[FICLET] Please Don’t Say – Recall (SEQUEL of DISCORDED)

Standard

Author : Nisa Ayu Thayalisha Hadi (Nam Hyen Hyo)

Cast :

Cho Kyuhyun

Nam Hyen Hyo

Title : Please Don’t Say – Recall

Length : Ficlet

Genre : Romance, Angst

Rating : PG-13

Disclaimer : The casts are belong to God, and this Fan Fiction is belong to me kekekeke~ i own this plot ok?

Note : This is pure my imagination.

===============================================================

Hyen menjatuhkan badannya ke lantai tepat setelah Ia menutup pintu rumahnya. Matanya sudah hitam dan membengkak. Entah sudah berapa banyak air mata yang dikeluarkan, yang jelas, baru kali ini Ia mengeluarkan air mata sebanyak itu hanya untuk seseorang.

HYEN HYO POV

“Hyen-ah, kau tidak ingin menyiapkan air panas untukku, huh?”

Aku mengedarkan pandanganku, mencari sosok pria yang sudah aku kenal posturnya dari sisi manapun. Namun percuma, yang aku temukan di rumah sebesar ini hanyalah benda-benda. Sama sekali tidak ada dirinya. Dan tempat terakhir yang aku tuju adalah kamarku, berjalan perlahan memasukinya dan membuka lemari kamarku dengan pelan.

Halusinasi.

Lemari ini sudah kosong dengan barang-barang miliknya. Tapi kenapa aku masih saja bisa mendengar suaranya?

“Aku tidak akan pernah membiarkan siapapun menginap di rumah kita. Aku akan menjaga rumah kita. Aku akan menjaga kenangan kita. Rumah kita hanyalah satu-satunya objek dimana aku bisa merasakan bahwa kau ada di sekitarku. Hidup di sampingku dan tidak akan pernah meninggalkanku. Saat aku berada di rumah, aku selalu melihatmu dimana-mana. Kau selalu ada di rumah, benarkan Kyu? Kau tidak akan pergi jauh dariku kan? Benarkan? Kyu.. Katakan bahwa semua itu benar, ku mohon!”

“Bodoh, jangan terus menerus mengambil fotoku dalam posisi seperti ini! Aku terlihat tua saat sedang menseriusi pekerjaanku!”

Kini pandanganku beralih pada sebuah meja yang berukuran besar di pojok kamar. Suara ini berasal dari situ, tapi sama sekali tidak ada Kyuhyun tengah terduduk disana. Aku menghampiri meja itu dan menggenggam satu pulpen yang biasa Ia gunakan untuk menulis. Memeluknya dan menangisinya. Hanya sebuah pulpen saja ternyata bisa membuatku mengeluarkan beberapa tetes air mata.

“Jagi, mana makanannya? Aku sudah lapar! Sebentar lagi aku harus berangkat!”

Lagi-lagi suaranya terdengar di telingaku. Aku langsung berlari keluar kamar dan menuruni tangga. Menuju ruang makan lalu ke dapur. Namun langkahku semakin pendek saat aku menyadari lagi-lagi tidak ada Kyuhyun disana. Air mataku semakin menetes dengan derasnya. Masih sambil terisak dan bergetar hebat, aku meraih kursi meja makan dan terduduk di atasnya. Menelungkupkan wajahku di atas meja makan dan merutuki telingaku yang bisa mendengar seluruh kata-kata yang biasanya Kyuhyun katakan padaku.

“Hyen-ah…”

Kali ini suara manja Kyuhyun terdengar, bukan suara teriakan-teriakan yang biasanya Ia keluarkan. Aku mendongakkan kepalaku dan menatap ke arah dapur dengan buram. Biasanya saat aku memasak, suara ini pasti akan terdengar. Dia akan melingkarkan tangannya diperutku lalu membisikkan namaku dengan manja.

“Ah, brengsek! Kenapa aku bisa kalah main game denganmu? Dasar maniak!”

Aku kembali berlari, kali ini menuju ruang televisi. Menjatuhkan tubuhku ke atas sofa dan kembali menangis, itulah yang aku lakukan saat aku berlari dari dapur menuju ruang televisi namun sama, aku tidak menemukan Kyuhyun ada disitu. Biasanya dia akan kalah saat bermain ps bola denganku. Karena aku tahu dia tidak jago dalam memainkannya, maka dari itu aku berani mengadunya. Dan setelah itu, Kyuhyun pasti akan mendiamkanku seharian. Dia benci kekalahan. Apalagi yang menyangkut masalah games. Suamiku memang berbeda dengan yang lainnya. Tunggu, suamiku? Apakah aku masih pantas memanggilnya suami? Bukankah ada orang lain di luar sana yang akan menggantikanku untuk memanggilnya suami?

