap appa lewat telfon. Aaah tidak mau appa! Aku tidak mau!!!

“ne” jawabku pasrah.

“jangan lupa ya, maaf mendadak sekali”

“ne” aku putuskan telfonnya.

“umma…” aku mengeluh kepada umma “besok ulang tahun taemin-ah, tapi appa memintaku untuk datang kesana, lalu… bagaimana?”

“turuti saja apa kata appamu”

“hajiman umma…”

“merayakan ulang tahun taemin bisa kapan saja. Tenanglah”

“ne”

Aku menyerah…. Sebelum packing, aku harus memberitahu ini kepada taemin dulu!

“annyeong taemin-ah” aku menelfonnya saat ini juga. Bukan mengucapkan selamat ulang tahun tapi memberitahu kabar yang kurang menyenangkan! Aaah! Aku juga benci kenapa appaku harus menyuruhku datang ke Tokyo disaat ulang tahunnya.

“ne jagi, ada apa?”

“aku.. besok aku akan kembali ke Tokyo untuk 3 hari saja. Kau… bisakah kau mengantarkanku sampai bandaraaaa saja” pintaku padanya, sebelum berpisah. Ayolah, walau ini hanya 3 hari. Tapi kan….

“tapi jagi, besok itu kan…”

“jagi, aku harus datang disana besok. Appaku akan marah jika aku tidak datang kesana besok. Memangnya besok ada apa?”

“tidak ada apa-apa. Baiklah aku akan mengantarkanmu ke bandara”

“gomawoyo”

“cheon” jawabnya singkat lalu memutuskan sambungan telfonnya.

Kenapa ya? Aaah!! Aigo, hyeseung babo! Besok kan hari ulang tahunnya, bisa-bisanya aku melupakan hal itu padahal baru beberapa jam yang lalu aku menyelesaikan pekerjaanku untuk membuat kue ini. Lalu bagaimana dengan kue ini? Masa ummaku yang ingin memberikannya? Ah tidak seru!!

“umma… ayo berangkat!” aku sudah berkemas, siap untuk menuju bandara. Aku sudah janjian dengan taemin akan bertemu di bandara. Aku menunggunya. Lumayan lama.

“hyeseung-ah” seorang namja berlari ke arahku. Uuuh tampan sekali :3

“taemin-ah” aku langsung berada di dekapannya, dia memelukku. Senangnya, “hari ini…”

“aku tau hari ini adalah hari yang menyedihkan, karna hari ini kita harus berpisah” ucapku mengeles.

“bukan itu maksudku, kau tidak ingat?” tanyanya dengan muka memelas.

“ingat apa? Ini kan hari biasa. Biasa seperti hari-hari yang lain” jawabku tenang dan santai.

“hm” dia menghembuskan nafasnya “baiklah, kau sudah melupakannya”

“melupakan apa?”

“kau benar-benar lupa? Lalu untuk apa selama 6 bulan ini kita pacaran dan kau lupa akan hari ini” nada suaranya berubah.

“taemin-ah!!!! Aku tidak mengerti! Ada apa? Hari ini ada apa?” tanyaku berakting mantap.

Baru saja ia hendak mengucapkan sesuatu, informasi untuk jadwal pesawatku yang akan take off berbunyi. Penumpang diharapkan untuk menaiki pesawat. Baiklah.

“taemin-ah, kita dapat mengobrol di telfon nanti. Sampai jumpa. Saranghaeyo” aku melambaikan tanganku

“hyeseung! Kau…” dia menjambak rambutnya sendiri. Karna kesal mungkin.

“3 hari saja. Maaf aku harus buru-buru”

“hyeseung aku masih merindukanmu”

“dah~” jawabku nyantai hahaha.

Dia membalikkan badannya hendak pergi meninggalkan bandara “saengil chukkae hamnida, saengil chukkae hamnida saranghaneun uri taemin saengil chukkae hamnida” aku dan umma menyanyikan lagu ini bersama-sama dan tanganku membawa kue buatan ku kemarin. Dia masih dalam posisi yang sama. Belum membalikkan badannya. Dalam hitungan detik, dia membalikkan badannya pelan dan matanya terbelalak.

