THE GREAT SEIZURE

Standard

Author : Nisa Ayu Thayalisha Hadi

Cast :

Find it by yourself :p

Title : The Great Seizure

Length : Oneshoot

Genre : I dont know~

Rating : PG-13

Note : This is pure my imagination.

Ini adalah salah satu cerita aku yang aku ikutin lomba waktu ada lomba bikin cerpen di SMA 2 Cirebon. Tapi sayangnya aku ga masuk =)) daripada nih cerita aku anggurin, jadi aku pikir, ga ada salahnya juga buat aku publish di blog pribadi aku disini kekekeke. Selamat membaca dan menikmati! Kali ini, aku bukan bikin ff romance, tapi ff penangkapan polisi gitu deeeh. Maaf ya kalau pengetahuan aku ga sebanyak kalian. Maaf juga jika banyak kesalahan pemikiran dalam ff ini. Ini semua murni dari otak aku tanpa ada bantuan googling wkwkwkk. Ngesok banget ya? hehehe, here is it! The Great Seizure! Check this out^^

===============================================================

THE GREAT SEIZURE

“Kerjakan tugasmu! Anggap saja ini adalah ujian terakhirmu dariku!” perintah seorang pria bertubuh jangkung sambil melempar beberapa foto dan berkas ke wanita di hadapannya. Wanita itu hanya tersenyum sinis dan memungut beberapa foto dan kertas yang berserakan ke lantai lalu mengacungkannya sebentar dengan muka angkuh “Aku terima tugas ini!”

***

“Apa kau pikir masalah ini mudah? Mana mungkin atasanmu memberi tantangan seperti ini untuk menjadikanmu orang kepercayaannya!” ujar Dimas –adik Marry- yang mampu membuat Marry berpikir sebentar untuk menjawabnya. Marry mengernyitkan dahinya sambil memijat pelipis matanya.

“Kau tau? Semua tugas yang diberikan oleh Agung –atasan Marry- sialan itu selalu semudah aku membalikkan telapak tangan! Kau tidak percaya dengan kemampuanku? Bukankah kau sudah tahu betul bagaimana kemampuanku selama ini huh?” jawab Marry. Dimas mendecakkan lidahnya kesal. “Ah kak, bagaimana jika masalah ini aku saja yang tangani? Walaupun aku baru masuk akpol, tapi aku ingin mencoba bagaimana caranya memecahkan masalah seperti ini. Sebentar lagi juga kan aku akan menjadi sepertimu!” ujarnya sambil tersenyum.

“Terserah kau saja! Bilang padaku jika kau tidak mampu, jangan merusak rencanaku. Kau mengerti? Ya sudah, aku ada kerjaan lain. Sampai jumpa di rumah, adikku sayang.” jawab Marry tanpa berpikir, Ia tahu betul bagaimana kemampuan dan kecerdasan adiknya maka dari itu Ia membiarkan masalah ini diambil alih oleh Dimas.

Sedetik setelah kepergian Marry, Dimas membuka laptopnya dan mulai menjetikkan jarinya dengan lincah, mengetik sebuah kode rahasia untuk mengakses sebuah situs yang selama ini sudah menjadi pedomannya dalam mencari dan memecahkan semua masalahnya. Sambil menunggu loading, Dimas membuka amplop coklat besar yang tadi Marry tinggalkan.

“Almighty.” Dimas tersenyum sinis. Baginya, tugas ini sama sekali tidak sulit. Untuk melacak keberadaan mereka saja, hanya dengan mengetikkan nama grup mereka di situs rahasianya saja sudah memberikan dia clue dimana keberadaan mereka bahkan sampai semua profile member mereka.

Jari-jari Dimas menari dengan enaknya di atas keyboard laptop pribadinya. Mengetikkan nama ‘Almighty’ di kolom kecil tepat di pojok tengah monitornya. Sedetik kemudian, layar monitornya berubah, menampilkan beberapa foto dan juga semua profile member grup mereka lengkap dengan semua kasus yang telah mereka lakukan.

“Almighty…” ucap Dimas lagi dengan pelan dan sedikit menyindir. “Lihat saja nanti apakah nama Almighty itu masih tetap bertahan saat aku sudah mengusik masuk.” Ia tersenyum sungging dan mulai memperhatikan dengan seksama data-data yang tertera di monitor laptopnya.

