SADNESS Part 10

Standard

Author : Nisa Ayu Thayalisha Hadi (Nam Hyen Hyo)

Cast :

Cho Kyuhyun

Nam Hyen Hyo

Jang Hye Ri

Lee Jonghyun (CN BLUE)

Title : Sadness Part 10

Length : on going~

Genre : Romance, Angst

Rating : PG-13

Disclaimer : The casts are belong to God, and this Fan Fiction is belong to me kekekeke~ i own this plot ok?

Note : This is pure my imagination.

Credit Poster : cutepixie@darkreflection.so-pink.org

===============================================================

Preview

“Morning Kiss itu seperti ini..” Kyuhyun bangkit dari mejanya. Tangannya menyusup ke pinggang Hyen Hyo dan menariknya hingga tubuh mereka menempel. Mereka mendekatkan wajah mereka masing-masing dan saling menelengkan kepalanya berlawanan arah. Lalu saat bibir mereka sudah bertemu, Kyuhyun langsung melumatnya dalam dan ditanggapi oleh Hyen Hyo.

“Bisa kau buka matamu?” dengan cepat Jonghyun menggeleng.

“Terlalu sakit untuk dibuka”

Tuhan, kenapa aku harus merasakan hal pahit lagi disaat kau sudah memberikanku tanda-tanda kebahagiaan di dalam hidupku? Kebahagiaan yang aku rasakan hanya bagaikan sebuah trailer dalam film-film. Hanya sebentar dan berakhir menggantung. Membuat semua orang penasaran seperti aku merasakan penasaran yang mendalam kali ini. Penasaran bagaimana dengan kebahagiaanku yang sesungguhnya. seru Hyen Hyo dalam hati sambil menahan tangis.

“Meminta sesuatunya besok saja, aracchi sayang? Appa-mu sudah tidur. Umma tidak mau membangunkannya. Kasihan, dia terlalu lelah malam ini. Kau anak yang pintar dan baik, bukan? Kau mengerti umma? Baiklah, tertidurlah di dalam dalam kehangatan. Umma akan selalu menjagamu agar tetap hangat di dalam sana”

“HYE RI-YA?!” teriak Hyen Hyo.

=====================================================

“Baiklah, ada yang ingin kau ceritakan pada kami?” tanya Kyuhyun di meja makan. Kami sengaja berkumpul bertiga di meja makan seperti ini saat merasa kondisi Hye Ri sudah mulai membaik. Tentu saja ada hal yang mengganggu pikirannya sampai-sampai bisa membuat dia menenggak alkohol sebanyak itu. Dan orang tulipun pasti mengerti bahwa masalah yang diemban wanita ini tidak seringan yang dikira.

Hye Ri menunduk dalam, tangisannya tiba-tiba pecah, menetes dan menggenang pada meja kaca di bawahnya. Aku mengelus punggung Hye Ri untuk memberi ketenangan, ini tidak baik untuk kondisi janinnya, bagaimanapun juga, anak yang dikandungnya adalah anak Cho Kyuhyun, aku tidak mau benih dari suamiku bisa lahir dengan tidak sehat karena ibunya mengalami stress berat seperti ini.

“Aku tau masalahmu, Hye Ri-ya, biar aku yang jelaskan pada Kyuhyun.” Kyuhyun mengerutkan alisnya bingung. Aku menarik nafas panjang sebelum memulai cerita.

“Waktu itu aku datang ke apartemen Jonghyun untuk mencari Hye Ri. Aku bilang padanya bahwa aku mencari Hye Ri, tapi jawaban yang terlontar dari mulutnya benar-benar membuatku tercengang kaget dan merasa harus tahu tentang masalah ini. Jonghyun menceritakannya dengan jelas, bahkan sampai meneteskan air mata. Dari awal aku datang sampai aku pulang, dia tidak kunjung juga membuka matanya, dia bilang bahwa matanya sangat berat dan sakit untuk dibuka. Aku tau itu adalah efek dari dia menangis semalaman penuh.”

“Sebentar jagi, bisa kau langsung mengarah ke intinya saja?” sela Kyuhyun, aku mengangguk mengerti dan menjelaskan kembali.

“Hari itu, saat Hye Ri pergi ke rumah dengan  izin untuk bertemu dengan Jonghyun, pada hari itu pula hubungan mereka berakhir. Jonghyun mengakhiri hubungan mereka dengan alasan tidak sanggup lagi menahan rasa sakit yang setiap hari menghujamnya karena Hye Ri telah berstatus sebagai istrimu, ditambah lagi dengan… um..” ya Tuhan, kenapa rasanya berat sekali untuk mengatakan kalimat selanjutnya?

“Dengan apa, Hyen?”

“Dengan dia mengandung benihmu, oppa. Jonghyun mengetahuinya, aku juga tidak mengerti dia bisa tahu tentang ini dari siapa, tapi yang jelas Ia tidak terima dan Ia hanya menyerah begitu saja untuk melepaskan Hye Ri. Mungkin karena masalah ini Hye Ri menjadi terpukul seperti sekarang.”

“Hye Ri-ya, benarkah begitu?” tanya Kyuhyun. Hye Ri mengangguk lemah dan sesaat kemudian wajahnya tersungkur di atas meja. Bergetar hebat. Aku membawanya ke dalam pelukanku. Kyuhyun mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan, wajahnya terlihat frustasi dengan kerutan-kerutan kecil yang tampak di sekitar dahinya.

“Jonghyun mencintaimu. Masih mencintaimu dan akan terus mencintaimu. Mungkin kalian tidak ditakdirkan bersama Hye Ri-ya. Takdirmu adalah Cho Kyuhyun, bukan Lee Jonghyun” aku merasakan nyeri di hatiku akibat perkataanku sendiri barusan. Aku tau aku melukai diriku sendiri, tapi hanya ini yang bisa aku lakukan. Melukai diriku sendiri hari ini, esok dan seterusnya. Selama ragaku masih bernyawa dan aku masih bisa menghirup oksigen dengan bebasnya, aku akan tetap terus menyakiti diriku sendiri demi membahagiakan orang-orang di sekitarku.

“Kau istirahatlah” aku membawa Hye Ri ke kamar, menidurinya dan menarik selimutnya hingga batas leher. Sebelum aku benar-benar keluar dari kamarnya dan mematikan lampunya, dia bergumam “Unnie, sampaikan salam terakhirku untuk Jonghyun jika kau bertemu dengannya.” aku tersenyum canggung dan mengangguk lalu berhambur keluar kamar.

