Sadness Part 5

Standard

Author : Nisa Ayu Thayalisha Hadi (Nam Hyen Hyo)

Cast :

Cho Kyuhyun

Nam Hyen Hyo

Jang Hye Ri

Lee Jonghyun (CN BLUE)

Title : Sadness Part 5

Length : on going~

Genre : Romance, Angst

Rating : PG-13

Disclaimer : The casts are belong to God, and this Fan Fiction is belong to me kekekeke~ i own this plot ok?

Note : This is pure my imagination.

Credit Poster : cutepixie@darkreflection.so-pink.org

===============================================================

 

Preview

“Hye Ri bilang kau tidak ada sejak pagi. Dan ini sudah jam 8 malam. Kau sama sekali tidak mengabariku bahwa kau pergi. Kau pergi seharian tanpa pengetahuan suamimu. Ponselmu kau matikan. Aku tidak tahu apa maksudmu sampai me-non-aktifkan ponselmu. Dan tiba-tiba saja kau pulang dengan seorang pria yang tidak ku kenal. Kau tau bagaimana gelisahnya perasaan suami saat menunggu istrinya pulang? Dan saat perasaan lega bercampur senang itu muncul ketika melihatmu turun dari mobil -yang artinya kau sudah pulang- itu muncul, kau membuatku kesal saat aku sadar bahwa kau pulang dengan seorang pria. Bukan wanita. Apakah itu yang kau maksud teman? Pergi seharian dengannya sampai malam dan mungkin sampai membuatmu melupakan keberadaan suamimu?”

“Aku tidak tau apa maksudmu pergi tidak izin denganku, pulang dengan lelaki lain dan lalu kabur dari rumah tanpa seizinku lagi. aku tidak tau apa itu karna kau bosan denganku, marah denganku, atau apalah. Tapi satu hal yang harus kau tau Hyen-ah! aku suamimu. 5 tahun aku mengenalmu. 3 tahun aku berstatus sebagai suamimu, tapi baru kali ini aku melihat sikapmu yang seperti ini. Dan satu kata untukmu saat ini atas semua perbuatan yang telah kau lakukan : Benci! Ya, aku benci dengan semua ini Hyen-ah! tidak ada alasan spesifik yang membuatku tidak ragu akan sikapmu! Aku bingung! Aku bingung kenapa kau seperti ini! Jika kau muak padaku, katakan!!! Kau bukan satu-satunya istriku, kau mengerti?! Kau mendengarkan?!”

“Jangan hanya menangis! Aku benci tangisanmu!”

Tuhan, aku tidak tau semuanya akan menjadi sefatal ini. Aku mohon, lenyapkan semua ini. Jadikanlah ini hanya sebuah mimpi buruk yang pernah ada dalam hidupku. Kembalikan Cho Kyuhyunku.

=================================================================================

“Oppa, ayo kau cubit aku balik!” seruku sesaat sesudah mencubit pipi Kyuhyun. Aku ingin kita layaknya pasangan yang sama-sama jahil, tapi jawaban Kyuhyun membuatku lebih senang daripada hanya sekedar ‘pasangan yang sama-sama jahil’ “Aku tidak akan menyakiti wanitaku, Nam Hyen Hyo. Aku tidak akan pernah main fisik denganmu. Sayang-sayang sekali. Kau ini kan sudah jelek, nanti tambah jelek” ejek Kyuhyun di akhir kalimat. Bukannya kesal, aku malah tersenyum salah tingkah. Sebaik inikah kau menciptakan seorang pria, Tuhan?

Aku tersenyum di tengah tangisanku. Mengingat kejadian saat kami masih berpacaran. Kata-katanya yang dulu selalu ke genggam dan ku jadikan patokan semangatku, kini telah terhapus sia-sia. Tidak ada lagi janji Kyuhyun untuk tidak main fisik denganku. Baru saja Kyuhyun menampar pipiku. Sakit. Rasanya pedih Tuhan, sangat pedih. Bukan pedih di pipiku yang saat ini aku rasakan. Tapi pedih di dasar hatiku. Rasanya seperti teriris oleh pisau, bukan luka yang besar, tapi luka kecil yang membawa kepedihan terus menerus.

Tuhan, beginikah balasan yang engkau berikan padaku atas semua pengorbananku? Beginikah kau membalas perasaan orang yang mencintai suaminya dengan setulus hati tanpa pernah ada niat untuk menyakitinya?

Air mataku terus mengalir deras, tidak peduli dengan kondisi fisikku yang sudah memberontak karena menggigil. Aku kedinginan. Tertidur dilantai tanpa ada selimut. Tanpa ada kehangatan. Tanpa ada pelukan hangat dari Cho Kyuhyun. Tapi aku terus mencoba untuk bertahan, aku sudah tidak memiliki tenaga lagi untuk bangun, apalagi harus sampai berjalan menuju kasur. Aku terus menggeliat menggigil di lantai sampai akhirnya aku merasakan hembusan terakhir nafasku malam itu yang membawa aura kedinginan menusuk tulangku.

AUTHOR POV

Kyuhyun menggebrak pintu kamarnya –Kamarnya dan Hye Ri- Hye Ri sontak kaget melihat amarah Kyuhyun yang begitu terasa di dalam ruangan itu. Matanya menyorot kosong pada bawah ranjang kasur. Tangannya mengepal dengan sempurna tanpa celah. Dan sesaat kemudian dia berteriak sambil memukul pintu. Hye Ri memekik, takut bercampur bingung. Dia mengintip Kyuhyun dari balik celah matanya, tidak berani melihat Kyuhyun dengan seluruh matanya. Kyuhyun berjalan mendekat, duduk di pinggir ranjang. Tangannya bertumpu pada lututnya dan kedua telapak tangannya Ia gunakan untuk menutup wajahnya. Posisi orang frustasi.

