Sadness Part 7

Standard

Author : Nisa Ayu Thayalisha Hadi (Nam Hyen Hyo)

Cast :

Cho Kyuhyun

Nam Hyen Hyo

Jang Hye Ri

Lee Jonghyun (CN BLUE)

Title : Sadness Part 7

Length : on going~

Genre : Romance, Angst

Rating : PG-13

Disclaimer : The casts are belong to God, and this Fan Fiction is belong to me kekekeke~ i own this plot ok?

Note : This is pure my imagination.

Credit Poster : cutepixie@darkreflection.so-pink.org

===============================================================

 

Preview

“Kan bayiku juga memakannya. Kita makan berdua. Aku tidak makan sendiri. Kan kau sendiri yang bilang bahwa aku tidak sendiri”

“Adik bayi yang ada di perut Hyen noona, tumbuh besar dengan sempurna ya! Kalau sudah lahir, pasti wajahmu akan setampan ayahmu, atau secantik ibumu! Tapi aku mengkhawatirkan satu hal darimu, aku takut kau menjadi secerewet ibumu ini!”

Jonghyun merangkul pundak Hyen lagi. Berjalan beriringan seperti ini, memang terasa menyenangkan daripada harus memikirkan masalahku dengan Kyuhyun. Aku bersyukur mengenal Jonghyun yang sudah membawaku kembali kedalam dunia bahagiaku, pasti Hye Ri adalah gadis beruntung yang tidak pernah luput dari kata bahagia saat bersama Jonghyun, seru Hyen Hyo dalam hati.

“HYEN UNNIE!” sekali lagi gadis itu menerikkan nama Hyen dan berlari menuju ke arahnya, merasa terpanggil, Hyen segera membalikkan tubuhnya dan mendapati Hye Ri yang tengah terengah-engah tidak jauh dari dirinya dan Jonghyun berdiri. Jonghyun ikut berbalik dan sama merasa kagetnya dengan Hyen. Mereka berdua melontarkan satu kata yang sama “Hye Ri?!”

==========================================================

AUTHOR POV

Hye Ri masih dan terus menatap Jonghyun dengan tatapan tajamnya. Mereka duduk bersebelahan. Jonghyun duduk menghadap depan dengan punggung yang dibungkukkan dan kepala yang Ia telungkupkan dia kedua telapak tangannya yang lebar. Hye Ri duduk miring menghadap Jonghyun dan tidak melepaskan tatapan tajamnya sedari tadi. Hyen Hyo yang baru masuk membawa 3 cangkir teh, merasa harus mencairkan suasana. Atmosfer aneh kembali menyeruak di ruangan ini saat Hyen datang dan berdeham. Keduanya menengok ke arah Hyen, tapi sedetik kemudian, Hye Ri kembali menatap Jonghyun. Jonghyun ingin mencoba menjelaskan, tapi Hye Ri malah menaruhkan jari telunjuknya di depan bibir, menyuruhnya diam. Mungkin dia masih shock akan kejadian barusan, melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa kekasih yang sangat dikasihinya sedang berjalan mesra—merangkul—dengan seorang istri dari suaminya sendiri. Ini memang pelik!

“Hye Ri-ya, semuanya hanya salah paham. Ini semua salahku” Hyen mulai bicara dan duduk berhadapan dengan mereka berdua. Tapi tatapan Hye Ri tidak lepas dari Jonghyun. Seakan dia sangat geram dengan Jonghyun dan ingin mencabiknya.

Hyen menghembuskan nafasnya pasrah, bagaimana cara menjelaskan masalah ini pada Hye Ri? Hye Ri adalah tipe orang yang susah di ajak bicara saat sedang marah.

“Hye Ri-ya, aku tidak ada apa-apa dengan Hyen noona, aku hanya merawatnya…” sejak awal Jonghyun bicara, Hye Ri sudah menempelkan jari telunjuknya pada bibir, tapi Jonghyun tetap bicara, membuat Hye Ri gemas dan berteriak “DIAM!” setelah itu pun, Jonghyun langsung diam. Hyen melihat kedua orang ini dengan aneh. Beginikah mereka saat menghadapi masalah?

“Aku yang salah. Aku yang memanggil Jonghyun saat aku kabur dari rumah sakit. Aku yang meminta Jonghyun untuk dapat menginap disini, aku menyuruh Jonghyun untuk datang menemui orang tuaku bersamaku, tapi setelah itu, aku pingsan. Lalu Jonghyun mengantarku ke rumah sakit, tapi aku bersikeras untuk pulang, tidak ingin berlama-lama di sana. Jonghyun mengerti dan membawaku pulang. Dia merawatku seharian penuh, dia memperhatikanku…”

“Tapi tidak memperhatikanku!” sela Hye Ri. Hyen mengambil nafas sebentar lalu melanjutkan.

“Kita makan dalam diam, tidak ada obrolan lain selain tentang Kyuhyun. Pagi-pagi sekali aku membangunkan Jonghyun dan memintanya untuk mengantarkanku ke kedai es krim, aku mengidam. Jonghyun hanya menuruti, semuanya salahku, Jonghyun hanya menuruti perintahku. Percayalah padaku.” kini tatapan tajam Hye Ri beralih pada Hyen Hyo.