“Dan kau Tuan Cho Kyuhyun, ayo kita istirahat!” ajakku pada Kyuhyun. Namun Kyuhyun bergeming, masih dengan posisi yang sama. Aku berjalan mendekat, menyentuh puncak kepalanya dengan lembut lalu turun ke pipinya. “Ada masalah? Apa yang kau pikirkan lagi?” dia menoleh, memegang tanganku dengan erat kemudian mengecupnya.

“Apakah aku sebrengsek ini hingga bisa menghancurkan mimpi dari 2 orang wanita?” matanya mulai digenangi dengan air. Entah air apa, tapi aku yakin sekali air itu akan menetes setelah dia mengedipkan matanya. Kyuhyun bukan orang yang mudah mengeluarkan air mata, jika ini sampai terjadi, berarti dia benar-benar merasa terpukul dari hati yang paling dalam.

“Maksudmu?”

“Pertama, aku menghancurkan mimpimu untuk hidup bahagia bersamaku tanpa ada yang mengganggu seorangpun. Kedua, aku menghancurkan mimpinya untuk hidup bahagia bersama Jonghyun tanpa pernah putus hubungan sekalipun Ia telah menjadi istriku” seiring dengan kata terakhir yang dia ucapkan, tangannya beranjak menutupi wajahnya. Aku menarik tangannya dan sudah mendapati air mata membasahi pipinya. Melihat ini, aku jadi tidak tega. “Sejak kapan pria kuat yang selalu aku cintai sampai mati jadi cengeng seperti ini?” seruku seraya membawanya ke dalam pelukanku. Mengelus rambutnya dengan pelan, membiarkan tangisnya redam di atas perutku. Ya, posisiku berdiri, dan dia terduduk.

“Cho Kyuhyunku bukan Cho Kyuhyun yang mudah menangis. Cho Kyuhyunku bukan Cho Kyuhyun yang brengsek. Cho Kyuhyunku adalah Cho Kyuhyun yang selalu mengerutkan dahinya saat merasa bingung. Cho Kyuhyunku adalah Cho Kyuhyun yang selalu mengendus rambutku untuk meredamkan amarahku. Dan Cho Kyuhyunku adalah Cho Kyuhyun yang selalu memberikan senderan padaku saat aku menangis, bukan menyender padaku. Ini terbalik. Aku butuh Cho Kyuhyunku, bukan hanya sekedar Cho Kyuhyun. Istirahatlah!” aku mengusap pipinya dan sesaat Ia mendongak, tersenyum padaku lalu bangkit dari kursinya. Mengunci kepalaku dengan kedua tangannya dan membawa bibirnya bertemu dengan bibirku. Melumatnya pelan namun terasa sangat panas.

“Aku mencintaimu Hyen” ujarnya.

“Aku lebih mencintaimu, oppa” jawabku tidak mau kalah sambil menyibakkan rambut yang menutupi dahinya. Dia memang selalu terlihat tampan, kapanpun. Sekalipun Ia sedang menangis, wajah tampannya tidak akan pernah hilang. Orang-orang memang benar jika mengatakan bahwa tampan adalah relatif, tapi aku berani bersumpah, siapapun yang pernah melihat suamiku, semuanya pasti akan mengatakan bahwa Ia tampan. Dan aku seharusnya mensyukuri itu, walaupun dia bukan hanya milikku… setidaknya aku sudah menjadi wanita paling beruntung yang bisa memilikinya bahkan dicintainya dengan sepenuh hati.

Melihatnya yang menangis seperti ini, jadi mengurungkan niatku untuk mengatakan semuanya. Mungkin lain kali saja. Disaat semuanya sudah mulai membaik dan dia bisa mendengarku serta mencerna semua kata-kataku dengan pikiran jernihnya.

Tuhan, kau mungkin masih baik padaku karena tidak menjadikan hari ini menjadi hari terakhirku untuk merasakan kebahagiaan, namun aku tahu bahwa hukumanmu tidak akan mungkin terlewatkan. Aku hanya tinggal menunggu waktu yang tepat. Sebelum akhirnya aku memutuskan untuk tetap mencintainya dengan sepenuh hatiku dan memintanya untuk mencintaiku tidak sama banyaknya seperti sekarang, biarkan aku merasa hidup kembali pada beberapa tahun yang lalu. Disaat semuanya belum berubah. Disaat aku dan dia tidak bosan-bosannya mencicipi kebahagiaan darimu setiap detik.

                                                                        ***

Aku duduk di pinggir kasur Hye Ri. Dia masih memejamkan matanya. Apakah tidurnya pulas selama semalam ini? Kau  harus memikirkan janin yang ada dikandunganmu, Hye Ri-ya. Dia anak suamiku.

“Unnie?” aku tersenyum saat dia menyadari kehadiranku di sampingnya.

“Tidurmu pulas?” dia mengangguk pelan dan memposisikan dirinya sendiri untuk duduk menyandar pada dipan.

“Unnie, ada yang ingin aku sampaikan. Tapi sebelumnya aku memohon maaf yang sangat besar padamu” Ya Tuhan, kenapa perasaanku jadi tidak enak seperti ini? Akankah dia mengatakan….

Dia mengatakan semuanya setelah aku menganggukkan kepalaku. “Aku rasa, aku butuh perhatian dari seseorang. Mengingat Jonghyun yang sudah bukan lagi milikku, aku jadi bingung harus meminta siapa untuk memanjakan aku. Bagaimanapun juga, aku sama denganmu unnie. Sama-sama calon ibu yang tengah mengandung dan membutuhkan banyak perhatian dari lawan jenis kita, tapi….” Hye Ri menggantungkan kalimatnya.

“Kau ingin Kyuhyun memperhatikanmu? Aku sudah memikirkan ini sejak awal. Kau tidak usah khawatir. Dia pasti akan mengurusmu. Dia itu pria yang bertanggung jawab”

“Tapi dia sangat mencintaimu unnie, dia pasti akan memperhatikanmu lebih besar daripada aku” Dia menunduk. Lagi-lagi hatiku seperti baru saja diledakkan dengan bom super kuat. Tiga orang—Hye Ri, Jonghyun, Umma Kyuhyun—sudah meminta Kyuhyun memperhatikan Hye Ri. Bukankah 3 lawan 1 sudah pasti kalah telak?

