SADNESS Part 11

Standard

~*~*~*Sureprising Sad Story*~*~*~

Author : Nisa Ayu Thayalisha Hadi (Nam Hyen Hyo)

Cast :

Cho Kyuhyun

Nam Hyen Hyo

Jang Hye Ri

Lee Jonghyun (CN BLUE)

Title : Sadness Part 11

Length : on going~

Genre : Romance, Angst

Rating : PG-13

Disclaimer : The casts are belong to God, and this Fan Fiction is belong to me kekekeke~ i own this plot ok?

Note : This is pure my imagination.

Credit Poster : cutepixie@darkreflection.so-pink.org

===============================================================

Preview

Sebanyak apapun kau mencintaiku, seharusnya dari awal aku menyadarinya bahwa aku ini terlalu hina untukmu. Diriku hina, sehina seorang pengemis yang meminta motor saat meminta-minta. Aku terlalu banyak meminta cintamu, dan pada akhirnya aku mendapatkannya sendiri tanpa harus berusaha banyak karena kau mencintaiku lebih awal. Tapi sebanyak apapun kau mencintaiku, kau tidak bisa membuatku berhenti mencap diriku sendiri sebagai wanita hina yang tidak tahu diri karena mendapatkan cinta dari sesosok pria sempurna sepertimu.

Seandainya Tuhan memberikanku kesempatan untuk memutar balikkan waktu, aku ingin mengembalikan waktuku menjadi beberapa tahun yang lalu. Sebelum aku tidak mengenal bahkan bertemu dengan sosok pria sempurna hampir menyerupai mannequin yang sudah mengikat hatiku padanya sampai membuatku tega terlepas dari ikatan keluargaku demi hidup dengannya. Sedurhaka apapun aku pada orang tua, aku lakukan hanya untuknya. Dan sehina apapun diriku karena mendapatkan cinta darinya yang begitu besar, aku akan tetap mempertahankannya untuk cadangan kebahagiaanku yang sudah terancam habis. Karena hanya dengan menyadari bahwa aku memenangkan hatimu saja, sudah membawaku masuk kembali ke dalam kebahagiaan maya secepat kilat. Walaupun hanya kebahagiaan semu yang bersifat non-permanen, setidaknya aku bersyukur pada Tuhan karena dia masih memberiku kebahagiaan disela-sela kepahitan hidup yang telah menyelimuti hingga akhir hayatku.

==========================================================

“Oppa? Kenapa kau kemari?” seru Hye Ri setengah panik sambil merapihkan piyamanya. Kyuhyun berjalan masuk melewati Hye Ri yang masih di pintu kamar dengan wajah kusut dan banyak kerutan amarah di dahinya. Matanya seolah-olah memancarkan aura hitam yang kelam. Suara jatuhnya seseorang di atas kasur—Kyuhyun—membuat Hye Ri menutup bahkan mengunci kamarnya lagi lalu menghampiri Kyuhyun yang sedang menatap langit-langit kamar dengan posisi kedua tangan menjadi bantalan.

“Umm..” pipinya menggembung, kedua jari telunjuknya saling Ia kait-kaitkan. Hye Ri hendak menanyakan sesuatu, tapi Ia merasa takut kalau-kalau dia bisa salah bicara. Menurutnya, malam ini Kyuhyun terlihat sedikit menyeramkan.

“Hm?” tidak diduga olehnya, Kyuhyun menanggapi gumaman Hye Ri walaupun hanya dibalas dengan gumaman kembali. Pelan-pelan Hye Ri duduk di pinggir kasur, tetap menjaga jarak dengan Kyuhyun. Pria ini memang suaminya. Tapi dia masih belum bisa menerima kenyataan bahwa pria ini lah yang akan menghidupinya sampai mati. Bahwa pria ini lah yang telah membuatnya memiliki janin di dalam rahim. Dan bahwa pria ini lah yang harus dicintainya menurut permintaan orang yang sangat dicintainya—Jonghyun—.

“Ada masalah dengan Hyen-unnie?” Kyuhyun menggeleng, lalu menatap Hye Ri ganas. Membuat wanita ini menundukkan kepalanya demi menghindari tatapan Kyuhyun yang tidak seperti biasanya.

“Kau istriku kan? Apa aku akan selalu tidur denganmu saat aku sedang ada masalah saja dengan istri pertamaku?” Hye Ri menggeleng, merasa bahwa pertanyaan yang dijadikannya alasan ini memang masuk akal.

Kyuhyun bangkit, duduk mendekat dengan Hye Ri dan dengan manjanya Ia menumpukan dagunya pada bahu kiri Hye Ri. Menyesap aroma lehernya yang berbeda dengan Hyen namun tetap memberikan sensasi tersendiri bagi pria berusia 25 tahun ini.

“Aku ingin tidur denganmu malam ini, dan mungkin esok hari juga. Hyen sudah terlalu banyak mendapat jatah berdua denganku, sementara kau baru satu malam. Dan ini yang kedua bukan? Anak yang ada disini anakku juga kan?..” Kyuhyun mengelus perut rata Hye Ri, membuat wanita ini merasa tercekat pada bagian leher namun tetap mengangguk walaupun ragu. Entah mengapa, walaupun Kyuhyun memang suaminya, tapi Ia masih tetap merasa canggung. Mungkin karena belum terbiasa.

“Biarkan aku memanjakanmu, arra? Tidurlah” Kini tangannya beralih pada puncak kepala Hye Ri dan mengacakkan rambutnya lalu berlalu tidur. Menarik selimut yang menutupi sprei kasur itu dan memasang posisi miring, membelakangi Hye Ri. Sementara wanita yang tengah duduk di ranjang ini masih bergeming, masih diam dengan berbagai pemikiran di otaknya. Dengan perasaan antara yakin dan tidak, Ia memberanikan diri tidur di samping Kyuhyun dengan posisi membelakanginya juga. Setelah tangannya meraih lampu kamar dan mematikannya, seiring dengan itu pula matanya terpejam. Tapi…. dengan seiring itu pula, pria yang berada tepat di sampingnya itu menghembuskan nafas pasrah dan menitikkan air mata.

                                                                        ***

Mata kecilnya mengerjap-ngerjap, layaknya seorang bayi yang terkena pancaran sinar matahari langsung dari sela-sela jendela kamarnya. Tangannya dengan refleks terangkat ke atas sejenak, setelah merasa rileks, Hyen menelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri lalu menunduk. Matanya menjalar menuju samping tempatnya tertidur, namun disitu hanya terdapat bantal. Bukan lagi sebuah kepala yang mempunyai wajah polos namun sempurna yang selalu Ia suka. Wajah itu masih bisa Ia lihat kemarin saat Ia terbangun. Namun sekarang…. Rasanya, Ia ingin tidur lagi saja. Karena wajah itu adalah salah satu alasan kenapa wanita ini masih ingin membukakan matanya di pagi hari. Hanya untuk melihat wajah polos nan sempurnanya.

“Unnie!!!” Tiba-tiba tangisnya yang hampir pecah terhenti akibat ada sebuah ketukan pintu yang hampir membuatnya bergelinjang kaget. Ia menghampirinya dengan lemas, tidak bertenaga dan tidak ada semangat. Sambil menggulung rambutnya ke atas dan mengeratkan piyamanya.

“Wae?” tanyanya sedetik setelah pintunya terbuka.

“Makan!” seru Hye Ri dari balik pintu dengan senyuman mengembangnya yang khas. Hyen menguap, merasa masih mengantuk. Bukan itu sebenarnya. Tapi merasa sudah tidak ada alasan lagi untuknya bangun dan membuka mata jika tidak ada pria itu di sampingnya.

“Maksudmu? Kau sudah menyiapkan masakannya?” tanya Hyen bingung. Hye Ri mengangguk bangga dan segera menarik tangan Hyen untuk ikut menuju ruang makan.

“Ini masakanmu, Hye Ri-ya?” tanya Kyuhyun yang sudah terduduk manis di meja makan sambil mencicipi masakannya. Hye Ri mengelus tengkuknya malu dan mengangguk.

“Rasanya berbeda dari yang kemarin-kemarin” dua wanita yang masih berdiri di dekat meja makan ini saling menatap kemudian secara berbarengan menatap Kyuhyun lagi.