Mungkin dia kaget melihatku ada disini, seharusnya aku sudah berada di dalam pesawat, bahkan sudah melayang di langit. Karna pesawat yang ingin aku naiki sekarang sudah take off.

-flashback-

          ketika aku sudah bersiap untuk ke bandara, appa menelfon lagi. Ne appa ne, aku akan berangkat. Gumamku dalam hati.

“hyeseung-ah. Kau tidak usah datang! Kau belum didalam pesawat kan? Barangnya akan appa kirim saja. Daripada kau repot-repot datang kesini. Bagaimana?”

“aaaah baiklah!!” jawabku semangat.

“umma…..” aku teriak senang.

“appamu membatalkannya kan?”

“berkat umma?”

“tentu”

“aaah gomawoyo^^ lalu bagaimana?”

“manfaatkan ini untuk mengerjai taemin-ah”

“oya! Benar juga! Baiklah”

“kau pura-pura benar ingin pergi saja, dan tidak ingat dengan ulang tahunnya bagaimana? Kau belum mengucapkannya tadi malam kan?”

“belum umma, aku lelah habis packing dan tertidur pulas. Aku lupa untuk mengucapkannya. Oya, gowamo ya umma sarannya^^”

-flashback end-

“hyeseung….” Mukanya aneh.

Sepertinya banyak sekali pertanyaan yang ingin disampaikan.

“ne… aku mengerjaimu sekarang. Dulu kau yang mengerjaiku, sekarang aku yang mengerjaimu hahaha. Saengil chukkae. Aku tidak akan mungkin melupakan hari ini”

“gomawo. Saranghaeyo” betapa kagetnya aku, dia mengecup keningku. Ini memang sering terjadi, tapi jika dirumah. Umma juga sering melihat, tapi ini dibandara. Uuuh aku malu sekaligus senang. Aku hanya bisa tersenyum. Dia mengecup keningku lama. “ehm” umma berdeham, mengganggu saja “itu yang cium-cium kening, udah belum ya ciumnya? Kok lama ya? Panas banget” dia bersikap seperi sedang mengipas-ngipaskan badannya dengan tangannya sendiri.

“uuuuh umma, mianhae” ucap taemin-ah.

“kau cemburu umma?” ledekku.

“coba appamu ada disini, kita kan jadi bisa double date” umma terkekeh.

“aniaaaa, ini sudah berbeda kategorinya..”

“apa maksudmu? Kau ingin mengatakan bahwa aku dan appamu sudah tua??” sekarang nadanya serius. Uuuh hahah dia marah.

“aku tidak berbicara seperti itu. Tapi maksudnya adalah itu kekeke”

“dasar! Mari kita rayakan ini di rumah saja”

“hyeseung, umma gomawo^^” sekali lagi dia mengecup keningku.

Kini kita sudah berada di dalam rumahku. “kau… mengapa kau mengerjaiku?”

“karna aku ingin” jawabku sambil menyantap kue bikinanku. Ternyata lezat. Lezat sekali.

“gomawo” dia mengucapkannya berulang-ulang.

“aaah kau mengucapkan gomawo terus, bosan”

“abis aku terlalu senang. Kau pasti membuat ini sendiri kan? Terlihat jelas kok. Tidak sebagus seperti kue-kue di toko. Tapi rasanya jauh lebih lezat dari kue-kue di toko” ucapannya membuatku nge-fly.

“hm. Kau!! Jangan berkata seperti itu!!”

“wae?”

“aku jadi ingin nge-fly” jawabku cemberut.

“kalau aku….” Dia mendekatkan wajahnya kewajahku. Sungguh ini dekat sekali. Aku gugup. Aku tidak pernah ‘poppo’ dengannya sejauh ini. Hanya cium pipi dan kening saja. Dia semakin mendekatkan wajahnya ke wajahku, dia memiringkan kepala, aku memejamkan mataku. Dan…. “jangan melakukannya disini!” suara ummaku yang khas terdengar menggelegar di telingaku. Aaah sungguh mengganggu.

