Love Is Punishment Part 8

Standard

Author : Nisa Ayu Thayalisha Hadi (Nam Hyen Hyo)

Cast :

Lee Taemin

Choi Jinri

Nam Hyen Hyo

Cho Kyuhyun

Title : Love Is Punishment (PART 8)

Length : on going~

Genre : Romance, Angst

Rating : PG-13

Disclaimer : The casts are belong to God, and this Fan Fiction is belong to me kekekeke~ i own this plot ok?

Note : This is pure my imagination.

Credit Poster : cutepixie@darkreflection.so-pink.org

NB : FF ini aku buat karna aku terinspirasi oleh lagu ‘Love is Punishment’ yang dibawakan oleh K. Will di OST Brilliant Legacy. Setiap kalimat yang bergaris miring, itu adalah translate-an dari lagunya. Semoga ceritanya menyenangkan^^ happy reading heheh~

===============================================================

TAEMIN POV

“darimana saja kau sekarang baru pulang? Menginap dirumah siapa? Kau pikir apa fungsi aku ada disini bersamamu? Satu atap bersamamu? Aku mempunyai kewajiban menjagamu. Kenapa kau malah kabur? Aku ini berniat baik. Kau pikir semalaman aku tidak khawatir? Kau pikir aku bisa tertidur nyenyak tanpa ada kau disini? huh?” bentakku pada Jinri saat dia baru saja menutup pintu ruang tamu. Entahlah. Mungkin ini hobi baruku, selalu membentaknya saat dia baru saja pulang. Padahal dulu kejadian ini sama sekali tidak pernah terjadi.

“aku mohon pengertianmu Lee Taemin. Aku lelah dan aku ingin beristirahat. Annyeong” dia melaluiku begitu saja tanpa menoleh. Aish jinjja! Kenapa dia semakin hari terlihat semakin parah dimataku? Apa tadi malam dia bersama Kyuhyun?!

***

“katakan dengan jujur, apa tadi malam kau bersama Jinri?!” ucapku kasar saat bertemu pandang dengan Kyuhyun di pinggir taman kota. Tempat yang sudah kita berdua janjikan sebelumnya.

“aku tidak sadar. Tapi sepertinya iya” jawabnya gamblang. Apa maksudnya? Kenapa tidak jelas seperti ini? “apa maksudmu?” tanyaku.

“entahlah. Seingatku kemarin kita berdua mabok, lalu setelah itu aku sama sekali tak mengingat apapun. Dan tadi pagi, aku melihat Jinri ada di kamarku” jelasnya santai tanpa ada rasa dosa sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Apa-apaan maksud dari ekspresinya ini? Kenapa begitu datar?! Tadi malam, dia tidak menculik keperawanan Jinri bukan? Aku hanya takut. Karna mereka berdua sama-sama tidak sadarkan diri. Akal sehatnya hilang entah kemana untuk sementara.

“apa yang kau lakukan padanya?!” sulutku lagi “aku sudah bilang. Aku tidak tahu! Aku lupa! Apakah kau begitu bodoh?!” sindirnya. Dia bilang aku apa? Bodoh?

BUGH!

Aku menonjok pipi kirinya dan dia menoleh ke kanan, memegangi pipi kirinya yang baru saja ku tonjok tadi. Darah segar mengalir dari ujung bibirnya dan dia menatapku sinis “sudah puas kau memukulku? Ingin pukul lagi? Silahkan!” dia merentangkan kedua tangannya menantangku. Apakah sikapnya semenyebalkan ini? Dia benar-benar bukan cowok baik!

BUGH!

Dia balik menonjokku dan membuat tubuhku oleh serta tersungkur ke tanah. Orang yang awalnya sedang berlalu lalang biasa, kini menaruh perhatian pada kita. Ada yang meliat kita secara aneh, ada juga yang berbisik-bisik “sekali lagi kau memukulku. Habis kau ditanganku Lee Taemin” ancam Cho Kyuhyun bajingan itu lalu masuk ke dalam mobilnya. Dia melajukan mobilnya dengan cepat. Aku hanya bisa menyeringai dan tersenyum sinis mengingat apa yang baru beberapa detik saja dia lakukan padaku. Bukankah dia yang akan menyesal karna memukulku?!