“Sebenarnya, masakan kemarin itu…” seru Hye Ri ingin menjelaskan. Namun Kyuhyun menyela dengan aktivitasnya yang memundurkan meja dan berlalu pergi begitu saja. Hye Ri menolehkan kepalanya pada Hyen yang sedang menunduk setelah mendengar hembusan nafasnya yang panjang.

“Ada masalah dengan oppa?” tanya Hye Ri merasa sedikit bersalah. Hyen menggeleng. “Ani, hanya bingung saja dengan sikap Kyuhyun pagi ini. Dia tidak menyapaku” bohong Hyen sambil tersenyum masam. Hye Ri mengelus pundaknya hanya sekedar untuk menenangkan lalu merangkul wanita yang umurnya 4 tahun lebih tua di atasnya ini.

“Sudahlah. Dia mungkin hanya marah karena masakanku tidak seenak masakanmu. Pasti dia kesal memakan makanan yang sama sekali tidak lezat seperti apa yang biasanya dia makan. Buatanmu” Hye Ri memasang senyum manisnya pada Hyen. Membuat Hyen ikut tersenyum tulus walaupun Ia tahu betul semua kata-kata Hye Ri itu bukanlah sebuah alasan yang menjadikan Kyuhyun semengerikan ini.

“Hye Ri-ya,” panggil Kyuhyun yang sedang berdiri di ambang pintu kamar Hye Ri sambil membenarkan dasinya. Hye Ri menghampiri Kyuhyun dan membantunya memasang dasi. Sementara tangan Kyuhyun beralih pada segelas susu yang berada di dekat meja makan. Mengambilnya lalu menengguknya sampai habis. Tepat dengan terpasangnya dengan rapih dasi Kyuhyun, bibir kotak pria ini mengecup kening wanita di hadapannya yang sedang tersenyum lega karena berhasil memasang dasi suaminya. Padahal ini adalah kali pertamanya untuk memasangkan dasi.

Sontak Hye Ri mendongak, menatap tepat ke arah manik mata Kyuhyun. Tangannya terangkat untuk memegang kening bekas bibir pria itu mengecupnya lalu beralih pada sebuah wanita yang sedang berdiri mematung di dekat meja makan dengan tatapan mata yang mengenaskan.

“Oppa…” bisik Hye Ri merasa tidak enak dengan Hyen yang sedang menatap mereka dengan tajamnya. Bukan tatapan benci, namun tatapan memelas. Seolah seluruh raganya sedang tersedot dan dia tidak lagi memiliki tenaga untuk menopang seluruh tubuhnya.

“Jaga anakku, Ri-ya! Saranghae” sekali lagi Kyuhyun mengecup kening Hye Ri untuk kedua kalinya. Membuat dua wanita ini sama-sama mematung. Setelah mengacak rambut Hye Ri, Kyuhyun meninggalkannya dan menghampiri Hyen. Hyen mendongak, matanya menyiratkan bahwa Ia sedang berharap untuk mendapatkan perlakuan yang sama.

“Aku berangkat dulu Hyen-ah. Jaga anakku juga!” hanya itu yang terlontarkan. Tidak ada kecupan. Tidak ada sentuhan telapak tangannya yang lebar di puncak kepalanya. Tidak ada ucapan aku mencintaimu. Hyen menatap ke arah yang lain, menelan air ludahnya dengan susah payah. Menahan air matanya untuk tidak jatuh. Merasakan sakit yang mendalam pada tenggorokannya akibat tertahannya sebuah tangisan. Kyuhyun berlalu melaluinya. Hye Ri menghampiri, merasa simpati lalu memeluknya. Seiring dengan hentakan yang dilakukan Hye Ri sehingga membuat Hyen masuk ke dalam pelukannya, air mata keduanya jatuh mengaliri pipi mereka berdua.

Mulut Hyen terbuka, menahan isakannya agar tidak terdengar terlalu keras. Suara tangisnya seperti orang yang sedang tercekik. Tercekat.

“Unnie… mianhae. Maafkan aku. Mianhae” seru Hye Ri yang sama saja sedang terisak. Bedanya, Hye Ri menangis sambil bersuara. Tidak dengan Hyen, yang menangis dalam diam seperti orang tercekik.

“Jika aku tidak ada di kehidupanmu. Mungkin kau tidak akan pernah mengeluarkan air matamu sepagi ini. Maafkan aku” Hye Ri mengeratkan pelukannya, membuat Hyen semakin menjatuhkan air matanya dan merasa melemas.

Hye Ri melepaskan pelukan mereka, namun hanya sebuah kekagetan yang ada di dalam dirinya. Serentak dengan terlepasnya pelukan mereka, Hyen jatuh ke lantai dengan posisi mata terpejam.

“UNNIE!!!”

                                                                        ***

Langkah kakinya bergerak semakin lebar dan cepat, berlari secepat mungkin agar dapat menghampiri mobilnya dengan cepat. Baru saja kakinya memijakkan ruangan kantornya, namun handphonenya berdering dan memberitahunya bahwa Hyen pingsan. Naluri lelaki mana yang tidak merasa panik jika mendapatkan kabar seperti ini? Apalagi orang yang bersangkutan adalah orang yang sudah Ia cap sendiri dalam hati sebagai seseorang yang sangat berharga dalam hidup bahkan sampai matinya.

HYEN HYO POV

Cukup lama aku memandang punggungnya yang setengah membungkuk setelah beberapa detik aku membukakan mataku. Dia, Kyuhyun ada disini. Aku membutuhkannya. Aku merindukan hidupku yang dulu. Aku ingin dia kembali lagi ke sisiku. Aku menginginkan hidupku yang dulu, bukan seperti sekarang!

“Oppa..” lirihku, dia menoleh. Tuhan, ternyata kau menambah dosis ketampanannya lagi ya hari ini? Bagaimana bisa aku menghirup udara dengan lancarnya jika kau terus mendesakku dengan wajah tampannya?

“Hyen-ah, neo gwaenchana?” tanya Kyuhyun dengan muka paniknya. Dia menyibakkan poniku dengan lembut kemudian mengecup keningku. Aku menutup mataku sebentar, hanya sekedar untuk menikmati sentuhan bibirnya yang hangat di keningku.

“Oppa” panggilku lagi dan dia menanggapinya dengan anggukan. Apa aku harus mengatakan keputusan yang telah aku buat semalaman tadi? Tapi ini adalah keputusan terberatku. Aku tidak tahu akan masih bisa hidup dengan normal atau tidak setelahnya. Mungkin kau mengira bahwa aku sangat berlebihan, sebenarnya bukan itu, aku seperti ini karena aku sangat bergantung padanya. Aku hidup karena dia alasannya. Aku ingin membuka mataku kembali karena ingin melihat wajahnya. Aku tersenyum ceria karena ingin membuatnya ikut tersenyum juga dan memandang wajah tersenyumnya yang khas. Dan aku tau, setelah aku mengatakan keputusan bodoh yang telah aku buat semalaman suntuk itu—sampai membuatku tidak tidur—sama halnya dengan aku memutuskan untuk menghakhiri hidupku sendiri. Dia bagaikan suplement untukku. Dia bagaikan makanan berkarbohidrat, bermineral, berlemak, bervitamin dan berprotein bagiku. Hanya dengan melihat wajahnya saja, aku merasa bahwa aku sehat. Hanya dengan hidup bersamanya saja dan selalu ada dia di sisiku, membuatku merasa bahwa aku sudah mempunyai cukup bahkan lebih nutrisi di dalam tubuhku.

“Mianhae… Tapi aku ingin kita bercerai saja” tenggorokanku seperti tercekat. Sangat sulit untuk mengatakannya. Bahkan untuk mengeluarkan suara saja rasanya kulit-kulit di tenggorokanku sedang ditusuk-tusuk dengan pedang.

“A-a-ap-apa?!” tanya Kyuhyun tidak percaya. Dia memasang raut wajah yang sama sekali tidak aku sukai. Aku menoleh ke arah lain, membiarkan air mataku mengalir dengan sendirinya. Masih dengan tatapan Kyuhyun yang memandangku dengan tajam, dia membalikkan wajahku untuk menatapnya. Matanya penuh dengan air, sama sepertiku. Dan aku benci melihatnya seperti ini. Dari dulu aku bertekad untuk membuatnya bahagia, tapi kali ini aku sendiri yang membuatnya sama sekali tidak bahagia.