“Begitukah? Menurutmu akan seperti itu? Bagaimana kalau kenyataannya tidak?” Hye Ri mengangkat bahunya bersikap tidak mau tahu. Aku menghembuskan nafasku kuat-kuat kemudian bangkit.

“Kajja!” dia menerima uluran tanganku dan ikut bangkit. “Mau kemana?” tanyanya polos. Aku tersenyum manis, mencoba untuk menyembunyikan rasa gundah yang ada di hatiku di hadapannya.

“Ke kantor Kyuhyun. Bawa ini!” seruku sambil memberikan kotak makan berisikan masakanku untuk makan siang Kyuhyun. Hye Ri menerimanya kemudian dahinya mengernyit, menatapku dengan penuh tanya di manik matanya.

“Kita ke kantor Kyuhyun, dia pasti sudah kelaparan. Dan kau, kau harus bilang bahwa ini masakanmu, kau mengerti?”

“Tapi unnie…”

“Kau ingin Kyuhyun memperhatikanmu kan? Kau harus mulai dengan memperhatikannya dulu baru dia akan memperhatikanmu,” jelasku. Dia tersenyum lebar lalu memelukku. “Gomawoyo Unnie, kau baik sekali!” aku mengelus rambut sebahunya sambil tersenyum lebar, sama sepertinya. Dan aku juga mengetahui dengan pasti bahwa lubang di hatiku sudah menganga begitu lebarnya. Lebih lebar daripada tawaku atau tawanya kali ini.

“Apakah dulu kau juga seperti ini? Memperhatikannya untuk mendapatkan perhatiannya?” tanya Hye Ri was-was, aku menggeleng.

“Tidak, Dia yang memperhatikanku duluan. Karena dia yang jatuh cinta padaku lebih awal hahaha” banggaku. Senyum yang mengembang di wajah Hye Ri tampak berkurang, dia menatapku dengan mata sayunya.

“Kau beruntung, unnie. Dia sangat mencintaimu. Aku jadi sangsi dia bisa memperhatikanku sama halnya dengan dia memperhatikanmu” senyum buatannya membuat hatiku terenyuh, tidak seharusnya kau memasang senyum semasam itu Hye Ri-ya, kau sedang terluka dan aku tidak akan mungkin membiarkanmu terus terfokus pada lukamu.

“Kau juga beruntung. Sudahlah. Ini hanya masalah waktu, tidak ada yang tahu bukan? Bisa saja nanti Kyuhyun akan lebih memperhatikanmu dibanding aku. Karena aku akan menjadi lebih tua setiap harinya hehe”

“Kajja! Kita berangkat sekarang! Aku tunggu kau untuk mengganti baju, arra? Ppali Hye Ri-ya, Kyuhyun sudah menunggu!”

                                                                        ***

“Selamat siang Nyonya Cho” bungkuk sang penjaga pintu perusahaan Kyuhyun dengan sopan, aku hanya membalasnya dengan senyum dan berlalu.

“Nyonya Cho, selamat siang! Ingin mencari Tuan Cho Kyuhyun? Dia sedang ada meeting dengan client, mungkin Nyonya bisa tunggu di ruangannya” seru Jung Mi dengan suara lemah lembutnya yang khas, aku mengangguk mengerti dan menuntun Hye Ri ke ruangan Kyuhyun. Hye Ri berlari kecil untuk menyamai langkah kakiku karena tadi Ia berjalan jauh di belakangku.

“Unnie, tadi siapa?” tanyanya.

“Itu? Sekretarisnya Kyuhyun oppa, ada masalah?” Hye Ri menggeleng dengan cepat.

“Apakah oppa sering melakukan meeting seperti ini?”

“Tidak setiap hari. Tapi satu minggu setidaknya ada satu kali meeting” jawabku sekenanya. Setahuku Kyuhyun memang seperti itu.

“Dia hebat. Aku tidak pernah bermimpi mempunyai suami yang ternyata sehebat Kyu-oppa. Mungkin aku sama denganmu, sama-sama wanita yang beruntung. Iya kan unnie?” senyum lebarnya yang menghiasi wajah, Ia tunjukkan padaku. Matanya berseri-seri seolah dia memang sangat mengagumi sosok Kyuhyun yang memang benar-benar sempurna di mataku. Dan….—sekarang—di matanya.

Tuhan, aku mohon selamatkan jantungku yang sudah menjadi serpihan abu detik ini.

“Unnie?”

“Ne?”

“Kenapa kau diam saja? Kau mengiyakan perkataanku tidak?!” tegasnya saat kita tengah menaiki lift menuju ruangan kerja Kyuhyun. Aku melirik ke arah kotak bekal berisikan makanan masakanku yang sedang digenggam Hye Ri erat. Lalu beralih ke manik matanya. Berusaha menunjukkan senyum biasaku, tapi tidak bisa. Aku tau yang keluar dari bibirku adalah senyuman masamku yang sedikit canggung.

“Iya, kau adalah wanita yang beruntung karena bisa memiliki suamiku dengan restu dari orang tuanya. Bukan sepertiku”

“Unnie….” senyumnya sirna, diganti dengan raut wajah bersalah.

TING! Lift terbuka, tanpa menghiraukannya lagi, aku langsung melangkah maju meninggalkan Hye Ri yang masih diam di dalam lift, mungkin Ia tercengang dengan kalimat lancangku barusan. Tapi sungguh, memang itu kalimat yang sudah aku pendam dalam hati dan ingin aku katakan. Akhirnya aku bisa mengatakannya. Tapi setelah ini…. entahlah. Hatiku sudah semakin nyeri setiap detiknya. Entah sampai kapan aku bisa bertahan dengan semua kepedihan ini. Entah aku bisa berakhir hidup dengan bahagia karena selalu berada di sisi Kyuhyun dan tetap mempertahankan sakit yang ada di hatiku, atau mungkin, aku akan berakhir sama naasnya dengan Jonghyun. Meninggalkan Kyuhyun dengan Hye Ri berdua, agar rasa sakit yang ada di hatiku tidak terus membuncah dan aku tidak usah repot-repot lagi mengurus seluruh darah-darah yang ada di hatiku karena luka.

“Aa… Ini ruang kerja Kyuhyun oppa? Wow, dia masih muda tapi sangat bertalenta seperti ini…. Rasa syukur seperti apa ya yang harus aku lakukan? Mata dan hatiku baru di buka hari ini oleh Tuhan, mungkin. Selama ini aku hanya bisa melihat Jonghyun, Jonghyun, dan Jonghyun. Tapi kali ini… Unnie, ini menakjubkan! Suamimu mendekati sempurna, nyaris! Atau mungkin… memang sempurna?”