HYEN HYO POV

Hah. Menyendiri dan memendam rasa sakit akibat hantaman dari Kyuhyun sudah ku rasakan. Ternyata melelahkan harus menangis dan menahan rasa sakit yang ada. Aku begitu tersiksa. Lalu untuk menenangkan diri, aku berjalan-jalan disekitar komplek rumahku. Aku hanya berjalan mengikuti arah. Entah aku ingin kemana, sepatuku lah yang membawaku sampai akhirnya aku ada di dekat Taman Kota. Kenapa aku bisa kesini?

Aku berjalan sambil menunduk, menghirup udara segar musim gugur sedalam-dalamnya lalu ku hempaskan kembali. Kenapa sore ini begitu sejuk dan segar? Aku menghirup udara ini lagi sedalam-dalamnya sambil menutup mataku dan menghempaskannya kembali. Senyumpun mulai terlihat di wajah lesuku.

Aku harus bangkit. Kau harus bangkit Hyen, kau tidak sepantasnya jadi lemah dan seperti tidak berdaya hanya karna masalah itu. Hidupmu masih jauh. Bahkan kau masih bisa hidup jika harus kehilangan Kyuhyun. Tapi mungkin tidak akan senormal ini. Aku memang masih bisa hidup, tapi aku tidak bisa menjamin akal sehatku masih terus ada di otakku.

Jalanan kali ini ramai sekali, orang-orang berjalan dengan tenang. Wait! Bukan dengan tenang, tapi dengan pelan, pelan bukan karna sedang menikmati musim gugur, tapi pelan karna menikmati pemandangan yang ada 200 m di depanku. Apa itu? Aku tidak bisa melihatnya dengan jelas. Sesak juga. Aku berlari kecil menghampiri tempat itu.

TAEMIN?!

“Taemin?” aigo, kenapa mukanya babak belur begini?

***

“sssh noona” desisnya saat aku sedang mengompres luka lebam di pipi kirinya. Sebenarnya dia kenapa sih? apa dia berkelahi? Dengan siapa? Baru kali ini aku melihat dia memar-memar begini. Baru saja luka di kedua tangannya sembuh, sekarang dia melukai wajah tampannya. Aish!

“kau kenapa sih? berkelahi?” kataku masih mengompres lukanya.

“ssh ne.. aw. Noona pelan-pelan” racaunya. Apakah semenyakitkan itu? Padahal dari tadi aku sudah pelan-pelan.

“dengan siapa kau berkelahi?” tanyaku sambil berjalan ke dapur untuk menaruh kompresannya. “kyuhyun” jawabnya sambil bersandar di sofa. “MWO?!” aku menjatuhkan baskom yang berisi air hangat itu dengan tidak sengaja saking kagetnya aku mendengar nama kyuhyun.

“AW, APOOO” rintihku saat air panas itu mengenai kedua kakiku. Assshhh panas…..

“noona, gwaenchana?” tanya Taemin menghampiriku. Tadi dia bilang apa? Berkelahi dengan Kyuhyun? Dengan Kyuhyun? Kyuhyun namja-ku? Mengapa? Ada masalah apa? Kok mereka bisa….

Aku melayangkan wajah sinis ke arah Taemin, dan seperti bisa membaca pikiranku dia menjawabnya “ne noona. Kyuhyun namja-mu itu. Aku berkelahi dengannya” katanya sambil mengambil baskom dan kain yang tergeletak serampangan di lantai.