“Aku tidak pernah meminta kepada kedua orangtuaku untuk menikahi suamimu. Bahkan sebenarnya aku tidak mau. Kau perlu bukti? Kurang bukti apa dengan aku masih menjalin hubungan dengan Jonghyun, bahwa aku memang tidak mau menikah dengan suamimu? Tapi kau seenaknya kabur dari rumah sakit, membiarkan suamimu yang seharusnya bukan urusanku kalang kabur mencarimu tapi kau malah sedang asik-asikan dengan kekasihku”

“Dan kau, kenapa kau berbohong dengan Kyu-oppa? Kau mengatakan bahwa kau tidak mengantar Hyen noona ke rumah sakit. Memang benar, semua bangkai yang selalu ditutup-tutupi, pada akhirnya akan ketahuan juga dimana letaknya” mata Hye Ri penuh dengan air mata, berkaca-kaca. Hye Ri bahkan tidak bisa melihat dengan jelas, semuanya hampir buram karna terhalangi oleh air matanya. Sekali dia menutup mata, berbulir-bulir air mata jatuh membasahi pipinya. Jonghyun melirik dan memeluk Hye Ri erat. Merasa sangat bersalah walaupun Hyen sudah mengatakan bahwa ini bukan salahnya.

“Masalah berbohong itu, sebelum Jonghyun pergi kerumahku, Aku sudah menyuruhnya untuk berbohong demi menutupi keberadaanku dari Kyuhyun. Aku belum sanggup untuk menemui Kyuhyun, aku takut…”

“Kau takut apa lagi unnie? Kau harusnya beruntung, mempunyai suami yang tampan, kaya, baik, perhatian, bahkan sampai rela tidak tidur dua malam hanya untuk memikirkan keadaanmu, keberadaanmu, bahkan tidak jarang dia keluar malam-malam atau pagi-pagi buta untuk mencarimu, demi bertemu denganmu. Tapi kau malah bersembunyi di ketiak kekasihku?” potong Hye Ri dari balik pelukan Jonghyun. Ia tidak pernah tau bahwa semuanya akan sepelik ini. Ia merasa, semua yang dikatakan Hye Ri benar. Hye Ri tidak pernah meminta untuk menikah dengan Kyuhyun, tapi Ia malah meminta untuk tinggal dengan Jonghyun. Bukankah itu sudah kelewat batas? Hyen Hyo merasa, semua sikap marah, kesal, cemburu ini pantas Hye Ri keluarkan. Ia sangat mencintai Jonghyun.

“Semua hanya salah paham. Biar aku jelaskan semuanya secara mendetail!” Jonghyun angkat bicara dan melepas pelukannya. Tapi Hye Ri menyuruhnya diam dengan gerakan singkat, dia berdiri. “Aku tidak butuh penjelasanmu, aku rasa, aku sudah cukup mendengarnya dari Hyen unnie. Sekarang aku ingin pulang. Kau tidak usah khawatir unnie, aku tidak akan memberitahukan semua ini kepada suamimu. Semuanya akan semakin ribet jika Kyu-oppa mengetahui bahwa kau tinggal dengan Jonghyun. Kembalilah ke rumah. Oppa menunggumu. Kembalilah tanpa membawa Jonghyun. Jangan pernah membawa kekasihku masuk ke dalam seluruh masalahmu. Apakah kau tidak merasa kasihan? Jonghyun sama sekali tidak mengetahui apapun, tapi kau tega memasukkannya ke dalam daftar masalahmu!”

“HYE RI-YA!” teriak Jonghyun, sambil menarik tangan Hye Ri.

“Oh, kau membelanya? Baiklah, aku pergi. Aku tidak mendapat lawan di sini”

                                                                        ***

 

Tomorrow…

KYUHYUN POV

Selama 24 tahun aku hidup, aku baru merasakan bagaimana perihnya penyesalan yang mendalam. Mencintai seseorang tanpa bisa berhenti memikirkannya sedetikpun. Merasa bahwa hanya dialah wanita paling sempurna yang aku temui dalam hidupku. Merasa selalu nyaman dan selalu ingin bersamanya tanpa lepas. Tidak kenal lelah atau kehabisan kata-kata saat memujinya. Karna selalu terlontarkan kata-kata cantik dari mulutku untuk memujinya. Tidak ada yang bisa berdiam diri saat melihat wanita itu berjalan di hadapanmu. Kau pasti akan memandangnya kagum lalu memujinya. Mengatakan berulang kali bahwa dia cantik nyaris sempurna berulang kali tanpa rasa bosan. Tapi kali ini, aku membiarkan dia menangis karena kebodohanku. Kesalahpahamanku. Keegoisanku yang sama sekali tidak ingin mendengarkan penjelasan masuk akalnya dan malah membantahnya dengan kata-kata menyakitkan yang pernah aku keluarkan selama aku hidup bersamanya. Membiarkan dia sakit tanpa kupedulikan. Membiarkan dia sendiri dalam kehampaan tanpa kasih sayang dariku. Membiarkan dia menanggung masalahnya sendiri karna aku sudah lelah untuk bercampur tangan. Membiarkan dia menangis seharian tanpa ada rasa kasihan yang keluar dari diriku. Entah ada setan apa yang merasuki tubuhku saat itu sampai-sampai aku melakukan hal-hal setega itu pada wanita yang sangat aku cintai. Mencintainya adalah satu-satunya hal yang bisa aku seriusi setelah urusan pekerjaanku. Dan sekarang aku mencampakkannya. Menyesalinya. Dan aku menyadarinya bahwa dia terlalu sempurna untuk dicampakkan.

Aku merindukan semua hal.