Memikirkan Jonghyun-mu akan lebih baik daripada kau memikirkan suamiku. Tidak usah mengatakan bahwa dia suamiku kalau di hatimu kau juga mengatakannya bahwa dia suamimu pula. Jawabku dalam hati.

“Hyen-ah?” Kami berdua sama-sama menoleh ke arah sumber suara. Pintu terbuka dan Kyuhyun muncul di baliknya. Dengan setelan celana yang pas di kakinya, kemeja putih yang menutupi badannya serta dasi berwarna biru tua menggantung di lehernya dan tidak lupa dengan jas hitam lekat yang semakin membuatnya nyaris sempurna seperti mannequin.

Ia menghampiriku, mendekat padaku seolah-olah tidak menyadari kehadiran Hye Ri yang sedang berdiri tidak jauh dariku. Kyuhyun memeluk pinggangku dan mencium kening. Tangannya mengelus perutku yang masih terlapisi dengan baju tebal lalu berkata. “Kau ingin ikut umma-mu membawa makanan untuk appa ya? Ayo kita makan bersama!” dia menepuk perutku pelan dan tersenyum.

“Mana makanannya Hyen?”

“Ini oppa” belum sempat aku menjawab pertanyaannya, Hye Ri sudah menyela.

“Aih, Hye Ri-ya? Kau ada disini juga? Aigo, aku tidak menyadari keadaanmu. Mianhae, mataku memang tidak bisa memandang yang lain jika aku sudah melihat Hyen ada di hadapanku” aku menulan ludahku dengan susah lalu melirik Hye Ri. Senyumnya terlihat janggal. Tangannya masih menggantung sambil menjinjing kotak bekal itu. Sebentar, dia melirik ke arahku dan aku mengedipkan mata.

“Ini makanannya. Ini masakanku, oppa” Alih-alih menerima, Kyuhyun malah melihat ke arahku dengan wajah bingung.

“Mian, aku tidak sempat memasak oppa. Tadi pagi tiba-tiba perutku terasa mual. Anakmu memang jahil, lalu Hye Ri berinisiatif untuk membuat makanan ini untukmu. Mianhae”

“Gwaenchana” jawab Kyuhyun singkat sambil menerima kotak bekal dari Hye Ri lalu duduk di kursinya. Membuka makanannya dan melahapnya dengan tenang. Apakah dia akan tahu bahwa itu adalah masakanku? Atau dia percaya dengan semua bualan kita bahwa itu adalah masakan Hye Ri? Aku berharap, Kyuhyun bisa membedakan mana cita rasa masakanku, dan bukan. Tapi sepertinya Kyuhyun tidak pernah mempermasalahkan hal itu. Apakah makanan itu masakanku atau bukan, sepertinya tidak akan berpengaruh besar terhadapnya.

KYUHYUN POV

Kau ingin membohongiku huh? Aku tidak semudah itu untuk kau bodohi. Aku juga bukan tipe suami yang cuek yang tidak pernah mendalami segala sesuatunya dengan serius. Aku tahu yang mana masakan istriku dan yang mana yang bukan.

“Ini benar-benar masakanmu, Hye Ri-ya?”

“Ne, oppa. Eotte? Mashitayo?”

“Mashita!” aku menganggukkan kepalaku dan terus melahap makanannya sampai habis. Hyen menatapku dengan senyum tipisnya. Aku tidak pernah mengajarkanmu untuk berbohong selama hidup denganku, tapi kenapa sekarang kau malah berani membohongiku? Apakah kau ingin aku memperhatikan Hye Ri sama halnya seperti aku memperhatikanmu? Apa maksudnya kau memasakkan masakan untukku tapi kau menyuruh Hye Ri untuk mengatakan bahwa ini adalah masakannya?!

“Lain kali kau masakkan aku lebih banyak makanan, arra?!” pintaku setelah berhasil menghabiskan makanannya. Hye Ri mengangguk. Senyumnya mengembang dengan lebar. Aku baru melihatnya lagi tersenyum selebar ini setelah aku sudah lama tidak melihatnya. Terakhir kali aku melihat Hye Ri tersenyum seperti ini adalah ketika dia sedang bersama Jonghyun. Bukankah begitu? Aku jadi khawatir jika dia bisa jatuh cinta padaku. Maaf, bukannya aku mendapatkan rasa sombong atau apapun itu, tapi rasanya, jika dia harus jatuh hati padaku, bagaimana dengan Hyen?

HYEN HYO POV

Kau benar-benar tidak mengenali masakanku oppa? Bahkan kau ketagihan dengan masakan yang baru saja kau makan? Dan kau percaya bahwa itu adalah masakan Hye Ri? Itu masakanku oppa! Apakah kau tidak bisa membedakannya? Aku bersyukur karna kau dapat mengabiskan makananku dengan lahapnya. Tapi apakah aku juga harus bersyukur saat mendengar kata-kata itu terlontar dari mulutmu? Kau menyukai masakan yang dibawakan Hye Ri? Aku harus besyukur karena itu sama saja dengan Kyuhyun menyukai masakanku? Aku sudah bersyukur akan hal ini sejak lama. Tapi untuk kali ini, sepertinya aku mengurungkan niatku. Apakah pantas aku bersyukur terhadap apa yang sudah menjadi hal paling menyakitkan di dunia? Kau menyukai masakanku tapi tetap percaya bahwa itu adalah masakaan Hye Ri. Dan seterusnya, kau akan mencap dalam dirimu bahwa kau menyukai masakan Hye Ri. Terima kasih.

                                                                        ***

“Aku pulang!” Kyuhyun melonggarkan dasinya sambil menghampiriku yang tengah menyiapkan makanan di meja makan dengan bantuan Hye Ri. Dia mendorong kepalaku dan mengecupnya lembut.

“Kau lelah hm?” perhatianku beralih pada dasi yang masih melekat di lehernya. Aku membantu untuk melonggarkannya dan melepasnya. Menaruhnya di ujung kursi dan menyiapkan kursi untuk Kyuhyun duduk. Dia masih tidak memperdulikan Hye Ri? Atau mungkin tidak menyadari bahwa ada Hye Ri di rumah ini?