“ada masalah apa kau dengannya?” kataku sambil berjalan tertatih-tatih menuju ruang tv “entahlah” aku penasaran, tapi aku tidak mungkin mendesak Taemin. Apalagi kalau harus sampai bertanya pada Kyuhyun. Hubunganku dengan Kyuhyun semakin hari semakin buruk karna sifatku sendiri. Aku yang tidak pernah mau mengangkat telfon serta membalas pesannya, aku yang tidak pernah mengizinkan Kyuhyun untuk berhubungan denganku, aku yang selalu mengusir Kyuhyun jika dia bermain kerumahku dan berusaha untuk menjelaskannya. Di tambah lagi saat ini aku sedang dekat dengan Taemin.

Aku tau ini salahku, tapi semua sifatku yang seperti ini karna dia juga. Dia yang membuatku seperti ini. Dia yang membuatku hampir gila karna mengetahui kenyataan yang sebenarnya. Dia yang telah membukakan tirai dibalik pintu ini, sehingga aku bisa tahu kenyataan yang ada. Jika diibaratkan, akan seperti ini :  Pada awalnya aku tidak mengerti cinta, bahkan pacaran saja aku tidak pernah. Aku hanya terkurung dalam suatu ruangan yang benar-benar gelap tanpa cahaya dan tanpa apapun. Tapi suatu hari Kyuhyun datang membukakan pintu ruangan ini yang terkunci. Aku bahagia bersamanya. Aku bahagia bisa keluar dan bebas dari kurungan ini. Tapi setelah bertahun-tahun aku merasakan kebahagiaan yang tiada tara, Kyuhyun membukakan sebuah Tirai yang memang selama ini tidak pernah dia buka. Tirai yang berada persis atau tepat di balik pintu ini. Pintu yang telah Kyuhyun buka untuk menyelamatkanku. Tapi sebelumnya kita memang tidak pernah keluar apalagi menembus tirai yang menghalangi kita ini. Suatu hari, Kyuhyun membuka tirai ini. Dan dibalik tirai ini hanya ada api yang berkobar-kobar. Tepi neraka.

Aku bisa merasakan panasnya seperti apa. Aku bisa merasakan sakitnya seperti apa. Aku bisa merasakan semua kepedihan orang-orang yang sudah berhasil jeblos ke neraka. Aku bisa merasakan semuanya. Kyuhyun mendorongku hingga aku hampir jatuh ke dalam jurang ini. Jurang yang sangat dalam dan ada api berkobar-kobar di dalamnya. Tapi dengan keseimbanganku yang kuat dan tidak mudah goyah, aku masih bisa bertahan di tepi ini. Walaupun aku tau, selangkah lagi aku memijakkan kakiku. Aku akan jatuh ke neraka ini.

Semuanya sama denganku. Kyuhyun memberikan kenyataan pahitnya padaku. Aku hampir tidak bisa bernafas, jantungku berdetak tidak karuan. Awalnya aku berpikir aku tidak bisa hidup tanpanya, tapi aku bertekad. Dengan keguguhan hatiku, dengan semua pendirianku yang kuat, dengan kepercayaan diri yang kupunya selama ini, dan dengan keegoisan yang melekat pada diriku, dan juga pada semua semangat yang ku punya. Aku bertekad. Akan terus bertahan. Aku akan mempertahankan Kyuhyun. Aku tidak akan membiarkan Kyuhyun lepas dariku sekalipun dia tidak mencintaiku. Aku tidak akan melepaskannya begitu saja karna masalah ini. Aku akan melepaskannya pada saat dia benar-benar membuatku jatuh ke neraka tersebut. Aku akan melepaskannya saat dia sudah benar-benar membuangku. Aku akan melepaskannya saat dia memintaku untuk melepaskannya. Selama semuanya belum terjadi, aku akan mempertahankannya agar terus bersamaku, disisiku, disampingku. Menemaniku kapanpun dan dimanapun.

Untuk semua kebaikanmu selama ini, terima kasih. Cho Kyuhyun.