“Oppa, semakin lama aku berstatus menjadi istrimu, aku semakin lemah. Cadangan air mataku sudah hampir habis, bahkan aku harus merasakan sakit yang mendalam saat ingin menangis. Selama hidup denganmu, kebahagiaanku hanya sedikit, awalnya aku berpikir bahwa dengan hidup denganmu, aku bisa merasakan kebahagiaan yang orang lain belum pernah rasakan. Tapi ternyata salah. Aku malah harus mendapatkan kepahitan terus menerus. Oppa, aku lelah dengan skenario Tuhan saat ini. Aku membutuhkan udara bebas untuk hidup sendiri. Dan lihat disana..” aku menunjuk ke arah foto-foto yang terpajang di dinding dengan rapihnya.

“Dulu kita selalu tersenyum ceria setiap hari. Namun setelah ada wanita itu masuk ke dalam kehidupan kita, aku sudah tidak bisa lagi tersenyum seperti itu. Aku sadar aku melawan takdir yang telah dibuat oleh Tuhan, maka dari itu aku tau kalau Tuhan sangat membenciku. Oppa, kau mencintaiku kan?” Dia tidak menjawab, hanya air mata yang mengalir membasahi pipinya dan turun ke dagu lalu menetes tepat ke atas pergelangan tanganku.

“Ini…” Aku mengangkat tangan kiriku yang terkena tetesan air matanya. “Kau menangis huh? Sebodoh apa kau Cho Kyuhyun? Aku sedang tidak menyuruhmu menangis!” Aku mengelap seluruh air mata di pipinya. Namun dia tetap bergeming, diam seolah-olah sudah tidak bernyawa. Badannya kaku.

“Oppa, seandainya kita tidak bisa bersama lagi, kau hanya perlu menatap foto-foto itu. Bagiku, foto-foto itu hidup. Foto-foto itu bisa membuatku merasakan kehadiranmu di sampingku saat kau tidak ada. Dan aku juga yakin kau akan merasakan hal yang sama padaku”

Aku menutup mulutku, tidak lagi berani mengatakan hal-hal lancang yang membuatku semakin merasakan secara jelas betapa nyerinya hatiku saat ini. Aku terisak dengan kuat, menumpahkan semuanya hari ini. Di hadapannya. Tuhan, tidak bisakah kau memberikanku kekuataan untuk saat ini? Untuk saat ini saja! Di hadapannya, aku ingin terlihat kuat dan tidak menangis. Aku mohon…

“Oppa, jadi kita kapan akan mengurus perceraian kita?” Dia menghembuskan nafasnya panjang seraya menutupkan mata. Sedetik sebelum matanya terbuka, badannya sudah terangkat bangkit dari sampingku dan meninggalkanku begitu saja. Dengan suara bantingan pintu yang sangat keras, aku tau itu adalah suatu pertanda bahwa hari ini lah aku membuat emosinya memuncak selama dia hidup bersamaku.

                                                                        ***

KYUHYUN POV

Perceraian adalah hal yang paling aku dihindari dari sebuah pernikahan. Namun apabila hubungan kita berdua—lebih tepatnya—keputusan dia sudah tidak bisa dibantah lagi, mungkin menuruti kemauannya adalah jalan terbaik.

Aku tau aku tidak bisa membuatnya bahagia layaknya dulu saat dia selalu tertawa ceria di sampingku. Aku juga masih ingat saat ada seseorang yang mengatakan bahwa wanita ingin bercerai karena sudah tidak lagi merasakan kebahagiaan. Mungkin hal ini juga yang menyebabkan wanitaku memutuskan hal sepahit ini.

Mataku menjalar pada setumpukan buku yang ada di hadapanku. Memandangnya dengan tidak minat. Dengan sekali bergerak, mataku sudah menangkap pemandangan kota Seoul dari atas gedung. Aku merindukan saat-saat dulu. Saat dimana kita berdua masih hanya sebagai sepasang kekasih dan menikmati indahnya gedung-gedung pencakar langit di Seoul dari sebuah gedung pencakar langit juga. Dia pasti akan selalu menggelayutkan tangannya manja dan dilingkarkan di sekitar leherku. Tidak jarang juga dia mencium pipiku saat sedang merasa gemas atau tidak tahan karena melihat wajah tampanku yang berlebihan.

Aku mengingatnya, saat dulu aku dan dia baru saja menikah. Foto pernikahan itu masih ada di mejaku. Tepat di atas mejaku. Fotonya yang sedang tersenyum cerah dengan gaun pengantin yang sangat cocok di badannya. Membuatku semakin menambah cintaku untuknya saat melihat foto itu. Aku mengambil foto yang ada di atas mejaku dan menutupnya. Tidak pernah aku duga bahwa akhirnya aku harus hidup tanpanya. Ditinggalnya. Menghirup udara yang sama dengan jarak yang berbeda. Makan dalam satu olahan tangan yang sama namun dengan jarak yang berbeda pula. Tertawa dalam satu negara yang sama namun tetap dengan jarak yang berbeda. Melihat segala sesuatunya dengan indah bersama namun dengan jarak yang sangat jauh. Aku tau siapa istriku, aku tau siapa Hyen. Dia bukanlah tipe wanita yang akan dengan secara tiba-tiba merubah kembali keputusannya. Aku juga tau jika sekali saja dia sudah bertekad, dia tidak akan merubah tekadnya sekalipun aku harus mati memohon di hadapannya.

Aku bangkit dari kursi kerjaku dan izin kepada seluruh karyawanku untuk pulang. Bukan pulang sebenarnya, lebih tepatnya… ke Pengadilan Kota.

Bukan hal yang sulit bagiku untuk meminta surat perceraian ke Pengadilan Kota, namun entah mengapa, untuk kali ini, hatiku rasanya menolak mentah-mentah atas apa yang sedang ingin aku lakukan. Bukannya aku tidak mencintainya, aku sangat mencintainya, namun aku tidak mau membuatnya semakin menderita dan tidak melihatnya bahagia karena ulahku sendiri. Ingin sekali rasanya aku menggugat cerai kepada Hye Ri, tapi orang tuaku pasti akan mengusirku dan tidak lagi menganggapku anak. Aku tau istriku rela seperti itu demi hidup denganku, tapi…. Aish Cho Kyuhyun, kau benar-benar pengecut!! Kau menghancurkan hidup orang yang benar-benar kau cintai. Jika akhirnya akan seperti ini, seharusnya dari dulu kau tidak usah mencintainya! Mencintainya adalah bagaikan kau memberinya kesempatan untuk lebih dekat dengan nerakanya. Sial!

“Oppa!” riang Hye Ri menyambut kehadiranku di pintu utama. Aku hanya tersenyum masam sambil memegang erat map berisikan surat-surat cerai yang sudah kuurus beberapa jam lalu. Aku tidak yakin kami bisa menjalankan talak 1 jika masih ada bayi hasil benihku di rahimnya. Setidaknya, aku masih memiliki kesempatan beberapa bulan lagi untuk membuatnya berubah pikiran dan membatalkan perceraian ini.

“Kau bawa apa?” tanyanya antusias setelah menutup kembali pintunya. Aku mengacungkan map yang ada di tangan kananku lalu melemparkannya tepat di bawah kaki Hyen yang sedang berdiri tidak jauh dariku. Aku sama sekali tidak menatapnya, tapi aku tau siapa pemilik kaki jenjang yang ada di hadapanku sekitar 2 meter itu.

Bukannya aku merasa benci atau muak dengan keputusannya, hanya saja, aku takut aku tidak bisa lagi menahan emosiku saat aku harus menatap wajahnya. Aku hanya butuh ketenangan malam ini.

“Surat cerai.” jawabku. Hye Ri membelalakkan matanya kaget, tidak percaya dengan semua kata-kata yang keluar dari mulutku dengan tegas.

“Apa?!” tanyanya.

“Dia memintaku menceraikannya. Sebagai suami yang baik dan terlalu mencintainya, aku harus menuruti semua permintaannya, termasuk masalah yang satu ini. Dia tidak bahagia hidup bersamaku. Karena aku sangat mencintainya walaupun aku tidak mau kehilangannya karena dia bagaikan oksigen bagiku, aku jadi tidak bisa lagi memaksakannya untuk hidup tidak selalu bahagia denganku. Jika memang kenyataannya dia lebih bahagia saat tidak hidup denganku, yasudah. Aku sudah tidak memiliki kehendak lagi. Semua keputusan ada di tangannya. Dan aku hanya pelaksana” ucapku datar walaupun gejolak amarahku memuncak, tapi berusaha untuk menahannya. Menahan suaraku agar terdengar tetap datar walaupun aku ingin sekali berteriak dan memohon kepadanya untuk membatalkan perceraian ini.