“Oppa, kau sudah pulang?” sambut Hye Ri dengan beberapa piring di tangannya lalu menatanya dengan rapih. Kyuhyun hanya mengangguk. Rasa nyeri di hatiku kembali menyeruak saat melihat Kyuhyun tersenyum pada Hye Ri dengan lembut. Dia belum tersenyum padaku walaupun dia sudah mengecup keningku. Aku baru menyadarinya sekarang, biasanya dia akan tersenyum padaku terlebih dahulu sebelum dia mengecup keningku. Tapi malam ini….

“Oppa, ini masakanku loh!” Suara nyaring Hye Ri dari dapur memecahkan konsentrasi berpikirku. Mataku beralih menatap punggung Hye Ri di dapur lalu pada Kyuhyun. Kenapa aku merasa seperti hanya mereka berdua yang ada di rumah ini sementara aku tidak? Kenapa aku merasa bahwa aku…. umm… tidak terlihat?

Hye Ri kembali dari dapur dan duduk di samping Kyuhyun. Menyiapkan makanan untuknya dan sama sekali tidak menggubris aku yang masih berdiri mematung menatap kedekatan awal mereka. Aku meremas-remas tanganku sendiri, menahan sakit sesak di tenggorokkanku karena menahan tangis. Menggigit bibir bawahku untuk menahan rasa sakit di hatiku. Aku melangkah maju, perlahan demi perlahan. Aku sedang tidak mendramatisir masalah ini, hanya saja, rasanya berat sekali untuk mengangkat kakiku dan mendekati mereka lalu makan bersama di satu meja makan.

“Oppa, bagaimana rasanya?” tanya Hye Ri saat Kyuhyun baru saja menyuapkan makanannya. Itu masakanku, Kyu. Kau harus mengenalinya! komentarku dalam hati. Dia mengangguk, kemudian bergumam sebentar. “Mashita, Hye~ah!”

HYE?! Dia memanggil Hye Ri dengan sebutan Hye? Apakah itu sebutan sayang Kyuhyun untuknya atau hanya sekedar untuk…. menyingkat nama?

“Hyen-ah? Kau memanggilku Hyen oppa? Namaku kan Hyen Hyo”

“Hyen-ah itu panggilan sayangku untukmu, Hyen-ah. Arrasseo?!”

Memori masa laluku dengan Kyuhyun menyeruak masuk ke dalam otakku, membuatku menghentikan aktivitasku—makan dan bernafas—, lagi-lagi leherku serasa tercekik. Hatiku rasanya seperti baru saja didentumkan dengan bahan peledak super hebat yang pernah ada.

“Unnie, kau diam saja? Wae?” aku segera tersadar dan kemudian mengangguk dengan senyum canggung menyertai. Aku makan dalam diam. Tapi telingaku menangkap suara-suara tawa kecil yang keluar dari mulut seorang wanita, ataupun pria. Sampai akhirnya aku merasa bahwa aku tidak sanggup lagi untuk mendengar seluruh tawa kedekatan mereka dan berlalu pergi ke dalam kamar.

                                                                        ***

“Kenapa kau tiba-tiba meninggalkan aku dan Hye Ri berdua saja, tadi? Kau cemburu?” Kyuhyun melemparkan kemeja yang baru saja dilepasnya ke arahku. Dia mengambil baju santai untuk dipakainya tidur kemudian masuk ke dalam selimut bersamaku. Aku hanya diam. Sama sekali tidak menjawab pertanyaannya baru saja.

“Dalam konteks apa kau harus berbohong padaku?” dia bertanya lagi. Kali ini aku memutar balikkan badanku menjadi membelakanginya dan bertekad untuk tidak menjawab pertanyaannya. Suara desahan nafas Kyuhyun yang berat terdengar menderu di telingaku. Aku tau kini kepalanya pasti sudah ada di atas telingaku.

“Kau menghindariku, huh?” dengan suaranya yang sudah semakin lembut, dia bertanya. Namun aku masih tetap diam. Bukan karena ingin membuatnya naik darah, hanya saja mulutku terlalu berat untuk mengatakan semuanya bahwa aku ingin Kyuhyun juga memperhatikan Hye Ri. Dari hatiku yang paling dalam, jujur saja aku tidak ingin hal ini sampai terjadi.

“Hyen, kumohon. Berbaliklah” seperti tersulap dengan suara beratnya yang menurutku seksi, aku berbalik. Dan benar saja, wajahnya kini tepat berada di atasku. Hanya berjarak beberapa senti saja. Dia mengangkat wajahnya menjauh dariku dan duduk menyandar pada sandaran kasur. Matanya menerawang ke depan. Ke arah kumpulan foto-foto yang aku tempelkan disana.

“Kau menghindariku?” Dia mengulangi pertanyaannya. Aku menggeleng lemah, namun Kyuhyun mengerti. “Lalu mengapa kau berbohong padaku? Untuk apa?” dari nada suaranya, aku tahu dia sedang menekan amarah. Tapi dari isi pertanyaannya, aku masih belum bisa menangkap apa yang Ia maksud.

“Musun…”

“Kau membohongiku, Hyen. Apakah selama hidup denganku aku pernah mengajarimu untuk membohongiku? Cintaku padamu terlalu besar. Hatiku sudah terikat padamu tanpa bisa terlepas sampai kapanpun, dan kau seharusnya tahu bahwa kau tidak bisa membohongiku dari hal manapun!” nada suaranya terdengar sedikit meninggi dan kasar. Aku menghembuskan nafasku panjang, masih tidak mengerti dengan maksud pembicaraannya. Aku ikut terduduk dan berhadapan langsung dengan Kyuhyun. Matanya aku tatap dengan tajam. Tanganku bergerak hendak menyentuh pipinya, namun satu hal yang tidak pernah aku sangka selama hidupku, dia menepis tanganku. Arah pandangku mengikuti gerak tanganku yang seperti terlempar oleh tangan Kyuhyun kemudian menatap Kyuhyun lagi dengan bingung.

“Wae ireoni?” tanyaku lembut. Hatiku terasa sakit. Untuk kedua kalinya, Kyuhyun bersikap kasar dan membentakku. Sama seperti malam itu, malam disaat dia salah paham padaku.

“HARUSNYA AKU YANG BERTANYA. WAE IREONI, HYEN?! KAU KENAPA?!” aku menganga, air mataku hendak terjatuh seiring dengan suaranya yang semakin meledak-ledak. Aku menunduk, Tuhan, tidakkah kau ingin memberikan otakku sebuah penerangan dari maksud pembicaraan Kyuhyun ini?