                                                                        ***

Hyen Hyo menyiapkan jajangmyeon yang baru saja dipesannya beberapa menit lalu. Ia mengambil dua mangkuk, dua pasang sumpit dan membawanya ke atas meja makan. Membuka jajangmyeonnya disana dan menaruhnya di mangkuk masing-masing.

“Oppa, kau masih mau membiarkan sumpitnya disamping mangkuk uh? Ayo cepat makan!” seru Hyen dengan mulut penuh jajangmyeon. Wajahnya tidak karuan, matanya sembab dengan kantung mata yang besar, pipinya sedikit membengkak dan bibirnya menebal akibat menangis terus menerus.

Hyen mengambil sumpit yang terletak tepat disamping mangkuk berisikan jajangmyeon di hadapannya. Mengaduk jajangmyeonnya kemudian mendorong piringnya lagi mendekati kursi. Ya! Mereka duduk berhadapan.

“Ayo dimakan dulu oppa! Kau mau aku tendang lagi sampai memar-memar?!” cerewet Hyen Hyo masih dengan mulut penuh jajangmyeon.

“Oppa, kau harus makan yang banyak! Dasar bodoh!”

Hyen mengambil sumpit yang terdapat di dalam mangkok satunya dan mengaitkan mienya. Menjunjung sumpitnya tinggi-tinggi lalu menyodorkannya pada udara bebas. “Ayo oppa, dimakan!”

“Aish! Kenapa kau tidak memakannya juga?! Bukannya kau senang jika aku menyuapimu?”

“Oppa…” Hyen menjatuhkan sumpitnya dengan refleks dan kembali menangis. Ia sadar bahwa sedari tadi Ia hanya berbicara sendiri tanpa ada lawan bicara yang dimaksud duduk di hadapannya. Hyen menyendokkan lagi jajangmyeonnya dan memakannya dalam tangis.

“Dasar rakus! Menangis atau tidak kau tetap saja makan”

Lagi-lagi Hyen mendengar suara Kyuhyun. Kyuhyun memang pernah berbicara seperti itu padanya saat Hyen tengah menangis setelah menonton adegan sedih di dalam drama favoritenya. Lalu sambil masih menangis, Ia makan.

“Kau cerewet! Kalau makan ya makan saja. Kalau kau tersedak, aku yang repot”

Suara Kyuhyun silih berganti terdengar di telinga Hyen Hyo. Ia masih menguyah jajangmyeonnya dengan nafsu. Terkadang, rasa asin menambah cita rasa jajangmyeonnya saat dengan tidak sengaja air matanya masuk ke dalam mulut.

“Hyen, aku malas makan. Kau tidak ingin menyuapiku? Dasar istri menyebalkan!”

Kali ini Hyen tertawa dalam tangisnya. Bahkan masih sambil mengunyah. Namun air matanya pun turut menetes dari matanya. Kini, menangis terasa sakit bagi Hyen Hyo. Matanya terasa perih dan berat saat harus mengeluarkan air mata lagi. Namun, seberat apapun Ia mencoba untuk menahan, tetap saja air mata ini keluar dengan sendirinya saat hatinya merasakan hantaman yang kuat.

Kepalanya Ia jatuhkan di atas meja makan setelah Ia menggeser piringnya jauh. Tetap menangis, bulir-bulir kristalnya menetes jatuh, membuat genangan seperti kristal cair di atas meja kacanya. Bahkan kini kepalanya terasa licin akibat gesekan kulitnya dengan kaca yang basah.

“Kyu…. Jaebal…. Ireojima!” ringisnya dengan sekuat tenaga. Untuk mengatakan itu saja, rasanya Hyen butuh tenaga yang lebih. Badannya bergetar hebat, paru-parunya terasa sesak, oksigen yang biasanya berkeliaran bebas di sekitarnya, kini seperti sedang tersedot dan semakin menipis. Hatinya terasa sakit setiap kali Hyen menarik nafas dan jantungnya berdetak tidak seperti biasanya. Semakin melemah. Dan sesaat kemudian, matanya terpejam. Air mata masih mengalir dari sudut matanya sebelum akhirnya Ia benar-benar tidak sadarkan diri.