KYUHYUN POV

kurang ajar anak ayam itu! Ternyata pukulannya keras juga. Pipiku sakit sekali aigo. Hyen, kau dimana? Aku butuh kau untuk mengobati lukaku ini. Tolonglah, aku rindu sekali padamu.

“hah” aku merebahkan tubuhku di atas kasur. Rasanya sekarang aku malas sekali~ rasa nyeri masih saja menghantam pipi kiriku. Nyut-nyutan. Kenapa pukulannya bisa sekeras ini? Padahal badannya kurus dan kecil seperti itu. Ternyata dia punya tenaga yang kuat juga rupanya.

Aku menoleh ke arah samping. Tadi malam, apa yang ku lakukan bersama Jinri ya? Kami berdua sama-sama naked. Apakah tidak terjadi apa-apa? Aku tidak sadar. Aku tidak bisa mengingat semuanya. Bahkan aku melepas semua pakaianku sampai underwear-ku saja aku tidak sadar. Aigo. Apa yang harus aku lakukan? Pasti Jinri marah sekali padaku. Tapi sungguh aku tidak bisa mengingat apapun. Dan tadi malam juga aku sama sekali tidak sadarkan diri. Ini pasti karna pengaruh alkohol kemarin sore. Kami terlalu banyak minum. Jadilah seperti ini. Semoga tidak terjadi apa-apa.

Apa aku harus menemui Jinri?

***

“oppa, kenapa mukamu lebam semua seperti itu?” kata Jinri cemas saat baru saja membukakan pintu rumahnya untukku. Aku masuk dan duduk di ruang tamunya “ah, ini. Tidak apa-apa” kataku menenangkannya. Tidak mungkin kan kalau aku bilang ini kerjaan Taemin? Dia kan menyukai Taemin, aku tidak boleh membuatnya putus harapan atau membenci Taemin hanya karna ini. Apalagi sampai tidak ingin menyukai Taemin lagi.

“hm, oppa. Apakah itu sudah di obati? Perlu aku kompres?” tanyanya sambil memegang lukaku “tidak usah” kataku tersenyum samar. Rasanya untuk tersenyum saja susah. Luka dihatiku saja belum sembuh, tapi si bajingan itu sudah menambah luka lagi di wajahku. Sialan!

“aish oppa! Kau pikir luka seperti itu tidak parah? Biar aku kompres ya” katanya lalu beranjak menuju dapur, lalu dia kembali dengan baskom dan kain untuk mengompres lukaku. tapi sebelum dia sampai ke tempatku, dia menjatuhkan baskomnya dan memegangi perutnya. ada apa?

“wae Jinri-ah?!” tanyaku panik lalu menghampirinya “perutku oppa, mendadak mual” ucapnya lemas lalu berlari ke wastafel. Tapi muntahannya tidak kunjung keluar juga, padahal aku sudah memijat-mijat bagian sumsum lanjutannya. Itu kan bekerja untuk ini juga. Dia semakin terlihat pucat. Apa aku harus membawanya ke dokter?

“kita ke dokter saja” ajakku. Tapi dia menolak “gwaenchana oppa, aku baik-baik saja. Ah, maafkan aku. Aku akan mengambilkan air hangat yang baru untuk mengompres lukamu” katanya yang merasa sudah baikan. Oke. Aku hanya bisa menuruti apa dan semua kemauannya.

“oppa, duduk menghadapku” katanya saat baru saja duduk di sebelahku, aku menatap matanya. Tidak ada aku. Dia tidak sedang menatapku. Apakah pikirannya kosong? Padahal jelas-jelas dia sedang menghadap ke arahku sekarang. Apakah dia benar baik-baik saja?

“ayo kita kedokter!” aku menarik tangannya paksa sebelum tangannya mendarat di lukaku. dia hanya mengikutiku dan duduk manis di sebelahku.

“aku tau kau ada masalah. Kau harus ke dokter. Kau pasti sedang sakit” kataku lalu melajukan mobil menuju rumah sakit terdekat.