“KAU MEMBOHONGIKU! APA AKU MEMILIKI SALAH YANG BESAR PADAMU?! APAKAH SELAMA AKU HIDUP DENGANMU AKU PERNAH MEMBOHONGIMU SEPERTI KAU MEMBOHONGIKU KALI INI, HUH?! JAWAB!!! AKU TIDAK BUTUH DIAMMU!” dia mengguncangkan pundakku keras. Rasa sakit menerpa seluruh tubuhku. Dari mulai kepala yang terasa pusing karena terkoyak-koyak oleh guncangan tangan Kyuhyun di bahuku. Mata yang menahan air mata. Hidung yang mulai terasa perih karena sulit untuk bernafas. Tenggorokan yang rasanya seperti tercekik karena menahan tangis. Bahu yang tercengkeram tangan Kyuhyun dengan erat. Dan hati serta telingaku yang merasa sakit akibat teriakan Kyuhyun. Aku bersumpah Tuhan, malam ini jauh lebih parah daripada malam itu.

“Kau sedang membicarakan apa?” suaraku pecah bersamaan dengan air mata yang jatuh menelusuri wajah.

“Kau yang memasak, tapi kau tidak mengakui. Apa maksudmu?!” Dia mengetahuinya? Dia mengetahui bahwa itu masakanku, jadi….

“Aku tidak pernah tidak seserius ini dalam melayani seorang wanita Hyen! Aku serius denganmu, bahkan aku masih mempertahankanmu walaupun aku harus menikah dengan yang lain. Dengan seluruh pengorbananku yang seperti ini, kau masih tega untuk membohongiku? Aku mengenal apapun darimu Hyen, sampai cita rasa masakanmu saja, aku mengenalinya dengan baik dan sempurna!!” dia membentakku lagi. Kupingku rasanya seperti ingin copot, air mataku menetes dengan derasnya padahal aku tidak menghendaki. Kepalaku yang tengah tertunduk, Kyuhyun dongakkan dengan kasar. “TATAP MATAKU!” teriaknya. Aku menatapnya dengan buram. Seberusaha apapun aku untuk melihatnya, tetap saja tidak bisa. Mata ini terlalu buram dengan air mata. Air mata yang telah keluar akibat sikap Kyuhyun barusan.

“KATAKAN PADAKU APA ALASANMU BERTINDAK SEPERTI INI?! KAU MAU MENGHINDARIKU? KAU INGIN AKU MEMARAHIMU? ATAU KAU INGIN AKU MEMBENCIMU? TINGGAL KATAKAN, DAN AKU AKAN MENURUTI! AKU MENCINTAIMU, TAPI AKU TIDAK PERNAH….”

“AKU MAU KAU MEMPERHATIKAN HYE RI!” selaku, berteriak tidak kalah kerasnya dengan Kyuhyun. Cengkraman tangannya di bahuku semakin melemah, dan dalam hitungan detik, tangannya terlepas dari bahuku. Bibirnya bergetar. “Apa?” tanyanya.

“Aku mau kau memperhatikan Hye Ri. Mulai kali ini, aku mohon, lihat dia. Lihat dia di dalam hidupmu. Anggap dia seperti istri yang sangat kau cintai. Manjakan dia sama halnya seperti kau memanjakan aku yang tengah mengandung benih darimu. Kau ingin menuruti?” suaraku semakin melemah sampai tidak terdengar. Jantungku sudah berdetak dengan tidak normal dan sepertinya paru-paruku juga sudah bekerja secara tidak optimal.

“Begitukah?” lirih Kyuhyun. Aku mengangguk. Air mataku mengalir dengan deras. Mengapa aku selalu mengeluarkan air mataku dengan mudahnya? Mengapa sudah terlalu banyak air mata yang aku keluarkan? Banyaknya air mata yang keluar dari mataku berbanding lurus dengan banyaknya kepahitan hidup yang pernah aku rasakan.

“Tapi aku mencintaimu… Aku tidak bisa, Hyen!” dia menolak dengan lembut, kedua tangannya mengunci pipiku. Aku melepaskan tangannya dan bergerak menjauh, mendekati pintu kamar dan berdiri mematung di sana.

“Hyen…”

Dengan badan yang bergetar, aku menarik knop pintu hingga pintu itu terbuka secara perlahan. Tanganku berpegangan erat dengan daun pintu demi menahan pertahanan tubuhku yang sudah runtuh dan mulai melemah.

“Aku mohon, Kyu. Untuk malam ini, dan seterusnya. Keluarlah” kepalaku tertunduk, suaraku setengah berbisik, tapi aku yakin dia masih bisa mendengarnya.

“Apa maksudmu Hyen?” tanyanya bingung.

“Kau sudah tidak seharusnya lagi tidur satu kasur denganku. Kau tidak bisa lagi menelantarkannya begitu saja. Dia membutuhkanmu!”

“HYEN! AKU TAHU KAU BICARA SEPERTI INI DENGAN SUSAH PAYAH KAN? KAU MENAHAN RASA SAKIT YANG ADA DI HATIMU KAN?! SAMPAI KAPAN KAU AKAN MENYIKSA DIRIMU SENDIRI?!” dia menghampiriku dan berteriak tepat di depan wajahku yang tengah tertunduk. Dia memalingkan wajahnya dan berjalan keluar kamar.

“Ini yang kau inginkan? Baik! Mulai malam ini, jangan menangisi sikapku yang berubah. Ini permintaanmu. Maka akan terlihat bodohlah kamu jika kamu menangisi permintaanmu sendiri!” dia menghilang. Tidak lagi bisa ditangkap oleh manik mataku, sosok tubuhnya sudah tidak ada di sekitarku lagi. Sudah tidak di dekatku. Tuhan, berhentilah untuk menyiksaku seperti ini.

BLAM!

Aku menutup pintuku setengah membanting. Badanku merosot ke lantai dan menangis sejadi-jadinya di sana. Setidakrela apapun aku melepaskanmu, Kyu, banyaknya permintaan seseorang mengalahkan egoku, dan aku sadar bahwa aku tidak boleh mempertahankan egoku begitu saja. Demi semua orang. Demi semua orang yang mencintaimu dan juga Hye Ri. Bukan demi aku yang hanya dicintai olehmu tanpa dapat cinta dari orang tuaku.