Sebentar, Kyuhyun menghela nafas panjang dan menurunkan kedua tangannya dari wajah, kemudian bergumam dengan pelan “Izinkan aku tidur disini. Semalam saja. Denganmu.”

Mata Hye Ri membesar, kupingnya serasa tuli sesaat, otaknya serasa tidak bekerja dan semua saraf di tubuhnya serasa mati. Kyuhyun berbalik badan menatap Hye Ri yang tengah bengong tanpa Ia sadari sendiri “Ya! Boleh tidak?!” bentak Kyuhyun menyadarkan Hye Ri dan membuat Hye Ri kembali pada bentuk wajahnya yang semula. Sambil menggaruk rambutnya yang tidak gatal dan sedikit gugup, Ia mengangguk ragu. Ragu akan sikap Kyuhyun yang tiba-tiba ingin tidur sekamar dengannya. Di satu sisi, Ia merasa bersalah karena Ia masih sangat mencintai Jonghyun dan takut jikalau Jonghyun tahu mengenai hal ini. Tapi disisi lain, Ia merasa ada gejolak di dalam hatinya. Bergetar. Ia merasa denyut jantungnya berdetak dengan cepat tanpa tempo yang jelas.

Belum selesai Hye Ri berpikir panjang dan melamun, memikirkan beberapa resiko yang akan terjadi dengannya atas semua isyarat jawaban bodohnya, Kyuhyun sudah beranjak ke atas kasur dan masuk dalam selimut. Tidur menyamping, membelakangi Hye Ri. Hye Ri menatap punggung Kyuhyun yang hanya dibalut oleh baju putih polos tipis serta menerawang dengan seksama. Matanya Ia gerakkan dari ujung rambut Kyuhyun sampai ke tengkuk lehernya, memperlihatkan leher putih Kyuhyun yang sempurna sampai ke bentuk bahunya yang bidang. Lekuk otot punggungnya yang terlihat akibat baju putih polosnya, membuat Hye Ri meneguk lidah namun sedetik kemudian tersenyum canggung. Ia memerosotkan badannya yang tadi sedang menyandar pada dipan kasur dan segera masuk selimut. Tidur menyamping. Menghadap Kyuhyun. Matanya terus memperhatikan setiap lekuk tubuh Kyuhyun dari atas sampai batas pinggangnya. Karna hanya itu yang tidak tertutup oleh selimut. Tanpa sadar, satu dua patah kata terucapkan dari mulutnya “Tampan. Nae Nampyeon.” (suamiku)

                                                                        ***

Esok paginya, Kyuhyun menggeliat dan terbangun. Menyadari bahwa yang disampingnya bukanlah Hyen Hyo, tapi Hye Ri. Dia hanya tersenyum sinis sambil menyibakkan rambutnya keatas. Menghela napas dengan penuh sesal kemudian bangkit dari kasur dan menuju kamar mandi.

Menyadari akan kepergian Kyuhyun begitu saja, Hye Ri terduduk. Ia sudah bangun sejak tadi, hanya saja Ia ingin melihat reaksi Kyuhyun saat bangun dan mendapati bahwa yang disampingnya adalah dirinya, bukan Nam Hyen Hyo. Tapi Kyuhyun tidak melakukan apapun, bahkan bergumam sedikitpun tidak. Hye Ri tersenyum menyadari letak kesalahannya. Untuk apa dia berharap? Ia hanya berstatus sebagai istri Cho Kyuhyun. Bukan Istri sesungguhnya, bahkan Ia sendiri yang pernah mengatakan hal itu pada Kyuhyun, Hyen Hyo dan juga Jong Hyun. Hye Ri tersenyum miris, mengingat Ia masih memiliki Jong Hyun yang sudah sangat mencintainya bahkan rela melihatnya menikah dengan orang lain asal dia bahagia. Tapi entah mengapa, perasaannya ke Jong Hyun semakin hari semakin memudar diganti oleh…. “Ah…! Nae molla!” teriak Hye Ri kecil saat otaknya memikirkan hal yang sesungguhnya Ia sendiri masih belum mengetahui betul apa itu.

Hye Ri keluar kamar, melihat ke sekeliling, mencari sosok wanita yang biasanya sudah stand by di dapur, memasakkan sarapan untuk suaminya. Namun sosok wanita itu, tidak Ia temui. Ia bergegas menuju kamar Hyen Hyo. Sambil menguap, Ia membuka knop pintu kamar Hyen. Masih sambil menutup mulutnya, matanya terbelalak melihat siapa yang tengah tergeletak di lantai. Matanya sembab. Ada lingkaran hitam yang benar-benar terlihat jelas di bawah matanya. Itu terlihat sangat jelas bahkan saat Ia sedang menutup matanya. Bibirnya biru, kering, dan sedikit mengkerut. Hidungnya memerah, dan wajahnya pucat. Dengan sigap Hye Ri langsung memegang lengan Hyen Hyo. Namun, yang didapati adalah sebuah kekagetan –lagi-lagi- Ia merasakan betapa dinginnya tangan Hyen Hyo. Ia melihat dengan jelas, dari ujung mata Hyen Hyo sampai ke ujung telinga, terlihat bekas air mengalir. Dan Ia tahu betul bahwa Hyen habis menangis. Dan menangis semalaman.

“Unnie!!!” Teriak Hye Ri sambil menepuk pipi kiri dan kanan Hyen Hyo dengan pelan. Tidak ada gerakan sama sekali dari Hyen Hyo. Hye Ri semakin gemetar dan bingung. Dengan seluruh tubuhnya yang sudah gemetar dan mata yang memanas, dan otaknya yang sudah dipenuhi dengan seluruh kepanikan, Ia bingung harus melakukan apa. Ia menggigit jari telunjuknya dan mencoba untuk berpikir. Tapi percuma, semuanya seperti terhambat. Tanpa ada lagi yang bisa Ia pikirkan, dengan refleks Ia berteriak “AAAAAAAA! OPPA!!!!”