-hyeseung POV end-

          -taemin POV-

Aaaah awalnya aku sempat kesal dengan tingkahnya yang seakan-akan dia memang benar-benar lupa dengan ulang tahunku. Ternyata dia hanya sedang menjebakku saja. Aku senang.

Dia memberi surprise untukku, dia mengejutkanku, dia memberi kue ulang tahun untukku buatannya sendiri, ditambah lagi hari ini dia sangat cantik sekali. aku jadi ingin….. “jangan melakukannya disini!” hampir saja aku ‘poppo’ dengannya, tapi yah… memang salahku juga langsung menyosor seperti ini dan di depan ummanya. Ini bukan tempat yang tepat.

“mianhae umma, habis aku senang sekali hari ini” seruku menjauhkan mukaku dari mukanya.

“umma…. Kau tidak boleh begitu! Aaah mengganggu! Jangan bertingkah seperti kau tidak pernah melakukan ini dengan appa!” hyeseung menambahkan. Sepertinya dia juga kesal karna ‘first kiss’nya di ganggu.

“bukan begitu, tapi aku tidak mau melihat kalian ‘poppo’ disini. Kalau mau, umma akan masuk kamar dulu. Jangan bikin umma iri, mengerti?” jelasnya.

“ne umma, mianhae” sahutku berbarengan dengan hyeseung.

“baiklah. Umma permisi ya” dia meninggalkan ruang tengah. Meninggalkanku dan hyeseung berdua. Aku membasahi bibirku dengan lidahku, menatapnya sedetik dan langsung salah tingkah. Aah aku harus bagaimana? Dia membalikkan tubuhnya membelakangiku. Aku balikkan tubuhnya kembali sehingga kita bertatapan dan langsung mendekatkan wajahku ke wajahnya. Dia menutup matanya. Aku memiringkah kepalaku. Kejadian tadi terulang. Aku memejamkan mataku juga, tangan hyeseung merangkul leherku, tanganku memeluk pinggangnya dan… ‘chu’

My first kiss, pada hari ulang tahunku. Sungguh special. Ini juga ciuman pertamanya. Ah! Aku tidak dapat mengungkapkan kebahagiaan ini dengan kata-kata atau apapun.

-taemin POV end-

-seoyun POV-

Kau tau? Aku dan minho-ssi telah menjalin hubungan selama 6 bulan. Tapi dia tetap bersikap seperti dulu. Cuek. Dia memang cuek sih anaknya. Cool. Tapi, aku kan yeojachingu-nya. Tak bisakah dia sedikit memperhatikanku? Selama 6 bulan kita pacaran ini, kita hanya baru bertemu beberapa kali saja. Jika aku mengajaknya bertemu, dia bilang sedang kerja dan sibuk. Memang sih dia kerja, dia tidak bohong. Tapi restaurant itu kan milik pamannya, jika dia meminta izin, pasti diperbolehkan.

Sebenarnya aku bosan seperti ini, tapi aku tidak ingin kehilangannya. Aku sangat mencintainya. Sungguh. Hari ini aku ingin ke toko buku, ada komik yang ingin aku beli. Dan aku mau dia menemaniku.

“annyeong minho-ssi” aku menelfonnya.

“ne?” jawabnya pelan.

“kau sedang apa? Ini kan hari minggu, kau sedang tidak bekerja kan jagi? Antarkan aku beli buku ya”

“baru bangun. Tidak. Boleh, jam berapa?” jawabnya sambil menguap. Ya, dia menguap. Dia baru bangun. Jangan-jangan hanya karna aku menelfonnya, dia jadi terbangun haha.

“hm, jam berapa ya? Kau bisanya jam berapa?”

“sekarang juga bisa, tapi aku mandi dulu”

“yasudah, nanti siangan saja, biar kau bisa mandi dan makan dulu. Oh ya, gomawo ya jagi”

“cheonmaneyo”

“sarang….” Tut tut tut sambungannya sudah diputus oleh minho-ssi. Padahal aku baru saja ingin mengucapkan ‘saranghae’ tapi selama ini, seingatku, dia hanya bilang ‘saranghae’ saat dia menerimaku saja. Selama pacaran, aku kerap sekali mengatakan saranghae, tapi dia tidak pernah membalasnya. Hanya senyum saja. Sebenarnya dia benar-benar mencintaiku tidak sih???????”