***

“bagaimana dengan keadaannya uisa?” kataku panik saat uisa baru saja memeriksa Jinri. Jung Uisa kembali ke meja kerjanya dan melepas kacamatanya “lebih baik bawa istrimu ini ke dokter kandungan”

MWO? DOKTER KANDUNGAN?!

“dokter kandungan?!” tanya Jinri kaget.

***

“selamat Mr. Cho, istrimu hamil. Ini aku beri resep untuk obatnya ya, biasanya saat hamil muda, perempuan stamina-nya jadi berkurang” kata Han Uisa sambil menulis sebuah resep. Aku dan Jinri saling bertukar pandang dan tidak mengerti dengan maksudnya. Apa maksudnya? Jinri hamil begitu maksudnya? Dengan siapa memangnya?

“oppa, aku hamil? Oppa…” Jinri menangis saat baru saja keluar dari ruangan Han uisa. Aigo, bagaimana ini? Aku saja tidak percaya bahwa Jinri hamil. Jika ini memang perbuatanku, aku akan bertanggung jawab.

“aku akan bertanggung jawab” kataku memutuskan. Lebih baik aku kehilangan Hyen daripada aku harus menelantarkan orang yang sudah kerebut keperawanannya, orang yang sekarang sedang mengandung anakku sendiri. Daging darahku. Semuanya adalah salahku. Ini perbuatanku. Jadi benar dugaanku mengenai kejadian semalam. Pasti kita melakukannya.

“maksudmu oppa?! Aku saja tidak tahu aku hamil anaknya siapa!” kata Jinri sambil meremas resep yang Han Uisa berikan tadi. “sini resepnya, akan aku tebus” aku tidak menjawab pertanyaannya. Aku tidak mau dia tau kalau itu anakku, karna pasti nanti dia akan membenciku. Kalau dia membenciku, mana bisa aku bertanggung jawab. Jangankan nanti menikahinya, bahkan bertemu denganku saja sepertinya dia tidak akan mau. Bagaimanapun, anak yang dia kandung ini kan anakku juga. Aku akan bicara baik-baik dengan Hyen.

JINRI POV

Aku tidak peduli lagi dengan kejadian semalam tentang Taemin yang menungguku atau apalah itu. Awalnya aku terus berpikiran tentang itu. Apakah dia memang benar-benar memikirkanku? Dia menungguku? Dia mengkhawatirkan aku sampai dia tidak bisa tidur dengan nyenyak? Apakah itu semuanya benar? Atau hanya bualannya saja?

Hanya itu saja yang terus terputar di otakku. Dan juga semua kata-katanya. Aku hanya bingung, kenapa Taemin sebegitu pedulinya denganku? Bukankah dia sudah dengan Hyen-unnie? Oh i see, aku ini kan adik kesayangannya, mana mungkin dia membiarkan aku  pergi tanpa izin dengannya. Jadi semuanya hanya sebatas adik.

Dan setelah aku mendapatkan kesimpulan ini, otakku berputar lagi. Kenapa aku memiliki nasib semalang ini? Mencintainya bertahun-tahun tapi hanya di anggap sebagai adiknya? Wae?

Semuanya terus terputar di otakku. Tidak ada kata ‘bahagia’ di otakku. Yang aku rasakan hanyalah rasa sakit sakit dan sakit. Entahlah, mungkin ini memang nasibku. Tapi sekarang ada yang mengalihkan perhatianku.

AKU HAMIL? Aigo, dengan siapa?! Jika umma dan appa tau mengenai hal ini, pasti aku tidak akan dianggap anak lagi olehnya. Eotte? Aku takut sekali. Terlebih lagi, aku tidak tau ini anak siapa. Bahkan merasa pernah melakukannya saja tidak. Apakah ini ada hubungannya dengan kejadian naked yang aku sadari tadi pagi? Benarkah? Aish! Jinjjayo! Kalau ini benar anak kyu-oppa, apa yang akan Kyu-oppa lakukan? Apakah dia akan bertanggung jawab?