                                                                        ***

1 Month Later

Aku membuka laptopku dan langsung tersambung ke e-mail. Dengan tenaga yang tersisa, aku mengetik sebuah pesan padanya.

“Kyu, aku membutuhkanmu. Bisakah kau kembali 2 hari lagi? Atau besok? Aku benar-benar membutuhkanmu. Sebentar saja. Tidak akan lebih dari 24 jam. Aku hanya ingin mengatakan sesuatu yang memang tidak bisa aku katakan lewat e-mail. Aku ingin mengatakannya secara langsung. Bisakah?”

                                                                        ***

Hari sudah berganti malam, tapi Kyuhyun masih belum membalas pesanku. Aku tahu dia sibuk, maka dari itu dia tidak mungkin membaca pesanku dalam waktu yang dekat, tapi ku mohon Tuhan, tolong buat Kyuhyun membaca pesanku, aku sudah tidak kuat menahan ini lebih lama lagi. Aku membutuhkannya. Tuhan, ku mohon. Aku sudah sakit berlebihan, aku membutuhkannya. Mungkin benar, aku tidak bisa hidup tanpanya.

Aku berbaring pada kasur, bersembunyi dalam selimut dengan posisi menyamping. Mengelus bantal yang ada di sampingku. 1 Bulan lalu, dia masih tidur disini, di sampingku, menemaniku.

Sekuat apapun aku mencoba untuk mengeluarkan air mataku, tetap saja air ini tidak keluar. Sepertinya persediaan air mataku sudah habis untuknya selama sebulan penuh ini.

                                                                        ***

2 days later

“Hyen-ah! Aku datang!” suaranya menggema di rumah ini, suara yang sudah aku rindukan selama sebulan ini. Suara yang selalu aku suka dan suara yang selalu menemaniku menikmati kebahagiaan di sisa-sisa hidupku sebelum 1 bulan ini berjalan. Tapi apa daya, badanku sudah tidak memiliki tenaga yang cukup untuk turun dari kasur dan menghampirinya, berlari masuk ke dalam pelukannya yang hangat, menghirup aroma tubuhnya yang selalu aku sukai, di belai lembut rambutku dengan sayang dan semacamnya. Aku memang sengaja tidak mengunci rumah ini dari 3 hari yang lalu karena aku tahu dia akan datang. Dan aku sudah tidak sanggup lagi untuk turun dari kasur dan berjalan.

Dan sudah selama 3 hari ini juga tidak ada makanan bahkan minuman apapun yang masuk ke dalam mulutku.

Aku menatap tajam pada knop pintu, menunggunya untuk bergerak dan akan membawa wajah Kyuhyun masuk ke dalam penglihatanku yang sudah mulai buram dan menghitam, gelap.

“Hyen….” Kyuhyun tersenyum lirih saat knop pintu berputar.

Ya Tuhan, aku tidak bisa mengatakan apapun, tenggorokanku serasa tercekat. Wajah dengan lekuk sempurna yang dimiliki oleh pria yang selalu aku rindukan, sekarang ada di hadapanku. Aku merindukannya sampai hampir mati. Aku menangisinya karena membutuhkannya sampai kehabisan air mataku. Aku berdoa untuknya setiap hari sampai aku lupa untuk mendoakan diriku sendiri yang sedang lemah terbaring tidak berdaya seperti mayat hidup. Tuhan, kenapa kau ambil pria ini dengan cepat dari sisiku? Aku terlalu mencintainya, tolong jangan buat dia menjauh dariku lagi. Aku membutuhkannya, aku sangat membutuhkannya untuk menemaniku hidup. Dia sangat berpengaruh atas keberlangsungan hidupku, Tuhan.

“Hyen….” Kyuhyun berlari menghampiriku, memegang kedua pipiku dengan mata yang sudah tergenang air mata. Tuhan, tangan hangat yang selalu membawaku ke dalam rasa nyaman dan aman kini menggenggam pipiku, ini bukan mimpi kan Tuhan? Biarkan aku menikmati saat-saat terakhirku bersamanya sekali lagi, ku mohon.

Dia menatapku lekat-lekat, mungkin bingung dengan perubahan drastis pada diriku. Rambutku kini tidak serapih dulu, tidak selembut dulu. Mataku penuh dengan lingkaran hitam yang mengelilinginya dan terlihat sangat sayu. Pipiku tirus akibat dalam sebulan ini, aku hanya makan beberapa kali, bahkan bisa dihitung dengan tangan. Badanku hanya menyisakan tulang. Berat badanku benar-benar turun drastis. Bibirku yang kecil mungil, kini mengembang akibat aku menangis terus-terusan. Hidungku berwarna merah sempurna seperti baru saja tertumpah oleh cat.