-seoyun POV end-

-minho POV-

Lagi-lagi dia mengajakku pergi. Tapi kali ini tidak ada alasan untukku menolaknya. Baiklah, sekali-kali. Mengapa tidak? Dia kan yeojachingu-ku, kasihan juga setiap mengajak pergi aku selalu menolak.

Dia sungguh perhatian dan pengertian. Buktinya, tadi dia bilang ‘siangan saja, supaya kau bisa mandi dan makan dulu’ benar-benar baik. Pengertian. Perhatian. Setia. Cantik. Badannya juga seperti model. Dia imut. Seharusnya aku merasa beruntung dapat dicintainya. Aku yakin pasti banyak namja diluar sana yang mengejarnya. Tapi dia tetap setia denganku walaupun aku cuek.

Mungkin dapat di katakan aku adalah salah satu namja yang beruntung. Seharusnya aku bisa mencintainya lebih, tidak hanya sebatas kata ‘pacar’ saja, dan hatiku biasa saja. Sungguh, seoyun tidak bisa menggantikan posisi hyeseung, walaupun aku tau dia sudah berusaha untuk dicintaiku sepenuhnya. Tapi aku tidak bisa.

Seoyun-ah mianhe.

Aku juga tidak pernah memanggilnya jagi, bahkan mengatakan ‘saranghae’ saja tidak. Mungkin hari ini aku akan mencoba.

“jagi, kau ingin beli apa?” aku mengatakan ini sembari melawan sakit dihatiku. Aku tidak sanggup memanggilnya jagi. Ya Tuhan, seoyun-ah jeongmal mianhaeyo.

Dia tersenyum bahagia. Matanya berbinar-binar mungkin dia kaget. Karna ini baru pertama kali aku memanggilnya jagi.

“hm aku.. aku ingin beli komik seri terbaru” jawabnya meremas-remas tangannya sendiri. Dia memang suka seperti itu.

Hari ini aku akui, dia memang cantik sekali dengan rambut yang di ikat. Walaupun simple, tapi dia terlihat lebih cantik dari biasanya. Kulitnya yang putih, leher dan tengkuknya yang indah dihiasi oleh sebuah kalung itu lebih membuatnya terlihat semakin cantik.

Baju warna putih dan hot pants jeans yang dipakainya terlihat memang seperti dia sedang berada didalam rumah. Pakaiannya santai, dia memang tidak pernah berlebihan. Dan sepertinya dia juga tidak memakai make-up. Mungkin hanya bedak dan lipstick saja.

“baiklah, yuk kita kesana” aku merangkulnya. Tingginya sebahuku.

“kau tumben sekali memanggilku ‘jagi’ tadi” bas! Dia mengatakannya bukan? Aku harus menjawab apa?

“lalu mengapa? Memangnya tidak boleh? Aku ini kan namjachingu-mu dan kau milikku. Jadi jika kau memanggil jagi itu adalah suatu kejanggalan gitu?” jawabku sok mengerti.

“ah tidak. Bukan begitu, selama kita pacaran, baru kali ini kau memanggilku jagi…”

“dan tidak pernah mengatakan ‘saranghae’” ucapku memotong dan melengkapi pembicaraannya.

“ne” dia tertunduk malu. Dia pasti sangatlah ingin dipanggil jagi dan diucapkan kata-kata manis olehku. Itu pasti karna aku namjachingu-nya.

“seoyun-ah, kau tau? Aku sangat mencintaimu. Tidak semudah itu bagiku untuk mengucapkan ini, aku harus mengumpulkan keberanianku, barulah aku berani untuk mengucapkan…. Saranghae” aku menghentikan langkahku ketika berbicara dan mengecup keningnya ketika mengatakan ‘saranghae’. Mukanya memerah. Apa aku salah? Ya ampun, tapi aku heran, mengapa kau bisa mengatakan seperti tadi??? Apalagi kata-kata ‘aku sangat mecintaimu’ ah sepertinya aku sudah menjadi pembohong besar. Ah sudah! Lupakan saja! Aku merangkulnya kembali dan melanjutkan perjalanan.