Aku terus menangis saat keluar dari ruangan Han Uisa, dokter kandungan. Apa yang harus aku lakukan? Umurku baru 24, bahkan terlalu muda. Aku baru saja lulus kuliah, aku fresh graduate, tapi kenapa aku sudah hamil? Bahkan merasakan rasanya pacaran saja belum. Di sentuhpun aku belum pernah. Mendapatkan perhatian lebih dari taemin saja aku belum pernah merasakannya. Jika ini benar anak Kyu-oppa….

“aku akan bertanggung jawab”

Hah? Kyu-oppa akan bertanggung jawab? Jadi dia juga menyadari kalau ini anaknya? Ya Tuhan, apa sebutan yang pantas bagi namja sebaik dia? Aku rasa malaikat saja tidak cukup.

“maksudmu oppa?! Aku saja tidak tahu aku hamil anaknya siapa!” kataku berpura-pura. Bukannya aku berdusta atau munafik, tapi aku tidak mau Kyuhyun oppa menikahiku dan aku harus dengan rela meninggalkan Taemin. Aku masih belum sanggup. Bayang-bayang dan hatiku masih ada pada Taemin. Aku masih belum rela menikah. Aku tidak mau kehilangan Taemin dulu. Tuhan, tolong aku. Aku sangat mencintainya! Aku kurang baik apa sampai kau tidak pernah mau membuat Taemin membalas perasaanku huh? Apa aku kurang bersyukur kepadamu? Atau karna aku begitu bodoh?

“sini resepnya, akan aku tebus” dia merebut kertas resep yang sedang aku remas-remas karna saking kesal dan sedihnya. Kenapa aku bisa sebodoh ini sampai melakukan hal bejat itu? Sampai aku hamil pula. Bagaimana caraku untuk bicara kepada umma dan appa? Aku belum siap untuk di tendang dari daftar nama keluarga. Aku tidak mau tidak dianggap anak lagi oleh mereka. Aku tidak mau tidak dianggap sebagai “saudara” oleh saudara-saudaraku yang lain. Aku tidak mau.

“oppa. Kenapa kau baik sekali padaku sih? aku ini jahat! Sampai kapan aku harus membangunkanmu dari mimpimu huh? Pertemuan kita pertama kali, itu sudah direncanakan, lalu pertemuan kita selanjutnya juga di rencanakan dan selalu ada Hyen-unnie yang melihati kita dengan Taemin. Mereka selalu mengawasi kita. Semuanya ide taemin. Aku hanya jadi wayang, sementara Taemin dalangnya. Aku hanya bisa menuruti semua permintaannya karna aku terlalu mencintainya. Oppa! Bahkan sekarang Hyen-unnie sudah membencimu karna aku. Karna aku selalu bersamamu dan kau selalu terlihat baik dan perhatian padaku. Wae oppa? Wae?! Kenapa kau tidak tinggalkan aku saja? Seperti Taemin meninggalkanku huh? Sekarang, aku hamil. Kenapa kau mau bertanggung jawab? Padahal ini belum jelas anak siapa. Ini anakmu saja aku tidak tahu pasti. Memangnya kita pernah melakukannya?” bentakku saat kami memasuki mobil Kyu-oppa. Dia tidak menjawab sama sekali. Benar-benar tidak ada satu katapun yang keluar dari mulutnya. Dia terus fokus pada jalanan didepan.

Aku kembali menangis. Oppa, ku mohon, tinggalkan aku. Jika kau begini terus, aku malah semakin tersiksa.