                                                                        ***

“Oppa, apa sebaiknya kau tidak pulang ke rumah saja? Kau harus istirahat, aku tau kau lelah. Biar saja aku yang akan menemani Hyen Unnie disini” seru Hye Ri saat melihat Kyuhyun sedang memijati pelipis matanya.

“Begitukah? Baiklah. Jika ada apa-apa dengan Hyen Hyo, segera hubungi aku” jawab Kyuhyun dan segera beranjak dari sofa yang Ia duduki. Tanpa ada kontak fisik dengan Hyen Hyo, Kyuhyun melangkah keluar kamar rawat inap Hyen Hyo. menutup pintunya dengan sedikit gebrakan. Dan tanpa ada yang mengetahui, Hyen Hyo sebenarnya sudah sadar, dan sebulir air mata mengalir dari matanya.

“Dulu Kyuhyun tidak seperti ini. Ini bukan Kyuhyunku, kembalikan Kyuhyunku” seru Hyen Hyo dalam hati. Rasa nyeri yang muncul dihatinya sekarang sudah bisa mengalahkan rasa berdenyut-denyut di kepalanya yang sedari tadi semakin lama terasa semakin sakit dan nyata.

“Jeongmal, oppa? Ne, aku akan segera kesana J tunggu aku oppa!” seru Hye Ri.

Terdengar suara pintu 2 kali, tanpa Ia harus melihatnya, Ia sudah tahu bahwa itu adalah suara pintu terbuka lalu tertutup kembali. Dengan perlahan Hyen Hyo membuka matanya dan tidak mendapati seorang pun tengah ada di ruangannya. Tidak tanggung-tanggung, air mata berdesakan ingin jatuh dari matanya, semuanya menggenang di pelupuk matanya dengan indah. Bercahaya. Sekali Ia memejamkan mata, berbulir-bulir air mata terlepas dari pelupuk matanya dan terjatuh membasahi pipinya.

Lagi-lagi pintu terbuka dan beberapa orang masuk ke dalam ruangannya. Dokter dan 2 suster. Melihat Hyen Hyo yang sedang menangis, sang Suster yang begitu perhatian langsung menanyakan keluhan yang dirasakannya, “Nyonya Nam, apa ada masalah? Ada yang kau rasakan?” dengan lemah Hyen Hyo menjawab “Tidak suster, terima kasih. Aku hanya merasa kepalaku sakit sekali” keluh Hyen Hyo. Ia menyadari betul bahwa Ia berbohong. Sekalipun kepalanya sekarang memang terasa sakit sekali, tapi ada satu lagi dari anggota tubuhnya yang merasakan nyeri berlebihan, hatinya.

HYEN HYO POV

“Suamimu kemana Nyonya?” tanya sang dokter sambil memeriksa, aku tersenyum kecut dan bersikap dengan tenang seolah tidak terjadi apapun “Dia sedang pulang sebentar dok, ingin mengambil baju ganti” ucapku berbohong lagi.

Kau tau? Jika ada olimpiade berbohong, aku bersumpah dan aku sangat yakin, pasti aku adalah juara pertamanya!

“Apa kau merasa perutmu mual?”

“Aku selalu mual setiap melihat makanan, dok. Maka dari itu makanan ini masih utuh” jawabku sambil menunjuk makanan yang telah diberikan oleh perawat beberapa jam lalu. Dokter mengangguk mengerti dan melepaskan stetoskopnya “Bisakah kau menghubungi suamimu dan menyuruhnya segera datang? Ada yang ingin aku bicarakan dengannya” Menghubungi Kyuhyun?! Sesaat aku tidak bisa menjawab. Hanya diam dan menatap kosong ke atas. Ke langit-langit rumah sakit. Tidak tahu apa yang harus ku katakan dan ku lakukan.

“Nyonya….” suara sang dokter membuyarkan lamunanku dan dengan tidak yakin aku mengangguk “nde, uisa” (uisa = dokter).

Ia tersenyum penuh arti padaku dan berkata “Cepat sembuh Nyonya, aku tau kau adalah orang yang kuat” aku tersenyum pilu mendengar celotehan asalnya. Aku memang kuat uisa. Bahkan aku merasa bahwa aku adalah orang yang sangat kuat. Berkali-kali Tuhan menghujamku dengan berbagai cobaan berat, aku selalu bisa menghadapinya. Aku kuat, namun aku kurang tegar. Terlalu banyak air mata yang aku keluarkan disaat aku sedang menghadapi masalahku sendiri.

“Ah suster…” Aku menahan lengan salah satu suster yang berada di kananku saat Ia sudah berbalik ingin meninggalkan ruanganku. Dengan sekuat tenaga, aku berkata “Bisakah kau membantuku?” dengan ramah suster itu menjawab dengan senyuman khasnya “Tentu saja Nyonya, ada yang bisa saya bantu?”

“Bisakah kau saja yang menghubungi suamiku? Aku tidak bisa lama-lama bicara di telfon. Kepalaku pusing. Aku ingin istirahat. Ini nomornya” Aku meraih ponsel di laci sebelah ranjang rawat inapku dan memberitahukannya nomor Kyuhyun. Suster itu mencatat nomor Kyuhyun di kertas kecil dan tersenyum setelah selesai mencatatnya “Baik, akan segera saya hubungi nyonya, apakah ada lagi?”

“Ne suster. Jika suamiku sudah datang, bisakah kau langsung menyuruhnya datang ke ruangan uisa tanpa harus masuk ke dalam kamarku?” tidak ada lagi senyuman yang terpampang di wajahnya. Kini dahinya mengerut bingung akan permintaanku. Namun karna tidak ingin mencampuri urusan sang pasien yang mungkin menyangkut pribadi masalah pasien, suster itu segera tersenyum lagi dan mengangguk. Aku mengucapkan terima kasih sebelum suster itu benar-benar pergi meninggalkan ruanganku.