Kyuhyun menyibakkan selimut yang ku pakai dan membuka kaosku, tangannya kini beralih memegang rusuk di perutku dan kemudian menatapku tepat berbarengan dengan jatuhnya air matanya yang pertama.

Dia memegang rusuk di perutku yang terlihat sangat menonjol. Aku sekarang sudah sama dengan manusia-manusia kekurangan gizi yang ada di Afrika sana.

“Hyen… wae?” dia menangis, air matanya bergulir indah di pipinya. Aku hanya bisa menarik seulas senyumku, walaupun aku tahu ini tidak terlihat seperti senyum, melainkan diam. Aku sudah tidak melakukan apapun. Terlalu lemah untuk bergerak, bahkan untuk senyumpun susah.

“HYEN-AH! WAE?!” dia meneriakiku. Aku memejamkan mata, menahan teriakannya karena aku sudah tidak bisa lagi mengangkat tanganku untuk menutup telinga.

“Buka matamu, Hyen, buka matamu!” Ya Tuhan, kenapa rasanya sangat sulit untuk aku membukakan mataku? Apakah aku salah sudah menutup mataku barusan? Tuhan, aku mohon, tolong bantu aku untuk membukakan mataku.

“BUKA MATAMU, HYEN!” isaknya. Tuhan, Kyuhyun memintaku untuk membuka mataku, ku mohon bukakan mataku. Aku mohon…. jaebal….

Dengan sekuat tenaga, aku membuka mataku, walaupun hanya setengah. Rasanya sangat berat untuk membuka mataku yang kecil.

Kyuhyun memeluk tubuh kurusku, dan aku bersyukur bisa merasakan kehangatan tubuh ini lagi. Bisa menghirup aroma tubuhnya yang menyeruak masuk ke dalam hidungku. “Hyen, Jaebal… Wae Ireoni?”

“Kyu…” Rasanya sangat sakit saat aku mencoba untuk berbicara, tenggorokkanku seperti ada yang menusuk.

“Mianhae” lanjutku dengan terbata-bata. Dia mengelus pipiku yang sudah tidak lagi terasa mulus. “Untuk apa Hyen-ah? Ku mohon, jangan seperti ini. Aku…”

“Mianhae” ulangku lagi. Sekalipun tenggorokkanku serasa ditusuk oleh seribu jarum, aku masih akan tetap mengalahkannya, walaupun terasa sangat sakit. Tapi aku harus mengatakan ini pada Kyuhyun.

“Hyen…”

“Kyu, mianhae.” rasanya sulit sekali untuk aku mengatakan kalimat yang panjang kepadanya. Apakah dengan mengatakan ini dia sudah bisa mengerti?

Maaf atas segala sesuatu yang pernah aku buat padamu, maaf atas segala sesuatu yang mungkin pernah menyakitimu. Aku mohon maaf atas segalanya, Dan aku mohon maaf karena aku tidak bisa mencintaimu selama kau mencintaiku, karena mungkin…. sekali lagi aku mohon maaf karena aku akan meninggalkanmu lebih awal.

“Mianhae” lirihku lagi. Kyuhyun memeluk badanku, badannya bergetar, ingin sekali rasanya tangan ini terangkat dan mengelus rambutnya, tapi susah Tuhan. Ini susah. KENAPA?! Aku mohon…..

“Mianhae, aku…”

“Apa, Hyen-ah, apa? Katakan… Jaebal” Kyuhyun menatap mataku dengan intens. Aku ingin menutup mataku, tapi Kyuhyun memegang pipiku dengan erat. “Jangan tutup matamu sebelum kau menyelesaikan perkataanmu, Hyen. Jaebal..” aku membuka mataku kembali yang sudah terasa sangat berat. Entah ada rasa sakit yang jatuh dari mana, tapi tubuhku terasa sangat sakit, semuanya. Seperti sedang dicabut.

“Aku mungkin akan…”

“Akan apa Hyen-ah!? KATAKAN!!!” dia mengguncang tubuhku dengan keras, membuatku semakin merasakan sakit. Mataku hampir tertutup jika aku tidak menahannya untuk tidak tertutup.