“turunlah. Sudah sampai. Ini obatmu. Jangan sampai lupa diminum. Kau butuh stamina yang banyak. Satu lagi, aku akan bertanggung jawab dan aku sudah memikirkannya. Aku tidak akan membiarkanmu jatuh ke dalam tangan seseorang yang tidak punya tanggung jawab seperti Taemin. Oya, satu lagi, masalah aku bertanggung jawab, aku yakin sekali bahwa itu anakku. Tadi malam kita melakukannya. Dan sebentar lagi aku akan menikahimu. Masuklah. Dan tidur yang nyenyak” aku terperangah mendengar ucapan Kyu-oppa. Mengapa dia bisa berbicara seperti itu? Aku segera turun dari mobilnya dan masuk ke dalam rumah. Membanting pintunya dengan keras.

AH! aku ingin sekali teriak! Bagaimana ini?! Aku pasti akan segera menikah dengan Kyuhyun. Benarkan? Iya kan? Aku tidak mau! Aku hanya mau Taemin! Biarkan saja, walaupun Taemin adalah namja tidak bertanggung jawab, tapi aku terlanjur mencintainya dengan sepenuh hatiku! Apakah Kyu-oppa tidak bisa merasakannya huh?!

“kenapa kau?” Tanya Taemin yang sedang asik menonton TV, merasa terganggu dengan suara gebrakan pintu yang aku lakukan tadi. Hah, berapa lama lagi aku bisa melihat dan mendengar suaramu seperti ini Taemin? Aku terlalu mencintaimu. salah kah aku jika aku hidup hanya untuk berkorban mendapatkanmu?

Aku duduk disebelahnya. Menimang-nimang waktu, kira-kira sampai kapan aku bisa bertahan seperti ini. Aku menengok ke arahnya dan dia melihatku. “wae?” tanyanya. Bekas pukulan? Lebam? Aku bisa melihat pipi kirinya yang lebam. Apa ini ada hubungannya dengan Kyu-oppa?

“kau? pipimu..” tanganku bergerak mencoba untuk memegangnya tapi Taemin mencegahnya. “tidak apa-apa. Istirahatlah. Ini sudah jam 9” kata Taemin santai lalu pergi meninggalkanku. Huh? Taemin, jangan pergi. Aku masih ingin bersamamu. Bahkan untuk malam ini aku tidak tidur agar bisa terus bersamamu semalaman pun aku rela. Aku hanya ingin menikmati waktu sisaku untuk melihatmu. Aku tidak ingin menyia-nyiakannya.

Tuhan, beri aku lebih banyak waktu lagi agar bisa lebih lama dengannya.

Beri aku kesempatan agar merasakan kasih sayang Taemin seperti dulu Taemin menyayangiku. Sebelum aku pergi dari sisinya dan resmi menjadi milik orang lain dengan ikatan perkawinan. Tuhan, bantu aku. Aku mencintainya. Apakah kau tidak bisa mendengar jeritan hatiku setiap detik? Aku terlalu mencintainya.

TAEMIN POV

Aku meninggalkan Jinri sendiri di ruang tv. Entahlah, hari ini aku merasa malas sekali untuk berurusan dengannya. Aku hanya tidak ingin dia melihat luka lebamku lalu dia mengkhwatirkan aku. Itu saja. Aku tidak ingin membuatnya semakin khawatir.

Aku mendengar pintu di tutup. Ah, pasti pintu kamar Jinri. Aku membuka pintu kamarku perlahan berusaha tanpa mengeluarkan suara sedikitpun lalu aku kembali ke ruang TV, aku menemukan plastik putih kecil disitu. Aku ambil, sepertinya ini punya Jinri. Isinya obat. Obat apa? Apa dia baru dari rumah sakit? Memangnya dia sakit?

Aku melihat resep yang ada. Obat penambah stamina? Jadi dia benar-benar sakit?

Ada cap “dr, Han Hye Jo, spOG” SPOG? Bukankah ini dr. Kandungan? Apa maksudnya? Aku mengambil obat itu dan membawanya masuk ke kamarku. Aku memikirkannya lebih dalam di kamar.