Code Name   : MT

Stats               : leader

Ages               : 24 years old

Case               : fired a gun at the bodyguard president’s car wheels

 “Ah! aku menemukan satu kasus! Jadi kejadian 4 tahun lalu saat terjadi kecelakaan besar karena roda mobil presiden yang meledak itu ternyata ulahnya! Tidak ada satupun agen yang mampu memecahkan masalahnya, termasuk NIS maupun NTS. Dan sekarang, aku yang baru saja masuk akpol sudah bisa menyelidiki penyebab kasus besar 4 tahun lalu yang menyebabkan sang presiden meninggal. Tch! Kalau saja 4 tahun lalu aku sudah menjadi polisi, pasti sekarang namaku terkenal!” Beberapa orang yang tengah duduk sambil menikmati makannya, memandang Dimas heran karena Ia berbicara sendiri di depan laptopnya. Tanpa Dimas sadar, seseorang tengah memperhatikannya sejak Ia datang kesini bersama Marry. Matanya yang dilapisi kacamata hitam dapat memanipulasi orang-orang akan tatapannya saat ini.

“MT? Aku harus cari tahu terlebih dahulu siapa orang ini! Si penembak ‘jitu’!” Dimas menutup laptopnya dengan keras dan meninggalkan beberapa uang untuk membayar makanan dan minuman yang telah Ia dan kakaknya pesan. Dengan cepat, Dimas beranjak dari kursinya dan berlari kecil menuju basement. Dan di luar kesadarannya lagi, seseorang yang sedari tadi tengah memperhatikan gerak-geriknya sejak awal, mengikuti laju mobil Dimas dari belakang.

                                                                        ***

“YA! Phoenix, aku dapat berita bagus.” nafasnya terengah, badannya dibungkukkan dan kedua tangannya menyentuh lutut. Sambil mengatur nafasnya yang masih tidak beraturan, Dicky melanjutkan pembicaraannya lagi, demi menjelaskan sebuah kabar penting yang harus di ketahui Gilang, seorang pemuda yang tadi disebut Phoenix sebagai code name-nya.

“Tadi aku sedang di cafe bersama Vivo, lalu aku melihat ada seorang polisi dan adiknya –kurasa sedang merencanakan penangkapan, dengan iseng aku memperhatikannya, dan kau tau—“ sekali lagi Dicky berusaha mengatur nafasnya untuk melanjutkan kalimat selanjutnya. Sementara itu, Gilang yang sudah tidak sabar mendengar penjelasan dari Dicky menendang kursi dengan keras “Cepat katakan bodoh!” teriak Gilang, sang ketua.

“Ah ya. Dia sedang menyelidiki Almighty! Kau masih ingat bukan? Geng segerombolan bocah ingusan yang waktu itu bermasalah dengan kita dan hampir mengancam hidupmu? Geng yang sudah membuat kita hampir masuk bui?!” Gilang menaikkan satu alisnya berusaha mengingat-ingat‘Almighty’ apa yang dimaksud oleh bawahannya ini.

“Almighty? Kau bilang apa tadi? Bocah ingusan? Hey! Mereka lebih tua dari kita! Mereka dominan 24 tahun, sementara kita 21 tahun. Mereka itu bangkotan! Almighty yang kau maksud…. apakah…. si MT dan para anggotanya itu?”

“Yap! Sang ketua, si MT dan para anggotanya!” Dicky menjetikkan jarinya tanda bahwa jawaban Gilang adalah benar.

“Lalu apa hubungannya dengan kita? Memangnya mengapa kalau mereka sedang diincar kalangan polisi?” polos Gilang sambil duduk dan menaikkan dua kakinya di kursi yang lain. Sikutnya bertumpu oleh meja di sebelahnya dan jari-jarinya memainkan alisnya yang sudah hampir tidak terlihat.

“Tch!” Dicky mendecakkan lidahnya kesal “Kita bisa memanfaatkan kondisi ini! Kau tau bukan bahwa Almighty memegang kekuasan di kota ini?”

“Lalu?” tanya Gilang bingung karena masih belum mengerti arah pembicaraan Dicky yang sedari tadi memang belum masuk ke dalam inti.

“Nah! Dengan begitu, kita bisa mendekati polisi itu agar dapat perhatiannya dan kita bisa menjadi orang suruhannya untuk membantu mereka memberantas Almighty. Dengan begini, nama Darken –geng mereka- akan bersih. Dan dengan begitu juga, setelah Almighty menghilang, kita bisa menaikkan posisi kita menjadi penguasa di kota ini!” Dicky tersenyum licik sambil menarik kursi dan kemudian duduk.