“Terima kasih sudah menjadi suami yang baik” suara itu, aku menoleh pada si pemilik suara yang tengah menggenangkan banyak air di matanya lalu memungut map yang ada di kakinya. Setelah itu, tanpa melihatku lagi, dia langsung berbalik badan dan hilang dalam penglihatanku. Di perlakukan seperti ini olehnya, bagaikan Tuhan sedang memberitahuku bahwa aku akan meninggal beberapa hari kedepan. Stress. Hah…. Nam Hyen Hyo. Kau membuatku hampir gila dengan semua yang ada di dalam dirimu!

                                                                        ***

AUTHOR POV

“Oppa, apa kau serius dengan semua keputusanmu?” Tanya Hye Ri yang melihat Kyuhyun sedang terbaring lemah menatap langit-langit kamar. Kyuhyun selalu saja menarik nafasnya panjang lalu menghembuskannya kembali dengan panjang juga. Mengisyaratkan bahwa sedang ada banyak sekali masalah di dalam dirinya.

“Bukan aku yang memutuskan Ri-ya. Dia yang memintaku!” Tegas Kyuhyun.

“Apa kau sama sekali tidak menolaknya?”

“Bagaimana aku bisa menolak permintaannya jika alasan dia memintaku menceraikannya adalah karena dia tidak bahagia hidup denganku?” kali ini Kyuhyun menolehkan kepalanya pada Hye Ri. Hye Ri menatap Kyuhyun tajam seolah-olah ingin menggaruk wajahnya yang bodoh.

“Oppa! Kau salah besar! Dia sangat bahagia hidup denganmu!!! Dia sangat mencintaimu! Dia tidak bahagia saat aku ada di kehidupan kalian! Kenapa kau tidak menceraikanku saja?! Oppa, ku mohon…” nadanya terdengar meninggi, namun di akhir kalimat, suaranya sudah bercampur dengan isakannya yang kuat dan tidak tertahankan. Air matanya mengalir deras, membuat tubuhnya gemetar. Kyuhyun bangkit dan membawa Hye Ri ke dalam pelukannya. Ini memang aneh, seseorang yang sedang sedih berlebihan harus menenangkan orang yang sedang sedih berlebihan juga.

“Hye Ri-ya, bukan itu masalahnya…” suara Kyuhyun berubah menjadi menenangkan, namun Hye Ri memberontak, menyebabkan Kyuhyun harus melepaskan pelukannya lagi. Hye Ri bangkit dan berjalan mundur menjauh dari Kyuhyun.

“Lalu apa masalahnya oppa?! Kau tidak usah menyembunyikan semuanya dariku! Apa kau tidak memikirkan isi kandungannya? Dia mengandung anakmu oppa! Apa kau tidak pernah berpikir bahwa setiap kali kau dekat denganku hanya akan menambah siksaan di dalam batinnya? Kenapa kau begitu bodoh?

“Aku memang meminta Hyen-unnie untuk kau memanjakan aku bahkan menjagaku. Tapi bukan begini maksudku oppa! Kau harus adil! Jika kau memelukku sebelum berangkat bekerja, kau harus melakukan itu juga padanya. Jika kau mengecup keningku saat kau ingin berangkat kerja, kau juga harus memperlakukan hal yang sama padanya! Jika kau menyentuh puncak kepalaku sebelum berangkat kerja, puncak kepalanya pun harus kau sentuh dengan telapak tanganmu! Dan jika dari mulutmu terlontar kata aku mencintaimu, kau juga harus mengatakan itu padanya sebelum berangkat kerja! Kau mengerti maksudku? Aku membutuhkan Cho Kyuhyun yang adil! Bukan Cho Kyuhyun yang bodoh dan tidak mengerti!” teriak Hye Ri. Ia keluar dari kamar dan membanting pintunya. Membuat Kyuhyun merasa semakin gila. Dia menjambak rambutnya sendiri dan kemudian berteriak dengan kencangnya.

“Tuhan, kenapa kau tidak cabut nyawaku sekarang saja?!?!” Suaranya yang berat dan sedang berteriak, membuat Hye Ri yang masih berada tidak jauh dari pintu kamarnya bisa mendengar suara Kyuhyun. Hye Ri berlari menuju lantai atas. Kamar siapa lagi jika bukan kamar Hyen Hyo yang sedang Ia tuju.

                                                                        ***

HYEN HYO POV

Surat ini. Surat ini sudah di tanganku Tuhan. Aku yang menghendaki surat ini untuk ada di tanganku. Tapi mengapa sekarang aku merasa bahwa surat ini adalah penghancur hidupku? Haruskah aku mengakhiri semua kebahagiaan ini dengan sebuah coretan tanganku di atas surat ini? Bukan itu masalahnya, aku hanya takut aku tidak siap. Aku hanya takut, disaat bayiku lahir dan sudah mulai mengerti, dia akan menanyakan siapa ayahnya. Dan aku harus menjawab apa? Tidak mungkin aku menjawab bahwa ayahnya sudah meninggal. Karena sekalipun Kyuhyun sudah tidak lagi hidup di dunia ini, dia tetap hidup di hatiku. Sekalipun raganya sudah tidak bernyawa lagi, tapi seluruh hidupnya ada di hatiku.

Dia adalah satu-satunya orang yang aku cintai, dan aku tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika aku hidup tanpa dirinya. Sekalipun nanti akan datang beribu-ribu pria yang mencintaiku sama halnya seperti Kyuhyun mencintaiku, tetap saja aku tidak akan pernah bisa mencintai pria manapun sama halnya seperti aku mencintainya. Aku bergantung padanya, iya. Sangat. Namun aku sadar, dengan hidupku yang seperti ini, bergantung padanya adalah hal yang paling memberatkan. Disaat aku sudah tidak bisa lagi bertahan pada semua kondisi masalah yang menimpa diriku saat ini, aku tidak tahu apakah aku masih bisa menggunakan hidungku untuk bernafas atau tidak. Aku tidak tahu apakah aku masih  bisa menggunakan mataku untuk melihat atau tidak. Aku tidak tahu apakah aku masih bisa menggunakan telingaku dengan normal, mendengar pembicaraan orang lain atau bahkan mendengarkan seseorang yang tengah berbicara padaku. Saat aku harus lepas darinya, aku juga tidak bisa membayangkan akan seperti apa detak jantungku. Apakah akan terus melemah setiap harinya, atau mungkin tidak akan berdetak sama sekali.

Membayangkan wajahnya, bagaikan suplement bagiku. Tapi aku tidak bisa menentukan bagaimana perubahan ‘suplement’ itu bagiku ketika aku harus membayangkan wajahnya disaat aku sudah tidak lagi mempunyai ikatan dengannya.

Menyebutkan namanya disetiap doaku bagaikan hal yang harus aku lakukan setiap harinya. Dan setelah kita tidak lagi memiliki ikatan apapun, aku sendiri tidak tahu apakah masih akan terus mendoakannya atau berhenti mendoakannya. Mungkin aku harus mulai mendoakan diriku sendiri.

Mengingat seluruh kenangan yang pernah aku lalui bersamanya, selalu membuatku tersenyum cerah bahkan sampai menangis bahagia. Tapi aku tidak tahu apa jadinya jika aku mengingat kenangan ini disaat aku sudah benar-benar berpisah dengannya.

Semuanya penuh resiko. Hanya satu goresan tangan dariku, sama artinya dengan aku mengakhiri hidupku sendiri. Tapi hanya ini yang bisa kulakukan. Demi membuatnya bahagia, membuat seluruh orang yang mencintainya bahagia, kecuali aku.

Aku mengetahui dengan pasti bahwa aku ini hanyalah wanita hina yang sama sekali tidak pantas untuk bersanding dengannya. Apalagi dicintainya sampai mati. Seharusnya dari awal aku sudah menyadari akan hal ini, aku tidak usah merespons semua perhatiannya. Seharusnya dari awal aku bergerak untuk menjauhinya, bukan membantunya untuk terus dekat denganku.