“Sarang….” Aku terbatuk sebelum selesai mengatakan bahwa aku mencintainya. Tuhan, kenapa badan ini rasanya tidak menyetujui untuk aku mengatakan semuanya pada Kyuhyun? Beri aku kekuatan sedikit saja, Tuhan.

“Mianhh.. Saranghae” ucapku dengan lemas berbisik. Aku menutup mataku karena sudah merasa lelah untuk menahannya. Kyuhyun menerikakiku, dapat aku dengar suaranya dengan jelas bahwa Ia masih menangis. Dan sedetik setelah itu, aku sudah bisa melihat diriku di peluk oleh Kyuhyun.

“Hyen… Ku mohon jangan tinggalkan aku… Hyen, kau wanita yang kuat! Kau harusnya bisa bertahan! Hyen… Ku mohon!!!” Kyuhyun mengguncang-guncangkan tubuhku dengan keras lalu mengangkatnya, membawa tubuhku masuk ke dalam pelukan hangatnya. Aku hanya tersenyum memandang tubuhku sendiri yang sudah bukan apa-apa lagi dipeluk hangat oleh Kyuhyun. Tuhan, aku mungkin belum bisa mengatakan seluruhnya, tapi terima kasih karena engkau telah membawanya menyaksikan hari terakhirku. Hari pencabutan nyawaku. Terima kasih telah membawa Kyuhyun berada di sampingku disaat-saat terakhirku. Seandainya aku, roh tanpa badan ini masih bisa memohon, aku ingin memohon satu hal lagi padamu, Tuhan. Tolong sadarkan dia, bahwa aku mencintainya lebih banyak dari dia mencintaiku, dan aku mencintainya lebih lama dari dia mencintaiku, sekalipun hidupku jauh lebih pendek daripada hidupnya.

Saranghae….

                                                                        END

25 responses »

  1. TT~TT

    G nyangka klo hyen bakal meninggal, sedih bgt😦
    hyen smpe kyk org gila gtu d rmahx..

    km hebat bgt dah klo bkin cerita sedih gni. feelx sllu dpt bgt ^o^)b

  2. nisa aku mau tnya knpa kmu slalu bkin ff yg sad end trus si ? bkin galai tau ;( tapi cerita.x seru si tapi knpa harus sad ? huwaaaaa niiiiisssaaaaaaaaaa >.<

    • Kenapa yaaaaa, suka aja hehehhee
      Kalau nggak sad end, gak seru ah wkwkwk. Kalau yang tadinya nangis, pas happy end kan enatr nangisnya berhenti. Kalau sad end kan, entar nangisnya sampe selesai baca cerita hahaha

  3. jadi ini end nya ya gak ada lagi please don’t say lagi???
    atau masih ada??
    ceritanya pasti sedih#yaiyalah
    aku gak nyangka hyen sangat cepat meninggalkan kyu
    tapi mungakin dengan cara tu hyen akan tenang kali yahhh
    keren banget deh
    itu aja sekian kkkk

    • Masih ada kok, tapi dengan cerita yang berbeda. Lagian Please Don’t Say selama ini kan ceritanya juga beda-beda hehehe
      Kalau yang seri ini, itu tuh lanjutan dari seri yg DISCORDED hehe

      Wkwkwkwkwk oke oke, commentnya bisa diterima hahaha

  4. Igo mwoya??? Kenapa matii???ini angst beneran angst (?) g macem-macem angstnya… hyen meninggal karna penyakit apa gara” jarang makan? T.T

  5. Pingback: [FICLET] Please Don’t Say – Be Left (HaeNa’s Story) | FFindo

  6. Pingback: [FICLET] Please Don’t Say – Be Left (HaeNa’s Story) « Nisa Ayu Thayalisha Hadi's

  7. emp, kena karmanya juga kyu, hyen-nya meninggal..
    beneran angst.
    ini cerita please don’t say versi kyu-hyen? trus ganti jadi haena, ..
    tetep good story,
    lanjuut.

  8. aku kira sequel nya bakalan happy ending, ,
    paling nggak Hyen jadi bahagia di hidupnya yang baru, tapi malah mati

    dicerita “please don’t say” kyuu jadii jahat semua, , *huhu*
    tapii tetep aja baca
    next q tunggu , ,

  9. entah kenapa, baru nemu web ini dan baca FF ini. SAYA LANGSUNG NANGIS !😦
    Feelnya dapet baget, apalagi sambil ndengerin Only One nya BoA, nyesek banget😦
    sebenernya ga rela Hyen mati, tapi apa daya sudah terlanjur ditulis😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s