“Ah! Tumben sekali kau cerdas, Dragon! Aku suka idemu. Panggil anggota Darken lainnya untuk membicarakan rencana busuk kita.” Gilang menepuk-nepuk bahu Dicky sebentar sebelum benar-benar meninggalkan Dicky di markas Darken. Dicky menaikkan salah satu ujung bibirnya membentuk sebuah senyuman super licik yang tergambar di wajah tampannya. Keloid yang dimilikinya di pipi kanan, menjadi ciri khasnya.

                                                                        ***

“Aku tau dimana markas Almighty!” Dicky memperbesar volume suaranya agar segera mendapatkan perhatian dari Dimas yang sedang berjalan di sekitarnya. Dengan berpura-pura mengobrol dengan Vivo tentang Almighty, mungkin ini bisa memancing Dimas untuk segera menyeret mereka –Dicky dan Vivo- ikut serta masuk ke dalam perangkap yang telah dibuat oleh Dimas untuk Almighty.

“Aku pernah melihat mereka sedang berjalan tengah malam. Sekitar jam 2 malam. Lalu mereka menghabisi para pemuda yang sedang jalan biasa. Memang parah kelakuannya!” Dicky melirik Dimas dengan ekor matanya dan seulas senyuman tersungging di bibirnya. Dicky mengedipkan mata pada Vivo, Vivo mengerti dan segera melanjutkan pembicaraannya “Lalu, karna merasa kasihan dengan pemuda tadi, aku menolongnya. Tapi sebelum membawa pemuda tadi pergi, aku sempat melihat salah satu dari mereka memegang sebuah pistol. Entah apa yang sudah atau akan mereka lakukan saat itu”

“Aku juga per—“

“Ikut aku!” secara tiba-tiba Dimas menarik pergelangan tangan Dicky. Di belakang Dimas, Dicky dan Vivo berjalan sambil menampilkan senyum liciknya masing-masing. Dicky menengok ke belakang, tepat ke arah dimana Gilang dan member lainnya berlindung untuk mengawasi mereka berdua lalu mengacungkan jempolnya tanda misi ini sudah mulai berjalan. The 1st secret mission was completed!

                                                                        ***

“Kau mengerti harus melakukan apa? Aku beri waktu kalian 3 hari untuk dapat menyusup masuk ke dalam Almighty! Akan ada bayaran lebih untuk kalian, tenang saja! Sekarang masuklah, aku akan mengawasi kalian dari sini” jelas Dimas sambil mematikan mesin mobilnya. Dicky dan Vivo segera mengangguk, saat Vivo tengah membuka pintu mobil, Dicky menahan tangannya dan menengok pada Dimas “Ada satu temanku lagi. Namanya Gilang. Aku rasa kita berdua membutuhkan dia untuk mengalihkan perhatian mereka selagi kita berdua tengah mencoba untuk menghancurkannya” usul Dicky yang diikuti dengan anggukan setuju Vivo.

Dimas terlihat sedang menimang-nimang akan keputusan yang baru saja diajukan Dicky. Tidak sampai 3 menit, akhirnya Dimas menyetujui ide Dicky. “Dengan syarat!” kata Dimas lagi “Masalah ini harus selesai dalam waktu 7 hari! 3 hari adalah waktu untuk kalian menyusup masuk dan mendapatkan kepercayaan mereka, 4 hari waktu untuk kalian berusaha memecahkan mereka dan menjebak mereka. Kalian mengerti?”

“Always, babe” jawab Dicky ngaco. Dimas membelalakkan matanya kaget, Ia merasa geli dan langsung mengusir Dicky dan juga Vivo keluar. Di luar, Dicky dan Vivo tertawa terbahak-bahak. Dicky merogoh saku celananya, mencari ponsel untuk menghubungi Gilang.

“Halo, Phoenix. Segera datang ke depan markas Almighty! Jangan lupa penyamaranmu!” yap! Mereka berdua –Dicky dan Vivo- sudah memakai alat penyamaran mereka di bagian kepala. Dengan memangkas rambut mereka dan juga sedikit manipulasi di bagian wajah. Dicky menggunakan kacamata dengan posisi rambut yang sedikit lebih pendek dari sebelumnya. Namun tetap saja keloidnya masih terlihat jelas! Sementara itu, Vivo mencepak pendek rambutnya dan berhasil menghilangkan jejak dirinya sebagai ‘Vivo’ dengan rambut barunya ini.