Seoyun sedang menceritakan cerita lucu dari komik yang pernah dibacanya, kami tertawa. Aku masih merangkul bahunya. Dan tiba-tiba saja aku melihat seorang yeoja dan namja mendekati kita. “oppa” “hyung” sepertinya mereka memanggilku. Ah! Ternyata itu adalah hyeseung dan taemin.

Refleks aku langsung melepaskan tanganku dari bahunya. Aku berhenti tertawa. Mukaku berubah. Tegang. Mengapa harus bertemu hyeseung dalam keadaan seperti ini sih??? Hyeseung tolonglah menyingkir dari sini! Dan jangan perlihatkan senyum manismu itu! aku tidak ingin kau membuatku bersikap apapun yang dapat membuat seoyun tidak enak hati.

Aku baru menyadarinya sekarang. Setelah sekian lama aku renungkan. Ternyata aku benar-benar mencintai hyeseung. Pacar namdongsaeng-ku sendiri.

-minho POV end-

-AUTHOR POV-

Suara ponsel berdering. “ah? Dering ponsel siapa itu?” hyeseung bertanya. “aku” jawab seoyun sembari mencari ponselnya yang berada di tas.

“annyeong oppa, ada apa? Aku sedang bersama minho-ssi. Jinjja?? Appa sudah pulang? Kau tidak bohong kan? Aaah appa neomu bogoshippoyo. Ne oppa, aku akan pulang. Gomawoyo ya udah ngasih tau hihihihi dah” seulas tawa tersungging diwajahnya.

“minho-ssi, taemin dan kau maaf aku lupa namamu…”

“hyeseung” sahut hyeseung.

“ne hyeseung, aku harus pulang dulu. Appa ku datang dari amerika, aku sudah lama tidak bertemu. Jadi aku permisi dulu ya” seru seoyun lalu bangkit dari tempat duduknya.

“minho-ssi, kau tidak apa kan disini bersama mereka? Aku harus pulang. Mianhae jagi, sarang…”

“iya tidak apa. Jangan kau yang mengatakan itu, biar aku saja. Saranghae. Hati-hati ya di jalan” mereka berdua bercipika-cipiki.

“ne dah~ aku duluan” seoyun berlari meninggalkan mereka semua.

“aku juga ingin pulang” ujar minho dan bangkit dari tempat duduknya.

“andwae hyung! Kau disini saja” sahut taemin.

“aku disini untuk apa? Pacarku sudah pulang, seharusnya aku juga pulang, iya kan?”

“tapi hyung, aku mau kau ikut aku”

“kemana?”

“kerumah hyeseung”

“ania! Aku tidak mau”

“kenapa?”

“aku ingin pulang”

“sekali saja hyung, kau kenapa sih? Sepertinya sikapmu berubah semenjak kau punya pacar”

“aku tidak berubah. Aku biasa saja”

“ya sudah kalau begitu tolong turuti permintaanku, seperti dulu kau selalu menuruti permintaanku”

“baiklah kalau itu maumu” minho menyetujuinya.

“mari hyeseung kita berangkat” seru taemin.

“kerumahku?” hyeseung bertanya.

“ne”

“untuk apa?”

“aku ingin umma-mu mengenal hyung ku”

“oh baiklah, kajja jagi, oppa”

-AUTHOR POV end-

-minho POV-

Jengkel rasanya bertemu dengan mereka berdua, mereka mengajakku dan seoyun untuk jalan bareng. Lalu aku harus bagaimana? Ya aku setuju-setuju saja. Dan ketika sedang makan, tiba-tiba ponsel seoyun berdering. Dia menerima telfon, mungkin dari donghae hyung. Lalu dia permisi pulang karna appanya sudah pulang. Katanya. Ini lebih jengkel lagi, aku ada disini hanya dengan taemin dan hyeseung.

aku juga ingin pulang” ne, mungkin lebih baik aku pulang saja.