Dia memang terlihat lemah, seperti kurang fit. Tapi… kenapa dia pergi ke dokter kandungan?

Tadi malam, dia tidak menculik keperawanan Jinri bukan?

Aku sempat berpikir seperti itu, apakah…. tidak mungkin tidak mungkin. Aku mengenal Jinri. Aku kenal Jinri sejak kecil. Dia pacaran saja belum pernah. Bahkan melihatnya menyukai seseorang saja belum pernah. Baru kali ini saja dia bilang bahwa dia menyukai Kyuhyun. Ah, apa karna sifat polosnya makannya dia rela di apakan saja dengan Kyuhyun?! AISH!!

***

“kau apakan Jinri huh?!” kataku sambil menarik kerah baju Kyuhyun saat baru saja masuk ke ruangan khususnya. Ne, aku mendatangi kantornya. Aku butuh penjelasannya. “apa maksudmu bocah kecil?” tanyanya santai sambil berusaha melepaskan cengkramanku di kerah kemejanya.

“ini! Dia ke dokter kandungan kan? Apa yang terjadi?!” bentakku lebih keras dari sebelumnya dan memojokkannya ke dinding. “tenang lah dulu!” dia menghempaskan tanganku dengan kasar. Aih!

“kau mau tau huh?! Dia hamil anakku! Puas kau?!” bentaknya kasar yang berhasil membuatku terperanga. “ha.. mil?!” tanyaku tidak percaya. “aku akan menikahinya” dia berbicara dengan tenang dan kembali ke kursinya. Tapi aku menarik kerah kemejanya kembali “KAU APAKAN ADIKKU SAMPAI KAU MEMBUATNYA HAMIL?!”

“aku akan menikahinya! Apakah itu tidak cukup huh?!” dia tidak menjawab pertanyaanku.

“JAWAB PERTANYAANKU BODOH!” teriakku.

“hh” dia menyeringai dan memegang kedua tanganku erat. “lepaskan!” katanya sambil menghempaskan tanganku lagi. Sungguh, kesabaranku sudah habis! Apakah dia masih ingin mengujiku?!

“aku akan menikahinya. Kau puas sekarang? Apa itu kurang membuat kau puas?” tanyanya dengan pelan. Aku menonjok pipi kanannya. Apa-apaan dia?! Dia sudah merenggut keperawanan Jinri, dan dengan mudah dan santai dia ingin menikahinya?! Huh? Bagaimana dengan Hyen Hyo? Lebih baik dia dengan Hyen Hyo saja! Jika dia dengan Jinri, Hyen Hyo yang akan bersedih, tapi kalau dia kembali dengan Hyen Hyo, bagaimana dengan keadaan Jinri yang sedang menganduk anak cowok bajingan ini?

Dia menyeringai ke arahku sambil mengelap darah yang merembes dari ujung bibirnya dengan sapu tangan miliknya.

“aku yang akan menikahinya” kataku mantap lalu pergi meninggalkan ruangannya.

Tbc—

11 responses »

  1. sumpah yaa, ni ff g kalah galau ma sadness deech…
    bner dech dugaanQ klo jinri ntar hamil tpi kyu baek bgt mw nikahin jinri. si taem jga mw nikahin?? buseeet, makin mantep ja dilamar 2 co.

    oiya nis. tu da tlisan daging darahku, bkanx darah dagingku yaa?!?

  2. Mwoya?!!! Kyuhyun!! Ishh nappeun namja! Kalo kyu nikah sm jinri terus hyen hyo sm siapa? Terus emangnya kyuhyun rela jinri nikah sm taemin? Itukan anaknya kyuhyun. Aissh….. Konfliknya rumit bgt! Part 9 cepet2 dipublish dong nis *kicked* Btw, ini ff sampe part brp?

  3. Go taemin go taemin go!! Rebut kembali si jinri itu. Biarkan kyupa kembali ke hyen. Hehe.
    Next part ditunggu ya thor;D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s