Sebanyak apapun kau mencintaiku, seharusnya dari awal aku menyadarinya bahwa aku ini terlalu hina untukmu. Diriku hina, sehina seorang pengemis yang meminta motor saat meminta-minta. Aku terlalu banyak meminta cintamu, dan pada akhirnya aku mendapatkannya sendiri tanpa harus berusaha banyak karena kau mencintaiku lebih awal. Tapi sebanyak apapun kau mencintaiku, kau tidak bisa membuatku berhenti mencap diriku sendiri sebagai wanita hina yang tidak tahu diri karena mendapatkan cinta dari sesosok pria sempurna sepertimu.

Seandainya Tuhan memberikanku kesempatan untuk memutar balikkan waktu, aku ingin mengembalikan waktuku menjadi beberapa tahun yang lalu. Sebelum aku tidak mengenal bahkan bertemu dengan sosok pria sempurna hampir menyerupai mannequin yang sudah mengikat hatiku padanya sampai membuatku tega terlepas dari ikatan keluargaku demi hidup dengannya. Sedurhaka apapun aku pada orang tua, aku lakukan hanya untuknya. Dan sehina apapun diriku karena mendapatkan cinta darinya yang begitu besar, aku akan tetap mempertahankannya untuk cadangan kebahagiaanku yang sudah terancam habis. Karena hanya dengan menyadari bahwa aku memenangkan hatimu saja, sudah membawaku masuk kembali ke dalam kebahagiaan maya secepat kilat. Walaupun hanya kebahagiaan semu yang bersifat non-permanen, setidaknya aku bersyukur pada Tuhan karena dia masih memberiku kebahagiaan disela-sela kepahitan hidup yang telah menyelimuti hingga akhir hayatku.

                                                                        END

Nb : HOLLA~~~~~~~~~ hahahahaa apa kabar kawan-kawan semuanya?^^ bagaimana? Pasti aku bakalan dirajam nih di comment wkwkwkwk. Pasti pada protes berat karena di part ini dan… (mungkin, kalian bisa memprediksinya sendiri) di part selanjutnya, angstnya akan benar-benar kerasa lagi dan muncul. Padahal di part 9 mereka udah romantis-romantisan aya^^ hahahaha

JANGAN ADA YANG BENCI HYE RI YA ._. jujur, disini awalnya aku tuh bikin sifat dia baiiiiiik bangeeeet… dan emang begitu kok sampe sekarang. Cuma pasti kalian pada gemes sama Hye Ri dan minta Hye Ri dimusnahin aja. Aduuuhhh kasian >//< hahaha

Oh iya, aku rencananya mau bikin FF ini sampe part 12/13 aja. Soalnya aku ngerasa ini FF kayanya udah panjang banget dan cerita + konfliknya juga udah makin ngejelimet. Kasian sama kaliannya😀

Ada yang setuju gak, kalau misalkan alurnya aku cepetin?

Kalau banyak yg setuju, bakalan aku cepetin. Mungkin dalam 2 part selanjutnya, bakalan di ceritain selama mereka berdua (hyen sama Hyeri) masih hamil. Tapi di part 3 setelah ini ALIAS ENDING, mau aku bikin mereka udah selesai lahiran. (kok tiba-tiba?) Ya emang tiba-tiba😄 hahahahahahaha

JADI GIMANA?! SETUJU GAK?!?!?!?!?!?!?!?!?!?!

Give me your comment, chingudeul! Annyeong^^

55 responses »

  1. Huaaaa uniiiiieeee !! Biar unnie suruh jangan benci sama hyeri tetap rasanya hyeri tuh nyebeliiiin banget !!!

    Kasian sama hyen hyo nya !!!!!!!!
    Malah kyu galak lagi sama hyen hyo !!!! (╥﹏╥)

    Gak terimaaaaaa niiiiiiiiiiih…..

  2. ini tbc kan???!!!! sumpah sumpah… jadi hyen atau jadi hyeri sama sakitnyaaaa… aaaiiihh alurnya cepetin aja.. nunggu no anak lahir ampe taun dal juga lama banget… tapi ceritanya juga jangan di pendekkin

    • Iya Tbc kakaaaaa hehehe
      Mending jadi aku deh kaaa, tapi sama aja sakitnya juga sih, kan cintanya bertepuk sebelah tangan T_T #curcol

      Baiklah kaka ketua! Siap menjalankan perintah anda!

  3. iyaaaa nisa,aku setuju alurnya dicepetin aja,aku gak kuat nangis untuk waktu yg lbh lama lg :”
    Aku bahkan gak yakin bakal sanggup baca part 11 nya nanti.pasti bakalan nangis sesegukan T^T
    nis nis,aku juga mau nanya,knp suka bgt buat cerita bergenre angst,pdhl ceritanya nyesek bgt tau.bener2 bikin hati hancur.
    Aku pasti gak akan sanggup untuk bisa hidup kalo ada di posisi hyen,sakit bgtttt!

    • Haduh, ini korbanku juga ternyata hahahhaa
      Harus sanggup dong ah, aku mah malah bahagia + semangat loh kalau mau baca FF angst, abis seru sih! hahaha

      Kenapa yaaaa??? Ga tau kenapa, kalau bikin FF angst itu bakalan muncul kebanggan dan kesenangan tersendiri aja buat diri sendiri pas baca Comment readers sampe pada nangis2, ngerasa kalau aku tuh udah berhasil bikin kalian masuk ke cerita, gitu deh intinya hehehe

  4. TT~TT

    sumpah galau bgt part ni. hyen bnr” nahan bgt sakit hatix. kyu malah marah. kasian tauuuuu….

    saeng, sumpah Q syok bgt baca tulisan END d akhir cerita.kirain tamat skrg, trnyata TBC -.-”
    jgn dicepetiiin…
    msi pngen bergalau ma sadness.hohoho

    • Iya, Kyunya emosi siiiiihhhh

      Iya nih unnie, maaf ya hehehe, salam ketik :p
      Jangan? Liat entar deh ya, segimana dapet idenya aja hehehehe

      Cieee yng menikmati galaunya sadness wkwkwkwk

  5. nyuut. hyen jangan disiksa dong. kasian ;_; authornya nih tega! *marahin nisa *ditabok
    sedih maksimal deh sama sadness, ceritanya berat tapi gampang diikuti. daebakida~🙂

    alurnya terserah aja, pokoknya kudu greget, hehe. semangat nisa!😀

  6. Astaga, gemes dah sm km…
    Buat hyen main ff ngenes mampus gn.
    Aku aga2 ga rela klo cm prsn hyeri aja yg dijaga baik sm joonghyun trs sm hyen jg.
    Dr kmrn jg bc please don’t say, hyennya km siksa trs.
    Kyu nya jg sengsara sih, tp sengsara2 nikmat, secara yg punya bini 2 kan dy, jd dy yg milih bkn dy pilihannya.
    Di sadness buat hyennya happy dong wlwpn sementara km msh seneng2 aja siksa hyen.
    Krna aku udah jadi kyuhyen shipper tp kyu sm hyennya gt aku jd takut2 bc ff mu yg sadness krn udah bc jd aga2 galau.
    Udah ah, ngebacot banyak2 capek pokoknya hyen tar hrs happy yah mo sm sapa aja.