Merindukan bagaimana dia bersikap manja denganku. Merindukan bagaimana aku memberikannya pelukan hangat dan dia membalasnya. Merindukan bagaimana raut wajah polosnya saat dia tertidur dan tidak jarang menggumamkan namaku saat Ia terlelap. Aku tau dia sangat mencintaiku. Mungkin melebihi kadar aku mencintainya. Tapi percayalah, akupun sangat mencintainya. Tidak peduli berapa banyak Tuhan mengirimkan bidadari sempurna tanpa cela ke kehadapanku. Aku hanya bisa melihat satu titik dari berbagai titik yang jauh lebih sempurna. Hanya bisa melihat sayap kasat mata yang paling bersinar di antara berbagai bidadari yang berkumpul. Wajah paling polos dari semua bidadari yang berkumpul. Dan hanya bisa melihat mata cokelat yang membuatku seakan terbius di duniaku sendiri. Berdiri membeku menatapnya. Tidak bisa berpikir apapun, hanya ingin memilikinya dan terus memilikinya sampai hembusan nafasku yang terakhir. Apakah kau pikir pemikiran dan kata-kataku ini romantis? Salah besar jika kau mengatakan ini romantis. Ini adalah kata-kata yang terlontarkan karena semua penyesalanku. Ini adalah kata-kata penyesalan. Bukan rayuan keromantisan yang biasa dilontarkan pada film-film. Aku bukan orang yang romantis sebelumnya. Sebelum aku bertemu dengannya yang telah membolak-balikkan hidupku. Membuatku merasa aku hidup kembali. Hidup di tengah-tengah kebingunganku akan perusahaan ayahku. Membuatku kembali merasakan kegairahan hidup saat aku sedang pusing memikirkan semua masalahku. Dia selalu datang, tersenyum lebar. Memperlihatkan mata indahnya yang menyipit dan giginya yang rapih berderet kecil-kecil. Gusi merahnya. Bibir tipisnya yang melebar dan pipinya yang terangkat ke atas selalu membuatku ingin kembali tersenyum dan melupakan seluruh masalahku.

Dia memelukku dari belakang, lalu menggumamkan namaku dengan manja. Menggesek-gesekkan wajahnya di bajuku. Aku tau dia sedang menghirup aroma tubuhku. Dia mengatakan bahwa dia sangat suka aroma tubuhku. Dan itu adalah salah satu alasan dia mencintaiku dan ingin menikah denganku. Bukankah itu terlihat konyol? Mencintai seseorang hanya karna aroma tubuhnya?

Aku rindu dia merengek dengan manja saat aku membuatnya kesal. Aku merindukan segala hal yang dia lakukan sekalipun itu hal-hal yang menyikiti fisikku seperti memukulku, menendangku dari kasur, memukuliku dengan berbagai peralatan, mencubitku, atau bahkan menginjak punggungku dengan lompatan yang keras. Terasa tulang punggungku akan segera patah. Tapi semua rasa sakit itu akan hilang saat aku melihat wajah murungnya. Dengan bibir kecil mungil yang mengerucut, memperlihatkan dengan jelas warna bibirnya yang pink. Pipinya yang mengeluarkan semburat merah karna kesal. Matanya yang memicing. Rambutnya yang acak-acakkan karna dia selalu mengacak-acakkan rambutnya saat sedang kesal. Setelah memperhatikan wajahnya, aku selalu tertawa. Dan dia akan ikut tertawa lalu mencium pipiku dan kabur. Aku merindukan semuanya. Hal-hal seperti itu. Atau hal-hal yang kita lakukan dengan mesra. Aku memeluknya selagi tidur, atau dia yang memelukku, atau kita saling memeluk saat tidur. Saat aku mencium keningnya ketika dia ingin tidur. Dia mencium bibirku kilat saat aku ingin terlelap. Aku mencium bibirnya saat membangunkannya. Aku mencium keningnya saat aku ingin berangkat kerja. Dia memfotoku saat dia merasa bahwa aku sedang tampan, padahal aku selalu tampan setiap saat. Lalu dia mencetak foto itu sendiri dan menempelkannya di kamar kita. Kamar ini hampir penuh dengan foto-foto kecil berukuran 3R yang Ia koleksi.

Aku berjalan ke arah koleksi-koleksi fotonya tentang kita.

Foto pertama yang terdapat paling ujung, adalah foto ketika dia mendadaniku dengan berbagai peralatan make-upnya. Menjadikanku seperti seorang wanita dengan bibir merah lipstik dan jepit yang menempel di rambutku. Aku tertawa. Kemudian beralih pada foto selanjutnya.

Foto yang kita ambil di Namsan Tower saat kita akan menikah. Memasang gembok kita berdua disana dengan tulisan yang sama ‘Nam Hyen Hyo dan Cho Kyu Hyun’ lalu kita berfoto. Dia meminta salah satu pengunjung disana untuk memoto kita berdua. Lalu setelah itu, dia mencetaknya dan mengumpulkannya di dalam arsip foto kesayangannya. Saat aku menanyakan untuk apa dia mengumpulkan foto-foto itu, dia hanya menjawab ‘Aku akan memajang foto-foto ini di kamar kita saat kita berdua menikah, tapi kalau kita memang tidak di takdirkan untuk bersama dan tidak menikah, ini akan aku pajang di kamarku, aku akan mengenang semua tentang kita. Aku akan selalu mencintaimu dan tidak akan menikah dengan siapapun. Karna aku merasa aku hanya harus menikah denganmu’ kata-kata yang membuatku yakin bahwa dia sangat mencintaiku dan membuatku semakin yakin akan pilihanku untuk menikah dengannya. Dan karna kata-kata itu, aku merasa aku semaki mencintainya dan tidak ingin berhenti karna alasan apapun. Dan sampai sekarang, aku masih belum berhenti untuk mencintainya dan aku berharap aku tidak akan pernah berhenti. Aku tidak bisa membayangkan apa rasanya saat aku berhenti mencintainya dan hidup tanpanya.