Aku bernapas dengan lega. Setidaknya aku masih bisa selamat dari masalahku. Aku masih bisa menghindari untuk tidak berkomunikasi dengan Kyuhyun, berkontak fisik dengan Kyuhyun dan segalanya. Walaupun tadi aku sempat bingung akan permintaan sang Dokter padaku untuk menghubungi Kyuhyun. Aku tidak bisa berhubungan dulu dengannya. Sungguh, hatiku masih terlukai oleh sikap kasarnya kemarin malam. Rasa perihnya di pipiku masih membekas. Jangan pernah tanya akan sakit atau perih yang ada dihatiku. Perih itu akan membekas sampai aku mati. Tidak akan pernah hilang. Ini adalah pertama kalinya Kyuhyun bermain fisik denganku. Menamparku dengan tangannya sendiri. Tidak mengerti kondisiku yang sedang lemah dan membutuhkannya. Sangat membutuhkannya. Aku merindukan orang tuaku, aku ingin menangis di bahu Kyuhyun, menumpahkan segala luapan emosiku disana, menumpahkan seluruh rasa sesalku, menumpahkan seluruh rinduku pada kedua orang tuaku, namun disaat aku sangat membutuhkannya, dia datang dan menyakitiku. Bukan memberikan ketenangan untukku. Dan aku bersumpah dalam hatiku tidak akan pernah melupakan malam itu. Malam dimana Kyuhyun bermain kasar denganku. Untuk pertama kalinya. The worst moment I ever had, God.

                                                                        ***

AUTHOR POV

“Permisi” sopan Kyuhyun saat baru membuka kecil pintu ruangan Han Uisa. Han Uisa membalasnya dengan senyum dan mengangguk, mengisyaratkan Kyuhyun untuk masuk secepatnya dan duduk di hadapannya.

“Ada masalah dengan istri saya?” tanya Kyuhyun langsung, “Ani, ani. Ini bukan masalah. Apa yang kau rasakan pada sikap istrimu akhir-akhir ini?” pertanyaan Han Uisa membuat Kyuhyun mengerutkan keningnya, Ia berpikir bahwa Han Uisa telah mengetahui masalahnya dengan Nam Hyen Hyo malam lalu. Tapi tidak mungkin, sanggahnya. Hyen bukan orang yang mudah menceritakan masalahnya pada seseorang.

“Sedikit… eung, aneh?” Entah mengapa, Kyuhyun menjawab pertanyaan Han Uisa dengan ragu, Ia menyelidiki raut wajah Han Uisa yang tersenyum. Ini aneh. Pikir Kyuhyun. Kyuhyun menyipitkan matanya, menatap tajam pada Han Uisa, menyelidiki senyuman apa yang dia keluarkan, apa maksudnya?

“Kau tidak pernah merasakan perubahan sikap pada istrimu sebelum-sebelumnya?” tanya Han Uisa membuat Kyuhyun semakin bingung. Kyuhyun menghela napas berat dan menyandarkan duduknya. Melipat kedua tangannya di depan dada.

“Apa maksudmu? Katakan yang jelas! Aku masih dalam ruang lingkup emosi! Karna aku baru saja emosi, emosiku belum reda!” seru Kyuhyun dengan nada sedikit tinggi, tidak peduli pada siapa Ia sedang berbicara sekarang. Ia masih kesal dengan Hyen, ditambah dengan sang dokter yang tidak jelas saat berbicara. Membuatnya semakin bingung dan menambah tingkat emosinya.

“Baiklah. Tapi aku harap kau tidak akan lagi emosi seperti ini pada istrimu. Istrimu sedang stress, kau tau?”

“Stress?!” kaget Kyuhyun dan membenarkan posisi duduknya, semakin maju ke depan.

“Dia mengandung, Tuan Cho. Dia stress karena merasa aneh pada dirinya. Yang tiba-tiba perutnya sering mual, yang tiba-tiba sering merasa emosi sendiri, segala sikap yang aneh-aneh akan muncul di dirinya. Dengan dia yang masih bingung dengan perubahan sikapnya, kau seharusnya tidak boleh emosi seperti ini. Dan saya yakin, ada masalah lagi yang membuat dia semakin stress. Entah apa, Ia juga tidak ingin meceritakannya padaku, tapi saya yakin ada satu masalah berat yang mengganggu pikirannya. Apalagi ditambah kondisi istrimu saat tadi pagi di bawa kesini, tubuhnya panas tinggi. Bibirnya biru, wajahnya pucat, matanya hitam, ada apa? Ini tidak baik bagi kandungannya” Kyuhyun hanya bisa membelalakkan matanya dan memasang telinganya dengan benar, berharap Ia tidak salah mendengar. Berharap Ia sedang tidak bermimpi. Walaupun Ia masih sangat kesal pada Hyen, tapi tidak bisa dipungkiri kalau di dalam hatinya, kini Ia merasa senang, sangat senang, tidak bisa diucapkan dengan kata-kata. Impiannya selama ini bersama Hyen sudah terwujud. Hampir saja Kyuhyun menangis haru, tapi Ia segera menyadarkan dirinya sendiri dari lamunannya.

“Neo Jeongmal, uisa? Nae anae, hamil?” tanya Kyuhyun semangat, Han Uisa hanya mengangguk sambil tersenyum. Kyuhyun ikut tersenyum lega. Di awang-awangnya, setelah ini Ia akan kembali ke kamar rawat inap Hyen, meminta maaf padanya dan memberitahunya kabar yang sangat-sangat baik padanya.

“Baiklah uisa, kamsha hamnida. Boleh saya permisi sebentar dan menyusul istriku di kamar? Aku harus memberitahunya kabar ini!” ujar Kyuhyun.