  7. Kok end sih…
    Lanjut dong alur crta’a dicepatin jga ga pa2 yg penting Kyu harus Hyen hyo dan harus pisah ma Hye Ri…
    Sprti biasa aku selalu menitihkan air mata klo pas bgn’a Hyen hyo…
    Please lanjut ya….
    Dan ditunggu jgn lama2 ya…

    • iya iya maaf ya, itu maksudnya Tbc hehehe
      Pisah sama Hye Ri? –”
      Duh maaf ya udah bikin nangis hehehe

      Masalah lama atau engganya, insya Allah ya hehehhee

  8. sumpah ni mah bener” sadness kaga ada happyhappynya kasian ma hyen ..
    klo misal.x di khidupan nyata ada orang hyen sumpah itu keren bgtbgt smua jempol dah bwt ce yg mirip hyen itu ..
    bwt part” slnjutnya itu trserah nisa aja🙂
    di tunggguuu next part.x🙂
    nis nightmare manaaaa ?

    • hahahaha ada tauuuu di part 9 kan? :p
      Tapi kayanya emang ada deh wkwkwk

      Oke deh, selamat menunggu dan berpasrah yaaa hahahaha

      Nightmare??? wkwkwkk on processing nih😀 Mau aku terusin kalau sadness udah selesai aja deh, gimana? Tapi ga banyak2 ya partnya! Sampe Hyen punya anak aja terus ending, gimana?!

  9. hah? itu udah syok aja baca tulisan ‘END’… kirain beneran END dengan nyesek begini… tapi begitu baca notenya… fufufufu masih ada 3 part berikutnya :p
    gapapa sih… setuju” aja dicepetin… kalo panjang” partnya kasian Hyen kesiksa mulu😦
    ending jangan terlalu sadis dong buat Hyennyaaaa ._.v

    • Wkwkwkwk iya nih aku salah tulis, kebiasaan bikin ficlet yg sekali cerita langsung abis sih -_-

      yaaah, liat entar deh ya bakalan jadi dicepetin atau engga, aku udah capek bikin FF menguras hati kaya gini. Pengen bikin FF Kyu-Hyen kaya di my nightmare yang berantem mulu -_-
      Kasian Hyen disini bersedih hati bermurung durja terus. ckckckck

  10. Akhh jujur nyesek bgt bc ff ini. Aku sih yg penting endingnya hyenhyo bahagia. Masa dia mendrita trs biarpun judulnya sadnes tp pleasw bgt jgn bkn ending hyen hyo mndrt bhkn smp akhr

  11. Agak kaget waktu baca tulisan di bawah ‘END’, aku kira udah selesai FF-nya..
    Ini, Angst-nya muncul lagi, huwaaaaaa, masak cuma masalah masakan aja Kyu ampek teriak-teriak gitu, ih..😦 Kasihan Hyen Hyo T.T
    Hye Ri! Jangan sampai ya kamu suka sama Kyu, I warn you! Wkwkwk ^^

  12. Ihhhh!!!! Hyen hyo bodoooohh!! Yatuhaann :”” part ini sedih bgt. Kenapa hyen hyo harus ngerelain kyu? sekaliii aja deh dia bersikap egois.
    Nisa kalo menurut aku, menurut aku looh alurnya jgn dicepetin nanti takutnya gak dapet feelnya. Oiya trs aku mau nanya nanti eommanya kyu jd baik gak hyen hyo?

  13. njiiir… baru berani lagi baca ff ini… KYUHYUN GILA KYUHYUN GILA!!!!!!! BUKAN GITU KAN CARANYA? BUKAN JADI MARAHIN HYEN. T.T aaaaa nyesek sumpah.. kasian hyen nya.. ini akhirnya sad ending kah?

    • Kyuhyun gila? -_- Authornya kali yg gila, kan authornya yang bikin cerita :p

      Engga….. sabar dan tenanglah wahai readers-ku tercinta, happy ending ko^^

  14. aduh aku kira udah tamat! Soal.y ada kata END….
    Hyen hyo…. Kasihan banget ya kamu! Makin ke sono(?) makin menderita…. Ini lagi si Kyu, jadi galak!
    Ini benarbenar agst deh. Bikin mewek!
    Oh iya, part selanjutnya di tunggu yaah! Jangan lamalama😀

  15. sumpah stiap bc nih ff aku jd ikut emosi ajah..
    klo masih ada hyeri mendingan di cepetin aja slesainya nih ff. tp klo hyerinya udh ga ada baru di lamain *apasih??*

    uaaa aku kok ngerasa hyen yg baik dan hyeri yg jahat yah??

  16. baca part ini jd benciiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii sangat sama hyeri
    tp apa ini endingnya? kok gantung?
    kasian hyen jahat bgt si hyeri itu

  17. kyaaaaaa…
    kyuhyun babooooo…
    bentak” segala*kick*^^
    aishhh…makin runyam deh…
    cepetin z deh ,kasian hyo…
    gag tega saia ~_~

  18. bebskey, kenapa kyu bodoh?

    ini yang pling sadness deh, stelah yg ketauan hyerinya hamil, ini yg lebih sadness.
    kebayang deh, kalo part selanjutnya belum muncul, bisa mati penasaran, ada untungnya juga baca pas udah ada part selanjutnya,
    tapi ya, ga enaknya, ga ngerasain sensasi menunggu.

    tata bahasanya tetep enak dibaca, seakan-akan kita ada disitu langsung buat nyaksiin semuanya. keren.

    good story, hwanting!!

  19. Serasa pengen nangis baca part ini . . huwaa😥
    Tapi aku suka kalo Kyu sama Pasangannya bertengkar, seruh gimana gitu bacanya (y)
    Author nya mantap:D Fighting Nisa eonn(y)

    (aku Aulya 99line🙂 )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s