Aku beralih pada foto ketiga, dia memfotoku saat aku sedang asyik mengagumi pemandangan dari atas Namsan Tower. Aku akui, disitu aku terlihat sangat tampan. Dibawah foto itu, tertulis tulisan tangan, “Kau selalu terlihat tampan dari sudut manapun. Inilah salah satu alasan lagi kenapa aku selalu mencintaimu” aku tersenyum membaca tulisan tangannya. Jika dia ada disini bersamaku dan ikut mengenang foto-foto ini, aku bersumpah aku sudah mencubit pipinya dengan keras.

Foto selanjutnya adalah saat aku mengerutkan dahi, aku ingat sekali dia mengambil foto ini saat aku sedang di ruang kerjaku. Dia bilang, bahwa wajahku terlihat semakin banyak keriput saat aku sedang bekerja. Dan dia hanya akan diam seribu bahasa saat sudah menemaniku bekerja di kantorku. Setiap hari dia datang ke kantorku, membawakanku makan siang dan kita makan bersama setelahnya. Lalu dia akan menungguku di dalam ruang kerjaku, diam, memilih untuk mengagumiku dari jauh tanpa menggangguku. Di bawah foto itu, tertulis “Hai kakek-Kyu =))” aku terkikik sendiri membacanya. Dasar wanita sialan! dengusku dalam hati.

Foto selanjutnya adalah foto saat kita bergaya dengan muka jelek. Dia mencibirkan bibirnya dengan mata melotot, sedangkan aku malah memajukan bibirku dengan tidak jelas. Aku selalu jijik melihat foto ini. Tapi foto ini selalu membuatku tertawa tiap kali melihatnya. Lagi-lagi, dibawah foto itu terdapat tulisan tangan “Aku lucu. Kenapa kau menjijikkan Tuan Cho?”

Masih ada puluhan foto lainnya yang terpajang tidak beraturan. Aku belum sempat melihat semuanya karna tiba-tiba ada yang mengetuk kamarku. Aku segera membukanya dengan memasang wajah kesal. Siapapun yang mengetuk kamarku, dia membuatku kesal! Aku sedang dalam tahap memberitahu diriku bahwa aku telah melakukan hal buruk dan aku menyesal. Menikmati kenangan kita masa lalu dan menyadari bahwa wanita itu sangat berharga dalam hidupku dan tidak seharusnya sekalipun dalam hidupku, aku mencampakkannya.

“Ya! Kau mengganggu…”

“Selamat pagi, Tuan Cho. Bagaimana kabarmu? Apakah kau merindukanku? Aku merindukanmu. Bolehkah pagi ini aku mendapatkan satu pelukan hangat darimu? Aku sudah merindukan kehangatan dari tubuhmu selama beberapa hari ini” dia merentangkan tangannya dan berjalan maju, mendekat padaku lalu memelukku. Tidak lama setelah itu, dia terisak dalam pelukanku. Aku yang masih terbujur kaku, mencoba untuk merilekskan tanganku untuk memeluknya balik. Aku menyentuh rambutnya. Rambut yang sudah berhari-hari ini tidak aku sentuh. Rambut yang menjadi bagian favorit dari tubuhnya. Aku selalu menciumi rambutnya. Dia merawat rambutnya dengan sangat baik. Dia terlihat lebih indah karna satu point : rambut indahnya.

“Mianhae. Aku bukan istri yang baik. Aku kabur dari rumah sakit karna aku menghindarimu. Kau bilang padaku aku harus menemuimu saat aku tidak menangis, tapi aku tidak bisa. Setelah kejadian itu aku tidak bisa berhenti menangis sampai aku merasa sakit kepala yang hebat dan kembali masuk ke rumah sakit. Aku merindukanmu. Aku merindukanmu memelukku seperti ini. Aku merindukan semua kasih sayangmu. Merindukan seluruhnya yang ada pada tubuhmu. Aku rindu hidung kami saling bersentuhan beradu kemancungan. Aku rindu mata kita bertemu dan saling tatap dalam waktu lama sampai akhirnya kita menemukan pemenangnya, siapa yang mengedip pertama, dia yang kalah. Lalu salah satu dari kita yang tidak menang, harus memijiti salah satu dari kita yang menang. Apa kau juga merindukannya? Atau mungkin tidak sama sekali? Malam itu, aku diantar temanku saat SMA, dia bukan siapa-siapaku. Hanya teman yang baik yang ingin mengantarku pulang karna arah rumahnya yang sama denganku. Tapi kau tidak mau mendengarkan penjelasanku. Sekarang aku datang padamu, mencoba menjelaskan dan mengeluarkan seluruh emosiku padamu pada keadaanku yang tidak menangis. Aku sudah mencoba dan berlatih sebelum bertemu denganmu. Aku akan mengeluarkan kata-kata ini dengan tidak menangis. Saat aku berhasil mencoba, aku memberanikan diriku untuk datang dan tidak menangis. Tapi pada akhirnya aku tidak bisa menahan air mataku untuk keluar saat aku menghirup aroma tubuhmu yang sudah menjadi salah satu canduku. Kau jahat! Kau membuatku selalu tersiksa saat aku jauh darimu! Kenapa kau selalu ada dalam pikiranku? Menari dengan bebas disana? Kau membuatku tidak bisa jauh-jauh darimu sedikitpun. Bahkan kau lupa memberitahu aku bagaimana caraku bernafas dengan baik saat kau menatapku atau kita melakukan beberapa skinship. Kau menyebalkan! Tapi karna kau menyebalkan seperti ini aku mencintaimu, aku sadar bahwa aku sangat mencintaimu dan sangat bergantung padamu. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya hidup tanpamu. Aku tidak akan pernah dan tidak akan pernah ingin berhenti untuk mencintaimu. Karna itu hanya akan menyiksa diriku sendiri.” setelah panjang lebar dia memberikan penjelasan, aku masih berdiri mematung, memeluknya tanpa ada gerakan. Tangan satuku, aku taruh di pinggangnya dan satunya lagi, aku tempelkan pada rambutnya. Dan tidak dapat dipungkiri lagi, aku mengeluarkan aset berhargaku yang jarang bahkan tidak pernah aku keluarkan selain di hadapannya. Air mata. Aku meneteskannya dan menjatuhkannya tepat di atas kepalanya. Ia melepaskan pelukannya dan menatapku yang masih menatapnya bingung. Mata kami bertemu, menatap secara dalam. Tapi masing-masing dari kami, sama. Sama-sama melihat buram pasangan kami. Tangannya terangkat pada pipiku dan menghapusnya. Lalu dia berjinjit dan mencium pipiku. Berbalik dan berjalan maju.