Dari awal aku bertemu dengannya, hatiku selalu berdegup dengan kencang. Bahkan sampai sekarang. Dari awal aku bertemu dengannya, semua duniaku semakin lebih berwarna, bahkan ketika aku menikah dengannya, duniaku semakin lebih berwarna lagi, namun tidak untuk 3 bulan terakhir ini. Satu persatu warna yang ada di diriku bagaikan pudar dan luntur. Sampai titik akhirnya adalah sekarang, semua warna di diriku hanya menyisakan abu-abu, putih, bahkan hitam.

Mungkin, berpisah dengannya adalah jalan yang terbaik bagi semuanya. Bukan hanya aku dan dia. Ini juga menyangkut kebahagiaan semua orang yang sayang padanya. Tanganku sudah menggenggam pulpen yang seharusnya aku gunakan untuk membuat sebuah goresan pada kertas yang menjadi akhir penentu hidupku. Seharusnya aku sudah menandatanganinya dari tadi, tapi terlalu banyak pertimbangan bodoh yang berkelebatan di dalam isi otakku. Seharusnya aku tidak perlu lagi untuk memikirkannya. Semuanya aku yang memutuskan, maka aku pun harus bertanggung jawab atas keputusanku.

Aku menarik nafas panjang dan menghembuskannya kembali. Seiringan dengan itu, air mataku mengalir menetesi surat tersebut. Aku mengangkat tanganku dan dengan secepat kilat aku membuat goresan tanganku di atas materai. Rasanya lemas sekali saat menyadari bahwa aku telah membuat diriku sendiri jauh dari Kyuhyun. Bahwa aku telah membuat diriku sendiri terasa mati di awang-awang tanpa dirinya.

“Unnie! Kau menandatangani surat itu?!” tiba-tiba Hye Ri masuk dan menyambar surat yang ada di hadapanku. Aku langsung merebutnya kembali. Takut-takut nanti dia akan merobek suratnya. Ini keputusanku, dan aku yakin dengan semua keputusanku. Sekalipun aku memutuskan untuk membunuh diriku dengan tanganku sendiri.

“Ini keputusanku, Hye Ri-ya. Ku mohon” lirihku. Dia menjatuhkan dirinya sendiri kelantai dan meraih kakiku. “Unnie, maafkan aku. Mianhae. Mianhae aku telah menyakitimu. Aku berjanji akan pergi dari kehidupan kalian. Aku mohon jangan tanda tangani surat itu, biar aku saja unnie. Biar aku saja yang bercerai dengannya… Kau lebih pantas bersanding dengannya. Kau yang sudah ditakdirkan untuk hidup dengannya. Unnie, aku telah menghabiskan seluruh kebahagiaanmu, maka dari itu maafkan aku. Kau terlalu baik untuk menjadi seseorang yang selalu terpuruk karena aku. Seharusnya dari awal aku menolak perjodohan ini. Tidak, sebenarnya dari awal aku sudah menolaknya. Tapi orang tuaku memaksa. Seharusnya dari awal aku memilih untuk kabur dengan Jonghyun dan hidup bahagia bersamanya. Tidak mengusik lagi kehidupanmu yang sudah bahagia dengan oppa. Unnie, ku mohon buang kertas itu…. Ku mohon. Jaebal…”

“Ini keputusanku Hye Ri-ya. Sekalipun kau memohon sambil bersujud di kakiku seperti ini, aku tidak akan pernah merubah keputusanku. Aku memutuskan ini bukan karena masalah ini saja. Tapi… Maaf aku tidak bisa mengatakannya” aku berjalan menjauh dari Hye Ri dan membiarkan dirinya yang masih terduduk di lantai sambil terisak hebat. Aku tau dia adalah orang yang baik, tapi kebaikanmu malah semakin membawa luka di hatiku Hye Ri-ya.

                                                                        ***

Aku membawa turun map berwarna coklat berisikan kertas pertanda akhirnya hidupku. Melangkah menuju kamar Hye Ri membuat telapak kakiku semakin sakit. Semakin berjalan mendekat, tubuhku semakin menolak.

Tidak lupa juga, aku sempat menulis sebuah surat yang aku selipkan di antara kertas-kertas cerai tersebut.

Maafkan aku, mungkin selama ini aku hanya bisa menyusahkanmu. Dan jika aku terus bertahan dengan duniaku, mungkin aku akan terus menyusahkanmu.

Maafkan aku, mungkin selama ini terlalu banyak kesalahan dari dalam diriku yang membuatmu harus terus bersabar menghadapiku. Dan jika aku terus bertahan dengan sikap seperti ini, mungkin aku akan terus membuatmu untuk bersabar sampai kau kehabisan kotak bersabarmu.

Maafkan aku, mungkin selama ini aku tidak bisa membuatmu bahagia sebagaimana kau mengharapkan kebahagiaan di dalam dirimu. Dan jika aku terus bertahan untuk tetap ada di sampingmu, mungkin aku akan terus membuatmu membenciku karena aku tidak bisa membuatmu bahagia bahkan aku sendiri tidak bisa membuat diriku sendiri bahagia.

Maafkan aku, mungkin selama ini aku kurang baik menjadi istrimu, aku bersumpah, aku terlalu banyak mencintaimu. Bahkan sangat mencintaimu. Aku selalu mendoakanmu di setiap doaku sampai aku lupa untuk mendoakan diriku sendiri.

Maafkan aku untuk segalanya. Maafkan aku karena tidak bisa menjadi yang terbaik dalam dirimu. Maafkan aku karena telah masuk ke dalam kehidupanmu. Dan maafkan aku yang telah membuatmu jatuh cinta padaku.

 

Your Wife,

 

Nam Hyen Hyo

Belum sempat aku menggapai gagang pintu kamar Hye Ri, Kyuhyun sudah membukanya terlebih dahulu. Dengan wajah yang kaget dan mata masih disipitkan. Dia melihatku. Aku merindukan wajahnya yang seperti ini. Aku merindukan wajah bangun tidurnya yang seperti bayi. Yang selalu aku suka. Aku merindukan wangi badannya yang seperti ini. Kita berdiri terlalu dekat, bahkan hampir tidak berjarak. Wanginya menyeruak masuk ke dalam hidungku. Semakin membuatku tidak rela untuk memberikan map ini padanya.

Namun, perlahan aku mendongak dan mengayunkan tanganku menuju ke arahnya. Menyerahkan map coklat itu yang langsung diterima oleh Kyuhyun. Aku menggigit bibir bawahku untuk menahan tangis. Rasanya sulit sekali untuk tidak mengeluarkan air mataku.

“Terima kasih” Seruku sesaat sebelum berbalik badan. Baru beberapa langkah aku berjalan, Kyuhyun menarik tanganku hingga tubuh kami berdua menempel. Dia menyusupkan kedua tangannya yang besar ke belakang punggungku. Memelukku erat bahkan hampir membuatku sesak nafas. Bukan, bukan sesak karena aku terlalu terjepit di dalam tubuhnya. Namun sesak karena menahan tangis yang sudah tidak bisa lagi aku pertahankan.

“Sebentar saja” gumam Kyuhyun saat aku berontak untuk melepaskan pelukan kami.  Aku diam. Mencoba untuk menikmati betapa hangatnya pelukan ini. Aku hanya takut ini akan menjadi pelukan terakhir darinya—yang sehangat ini—sebelum aku dan dia benar-benar terpisahkan tanpa status apapun. Sebelum akhirnya aku tidak bisa lagi menyesap aroma tubuhnya yang bisa dengan bebasnya aku rasakan saat ini. Untuk beberapa menit, kami berpelukan dalam diam. Berkali-kali dia menghembuskan nafasnya panjang. Ingin sekali aku menanyakan ada apa dan menenangkannya. Mengelus bahunya agar dia merasa sedikit tenang lalu mencium pipinya. Hal yang selalu aku lakukan saat aku merasa bahwa dia sedang banyak masalah. Aku tau masalah yang sedang dia emban kali ini berasal dariku, tapi mengapa rasanya berat sekali untuk aku berusaha menenangkannya? Mengapa aku merasa asing dengannya?

Dia melepaskan kontak kita, tanganku bergerak terayun maju, seperti ingin menahannya untuk tidak melepaskan pelukannya. Namun aku sadar, bahwa aku sudah tidak pantas lagi melakukannya. Aku yang memutuskan kita untuk berpisah, namun aku juga yang menginginkan kita untuk tidak berpisah, bukankah itu hal yang memalukan?

