[FICLET] Please Don’t Say – Be Left (HaeNa’s Story)

Standard

Author : Nisa Ayu Thayalisha Hadi (Nam Hyen Hyo)

Cast :

Lee Dong Hae

Sang Him Nae

Title : Please Don’t Say – Be Left

Length : Ficlet

Genre : Romance, Angst

Rating : PG-13

Disclaimer : The casts are belong to God, and this Fan Fiction is belong to me kekekeke~ i own this plot ok?

Note : This is pure my imagination.

===============================================================

Flashback, March 19, 1998

Musim semi datang dengan indahnya, menampilkan kesan nyaman di setiap penjuru jalanan. Apalagi di jalan setapak yang penuh dengan pepohonan berhiaskan dedaunan cantik. Tapi siapa yang menyangka bahwa menyusuri jalanan setapak yang indah ini akan terasa lebih indah saat matamu menangkap sesosok gadis cantik berperawakan ramping yang tengah membelakangi kita dengan headphone yang menggantung di lehernya?

Dia menghentikan langkahnya, membuat aku yang masih melangkah menjadi lebih dekat beberapa jarak dengannya. Dia menoleh, dengan mata sipitnya yang dipicingkan, dia melihatiku dari atas sampai bawah, seolah-olah dia benci padaku.

“Lee Donghae ya?” tanyanya. Aku menunjuk diriku sendiri dengan telunjuk, merasa namaku terpanggil. Wanita yang sedang aku perhatikan sedari tadi, mengetahui namaku? Bukankah ini suatu keajaiban? Atau ini adalah salah satu bidadari utusan Tuhan yang akan menjadi takdirku? Dia mempunyai semacam, um… karisma, mungkin? Yang pasti, saat melihatnya, aku merasa dia mempunyai sesuatu yang lain dari wanita lain. Tentu saja ‘sesuatu’ itu yang menarik perhatianku. Membuatku merasa, bahwa mungkin, aku tertarik padanya. Pada kali pertama.

“Kenalkan, namaku Sang Him Nae” dia mengulurkan tangannya, aku meraih tangannya, masih merasa terbujur kaku. Mataku tidak terlepas dari manik matanya yang kecil namun indah. Coklat. Aku suka wanita dengan mata coklat, terlihat seperti…. barbie?

“Him Nae? Aku baru mendengar namamu”

“Ya tentu saja bodoh! Kita kan baru berkenalan!” dia menepuk bahuku, seolah-olah kita sudah kenal lama. Dan ini semakin membuatku bingung.

“Bisa tidak kau pasang raut wajah biasa saja? Mungkin kau merasa aneh mengapa aku tahu namamu dan tiba-tiba mengenalkan diriku sendiri. Baiklah, aku adalah adik dari Cho Kyuhyun. Kau mengenalnya huh? Bukankah dia pernah bilang bahwa dia akan mengenalkan adiknya denganmu hari ini? Ya, ini aku! Aku sudah tahu wajahmu dari foto. Dan kebetulan, baru saja Kyuhyun sialan itu beranjak dari sini. Ada urusan, dengan pacar barunya. Yayaya, kau tahu sendiri Kyuhyun playboy itu sudah berapa kali bergonta-ganti pasangan, bukankah begitu?” aku terdiam mendengar penjelasannya. Mengapa aku merasa wanita ini sangat menarik? Aku tersenyum di akhir kalimat dan mengangguk.

“Jadi kau orang yang dimaksud oleh Kyuhyun? Tapi kau tidak mirip Kyuhyun!” komentarku setelah meneliti wajahnya lebih jauh dan dalam.

“Tentu saja tidak! Kita sama ayah, namun beda ibu! Dan aku persis sekali dengan ibuku. Sayang, dia sudah tidak ada di dunia. Jadi aku tidak lagi punya kembaran yang selalu aku bawa-bawa pergi saat sedang liburan seperti ini” wajahnya terlihat sedikit murung, membuatku merasa bersalah telah melontarkan kata-kata tadi dihadapannya.

“Baiklah, jadi sekarang kita akan kemana? Namsan? Ah, aku bosan kesana. Tempat yang romantis? Aku rasa ini sudah sedikit romantis. Museum? Walaupun aku sangat menyukai tempat-tempat itu, tapi rasanya tidak asik jika kita harus menghabiskan waktu pertama kita disana! Um…”

“Taman bermain?” usulku.

“Ah ya! Kita ke taman bermain saja! Kajja Hae~ya!” dia menarik pergelangan tanganku, membuatku harus terus mematung ditempatku selama beberapa detik sebelum akhirnya aku mengangkat kakiku untuk melangkah mengikutinya.