“Silahkan, Tuan Cho” Han Uisa ikut berdiri saat Kyuhyun pun berdiri. Han Uisa mengulurkan tangannya dan disambut dengan segera oleh Kyuhyun “Selamat, Tuan Cho”

                                                                        ***

HYEN HYO POV

“Oppa, aku sakit”

“Wae hyen-ah? aigo, badanmu panas sekali! Kau harus ke dokter! Ppali wa jagi! Kau sudah makan? Atau kau ingin makan dulu? Hm, atau—“

“Sudahlah oppa, aku baik-baik saja”

“Badanmu panas! Kau bilang ini baik-baik saja?! Hyen-ah, jangan bodoh! Ayo ke dokter!”

Lagi-lagi otakku memutar memori tentang kita. Tentang aku dan Kyuhyun. Dulu. Ya, dulu. Tuhan, aku mohon kembalikan Kyuhyunku. Air mata yang sedari tadi menetes setetes demi tetes, kemudian mengalir deras, tetap sama, seakan air mataku tidak akan pernah ada habisnya. Semakin aku menangis, semakin pusing rasanya kepalaku. Tapi persetan dengan semuanya. Aku hanya butuh Cho Kyuhyun. Bukan obat. Cho Kyuhyun adalah obatku. Tapi tidak akan ada yang mengerti satu orang pun bahkan mungkin Kyuhyun pun tidak menyadarinya.

Aku lelah Tuhan, aku lelah hidup di duniamu. Aku lelah menjadi mainanmu. Aku lelah mendapati rasa sakit terus menerus. Aku ingin kembali ke dalam pelukan Kyuhyun, Tuhan.

“Huh, bodoh! Dia menyuruhku datang padanya saat aku tidak menangis, mana bisa! Bahkan aku terus menangis sejak kemaren tanpa henti. Kyuhyun bodoh!” gerutuku sendiri sambil mencabut selang infus di tanganku. Aku sedikit berteriak kecil karena sakit. Dengan lemas, aku bangun dari ranjang dan turun. Mencari tasku, namun di ruangan ini tidak ada apa-apa selain aku dan makanan. Baiklah, ini bodoh memang jika mereka –hyeri dan Kyu- membawaku ke Rumah Sakit beserta tasku.

Dengan tertitah-titah, aku mengeluarkan seluruh sisa tenagaku, berjalan menuju pintu. Aku muak disini Tuhan. Baru setengah jalan, perutku terasa mual. Tanpa menghiraukannya, aku terus berjalan sampai keluar rumah sakit tanpa ada satu orangpun yang curiga karna aku masih memakai pakaian rumah, bukan pakaian rumah sakit. Beberapa perawat menanyai keadaanku yang berjalan dengan lemas dan wajah pucat, tapi aku selalu memberikannya senyuman agar tidak ada yang khawatir.

Aku menyetop sebuah taksi dan menaikinya. Menyebutkan sebuah nama jalan pada sang supir kemudian terdiam selama perjalanan. Memikirkan akan hubunganku dengan seorang pria yang tidak akan pernah aku hapus nama dan senyumannya di dalam otakku. Senyuman manisnya yang selalu kuingat. Nama yang paling selalu kuingat dimanapun aku berada. Muka yang selalu muncul di hadapakanku walau hanya sebatas bayangan saat aku merasa lelah atau mulai bosan. Sesekali aku tersenyum, tapi diikuti dengan aliran air mata dari mataku.

Sial! Kelenjar air mataku bekerja lagi!

“Aigo! Aku kan tidak membawa dompet!” aku menepak dahiku saat ingat bahwa disini, sekarang aku hanya membawa diriku sendiri dan ponselku satu-satunya. Segera saja aku mencari nomor kontak yang sekiranya bisa dihubungi. Aku mencari dan terus mencari sampai akhirnya terlihat sebuah nama, secara sepintas ‘Cho Kyuhyun’ aku memandanginya cukup lama dengan mata yang berlinang air mata. Tersenyum menahan nyeri di hati yang sudah mulai menyeruak kembali. Air mata yang kini menggenang di pelupuk mataku, sudah berdesakkan ingin keluar. Aku memejamkan mataku untuk meringankan beban yang ada di pelupuk mataku. Semua buliran kristal itu jatuh, tepat di atas layar ponselku. Menutup nama Cho Kyuhyun. Membuat nama ‘Cho Kyuhyun’ terlihat dengan tidak jelas dan sedikit berbayang.

Aku segera mengelap layar ponselku dan mencari nomor Jonghyun. Entah kenapa, hanya dia yang kini terlintas di otakku.

“Ne, yeobosaeyo Jonghyun-ah, neo eoddiga?” tanyaku langsung.

“Noona, wae? Aku sedang di jalan, baru saja ingin pulang. Waeyo?”

“Bisakah kau menjemputku di depan rumahku Jonghyun-ah? jaebal…. aku butuh bantuanmu!” rengekku, Jonghyun dengan suara riang, lembut dan beratnya, mengiyakan dan menyuruhku untuk menunggunya. Seperti tidak ada rasa curiga atau khawatir dari nada bicaranya, pasti dia belum tahu jika aku masuk rumah sakit.

Aku langsung meng-instruksikan pada sang supir untuk memutar balik arah jalannya menjadi ke rumahku. Padahal niat awalnya adalah, aku ingin kembali ke rumah orang tuaku dan meminta maaf. Mengatakan bahwa aku sedang ada masalah dengan suamiku dan berharap mereka bisa menerima aku, meluluhkan hatinya dengan rengekkan manjaku yang tidak pernah aku keluarkan lagi setelah beberapa tahun tidak tinggal bersama mereka. Menganggapku sebagai anaknya, menyayangiku sebagaimana mereka menyayangiku seperti waktu itu. Seperti beberapa tahun yang lalu saat aku masih belum tumbuh menjadi seseorang yang pembangkang dan rela membentak orang tuaku hanya demi Cho Kyuhyun. Seorang pria terbaik yang pernah aku kenal. Seorang pria yang aku yakin sekali, dia sangat mencintaiku. Seorang pria yang pasti menyebutkan namaku dalam doanya juga. Seorang pria yang rela membelaku mati-matian sekalipun dia harus meninggal karna membelaku. Cho Kyuhyun. Seorang pria yang tiba-tiba meledakkan amarahnya kemarin malam, dan membuatku sedikit stress untuk memikirkannya.