“Hey kau Tiger, kau seperti bukan Vivo hahaha” canda Dicky sambil melangkah masuk kedalam halaman markas Almighty.

Ting ting ting ting

Sebuah sirine berbunyi dan tidak lama kemudian, muncullah 2 orang yang tidak asing lagi bagi Dicky dan Vivo. Tentunya mereka adalah anggota Almighty, HA dan MH.

“Siapa kalian?!” Tanya salah satu dari mereka. Dicky tetap melangkah masuk, dan sirine berbunyi semakin keras. Tanpa ada rasa takut, Dicky berdiri di hadapan HA sambil mendongakkan kepala tanda angkuh.

Vivo menghampiri MH dan menepuk bahu MH sembari tersenyum sinis. “Mana ketuamu?” tanya Vivo pada MH. “Siapa kalian? Mau apa?!” marah HA dan MH berbarengan. Mendengar sedikit pertengkaran di luar, sang ketua atau yang dikenal sebagai MT ini keluar.

“Siapa kalian?!” tanya MT pada Dicky dan Vivo. Mereka berdua bersamaan menghampiri MT. Dicky menyikut lengan Vivo sebelum hendak mengatakan sesuatu “Ca—“ belum selesai Dicky berbicara, suara dari belakang menyentakkan mereka berlima yang ada di luar. Otomatis mereka menoleh kebelakang dan mendapati Gilang berjalan dengan santainya dengan posisi kedua tangan dimasukkan kedalam celana.

“Caliber .45, M1911.” Ujar Gilang melanjutkan kata-kata Dicky yang terpotong. MT membelalakkan matanya kaget akan kalimat yang baru saja terlontar dari mulut Gilang. Kini posisi Gilang sudah tepat berhadapan dengan MT. HA dan MH berusaha untuk memukul Gilang, namun tangan mereka ditangkis oleh MT. MT memperhatikan Gilang dari bawah sampai atas dengan manik matanya kemudian menatap Gilang tepat di matanya. Tatapan mata mereka yang saling menyemburkan sirat kebencian, membuat seolah adanya percikan api di antara mereka berdua saat ini.

“Mau apa kau? Tau darimana kau tipe gun seperti itu?” tanya MT tidak terima.

“Ya…. izinkan kami bertiga masuk ke dalam anggota kelompokmu atau akan kusebarkan rahasia besar ini kepada polisi. Dengan begitu…. tentunya kalian akan tertangkap. Gampang saja, jika kau memperbolehkan kami menjadi anggota baru kalian, kami jamin rahasia ini tidak akan terbongkar. Aku berjanji akan memegangnya. Tetapi jika tidak….”

“Ada tahapan-tahapan yang perlu kalian lalui sebelum itu,” Gilang mengernyitkan dahinya dan MT menjetikkan jarinya di udara, MH dan HA langsung mendekat dan menyeret Dicky, Vivo beserta Gilang untuk masuk ke markas mereka.

Vivo dengan tampang bodoh mengitari pandangannya pada seluruh penjuru ruangan. Mengagumi desain interior yang ada. Bagi sekelompok berandalan seperti mereka, bangunan ini terlalu mewah untuk dijadikan markas, pikirnya.

“Sebelum dengan resmi aku nyatakan kalian masuk ke dalam kelompokku. Kalian harus melakukan…. Pertama, bunuh siapa saja dengan sekali tembakan peluru. Jika orang yang kau tembak itu tidak mati, kalian gugur pada tahap pertama.”

“Aku tidak ahli dalam menggunakan alat bersenjata. Bagaimana jika aku melakukannya secara manual?” usul Dicky yang memang tidak bisa menggunakan gun dengan baik.

“Baik. Gunakan apa saja asal kau bisa membuat orang itu menjadi tidak berdaya sekali hantam” jelas MT memberi negosiasi.

“Baiklah. Hanya itu saja tantangan untuk saat ini? Akan kami lakukan. Sekarang!”

                                                                        ***

“Lalalala~” Dicky bersiul, kedua tangannya Ia masukkan ke saku celananya. Di belakang, para member Almighty beserta Gilang dan Vivo tengah memperhatikannya. Sengaja, Dicky mengambil posisi yang tidak bisa dijangkau oleh pandangan Dimas agar Dimas juga tidak menyeret Dicky ke penjara dengan tuduhan pembunuhan. Seorang anak muda yang berumur sekitar 20-an lewat sambil menjinjing buku di tangannya. Sebelum beraksi, Dicky menengok ke belakang, memastikan Ia sedang di perhatikan. Lalu menengok ke kanan dan kiri memastikan tidak adanya mata-mata disini.