At least, I had realized dia adalah titik yang dapat aku lihat dari banyak titik lain yang lebih sempurna. Dia adalah wanita dengan sayap kasat mata yang paling bersinar. Dia adalah wanita yang memiliki mata cokelat yang membuatku tercengang dan masuk ke dalam duniaku sendiri. Berkhayal akan mendapatkannya dan terus berusaha untuk mendapatkannya. Satu-satunya mata yang bisa membuatku berdiri membeku. Terbius. Dengan tatapan tajamnya.

“Hyen-ah” panggilku lemas. Masih tidak percaya dengan penglihatanku dan indra perabaku akan kejadian barusan dan objek yang kini ada di hadapanku. Dia berbalik dan tersenyum lalu menaikkan satu alisnya. Aku berjalan maju selangkah, masih menatapnya. Entah karena merindukannya, canggung dengan tatapan matanya, atau takut ini hanya bayang-bayangku?

Dalam satu hentakan tarikan tangan, aku membawanya kembali ke dalam pelukanku. Kini, aku mendapatkan kendali dari tubuhku, tidak lagi kaku, kini aku aktif. Menggerakkan tanganku. Dan melanjutkan tangisku. Entah karena terharu, atau ingin mencurahkan seluruh penyesalanku? Atau mungkin karna rindu yang berlebihan?

                                                                        ***

Dia tertidur di sampingku, tidak terpejam. Hanya melepas lelah, dan aku terduduk menyender pada ranjang di sebelahnya.

“Sebenarnya, malam itu aku hanya bercanda memarahimu”

“Oppa!” dia memukul lenganku, kemudian aku terkekeh. “Tidak, malam itu aku memang benar memarahimu, kau tau alasannya?” tanyaku. Menoleh ke arahnya, dia juga menoleh ke arahku.

“Cemburu??” dia bertanya balik. Aku mengangguk “Aku cemburu Hyen-ah. Aku cemburu karna aku mencintaimu dan tidak bisa melihatmu dengan pria lain selain aku. Kau hanya boleh pergi berdua denganku, kau mengerti? Apa kau tidak pernah bersyukur pada Tuhan telah diberikan pria tertampan di dunia seperti aku? Kau harusnya bersyukur, atau aku harus mengajarimu bagaimana caranya bersyukur?” dia bangkit dan duduk, menatapku tajam dan mengerucutkan bibirnya. Aku tau setelah ini pasti akan ada beberapa benda yang melayang ke arahku. “Tidak usah sok tau!” katanya sambil melemparkan bantal ke arahku. Sudah ku duga. “Aku tidak pernah berhenti bersyukur karna memilikimu! Namamu tidak pernah aku lewatkan di setiap doaku, bahkan nama pertama yang aku sebutkan sebelum aku menyebutkan namaku sendiri!” kesalnya. Dia menarik selimut di kakiku dan menyelimuti tubuhnya sendiri. Tidak menyisakan selimut untukku. Aku mengacak-acakkan rambutnya. Tidak ingin marah. Untuk malam ini. Dia datang.

“Benarkah? Kau sangat mencintaiku ya? Padahal aku tidak terlalu mencintaimu” godaku.

“Aku tidak peduli. Aku yang mempunyai perasaan, tidak peduli apakah lawan dariku akan memberikan perasaan yang sama denganku atau tidak sama sekali. Yang penting, yang aku tahu, aku mencintainya”

“Begitukah? Ternyata kau romantis juga. Ya! Tadi aku baru saja melihat kembali foto-foto yang kau pasang dengan aneh itu! Ternyata kau brengsek juga! Kau banyak mengatakan hal yang tidak sesuai dengan perasaan dan penglihatanmu di foto itu. Kau bilang aku kakek-Kyu, tapi kau selalu melihatku dengan terkagum-kagum karna aku tampan kan? Kau tidak perlu repot-repot berbohong dengan mengatakan aku kakek-kakek karna aku sudah tau bahwa kau tergila-gila padaku. Lalu kau tulis dengan tanganmu sendiri bahwa aku menjijikkan, bukankah kau tidak pernah terlepas dari kata ‘tampan’ saat menatapku? Tidak usah mengatakan bahwa aku menjijikkan. Arasseo? Sekalipun aku bergaya semenjijikkan itu, kau tetap akan mengakuinya kan bahwa aku ini tampan seperti dewa?”

“Iya, Dewa Iblis” dia menyahut dengan cepat dan aku tertawa karenanya. Dia benar-benar marah.

Aku merindukan hal-hal seperti ini. Kau kembali, ini seperti mimpi. Aku tidak pernah merasakan sebelumnya, saat aku memikirkan satu objek dengan seserius mungkin, kemudian dia muncul di hadapanku begitu saja, tanpa ada yang mengundang. Seolah dia adalah seorang peri atau bidadari yang sudah berdiri di depan kamarku dengan senyum tercantiknya yang pernah aku lihat.