Tuhan, seandainya Engkau memang masih menyayangiku, tolong buat badanku terasa enteng untuk dibawa menghadap Kyuhyun. Menghadap suamiku, meminta maaf atas segala kesalahan yang telah kuperbuat dengan tidak sengaja dan tanpa niat. Menangis di depannya, merasakan kembali pelukan hangatnya, merasakan kembali bagaimana lembutnya Ia mengelus rambutku dari ujung kepala, merasakan bagaimana berat suaranya saat Ia berusaha menenangkanku. Merasakan kedamaian dalam duniamu. Merasakan bagaimana aku benar-benar terlahir sebagai orang yang patut untuk bahagia, bukan seperti ini! Yang selalu di hadapkan oleh berbagai masalah seolah-olah kau tidak membutuhkan aku di dunia ini dan tidak ingin aku hidup lebih lama lagi di dunia-Mu!

Sekalipun kau membuat Kyuhyun menjadi jahat sekali padaku, bahkan aku mati di tangan Kyuhyun, aku rela Tuhan. Yang aku miliki sekarang hanya dia seorang. Seseorang yang bisa menyayangiku dengan setulus hati sebagai pengganti orang tuaku yang sudah melupakanku, hanya dia, Cho Kyuhyunku. Jadi aku mohon jangan ambil Kyuhyunku, Tuhan.

Lagi-lagi air mataku turun dengan seenaknya tanpa kesadaranku. Aku menyandarkan punggung beserta kepalaku pada jok mobil dan menangis sepuasnya. Mengeluarkan isakan-isakan kecil sambil menutup mulutku. Membiarkan seluruh air mataku tertumpahkan dengan derasnya agar aku merasa lega walaupun aku tahu dengan cara seperti ini tidak akan pernah membuatku lega, selain aku menghadap langsung pada Kyuhyun dan memohon maaf padanya.

Aku menengok ke luar jendela. Beberapa pasangan berjalan dengan bahagianya di jalan. Tertawa, bergandengan tangan, tersenyum malu, bersikap manja, dan sebagainya. Pikiranku seolah terbawa ke dalam masa lalu, saat dimana aku dan Kyuhyun masih dalam masa pacaran dan masih merasa bahwa dialah satu-satunya orang yang paling sempurna, seluruh dari apa yang Ia miliki, aku menyukainya. Merasa bahwa dia benar-benar sempurna tanpa cacat setitikpun. Walau sampai sekarang, penilaian itu tetap bertahan, tapi ada beberapa missing puzzle di dalam dirinya. Ia tetap mencintaiku, Ia tetap menjadi Kyuhyunku yang sempurna, tapi Ia suka emosi akhir-akhir ini. Entah dengan cara mendiamkanku atau dengan cara membentakku dengan kasar seperti kemarin malam.

“Mianhae agassi, tapi Anda sudah sampai di depan tempat tujuan anda” ucap sang supir sopan sekaligus menyadarkanku dari lamunan masa laluku. Aku tersenyum canggung dan menyuruh sang supir untuk parkir di depan rumah tetanggaku, bukan di rumahku.

Sambil menunggu Jonghyun, aku kembali melayangkan pikiranku kembali ke masa lalu.

“Hyen-ah, jika suatu hari nanti aku dihadapkan oleh dua pilihan apakah aku harus mati demi kebaikanmu ataukah aku akan tetap hidup tapi kau menikah dengan orang lain, aku akan memilih untuk mati demi kebaikanmu. Wae? Lebih baik aku tidak pernah melihatmu menikah lagi dengan siapapun itu selain aku. Neo arasseoyo?”

aku tersenyum pahit. Itu jawabanmu oppa. Seandainya dulu aku juga berkata seperti itu, pasti aku sudah mati sekarang.

Tapi sayangnya, andai saja kau memberiku pertanyaan seperti itu, aku tidak akan memilih untuk mati, tapi aku memilih hidupku seperti sekarang. Tetap hidup tapi kau menikah dengan orang lain. Tidak apa-apa, oppa. Alasannya adalah karena aku masih ingin memandangi wajahmu lebih lama lagi. memiliki lebih lama lagi. berstatus sebagai istrimu lebih lama lagi. dan segalanya yang bersangkut paut denganmu. Aku rela oppa, asal kau masih tetap menjadi milikku (status) walau sekalipun kau sudah tidak mencintaiku lagi.

“Tunggu sebentar pak” kataku saat melihat mobil Jonghyun telah datang, aku segera keluar dan menghampiri Jonghyun.

“Wae noona?”

“Aku pinjam duitmu untuk membayar taksi, dan akan aku ceritakan semua masalahku padamu!” jelasku.

“Begitukah? Baik.” Jawab Jonghyun sambil memberiku beberapa lembar uang won padaku. Aku segera memberikannya pada supir taksi itu dan beralih menaiki mobil Jonghyun.

Aku menghela nafas lega di sertai dengan satu tetesan air mata yang tersisa di pelupuk mataku, terjatuh. Kemudian aku langsung tertawa sambil menghapus tetesan air mata itu “hahaha, padahal aku sedang tidak ingin menangis, tapi masih saja ada satu butir air mata yang terjatuh. Ini ajaib bukan?” kataku seolah-olah sambil bergurau pada Jonghyun, walau dengan nyatanya dapat kurasakan bagaimana parah sakitnya hatiku saat ini. Merasakan nyeri yang amat sangat dan perih.

“Noona, aku tidak butuh kata-kata naifmu! Ceritakan masalahmu!” ucap Jonghyun dengan tegas tanpa melihat ke arahku. Aku meliriknya sekilas dan tersenyum. “Masalahku? Kau yakin ingin mendengarnya? Mendengar masalahku?” tanyaku.

“Iya Noona, masalahmu!”