Dicky melangkah maju sedikit menghampiri pria yang tengah berjalan tadi. Setelah pria itu melewatinya sekitar 3 kaki, Dicky melompat kecil dan menyikut batang otak pria itu dengan keras. Pria itu langsung jatuh ke tanah seketika. Pukulan Dicky tadi tepat sasaran mengenai pusat pernafasannya. Ini adalah satu-satunya cara membunuh orang tanpa menyebabkan luka sedikitpun. Belum puas dengan itu, Dicky mengambil kayu yang berada di dekatnya dan memukul ujung jari pria yang sudah tidak berdaya tadi dengan keras dan berulang.

Dicky langsung lari meninggalkan pria tadi yang tengah tergeletak di pinggir jalan. Ia menghampiri Gilang dan Vivo lalu menepukkan tangan mereka. MT terlihat takjub dengan perlakuan Dicky barusan. “Periksa!” suruh MT pada salah satu dari mereka. IP yang sudah terbiasa mendeteksi apakah orang yang telah menjadi korban mereka masih hidup atau tidak, melangkahkan kakinya menuju pria yang tergeletak tadi dan meraba denyut nadinya. IP menyilangkan kedua jarinya membentuk cross finger lalu tersenyum sebentar sebelum akhirnya berdiri dan menghampiri mereka berdua lagi.

                                                                        ***

“Kita tinggal melewati 2 tahap lagi setelah ini, kau tenang saja, 2 hari ini akan kita manfaatkan dengan baik untuk mendapatkan kepercayaan mereka.” Dicky, Vivo dan Gilang segera berdiri lalu menepuk pundak Dimas sebentar. Dimas tidak menjawab sepatah katapun. Sebenarnya dia merasa tidak yakin, tapi apapun itu, dia harus yakin dan mencoba untuk mempercayai mereka bertiga!

Tidak lama setelah kepergian Dicky, Vivo dan Gilang, Marry datang dan segera duduk di hadapan Dimas. Di cafe langganan mereka, Marry terlihat sangat gelisah. Keringat mengucur dari dahinya menuju jambang dan sampai ke dagunya. “Aku butuh bantuanmu, dik!” ucap Marry tergesa-gesa. Dimas hanya mengangkat dagunya sambil bergumam “Aku tau kau punya situs rahasia. Aku dapat tugas dari direktur Agung lagi, tolong carikan tentang Darken. Aku butuh informasi tentang itu sekarang! Masalah Almighty, aku serahkan semuanya padamu, dik. Aku tau kau punya kemampuan lebih dari anak-anak seusiamu -17 tahun- dalam menyelidiki masalah!”

Menurut dengan perintah Marry, Dimas mengetik nama ‘Darken’ di kolom yang tersedia. Tidak sampai 5 detik, semua tentang Darken muncul, dari mulai profile per-member sampai fotonya.

Code Name   : Phoenix

Stats               : leader

Ages               : 21 years old

Cased             : robbed and burned up one of the biggest city bank in Jakarta

Dimas menggeser laptopnya mengarah ke Marry, Marry segera menyalin semua data beserta foto-fotonya ke dalam program pengolah kata, kemudian dipindahkan ke dalam flashdisk miliknya. Setelah itu, Ia pamit kepada adiknya karna sedang dikejar waktu. Maklum dengan tingkah Marry yang selalu kelabakan jika diberi tugas oleh atasannya, Dimas menghembuskan nafas panjang dan memutar balik lagi laptopnya hingga menghadap ke arahnya. Tidak sengaja tangannya meng-scrolldown-kan mouse-nya hingga menemukan sebuah data lain.

Code Name   : Dragon

Stats               : sub-leader

Ages               : 21 years old

Cased             : killed one of world peace minister in Indonesia

“Keloid ini…” Dimas semakin mendekatkan wajahnya pada layar laptop, berusaha mencari titik kebenaran akan feeling yang Ia dapat sekarang. Meneliti dan menelusuri setiap inchi raut wajah pria yang ada di foto itu dengan teliti dan tanpa terlewat. Sudah puas dengan foto ini, Ia melihat foto yang lain, foto sang leader atau si Phoenix. Ia mengangkat satu alisnya, membelalakkan matanya dan mulutnya menganga.