Dan sekarang aku percaya satu hal : Saat kita memikirkan satu objek utama dengan seserius mungkin, percayalah dan jangan ragukan lagi hal itu bahwa dia akan muncul dengan sendirinya di dekatmu.

“Goodnight, My Cho”

                                                                        ***

AUTHOR POV

Kyuhyun merasakan silau di matanya. Matahari pagi masuk melalui celah-celah jendelanya. Lalu memandang kesamping. Wanita yang selama ini di kaguminya dan Ia patenkan dalam dirinya sebagai malaikatnya ini masih tertidur dengan lelap. Tangan wanita itu memeluk pinggang Kyuhyun. Erat.

Kyuhyun menggeliat, bermaksud untuk mengubah posisinya, bukan untuk pergi. Tapi pelukan yang Ia rasakan di sekitar pinggangnya terasa semakin erat. “Ku mohon jangan pergi lagi, Kyu-ah. Aku ingin kau disini. Sampai esok. Aku ingin menghabiskan hari ini dengan seperti ini. Ku mohon” entah dia mengigau atau bagaimana, tapi Ia mengatakannya dengan mata terpejam. Dan sifat naluriah Kyuhyun muncul, Ia akan menuruti semua permintaannya. Permintaan malaikat hatinya.

                                                                        ***

Kyuhyun membuka matanya, rasa kantuk di dirinya telah lenyap dari beberapa menit yang lalu. Ia juga merasa lelah dengan posisi tidur yang terus seperti itu dan tidak berubah. Hyen terlalu memeluknya erat, membuatnya sedikit susah untuk bergerak. Matanya menangkap sebuah benda bulat yang terletak di atas dinding kamarnya. Jam. 11.45. Ini sudah siang. Tapi Hyen masih tetap tertidur pulas. Apakah dia terlalu kelelahan?

“Oppa…..” teriak Hye Ri dari pintu kamar sambil mengetuk pintu dengan keras. Kyuhyun menyibakkan rambut yang menutupi wajah Hyen dengan lembut kemudian mengecup keningnya dan membisikkan sesuatu ke telinganya “Ireona, yeobo-ya, Hye Ri memanggilku” tangan Kyuhyun menggenggam tangan Hyen yang sedang memegang pinggangnya erat kemudian melepaskannya. Tidak ada respon apapun dari Hyen Hyo. Dia masih tertidur pulas. Atau hanya berpura-pura?

HYEN HYO POV

Kau tau seseorang bisa melakukan apapun demi tidak ingin terlepas dari orang yang dikasihinya? Termasuk melakukan pura-pura semata? Aku sedari tadi hanya berpura-pura tertidur, agar apa? Agar Kyuhyun tetap dalam jangkauan tubuhku. Agar aku selalu merasa yakin bahwa Kyuhyun tidak akan pergi dariku. Sungguh, aku ingin membuka mataku dan mengucapkan satu patah kata yang mungkin hanya akan dibalas senyuman darinya, aku ingin mengatakan jangan pergi, Kyu. Hye Ri mengetuk pintu, dan Kyuhyun sudah pasti akan membukakannya. Hal apa yang akan terjadi setelah Kyuhyun membukakan Hye Ri pintu, siapa yang tahu?

Dengan memasang telinga yang cukup tajam, akhirnya aku bisa mendengarkan pembicaraan mereka dengan samar. Hye Ri sakit, dan Ia meminta Kyuhyun untuk menemaninya ke dokter. Apa tidak salah? Bukankah kemarin dia masih baik-baik saja? Atau karena masalahnya dengan Jonghyun, Ia sampai jatuh sakit seperti ini?

“Oppa, antarkan aku ke dokter!” rengek Hye Ri manja. “Ne, chamkanman. Aku ganti baju dulu” sahut Kyuhyun. Kemudian Ia masuk dan mengganti bajunya. Aku sudah tidak memejamkan mataku, tapi Kyuhyun tidak menyadarinya. Padahal aku berbaring menghadap dirinya yang tengah mengganti pakaian. “Kau mau kemana?” tanyaku.

“Mengantar Hye Ri ke dokter. Dia sakit, Hyen-ah. Kau disini saja, jaga kondisimu. Kau ini kan sedang hamil, aku tidak mau anakku kenapa-napa” aku menundukkan kepalaku mengikuti alur tubuhku hingga bagian perut kemudian mengelusnya sedikit. Perut ini belum membuncit terlalu besar, pikirku. “Aku ikut!” seruku sedikit berteriak ketika Kyuhyun sudah melangkah hampir meninggalkan kamar, dia hanya mengangkat bahu dan berdiri mematung “Terserah” jawabnya.

                                                                        ***

AUTHOR POV

“Dengan Tuan Cho Kyuhyun?” tanya sang suster yang baru saja keluar dari ruangan dokter. Kyuhyun menghampiri suster tersebut dan mengangguk. Hyen mengikuti Kyuhyun dari belakang. Tangannya tidak ingin lepas dari lengan Kyuhyun. Sedari tadi Ia terus memegangi lengan Kyuhyun. Entah mengapa, Ia merasa tidak enak. Apakah akan ada sesuatu yang terjadi?

“Kau suaminya Nyonya Jang?” tanya suster itu lagi. Dan untuk kedua kalinya juga Kyuhyun mengangguk. “Baiklah, ikuti saya. Kau dipanggil uisa” serunya sambil berjalan meninggalkan Kyuhyun dan Hyen Hyo yang tengah mengikutinya dari belakang. Lagi-lagi Hyen Hyo merasakan sakit yang mendalam setelah Kyuhyun melakukan anggukan atas pertanyaan suster tadi. “Cho Kyuhyun bukan hanya suamiku, tapi dia juga suami Hye Ri” seru Hyen dalam hati sambil menahan rasa nyeri yang mulai timbul kembali.