“Hahaha, aku yakin kau tidak akan pernah sanggup untuk mendengar keluhanku atas seluruh masalahku. Kau tau? Masalahku ini sangat banyak. Setiap yang aku lakukan di dunia ini, selalu membawa masalah pada diriku sendiri!!” gertakku kesal.

“Aku siap mendengar beribu-ribu bahkan jutaan masalahmu Noona!” gertak Jonghyun tidak kalah kasarnya.

“Oh, begitukah?”

“Ne, sekarang ceritakan masalah utama yang sedang kau hadapi saat ini”

“Semuanya tidak akan terlepas dari Cho Kyuhyun dan Aku. Kami berdua selalu menjadi pemeran utama pada setiap masalahku!”

“Ceritakan Noona, aku tidak butuh penjelasan tidak jelasmu!”

“Tidak disini Jonghyun-ah! kau mengerti bukan? Aku butuh ketenangan sebentar!!”

“Di apartemenku. kau bisa tidur sebentar disana sebelum meluapkan seluruh masalahmu padaku dan menumpahkan seluruh air matamu dengan sangat derasnya dan isakah-isakan keras yang kau keluarkan dari mulutmu beserta cairan-cairan encer dari hidungmu. Aku mengerti. Sekarang, tenangkan dirimu Noona.” Jelas Jonghyun panjang lebar. Aku hanya mengangguk mengiyakan dan kembali pada pikiranku sendiri.

“Setelah aku menceritakan semua masalahku padamu, kau harus berjanji padaku”

“Apa?”

“Kau harus mengantarku ke rumah orang tuaku dan membantuku untuk membujuk mereka agar bisa menerimaku kembali masuk ke dalam keluarganya, jaebal….” aku memohon dengan mata yang berkaca-kaca “Masalahku sudah sangat banyak, aku tidak sanggup untuk menyelesaikan semuanya sendiri. Aku mohon kau bantu aku dalam menyelesaikan salah satu masalahku. Hanya kau yang aku percaya sekarang setelah Kyuhyun, Jonghyun-ah”

“Aku mengerti. Akan kulakukan sebaik yang aku bisa Noona. Istirahatlah” Ia menepuk pundakku pelan sambil tersenyum. Sedikit membuatku tenang walau ini hanya bersifat sementara. Setidaknya, Ia memiliki senyum yang persis seperti Kyuhyun, memberi candu. Membuatku lagi-lagi mengingat tentang Kyuhyun. Senyumnya yang manis….. terngiang-ngiang di kepalaku bagaikan sebuah foto yang bermunculan satu sama lain.

“Cho Kyuhyun itu…. segalanya—“ gumamku sambil tersenyum miris. Kelenjar air mataku mulai bekerja.

“Dia segalanya—“ potongku “bagiku” sambungku lagi. Kini, kelenjar air mataku mulai bekerja lebih keras lagi sampai membuat mataku sudah di penuhi dengan butiran-butiran air mata yang menggenang. Membuatku tidak bisa melihat seluruh yang ada di sekitarku dengan jelas. Aku memejamkan mataku dengan erat. Beberapa tetes air mata dapatku rasakan. aku tersenyum, tertawa dan kemudian tawaku bercampur aduk dengan tangisanku.

“Aku seperti orang gila jika terus seperti ini!”

Tuhan, buat aku supaya tidak bisa menangis lagi, kau tau? Aku lelah menangis di duniamu. Sudah berapa banyak tetesan yang jatuh di bumi dari mataku? Aku sudah membuat danau di dunia-Mu dengan air mataku Tuhan!

                                                                        ***

Esoknya—

Pagi-pagi sekali aku meminta Jonghyun untuk menagih janjinya. Mengantarkan sekaligus membantuku membujuk kedua orang tuaku agar bisa menerima aku lagi.

Setelah selama semalaman aku menceritakan seluruh masalahku, sampai-sampai hari ini kau bisa melihat dengan sangat sangat jelas bagaimana hitamnya kantung mataku. Bagaimana sipitnya mataku sampai aku seperti orang sedang menutup mata. Tidak ada mata. Semuanya segaris dengan garis wajah. Bahkan aku juga merasa kesulitan untuk melihat dan membuka mataku lebih lebar lagi. aku lelah menangis. Mataku lelah menangis. Seluruh badanku lelah karena menangis.

“Kau yakin akan kembali ke orang tuamu, Noona?” tanya Jonghyun yang masih meragukan keputusanku.

“Sudah kubilang berulang kali Jonghyun-ah, aku yakin akan kembali ke orang tuaku!”

“Tapi Kyuhyun—“

“Entahlah, dia itu bodoh! Sangat bodoh! Dia bilang, aku hanya bisa bertemu dengannya saat aku tidak menangis. Dengan memikirkannya saja, aku bisa menangis, apalagi sampai melihat wajah kejamnya yang menyayat hatiku?”

“Tapi apakah kau tidak akan menyesal nantinya?”

“Tidak” jawabku mantap.

“Seandainya Kyu-hyung tau tempat keberadaanmu dan menjemputmu, menyuruhmu untuk kembali hidup berdua dengannya, apa yang akan kau lakukan?” tanya Jonghyun.

“Jangan tanyai aku dengan berbagai pertanyaan bodohmu Jonghyun-ah, perutku jadi semakin mual!” keluhku saat merasakan kembali mual di perutku. Entah kenapa, aknir-akhir ini aku memang sering merasa mual dan pusing. Ini efek dari berapa lama dan seringnya aku menangis. Itu pasti.

“Baiklah”

                                                                        ***

“Annyeong” aku mengetuk-ngetuk pintu dengan tanganku, sementara itu Jonghyun memencet bel yang ada di samping pintu. “Annyeong haseyo” teriak Jonghyun.

Tiba-tiba ada suara kunci berputar, aku yakin beberapa detik kemudian, pintu ini pasti akan terbuka. Senyumku mengembang lebar dan menatap Jonghyun, mengisyaratkan bahwa aku bahagia saat ini!