Aku menunduk, Kyuhyun mendongakkan kepalaku dan langsung menyambar bibirku dengan cepat. Menempelkannya—saja—cukup lama, aku merasakan rasa asin mulai membubuhkan rasa hambar di bibir kami berdua. Namun, aku merasa aku sedang tidak menangis. Apakah ini benar-benar air mata Kyuhyun? Aku memejamkan mataku menikmati sentuhan bibirnya di bibirku. Deru nafasnya bisa dengan sangat jelas aku rasakan. Membuatku semakin tidak ingin kehilangan dirinya. Perlahan aku juga mengeluarkan air mataku. Aku merasakan banyak sekali air yang masuk menelusuri bibir kamu berdua yang sedang bertautan. Sehingga bibir kami yang tadinya terasa kering, kini mulai basah.

Kyuhyun memegang rahang bawahku, bibirnya mulai menyusup masuk ke dalam mulutku, dan melumatnya dengan pelan namun hangat. Dan dia melakukan ini cukup lama, sampai aku melepaskannya dengan tiba-tiba untuk mengambil nafas. Setelah itu, dia melumat bibirku lagi. Cukup lama. Bahkan bisa dibilang sangat lama. Aku tidak pernah merasakan lumatan bibir ini dengan sangat hangat seperti ini dan seasin ini. Air mata kami berdua berlomba-lomba untuk masuk ke dalam mulut kami berdua. Benar-benar sebuah ciuman yang berbeda.

Aku masih ingin menikmati ciuman ini, namun Kyuhyun buru-buru melepaskannya. Tangannya Ia taruh di kedua pinggangnya lalu membuang muka. Aku tau wajahnya sudah basah dengan air mata, tapi dia mencoba untuk menyembunyikannya. Walaupun aku tahu hal yang sedang dilakukannya ini adalah hal yang benar-benar bodoh.

“Minggu depan kita talak 1. Untuk mengecek apakah kau sedang hamil atau tidak. Mungkin sidang talak 2 kita akan diundur setelah kau melahirkan” hanya itu yang Ia sampaikan sebelum akhirnya Ia masuk lagi ke dalam kamar Hye Ri dan membiarkan aku yang masih mematung di depan pintu kamar.

Aku menjilat bibirku. Rasa asin itu masih ada, bahkan aku masih bisa merasakan sensasi ciuman tadi. Terlalu hangat.

Dia bilang apa tadi? Talak 2 akan diundur setelah aku melahirkan? Itu namanya aku akan mati setelah aku melahirkan? Mungkin lebih baik aku memanfaatkan sisa waktuku bersamanya sebelum akhirnya aku akan hidup bagaikan mayat hidup.

                                                                        ***

6 months later

Hubunganku dengan Kyuhyun semakin hari semakin memburuk, kadang-kadang aku yang menjauhinya karena merasa canggung. Kadang-kadang juga dia yang bersikap tidak adil denganku seolah-olah dia sedang menjauhiku. Usia kandunganku sudah 8 bulan, perutku sudah semakin membuncit. Walaupun setiap hari Kyuhyun tidak pernah melewatkan aktivitasnya untuk mengelus perutku sebentar dan berbicara pada anakku, tapi dia tidak pernah berbicara padaku. Seolah-olah dunianya sudah tersedot oleh Hye Ri, anak dikandungannya, dan anak dikandunganku.

Tidak, sebenarnya Kyuhyun akan bersikap romantis padaku jika aku yang memulai. Jika aku diam, maka dia pun akan diam. Tapi aku tidak mungkin harus memulai hal itu setiap hari agar aku dan dia bisa semakin membaik. Aku lebih banyak diam, menyebabkan dia harus diam juga padaku. Dalam sehari, kita hanya berbicara beberapa patah kata. Bahkan tidak sama sekali.

Sidang talak 1 sudah kami lakukan sejak lama, dan benar kata Kyuhyun. Sidang talak 2 yang seharusnya di lakukan 4 bulan yang lalu, akan di undur sampai aku melahirkan bayiku.

“Kyu” seruku. Dia menoleh dan menghampiriku.

“Saranghae” aku memberanikan diri untuk mengatakan ini. Dan dia hanya tersenyum sembari mendorong belakang kepalaku agar mendekat padanya. Dia mengecup keningku sebelum berangkat bekerja dan mengatakan hal yang sama padaku beberapa menit lalu.

“Bawakan aku makan siang, arra? Ada hal yang ingin aku katakan padamu.” aku segera mengangguk dan dia pergi meninggalkanku.

                                                                        ***

“Ada apa?” tanyaku pada Kyuhyun seraya menaruh kotak makan yang sudah aku janjikan di atas mejanya. Dia bangkit dan segera menghampiriku lalu memelukku sebentar.

“Kau serius dengan perceraian ini Hyen?” Ini adalah pertanyaan keseribu kalinya yang terlontar dari mulutnya. Membuatku semakin tidak yakin untuk melakukannya. Aku mengangguk. Dia berjalan menjauh dan terduduk di atas kursi berputarnya. Memutar kursinya ke arah belakang, membuatnya harus menatap ratusan gedung pencakar langit. Aku masik menunduk, benar-benar merasa tidak yakin dengan perceraian ini.

“Setelah kau bercerai padaku, kau ingin tinggal dimana?”

“Orang tuaku”

“Apa kau yakin orang tuamu akan menerimamu kembali?”

Aku terdiam. Mungkin saja orang tuaku akan mengusirku lagi seperti waktu itu. Sial! Aku tidak memikirkan hal ini.

“Hyen-ah” dia memutar kursinya lagi hingga menghadapku.

“Aku tau orang tuamu pasti tidak akan menerimamu kembali. Hal ini yang membuatku ragu untuk menceraikanmu. Aku tidak mau melihatmu terlantar saat kau sudah tidak lagi berstatus menjadi istriku. Ku mohon, batalkan saja”

‘Aku ingin membatalkannya Kyu, Sungguh. Aku sangat mencintaimu dan tidak ingin meninggalkanmu’ seru batinku.

Aku menggeleng, “Tidak Kyu, kau tidak usah khawatir. Aku pasti bisa hidup sendiri tanpamu”

“Aku tidak sedang membicarakan apakah kau bisa hidup tanpaku atau tidak. Kenapa kau membahasnya? Kau tidak bisa hidup tanpaku, kan? Benar kan? Aku mohon untuk kali ini, hari ini, saat ini, aku mohon kejujuranmu Hyen. Kau terlalu menjaga gengsimu. Aku butuh kejujuranmu. Demi kelangsungan hidupku. Aku tidak tahu apakah masih bisa hidup dengan menjalani aktivitasku secara normal lagi atau tidak saat tidak ada kau di sisiku lagi. Ku mohon Hyen, pikirkan ini baik-baik. Waktu kita kurang lebih tinggal 1 bulan lagi sampai kau melahirkan.”

Aku terisak sebelum menjawab. Mungkin untuk kali ini aku harus jujur. Benar katanya, demi keberlangsungan hidupnya. Dan juga hidupku.

“Tidak Kyu, aku membutuhkanmu. Aku tidak ingin kehilanganmu”

Kyuhyun berjalan mendekatiku dan mendekapku lagi. Mengelus rambut coklatku yang ikal dengan lembut. Lututnya menekuk sedikit, demi menyetarakan bibirnya dengan telingaku. “Aku terlalu mencintaimu. Jangan pernah memutuskan hal yang tidak pernah aku inginkan. Kau mengerti?” Aku mengangguk. Walaupun aku tidak yakin dengan kata-katanya, aku tetap mengangguk. Karena bagaimanapun, setidak siap apapun hatiku, aku tetap harus melakukan perceraian ini.

“Kau tau bagaimana perasaanku saat malam itu? Malam dimana kau tiba-tiba terbangun dari pingsanmu dan mengatakan bahwa kau ingin bercerai denganku?” Aku menggeleng lemah di dadanya.

“Hatiku sangat hancur Hyen, malam itu, aku sama sekali tidak menjawab perkataanmu bukan? Bukannya aku tidak mau, hanya saja aku sudah tidak bisa berkata-kata. Seluruh tubuhku rasanya lemas. Sampai bicara saja berat. Dan aku mohon, jangan pernah melakukan hal ini lagi padaku. Bersikaplah seolah-olah tidak ada Hye Ri di tengah-tengah kehidupan kita” Tidak mungkin bisa Kyu. Mana bisa aku berpura-pura untuk merasakan hidup tanpa ada Hye Ri di kehidupan kita. Ini benar-benar hal bodoh.