“Silahkan duduk Tuan Cho. Sepertinya hari ini adalah hari kebahagiaanmu” seru sang Uisa sambil tersenyum ramah. “Maksudmu?”

“Istrimu telah mengandung. Selamat Tuan Cho” Sang Uisa mengulurkan tangannya, simbol mengucapkan selamat. Namun, bukannya dibalas, Kyuhyun dan Hyen Hyo sama-sama melotot dan seakan tidak percaya dengan pendengarannya. “Mengandung?” tanya Hyen Hyo tidak percaya. “Hm, apakah dia adikmu, Nyonya?” Tidak bisa berkata-kata, Hyen Hyo akhirnya hanya mengangguk. Ia tidak mau status Kyuhyun yang memiliki dua istri ini ketahuan.

HYEN HYO POV

Kau tau rasanya baru saja dibangkitkan dari mimpi burukmu tapi kau langsung dihantam musibah serupa dengan itu? Kau tau bagaimana rasanya tidak pernah sedetikpun merasakan kebahagiaan yang abadi? Kau tau bagaimana rasanya tidak pernah di perkenankan untuk ada dikehidupan orang yang paling kau cintai, suamimu? Kau tau rasanya dicampakkan? Kau tau rasanya hidup tanpa ada anggapan bahwa kau hidup, dari orang-orang yang menurutmu penting untuk menganggapmu hidup?

Aku selalu merasakan bagaimana rasanya baru saja dibangkitkan dari mimpi burukku lalu dihantam musibah kembali. Aku tau rasanya tidak pernah merasakan kebahagiaan yang abadi. Aku tau rasanya tidak pernah diperkenankan untuk ada dikehidupan orang yang paling aku cintai. Aku juga tau rasanya dicampakkan. Bahkan bagaimana sakitnya hidup tanpa ada anggapan hidup dari orang-orang yang menurutku penting untuk menganggapku hidup pun aku pernah merasakannya.

Kau pasti tidak menyangka mengapa aku masih bisa bertahan hidup seperti ini. Hanya karna satu hal, karena aku tidak ingin kehilangan suamiku atau hanya sekedar melihatnya jauh dariku. Dia adalah satu-satunya alasan kenapa aku masih ingin bertahan hidup. Jika dia tidak ada di dunia ini, maka tidak ada lagi alasan aku untuk mampu bertahan hidup di dunia Tuhan yang sudah tidak memungkinkan lagi bagiku untuk ditempati. Jadi, kau pasti akan tahu selanjutnya aku akan bagaimana. Aku hanya akan menyebutkan ‘dunia’ pada tempat dimana dia berada. Karena dia adalah duniaku.

Aku terus berjalan dengan cepat, tidak peduli sudah berapa puluh orang yang aku tabrak, bukan hanya menabrak biasa, bahkan sampai membuatnya terjatuh, atau akupun ikut terjatuh. Tidak peduli dengan lecet dan rasa perih yang menghantam lututku karna berkali-kali lututku bergesekkan dengan jalanan akibat terjatuh. Tidak peduli dengan puluhan pasang mata yang melihatku heran. Berjalan cepat sambil menangis tanpa berusaha menahan semuanya.

Tiba-tiba langkah kakiku terhenti. Seseorang telah memelukku dari belakang. Menelungkupkan wajahnya di bahuku. Mengeratkan kaitannya di perutku sambil terus berbisik meminta maaf.

AUTHOR POV

“Sudahlah Kyu, kau tidak salah. Aku yang salah disini, karna aku terlalu memikirkan egoku, kau berhak mendapat anak dari Hye Ri. Dia juga istrimu” isak Hyen Hyo sambil terus mengusap-usap punggung tangan Kyuhyun yang menempel di perutnya. Belum lama Ia mendapat kabar bahwa Ia tengah mengandung, kini dari telinganya sendiri, Ia juga harus mendengar satu kenyataan pahit bahwa Hye Ri juga tengah mengandung.

“Aku tidak pernah tahu aku pernah melakukannya” jawab Kyuhyun setengah berbisik dengan suara lemah. Hyen mencoba untuk melepaskan pelukan tangan Kyuhyun dengan pelan kemudian memutar balik badannya agar dapat menghadap Kyuhyun. Tangannya yang bergetar, Ia naikkan dengan perlahan hingga akhirnya menempel pada pipi Kyuhyun. Air matanya terus mengalir dengan deras. Wajahnya basah karna air mata yang diproduksinya sendiri. Bibirnya bergetar, hendak mengatakan sesuatu. Namun tiba-tiba kepalanya tertunduk dan Ia segera berhambur pergi ke dalam sebuah taksi yang baru saja berhenti. Tidak peduli dengan penumpang taksi tersebut yang masih sibuk mengeluarkan barang-barangnya.

“Aku ingin ke Namsan” seru Hyen Hyo dengan isakkan. Mengerti akan kondisi Hyen Hyo yang sepertinya tidak ingin diganggu, sang supir langsung melajukan mobilnya. Tidak peduli dengan seorang lelaki yang tidak dikenal yang sedari tadi mengetuk-ngetukkan kaca jendela mobilnya.