“andwae hyung! Kau disini saja” aduuuh anak ini ingin apa lagi sih? Tidak tahu kah dia aku ingin pulang karna aku ingin menghindari yeojachingu-nya? Jika aku terus disini bisa-bisa aku akan merebut hyeseung darinya dan aku tidak ingin hal itu terjadi!

“aku disini untuk apa? Pacarku sudah pulang, seharusnya aku juga pulang, iya kan?”

“tapi hyung, aku mau kau ikut aku”

“kemana?”

“kerumah hyeseung”

Buseeet!!! Kerumah hyeseung? Maksudnya adalah…… apa maksudnya? Dia bilang, agar ummanya mengenalku. Ah memangnya itu penting? Memangnya mereka akan menikah dan aku menjadi walinya? Apa-apaan idenya itu!

Aku hanya bisa menyetujuinya karna dia bilang sikapku berubah semenjak punya pacar. Lebih tepatnya lagi adalah sikapku berubah semenjak kau pacaran dengan hyeseung! Aku cemburu melihat mereka berdua. Karna aku mencintai hyeseung! Sungguh aku telah mengutuk diriku sendiri, mengapa aku bisa mencintai yeojachingu namdongsaengku sendiri? Aku sudah berusaha untuk tidak memikirkannya dan mencintai seoyun dengan setulus hati. Tapi aku tidak bisa. Aku terus memikirkannya dan seoyun sama sekali tidak bisa menggantikan posisi hyeseung cinta kecilku dulu. Tapi hyeseung yeojachingu-nya taemin ini bisa menggeser posisi hyeseung cinta kecilku dulu. Aku saja heran mengapa ini bisa terjadi. Aneh!

Sepanjang perjalanan aku hanya bisa diam. Benarkan aku jadi seperti orang tidak berdaya, hanya bisa mendengarkan mereka berbicara dan aku terdiam. Sama sekali tidak di ajak mengobrol.

Ah! Ternyata apartemennya dekat dengan rumah paman. Selama ini aku tidak sadar. Aku memasuki rumahnya. Luas dan indah. Bersih juga.

“hai taemin, hyeseung. Kalian sudah pulang” seorang yeoja yang mungkin umurnya sudah berkepala-4 menghampiri kita.

“ne umma” jawab taemin dan hyeseung berbarengan. Umma? Taemin memanggilnya umma? Kok tidak sopan ya? Dia kan bukan umma-nya.

“nah, ini siapa? Ah! Kau…. Kau kan… kau pernah ke Tokyo ya? Kau ingat aku tidak? Aku yeoja yang waktu itu meminta nomer ponselmu” serunya.

“jinjja???? Jadi… umma itu yeoja yang waktu itu tiba-tiba meminta nomer ponselnya hyung?” kenapa malah taemin yang menjawab? Harusnya kan aku!

“aku ingat” jawabku singkat.

“eh umma, jadi ini yang kau maksud… namja yang mempunyai karisma itu?” sekarang malah hyeseung yang ikut dalam pembicaraan kita. Padahal tadi dia sedang berada didapur untuk membuatkan minuman untuk kita.

“ne hyeseung-ah! Dia yang umma maksud! Umma tidak menyangka akan bertemu dengannya disini. Ini hyungmu taemin-ah?”

“ne”

“kalian berdua memang sama-sama mempunyai karisma! Bagaimana jika hyung-mu juga jadi salah satu model di perusahaan kita, taemin bagaimana menurutmu?”

“ya iya lah punya karisma, siapa dulu? Namjachinguku!!” ucap hyeseung menyombongkan diri.

Apa maksudnya? Yang dimaksud dia ‘mempunyai karisma’ itu yang mana? Taemin atau aku? Pasti taemin, tapi aku merasa dia juga menunjukkan itu kepadaku.

“ah baiklah. Tapi hyung, apakah kau mau?” taemin membuyarkan lamunanku.

“apa? Jadi model? Artis sepertimu maksudnya? Tidak! Aku hanya ingin bekerja di restaurant paman saja” aku menolak. Jika aku menerima tawaran ini, aku pasti akan sering bertemu hyeseung. Aku tidak mau itu terjadi.