Kami berdua sama-sama diam. Aku diam menikmati pelukannya. Dan aku tidak tahu Kyuhyun diam karena apa.

Tiba-tiba handphonenya berdering, membuat pelukan yang tadinya sangat aku nikmati harus terlepaskan begitu saja.

“MWOYA? NEO JINJJA?!” teriak Kyuhyun tidak percaya.

Tbc— 

Nb : Halo Sadness’s Readers wkwkwkwk. Sadness Ini akan berakhir di Part 12. Sama halnya seperti FF My Nightmare^^ Dan untuk Sadness, aku ga tau deh mau bikin sequelnya atau tidak (walaupun cuma 1 part). Tapi yang pasti, di Part 12 nanti, aku akan berusaha untuk membuat ending dengan sejelas-jelasnya. Dan sesedih-sedihnya atau sesenang-senangnya (tergantung sad ending/happy endingnya) wkwkwk. Masalah endingnya SAD ENDING atau HAPPY ENDING ini masih rahasia yaaaa walaupun sudah aku rencanakan dari dulu, tapi kalau endingnya ketauan kayanya ga seru deh😀 hahahaha

Maaf ya sudah membuat kalian menunggu lama untuk kelanjutan FF nista yang satu ini hehehe

Oh iya, kan udah pernah dibilang tuh sama Admin FFi bahwa setiap author harus membalas commentnya. Kalau aku, ya kalian tau sendiri kan bahwa setiap comment kalian itu selalu saya balas??? Jadi barang siapa yang menanyakan ‘something’ di comment dan penasaran dengan jawabannya, bisa sering2 check, soalnya asal kalian tau aja ya, aku selalu balas comment di FF Sadness, My Nightmare dan semua Ficlet2 ku kok^^ kalau di FFku yang lain, kadang aku ga bales commentnya, soalnya males, yg comment cuma sedikit wkwkwk

So, aku harap, dengan adanya peraturan baru dari FFi ini, Siders sedikit berkurang yaaa AMIIIIIN hehehe

Kalau misalkan Siders males buat comment, aku mohon deh di part ending kalian pada comment dan kasih kesan serta pesannya selama mengikkuti FF nistaku yang satu ini. Gimana? Oke oke^^???

Sincerely,

Nisa Ayu Thayalisha Hadi

*bow* m(_ _)m

84 responses »

  1. Yaallaahh eonniiiiii !! Please jangan buat hyen menderita mulu napaaaa-…….- kalo mau cerai, ya cerai ajaaaa. Jangan PHP gitu dong kyu nya. Udah tuh si hyeri usir ajaaaaaaa ah. Ganggu hidup kyu sama hyen aja. Buat orangtua mereka setuju sama pernikahan mereka. Aku capek teriak2 mulu gara2 geregetan sama ff eonni !!! Hehehehehe maap ya eonni komennya panjang banget. Tapi aku suka bgt sama karya2 eonni !! Heheheh

    • hahahaha saya bahagia:D
      Siapa yang PHP .-. kan kalau cerai ada tahap2nya say~ Talak 2 bisa lanjut kalau cewenya emang ga hamil :p jadi entar mereka lanjut talak 2nya kalau udah melahirkan. Abis itu talak 3 dan cerai deh~~~ Lagian kalau dari talak ke talak selanjutnya itu, butuh waktu lama, bisa berbulan2 bahkan sampe 1-2 tahun loh! hahhaa

      Jangan teriak2 doooong hahahhaa

      wkwkwk asiiiik, makasih ya saengie^^

  2. Tisu ku habis.. Ada yang masih punya? Boleh minta ga? Aduh air mata ga bisa berhenti. Lebay mode on.
    Ish sadness emang bikin nangis ya.
    Hah… Sedih.
    Itu kenapa di akhir Kyu triak sih?
    Kirain jadi cerai. Tapi itu ga jadi kan? Iya kan? Iya dong.

  3. Pagi2 dibiki nangis mau sarapan nasi’a susah msuk gra nyesek,,
    author plase Nam Hyeyo ma Kyu JANGAN sad ending…
    Syp yg tlpn Kyu?
    Sngt dnanti part slnjt’a jgn lama2 ya..

    • Yah, harusnya makan dulu sebelum baca hahahaha

      Sad ending gak yaaaa happy ending gak yaaaa hahahahhahaa #seneng bikin orang galau

      Siapa hayooooo???? wkwkwkk

      Siap, selamat menunggu ya^^

  4. Andwaee!! Nisa jahatnya kebangetan yaaa-_- kyuhyun sm heyn hyo nggak boleh cerai plis plisss pliss jgn cerai, kalo mau cerai-in aja noh si hyeri -.- kyuhyun nerima tlpn dari siapa deh? Tbc nya rusuh bangett -_-
    Harus HAPPY ENDING nisaa!! ;;)

    • Ya Allah…. Kasian dong Hye Ri wkwkwkwk
      Cerai gak yaaaa
      ga akan cerai kok, liat aja endingnya😀 pasti mencengangkan *ga juga sih sebenernya* wkwkwk

      Hahahhaa gebukin aja sih tbcnya :p

      Insya Allah ya^^

  5. ahhhelaaah ga tau kenapa malah rela kalo kyu-hyen cerai aja… ni kyuhyun jga ga usah ditanya” lagi kek perasaan hyen klo dy aja udh tau jawabannya -__-
    para ibu-ibu -ibu kyu ama ibu hyen- kapan sadar sih klo kedua anakmu ini cinta mati, mamiiiih ._.
    itu kyuhyun kenapa? yang telfon siapa? lanjutannya kapan? *plak*
    next ff buruan yak :p keburu kebawa pikiran pas UAN *ini kenapa malah curhat -_-*
    oke next part selamat diketik~

    • Jangan cerai sih, kasian tauuuuu anak Hyennya :p
      Kapan yaaa sadarnyaaaa hahahaa
      kenapa coba? siapa coba? Lanjutannya? Hmmm…. #kabur

      Iya iyaaaaa. UN kapan sih??? cie yang mau kuliah hahaha

      Siap^^

      • muehehehe authornya aja ga mau kyuhyen cere berarti ada ‘tanda-tanda’ kkkkkkk
        16 april… itu tinggal bentar lagi loo ya dan rasany pengen cepet” baca endingnya sadness *apa hubungny ujian sma ending sadness, emg ditanyain disoal? #plak*
        cieee aku bentar lagi g pake seagam dong *ini apa lagi komen gaje -_______-*
        maap yak

      • -_______________________________________________________–

        Hahahahaha doakan ya mudah2an aku cepet dapet ide hehehe
        Tau deh tau yang mau kuliah. Rencanannya mau masuk mana un?

  6. Ada dua opsi… Hyeri yang sehabis melahirkan akan kembali ke jong atau… Mereka ber3 hidup rukun dan bahagia…

    Hah kehidupan…
    Sebenarnya, mana ada wanita yang rela di madu? Mana ada perempuan yang iklas membiarkan pria yang paling di cintainya membagi hatinya untuk wanita lain walaupun itu sedikit?
    Mana ada seorang istri yang rela menerima kehadiran perempuan lain dalam kehidupan berumahtangganya?

    Sekalipun wanita itu berhati malaikat kurasa tidak akan ada…

    Hanya ada 1 perempuan yang rela dimadu oleh suaminya… Hanyalah siti aisyah yang seperti itu… Dan itupun karna perintah allah.swt

    udah ah… Ko gue jd ikutan galau?

    • Ada 1 opsi lagi! Saat melahirkan, Hye Ri meninggal dan Kyu-Hyen hidup bahagia (loh?) hahahaha

      Iya bener bangeeeeeeeeeeeettttttttt
      Kalau kita suka sama cowo trs cowo itu lirik cewe lain sedikit aja udah nyesek sek sek bles bles hahaha
      BENER!!!! Istrinya AA Gim yang pertama aja sampe minta cerai kan, walaupun sekarang rujuk lagi sih._.v

      Iya bener. Dan Hyen Hyo kayanya jadi orang kedua deh yang rela dimadu wkwkwk

      Nah, kalau itu gue juga ga tau kenapa lu jadi ikutan galau kak:p

  7. Sedih nya penderitaan si hyen. Aku terharu huhu. Bakal lebih seru kalo nantinya sad ending hehe. Tapi itu mah teserah authornya juga hehe

  8. Hikkss..:'( chingu, kenapa hidup hyen harus kayak gini? Terlalu berat, kalo jadi hyen mungkin aku ųđαђ bunuh diri,,
    Chingu, ending’a jangan dibuat sedih ya? Aku gak terima kalo hyen tetep sedih ∂άϞ mellow2 gini

  9. Eonn ksh kmu 2 jempol Saeng ,
    kmu hebat deh ,
    imajinasi kamu gak ternilai Lagy ,

    dan Lgy kamu Sukses ngebuat eonnie nangis ,

    huhuh ,
    eonnie pengen.ny happy ending ,
    tpi itu trgantung kmu .