HYEN HYO POV

Tuhan, kau boleh memberiku kutukan sebanyak apapun, tapi bisakah kau membuat kutukan yang satu ini menjadi salah satu mimpi burukku? Bisakah kau mencabut kembali kutukan yang telah kau berikan padaku? Tuhan, aku mohon. Aku sudah terlalu lelah menghadapi semua cobaan yang engkau berikan. Kau membuatku harus terus berusaha melawan seluruh kesabaran dan batas emosiku. Seandainya kau memang tidak ingin aku hidup di dunia ini lagi, buat Kyuhyun menjadi tidak bernyawa. Karna setelah itu, dengan sendirinya juga, aku akan menghilang dari duniamu.

Tbc—

Nb : HOLAAAAA~~~ saya kembali lagi dengan my nightmare^^ buakakakakkakakak lama banget ya publishnya? “Udah lama, nggak memuaskan lagi” << dalam hati readers wkwkwk

Mohon maaf ya, Nisa lagi sibuk. Banyak tugas. Hampir tiap hari ada aja ulangannya. Oh ya, Nisa bakalan bikin FF lagi mulai awal maret nih kayanya. Soalnya pertengahan februari sampai awal maret, Nisa mau ada UKK dulu. Doakan naik kelas ya^^ hehehhee

Selamat menikmati dan jangan pernah bosan dengan karya-karyaku ya^^

53 responses »

  1. thor lanjutannya jgn lama…
    n apakah kyu pernah tidur dengan hyeri??????
    jangan sampai deh please….
    nih cerita benar2 mimpi buruk, salut deh ma authornya..
    dan buatlah ending yang memuaskan..
    ditunggu#tendanghyeri

  2. Kasian banget si hyen dapat masalah mulu. Lanjut ya unn. Semoga sukses dengan UKK nya. dan jangan lupa lanjutin ff my nightmire. :DD

  3. Kasian banget hyen, dapet masalah mulu. lanjut ya unn. Semoga sukses UKK nya ya :DD.
    Trus lanjuton ff My Nightmire. Hehehe :DD

  4. Gilaaaaaa gue gilaaaa…. Gila karna kyu…. Omaigattralalatrilili

    hyen sama jong aja sumpah #gue ngangep jong itu jong cnblue.. Gue gatau jong itu jong cnblue atau shinee# gilaaa hyen harus kuat bgt tuh!!! Hyeri kan super manja bin childdish!! Sama jong aja ya hyen ah…

  5. Akhirnya yg dinantikan selama ni nongol,,
    tp knp harus mengeluarkan air mata lg sih…T.T
    Sumpah benci bgt ma Kyu,,,cba klo dy ga kmbli k ortu’a ga bakal kyk gini…
    Klo aq jd Hyen bakal aku tinggalin tuh si Kyu’a dan klo anak’a dah gede jgn pngl Kyu appa biar tau rasa…

  6. Aaaaaaa pengen tabok si Hyeri ni kak ><
    lanjutinnya jangn lama-lama ya kaakk😀
    kalau bisa part selanjutnya ngebahasa soal gimana hyeri haminl, anak kyu atau anak jonghyun😮
    yayayaya?

  7. kenapa hyeri hamil juga?????
    jgn ganggu kebahagiaan kyu dan hyen dong
    pleaseee mereka be2 aja yg bahagia
    hyeri ama jonghyun aja
    kalo ga anaknya hyeri keguguran *jahatbgt* yg penting hyen ama kyu bahagia TANPA penggangu

  8. Yaa, Nisaaaaa, kenapa hidup Hyen ketua-tula bgt?😦
    Yah, itu Hyeri jangan-jangan udah mulai suka sama Kyu ya? Hyen, yang tabah ya😮
    Tapi aku tetep suka FF ini, aku suka semua FF genre Angst, apalagi buatan kamu😀
    Apakah ini nanti berakhir sad ending? Plis, jangan doong😥

    • haloooooooooo hahahha
      aku aja nggak tau Hye Rinya suka kaga sama Kyuhyun #authorgagal wkwkwk

      waaah makasih banyak ya Nur Anisa^^

      Sad ending gak yaa…. buat Kyu-Hyen mah happy ending, tapi engga untuk keseluruhan cerita. Ngerti ngga? Ya, liat endingnya aja entar yaaa hehe

  9. waah.. Ini benerbener sad story! Kasihan si hyen!
    Tp, aku msh bingung.. Kpan hye ri sama kyu bgituan? Atau aku yg lupa sama cerita sblum.y yaah? Hehe

  10. hye ri hamil…o_O
    huh..
    kasia hyo bru bahagia setinggi-tinggi’a,eh author’a udah hempasin dia sebawah”nya…
    kyk’a author’a seneng bkin hyo menderita #plakkk..dilempar duit sm author*wink*:-D

  11. entahlah, #ngelap-ngelap ingus (jorok)
    abis hyerinya hamiiiil bebskey,

    part ini beneran deh, sadness!
    padahal kan udah romantis romantis gitu, eh! dijatuhin lagii..
    tapi,
    good story,

  12. nangis hanya itu yg bisa ku lakukan saat baca ff mu ini nisa…daebak bwtmu yg berhasil bikin ku nangis kyk gini…

    seandainya aku brda dposisi hyen hyo sudah dpastikan surat kabar pagi hari berisi berita”wanita hamil bunuh diri setelah lompat dari puncak namsan tower”kkkkkk~sumpah gk kbayang klo jd hyen hyo

    DAEBAK

    • Asiiik ada yang nangis lagi^^ hahhahaa

      Iya lah unnie, aku aja kalau udah ada di posisi Hyen Hyo rasanya mau cerai aja sama Kyuhyun -_-

      Makasih ya unnie😀

  13. Ya ampun !!!!
    Baru juga Hyen Hyo bahagia,eh dia udah dihadapin sama masalah lagi😥
    Kapan Kyuhyun sama Hyeri ngelakui ‘itu’???
    Part ini bener2 nguras airmataku😥

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s