“Omma!” aku langsung memeluknya sepersekian detik setelah wanita paruh baya itu muncul di balik pintu rumahnya. Tiba-tiba seorang pria paruh baya keluar dan aku pun langsung berhamburan ke dalam pelukan appa.

“Appa!!!” pelukanku semakin kesini semakin kebawah sampai akhirnya aku berlutut dan memegangi celana ayahku, menangis dengan sederas-derasnya, mengucapkan berbagai rasa penyesalan yang hendak aku lontarkan.

“Ku mohon….. jeongmal mianhaeyo…. appa” aku terisak-isak. Punggungku bergetar dengan hebatnya. Jonghyun membantuku untuk berdiri dan membungkuk sopan pada appa, dia memperkenalkan dirinya, tapi appa terlihat acuh tak acuh padanya.

“Appa…” rengekku. Tapi Ia sama sekali tidak menatapku. Aku menoleh kembali ke umma. “Omma…” tidak ada reaksi. Keduanya sama. Sama-sama tidak menanggapiku.

Tangisanku pun semakin meledak. Jika Jonghyun tidak memegang pundakku, aku sudah yakin pasti tubuhku sudah terjatuh tergeletak dilantai tak berdaya. Kakiku tidak kuat lagi menopang tubuhku. Semuanya terasa lemas. Bahkan air mata yang biasanya mengalir dengan sangat deras dan lancarnya, kali ini susah untuk di keluarkan. Semuanya terasa kering.

“Umma…. Appa….”

“KAMU BUKAN ANAK KAMI! PERGI KAU DARI SINI! ANAK DURHAKA!” bentak appa dengan sangat keras. Jonghyun berusaha melindungiku dengan membawaku ke dalam pelukannya, melindungku di dalam dada bidangnya sambil Ia mencoba untuk membelaku di hadapakan kedua orang tuaku. Tapi reaksinya tetap sama seperti tadi.

Jonghyun menggiringku untuk keluar rumah, membawaku menjauh dari rumahku. Aku memberontak, tapi Ia menggenggam pergelangan tanganku sangat erat, sampai semuanya terasa sakit dan perih.

“Umma…. APPA!!!” teriakku saat Jonghyun menarikku menjauh dari mereka berdua.

“Umma…..” rintihku. “Umma… Jaebal… Jonghyun-ah, jaebal… hiks hiks… jaebal… umma…” suaraku semakin lirih, sampai tidak terdengar. Aku menjatuhkan badanku ke tanah. Menangis dengan sepuasnya dengan tangan yang masih saja dipegang oleh Jonghyun dengan sangat erat tanpa ampun.

“Appa….”

“Umma……” appa mendorong ummaku untuk segera masuk dengan kasar dan membanting pintu rumahnya dengan keras. “APPA!!!!! UMMA!!!!!” teriakku keras. Setelah itu, aku merasa lemas pada seluruh tubuhku. Semuanya terasa sakit ditambah rasa pusing yang menyerang kepalaku dengan sangat dahsyat dan perutku yang terasa sangat mual seperti ingin muntah.

“Ummahhhh…” dengan napas tergesa-gesa aku mengucapkannya. Sudah tidak mampu lagi menangis, bahkan mengucapkan satu kata saja, susah bagiku rasanya.

Jonghyun jongkok di hadapanku. Ia menengok ke kanan dan ke kiri dengan raut wajah kesal, tampan. Kemudian dia menarik tanganku, dengan sekali hentakan, aku kini sudah berada di dalam pelukannya. Hangat, sama seperti pelukan Kyuhyun.

“Jangan menangis lagi Noona, aku mohon! Aku tidak bisa melihatmu seperti ini! Jangan lakukan hal bodoh di depanku, di depan mataku! Jangan menangis di depan mataku! Jangan melakukan tindakan-tindakan yang sekiranya akan melukai fisik maupun batin dan hatimu di hadapanku! Aku tidak sanggup melihatmu tersiksa seperti ini, Noona! Ku mohon dengan amat sangat, jangan lakukan ini lagi!” bentak Jonghyun.

Tiba-tiba suara jadi hening di antara kita. Ia tetap memelukku, mendekapku dengan erat. Aku tetap diam, mendadak bisu dan tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun. Bahkan isakanpun susah untuk aku keluarkan. Semuanya terasa sakit saat aku menggerakkan badanku sekalipun dengan gerakkan kecil yang tidak berarti.

Perlahan-lahan, aku mencoba untuk menutup mataku karna sudah tidak bisa lagi menahan rasa sakit di kepalaku yang sangat amat sakit. Awalnya aku sadar, tapi beberapa detik kemudian, aku sudah tidak bisa merasakan apapun. Aku hanya bisa melihat ruangan hitam tanpa cahaya sedikitpun. Semuanya gelap. Lebih gelap dari hanya sekedar warna hitam.

Tbc—

27 responses »

  1. Kyaaa! Akhirnya keluar jugaaa😄 penasaran sma kyuhyunny stelah tau hyen ilang lg..😀
    lanjuuu thor! Kalo bsa lbih pnjang yahh:-D oya,jgan lama2 ya ngepost’y😀 pnasaran bgt..
    Author fighting😄

  2. waaaa malah tukeran couple disini~ aduuh kasian hyen nya jangan nangis mulu kasian anaknya yg lagi dikandung~
    aduh gue kalo jadi hyen hyo sih gantung diri aja *plak
    ceritanya unpredictable! keep writing~~ ^^

    • hahahaha tapi seru kan? wkwkwk
      Jangan gantung diri dong, dosa dosa entar masuk neraka :p

      Wah, makasih ya^^ hehe, kamu juga keep writing!

  3. kshan hyen krna kyu, ortu ny sampai benci sm hyen.. jd mikir lbh baik hyen sm jong aja dh..dr pd skit hati trus sm kyu n kluarga nya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s