    Eonnie bangga deh ,
    sma kamu Saeng😀

    • Makasih un^^

      Makasih lagi un^^ ^^

      Makasih lagi lagi ya un ^^ ^^ ^^

      Hah, aku pengennya sad ending, tapi takut di kroyok. Mau tak buat mati aja semuanya. Terus di akhir cerita aku muncul sama Donghae lagi nikah gitu ya. Asik banget!

      Hadooooh…. makasih banget ya unnie^^^ *nari sherlock*

  10. I hate this story but I love it too,,,
    Aku buka ada sadness bru publish, udah aku save page penasaran tp aku takut bacanya.
    Aku jd agak2 muak sm semua cast d sadness, apa semuanya masokis ya, pada demen nyakiti diri sendiri.

    Trs biarin deh kyu sm hyeri aja, mereka kan sejenis, anak yang patuh sm orangtua tanpa pengecualian, padahal kan anak yang berbakti bukan anak yang turuti semua yang jadi kehendak ortu walaupun mereka tau itu ga bener dan punya kekuatan buat nolak.
    Tp smp akhir masih harap KyuHyen, bukan Kyuri ato malah KyuHyenRi.

    Ga tau deh mo bilang apa kalo yang lain ada yang bilang nangis bc ni ff, aku malah emosi,,,
    Kayanya kalo sadness habis dgn sad ending, aku kapok bc ff mu, soalnya ff km didominasi dengan kesedihan.
    Aku kapok setelah bc ff km jd galau.

    Nah kan saking emosinya comment jadi kepanjangan, sampe ga ingat lg apa yang diomongin,,,,

    Huwaaa pokoknya aku lbh suka kyuhyen, drpd kyuri apalagi kyuhyenri…

    • Hayooo jadi mau love atau hate nih? wwkwkwkw

      Hahahahhaa liat endingnya dong entar😀 apakah bakalan jadi kyu-ri atau kyu-hyen atau malah tetep kyu-hyen-ri wkwkwk

      Jangan baca FFku yang galau2 makannya. Tapi semuanya galau2 ya kecuali my nightmare sama yg oneshoot2??? #parah #baruinget #barusadar #nipak

      Maaf ya maaaaaaf m(_ _)m kapok nih aku jadinya hahaha

  11. saaaeengiiiee ~
    mianhaeyo br komen, kmrn dah baa tpi msi blm smpt komen.hohohoho

    sebel bgt m kyu wktu dy nyuekin hyen yo, g sadar apa klo hyen jga sakit ati…
    untung msi talak 1 ya, sblm talak 2 hyen dah ngaku klo g bsa hidup ma kyu….
    semangat ngelanjutin saaaeng ^^)b

    • Iya unnie, gwaenchana hehehe

      Wkwkwkwkwk males deh jujur kalau bikin FF Kyu-Hyen harus ada jujur2annya tuh. Apalagi yang model2 My Nightmare, kalau udah jujur2an tuh jadi ga seru wkwkwk #menilaiFFsendiri

      Makasih ya un^^

  12. Sedih bnget chingu…T_T *ya iyalah jdulnya ja sadness gmna g’ sedih….wkwkwk
    ampun deh, kasian hyennya nangis mulu. Tuh airmata kagak da hbisnya ya???? *plak
    chingu, sumpah demi apa jebal jgn pisahkan kyu ma hyen. Yah, walupun jdulnya sadness tp endingnya dibuat happy aja yah???? Kan gak lucu, masa sedih terus sih?? Yah, jebal happy ending aja yah…..
    Daebak deh buat ff nya…:)

  13. eh? kok ada tombol reply ya dibawah kmen kmu itu .___. ini yg error hp ku apa emg udh max segitu?
    rencananya dan insyaallah… mau di UGM aja yg deket rumah *amin ya allah* hhe :p doain ya hha ntar aku udh doain smoga ide” buat sadness mengalir dengan deras (?)

    • Ga tau deh aku juga._. ga biasa comment lewat hp wkwkwk

      AMIIIIN mudah2an bisa masuk UGM ya😀 heheheh
      amin juga amin amin. tapi jujur aku males bikinnya ^^v

  14. kasian hyen nya
    kyu ga tegas jd kesel
    harusnya dia juga berkorban kyk hyen yg ampe ga diakuin keluarganya itu
    hyen aja berani ah kyu bikin kesel

  15. yahhhh susah bgt coment ny…jaringan lg error kyak ny….
    aq berharap happy ending…kasian smua ny terlalu banyak mnitikkan air mata….
    hyen jg….
    hye ri kah yg d telfon itu?
    pnasarannnnnn….
    udah mw end….

  16. huaaaa kasian hyen nya TT.TT
    sampe nangis deres (?) jangan cerai donk TT.TT
    kyu bimbang banget.. #==V piss eon
    eon happy ending dong..
    kasian tuh hyen
    JLEB banget dihati nyesek~~
    serasa jadi hyen ,sakiiittt banget , ampe menguras air mata baca nih FF
    daebak author!!!! xD #happy ending ya???

  17. ARRGGGHHH!!!
    Endingnya gantunggg bangettt!! Pasti Hyeri kenapa-napa tuh, ganggu ah! Hehehe, readers sotoy ^^
    Part endingnya ditunggu, saengi~

  18. hi..aku reader baru disini!
    cerita ini bener2 keren. aku gg berhenti baca mulia dari prolog ampe part ini.
    bener2 bisa buat aku nyuci mata.
    aku tggu chapter endingnya🙂

  19. aduuuhhh…
    saia seneng tuh wktu hyo minta cerai..
    wkwkwk..
    kasian tuh menderita mulu😄
    tp kyk’a author gag rela misahin mereka b’2.
    yesungdahlah pokok’a mau mnta HAPPY ENDING sm author*sodorin tiket #SS4INA(?)
    next part asap ^^

  20. annyeong author..
    aku baru baca part yang ini, sedih banget..
    kasihan hyennya udah sengsara, airmatanya dah mau abis, udah hyeri didepak aja. maaf ya kalau ada salah. tapi jujur aku suka banget ceritanya, menyentuh. daebak!!

  21. OMG…!!!*modus sinetron..plak!*
    Duhhh,,ini..ini…nyesek…hukz…Air mataku yg berharga tumpah begitu saja….sakit rasanya…sakit…*Gw ini sbnrnya napa sii??*
    Onn…ga jadi ceraii kan ya???ya kan??jangan deyy…yah???*author: semua keputusan ada ditangan kyuhyun dan para istrinya* *ditendang*
    Issshhh…KYU gw GALAU KYU!!!GALAU!!!!PUAS LO???*jambak kyuhyun* *dikroyok sparkyu*
    lanjut thor…penasaran..

  22. y smpin saeng kpn hyen bhagiany,,,kasian bgt lg hamil di usir orgtua eh mlh dipoligami skrg mau cerai…lngkp sdh penderitaan hyen hyo…sedihnya smpe nangis#lap air mata
    happy ending ya… eoh eoh!!

  23. yeyeye lalala, udah nyampe chap 11. hoho. konfliknya dapet banget nih. keren. keren. maaf komennya loncat2. soalnya bingung mau nulis apa. ehe. kagum sm sifatnya hyen yg kelewat sabar memendam segala sakitnya. salut buat onnie yg nyiptain karakter hyen. suka pokoknya sm nih ff!

    • Yeeeee (~˘▾˘)~ ~(˘▾˘)~ ~(˘▾˘~)
      Makasih yaaa makasih (´⌣`ʃƪ) jadi malu nih wkwkwkwk
      Iya gapapa kok!!!!! Santai aja sama aku mah, paling ntar aku suruh Heechul panggang kamu (`▽´)-σ

      Hohohoho thanks a lot yaaaa (˘⌣˘)ε˘`)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s