“ah sayang sekali! padahal jika kau mau, kau pasti jadi artis yang terkenal”

“maaf eommona, aku tidak tertarik” tolakku.

“baiklah, aku tidak bisa memaksakan”

Tiba-tiba saja perhatianku beralih ke pojok ruang tengah. Terdapat sesuatu di atas mejanya. Boneka itu! ne, boneka itu kan… itu kan… boneka yang pernah aku berikan untuk hyeseung cinta kecilku dulu!

“heh kau hyeseung!” aku memanggil namanya.

“ne oppa, ada apa?”

“itu boneka siapa?” aku menunjuk ke arah boneka tersebut.

“bonekaku”

“diberi oleh siapa?”

“oleh seorang namja. Teman dekat kecilku dulu”

“namanya?”

“minho-ssi. Choi minho. Sama seperti namamu. Tapi bukan kau orangnya” kurang ajar dia meng-copy kata-kataku!

Choi minho??? Dia juga memanggilnya minho-ssi! Apakah…. Benarkah? Dia orangnya???? Lalu bagaimana dengan taemin jika itu memang benar??? Aigo!!! Bagaimana ini?

“kau pernah pindah ke Tokyo kan?”

“ne”

“sebelum pergi, apakah namja yang kau maksud itu memberimu surat?”

“mengapa kau bisa tahu semuanya?” jawabnya sedikit mengalihkan pembicaraan.

“jawab aku! Apakah namja itu memberimu surat?”

“ne”

“ada apa hyung?” Tanya taemin.

“diam kau! Aku tidak sedang berbicara denganmu!” ucapku ketus kepadanya. Baru kali ini aku berbicara seperti ini dengannya. Aku sekarang sedang emosi! Apakah benar dia hyeseung kecilku dulu?

Dia pernah bilang. Wahana itu adalah wahana favoritnya. Dia juga bisa menggantikan posisi hyeseung dihatiku. Apakah dia memang benar-benar hyeseung sehingga dia bisa memikat hatiku. Tapi…. Aaah aku sungguh bingung! Bagaimana ini jika dia benar-benar hyeseungku dulu? Apa yang harus aku lakukan? Molla…. Mungkin aku harus berbicara dengan taemin. Masalah taemin akan marah atau tidaknya, itu urusan belakangan. Yang pasti, dia harus tau. Aku juga tidak ingin kehilangan cintaku! Aku tidak mau!

Maaf taemin-ah aku egois, tapi aku yang menemukan dia lebih awal! Bukan kau! Jadi dia berhak menjadi milikku!

“apakah kau menyimpan suratnya?”

“ya iya lah! Dia kan satu-satunya sahabatku waktu dulu”

“bukan namjachingu-mu?”

“entahlah! Dulu kita kan masih kecil. Memangnya sudah mengerti apa itu pacar-pacaran? Jadi aku menganggapnya biasa saja walaupun dia pernah menembakku dan aku menerimanya” penjelasannya membuat hatiku sakit! Lebih sakit ketika ditinggal olehnya waktu 14 tahun yang lalu. Bahkan lebih sakit ketika ditinggalkan oleh umma untuk selama-lamanya. Jauh lebih sakit daripada di tinggal appa untuk selama-lamanya juga.

Hyeseung, aku baru yakin sekarang bahwa kau memang benar-benar hyeseungku. Tapi kau hanya bersikap biasa saja seolah-seolah kau tidak curiga dengan apapun. Kau tidak curiga mengapa aku bertanya seperti ini? Kau tidak curiga mengapa aku tau banyak tentang kau? Kau tidak peka hyeseung! Aku benci!

Wajar saja kalau aku bisa mencintai yeojachingu-nya taemin ini. Ternyata dia benar-benar cintaku dulu. Aku baru mengerti sekarang mengapa aku bisa mencintainya. Dan merasa sering melihat tawanya.

“bisakah kau menunjukkan suratnya itu?”

“bisa! Tunggu sebentar” dia lari meninggalkan ruang tamu. Taemin mengajakku untuk pindah saja ke ruang tengah. Umma hyeseung sedari tadi sudah meninggalkan kami, sejak aku menolak tawarannya. Mungkin dia masuk kamar.