“Ya Tuhan!” teriak Dimas. Ia langsung menutup laptopnya dan segera mengejar mobil Marry yang Ia rasa belum jauh dari sini.

                                                                        ***

Malamnya, setelah mendapat penjelasan kilat mengenai Darken, Marry dan beberapa polisi lain yang sudah mengetahui tentang hal ini dan tentunya Dimas, berkumpul di markas mereka untuk mempersiapkan alat-alat yang akan dibawa “Rompi anti peluru?” cek Marry, salah satu dari mereka menjawab dan Marry mengangguk. “Baiklah! Mari kita berangkat sekarang! Dan kau Dimas, kami akan mengikuti mobilmu!”

“Oke ka!” jawab Dimas dengan santai. Saat Dimas hampir sampai di ambang pintu, Marry meneriaki namanya, membuat Dimas berbalik menghadap kakaknya lagi. “Ini. Pistol FN Five-Seven USG. 5,7 mm. Peluru 5,7 x 28 mm SS197SR. 2,050 ft/s.” Sebut Marry sambil tersenyum licik dan melemparkan pistol lengkap dengan pelurunya pada Dimas. Hampir saja pistol itu akan jatuh ke lantai jika Dimas tidak sigap mengambilnya. “Akan kugunakan ini dengan baik!” bangga Dimas.

                                                                        ***

Setelah sampai di lokasi kejadian, Dimas memantau keadaan di dalam markas dengan laptopnya. Menjaga-jaga agar Almighty dan juga Darken tidak keluar. Dengan kamera tersembunyi yang dipasang Dicky melalui antingnya, Dimas menyambungkan koneksinya pada laptop sehingga Ia dapat melihat keadaan di dalam. Sementara itu, Marry mengambil kesempatan untuk melakukan pengepungan.

“Grup 1, selatan! Grup 2, Barat! Grup 3, Utara! Dan grup 4, Timur. Aku akan masuk lewat pintu depan! Cepat laksanakan!” gertak Marry dan sedetik kemudian, mereka berpencar sesuai dengan perintah Marry. Setelah merasa aman, Dimas keluar dari mobil dengan sebuah pistol pemberian Marry tadi.

“Ka, kau tau? Ini benar-benar pengalaman berhargaku!”

“Tidak usah buang-buang waktu! Cepat lakukan perintah!” Dimas dan Marry berjalan beriringan. Dimas mengacungkan pistolnya di telinga sebelah kanan, sedangkan Marry sebelah kiri. Mereka berjalan mengendap-endap. Setelah sampai di depan pintu markas, Dimas menendang pintu markas itu sampai terbuka. Terlihat sekelumpulan orang yang tengah berkelahi di dalam sana. Mereka yang menyadari datangnya Dimas dan Marry lebih awal langsung menghentikan aktivitasnya dan mengangkat tangan. “Angkat tangan!” Marry memberi gertakan.

MT berusaha kabur dan dengan sigap Dimas memanfaatkan pistol yang ada ditangannya dengan menembakkannya pada lutut MT. “AAAA!!” teriaknya. “Ah… SHIT!” marah MT pada Dimas. Dimas tersenyum angkuh dan lagi-lagi ‘DOR’ dia mengarahkan pistolnya ke arah MT yang berusaha untuk kabur. “AAAHHHH…..” MT terjatuh dan merintih kesakitan tanpa henti.

“Sekali lagi kau berani kabur, jangan harap kau masih memiliki kepala!” ancam Dimas pada MT.

Sebagian dari polisi yang tadi tengah berjaga, masuk dan membawa mereka satu persatu ke mobil yang telah disiapkan. “Shit! Ternyata kau….” marah Dicky saat sedang digiring polisi. “Kau saja yang bodoh” ejek Dimas santai.

Setelah markas itu kosong, Marry menepak-nepak bahu Dimas bangga lalu memeluk adik kesayangannya itu “Terima kasih, dik. Kau tau? Kau adalah pemuda terhebat yang pernah aku tau!”

“Hei ka, harusnya aku bisa langsung lulus akpol jika atasanku tau kalau aku yang menyelidiki Almighty beserta Darken si perusak kota ini dan berhasil menyelundupkan mereka ke penjara hahaha” bangga Dimas. Marry mengusap puncak kepala Dimas dengan sayang, “Kau sudah lulus di mataku, dik” jawab Marry sambil meninggalkan Dimas di dalam. Dimas tersenyum sembari melangkahkan kakinya keluar dari markas Almighty dengan bangga. -END

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s