“ada apa sih hyung?” taemin bertanya lagi.

“akan aku jelaskan semuanya di rumah nanti. Tapi kau harus berjanji untuk tidak berpikir apapun tentang hal ini! Jangan berpikiran buruk tentang aku atau apapun. Jangan benci aku karna ini bukan salahku. Mengerti?”

“ne hyung” ucap taemin pasrah. Dia memang selalu begini. Dia selalu nurut padaku karna dia juga menganggapku sebagai appanya juga, bukan hanya sekedar hyungnya saja.

“nih suratnya” hyeseung datang dengan secarik kertas lusuh ditangannya. Aku baca dan.. itu memang surat dariku!!!! Itu surat dariku! Ya Tuhan, baiklah taemin-ah tolong persiapkan hatimu karna sebentar lagi aku akan memberitahumu sesuatu yang mungkin akan membuatmu sakit hati. Walaupun aku tidak akan memberitahumu bahwa aku akan merebutnya darimu, tapi pasti kau akan mengerti.

“apakah kau tau hyeseung…” aku ingin dia tau yang sebenarnya bahwa aku adalah choi minho-nya.

“apa?” tanyanya heran.

“aku…”

“hyeseung!!!” ummanya memanggil. Lantas hyeseung langsung berlari ke arah kamar ummanya. Aku permisi pulang tanpa pamit kepada hyeseung ataupun ummanya, aku hanya mengatakan ini kepada taemin dan membawa surat tadi.

Aku tidak ingin berada disana lama-lama. Hatiku sakit. Ini adalah tetesan air mata untuk ke 4 kalinya seumur hidupku. Pertama ketika ummaku meninggal, kedua ketika hyeseung meninggalkanku untuk pergi ke Tokyo, ketiga ketika appaku meninggal, dan keempat ketika aku sudah mengetahui semuanya bahwa dia adalah hyeseung-ku.

Seharusnya aku senang, karna aku sudah bisa bertemu dengannya. Tapi bagaimana bisa aku senang kalau ternyata dia sudah menjadi pacar adikku sendiri? Hatiku sakit. Aku menangis seperti namja tidak berdaya. Aku cengeng aku tau! Tapi jika kau menjadi aku, apa yang akan kau lakukan? Kau pasti akan bingung antara merebutnya atau merelakannya.

Kau sangat mencintainya, kau ingin merebutnya tapi dia adalah pacar adikmu sendiri walaupun kau tau kau lebih awal bertemu dengannya. Tapi apakah pertemuan seperti itu berguna? Tidak! Lalu apa yang akan kau lakukan? Merelakannya? Oke, apakah hatimu siap untuk merelakannya? Selama lebih dari 13 tahun kau sudah mencintainya sampai-sampai tidak bisa untuk memberi kesempatan kepada yeoja siapapun untuk menempati hatimu.

Sekarang aku bertanya APA YANG HARUS AKU LAKUKAN???? Aku mencintai hyeseung dan tidak ingin kehilangannya. Aku juga mencintai taemin-ah sebagai adik kandungku sendiri. Dia adalah satu-satunya saudara kandungku. Dan aku juga tidak ingin kehilangannya! Aku bingung! Kau tau? Baru kali ini aku dihadapi dengan permasalahan seperti ini! Jadi wajar jika aku tidak bisa mengatasinya.

Lalu sekarang aku harus cerita kepada siapa? Tidak mungkin kepada donghae-hyung karna sekarang aku adalah pacar adiknya. Apalagi kepada seoyun. Tidak mungkin aku menceritakan ini kepadanya.

Ke paman? Tidak tidak! Aku tidak mau! Bibi? Aku juga tidak mau! Aku ingin menceritakan semuanya ini kepada umma, tapi umma sudah tidak ada. Lalu bagaimana? Percuma saja aku menceritakan ini di depan makamnya, dia mungkin bisa mendengar. Tapi dia tidak bisa menjawab. Lalu bagaimana? Sungguh aku sangat bingung!

Hyeseung atau Taemin?

-minho POV end-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s