                                                                        ***

Flashback, March 19, 2001

Tidak tahu apa yang sedang terjadi padaku sejak 3 tahun yang lalu, aku selalu mengingat seluruh kejadianku pada tanggal 19 Maret. Tidak ada yang special? Memang! Tapi pertemuanku dengannya adalah satu-satunya hal yang spesial bagiku. Mengingat seluruh kenangan kita selama 2 tahun belakangan ini sampai akhirnya aku menginjakkan kakiku pada tahun ketiga sekarang, rasanya…. ada perasaan lebih yang mengisi hatiku. Semakin… menyukainya? Mungkin.

Ada satu hal yang benar-benar tidak akan aku lupakan darinya saat itu. 1 tahun yang lalu. Aku menyukai bagaimana caranya dia marah padaku hanya untuk membuat sureprise saat ulang tahunku. Lalu dia membawa kue tart yang sangat besar seorang diri bertuliskan “Donghae jelek, jangan pernah lepas dariku ya”. Entah ini bisa dibilang hal paling bodoh atau apa. Tapi, dengan tulisan itu, tentu saja membuatku semakin tidak ingin lepas darinya. Walaupun sampai sekarang, aku sendiri tidak mengerti bagaimana perasaannya terhadapku.

                                                                        ***

Flashback, March 19 2005

Lee Donghae? Kau menanyakan aku siapa itu Lee Donghae? Apa pengaruhnya terhadapku? Atau siapa dia bagi diriku? Ah baiklah, nama itu adalah nama seorang pria yang selalu membuatku sesak. Lee Donghae. Saat kakak laki-lakiku menawarkanku untuk berkenalan dengan seorang pria… hanya dia yang aku mau. Terlalu banyak pria yang kakakku kenalkan padaku, tapi entah mengapa, hanya dia yang bisa membuat jantungku berdetak setiap saat.

Pengaruhnya terhadapku? Ya, pria itu bisa membuatku lupa caranya menahan sakit yang terus menerus menghantam sekujur tubuhku. Pria itu bagaikan obat tak langsung yang selalu membuat diriku tenang. Pria itu bagaikan… tabung oksigen? Ya, saat aku membutuhkan oksigen dan dia ada di dekatku, rasanya aku langsung bisa bernafas kembali normal. Walaupun kadang-kadang, dia juga adalah pria yang membuatku sesak nafas karena wajahnya.

Dia bagi diriku? Lee Donghae. Nama yang cukup bagus bukan? Aku sangat senang jika suatu saat aku harus mengganti margaku menjadi Lee. Lee Him Nae. Bukankan itu juga kedengarannya sangat lucu? Dan nanti aku akan memiliki anak dengan nama gabungan dari kami berdua. Dan wajahnya… aku harap akan mirip dengan ayahnya yang mempunyai dosis ketampanan berlebihan. Ah tidak tidak, aku sudah berpikir terlalu jauh. Menggapainya adalah bagaikan aku ingin menggapai bintang. Rasa ingin memilikinya ada di dalam diriku. Dan itu adalah prioritas paling tinggi. Aku tau dia mencintaiku, dan aku senang akan hal ini. Tapi bukankah dengan keadaan seperti ini membuat diriku semakin tersiksa setiap harinya?

Setiap hari aku berusaha untuk biasa saja terhadapnya, tanpa menyimpan perasaan apapun. Tapi semakin dia ada di dekatku, semakin melekat juga perasaan yang ada di hatiku. Semakin sesak juga nafasku saat melihat wajahnya. Dan semakin tercekatnya tenggorokanku saat dia membisikkan kata-kata yang membuatku harus pergi secepatnya dari situ. Dan entah kapan aku mulai menyadari, bahwa aku mencintainya.

                                                                        ***

Flashback, April 19 2009

Sudah hampir sebulan aku tidak melihat wajah gadis yang hampir menjadi pelengkap perasaanku. Dihubungi pun percuma. Sepertinya dia sedang menghindariku. Tapi, dalam konteks apa?

Bukankah dia sendiri yang bilang padaku untuk tidak pernah lepas darinya? Kenapa sekarang dia malah melepaskan diri? Bukan, bukan karena aku sedang merasa sakit di hatiku, walaupun memang itu sedang terjadi, tapi alasan utamanya adalah kenapa dia tidak mengabariku sama sekali? Bukankah seharusnya dia menceritakan apa yang terjadi? Aku tidak pernah merasa aku telah melakukan suatu kesalahan yang fatal. Yang aku tau, dia akan selalu tersenyum dan tertawa lepas saat ada aku di dekatnya. Dan itu memang kenyataannya. Aku bisa merasakan bagaimana aura bahagia terpancarkan darinya setiap saat. Dan aku juga bisa merasakan sedikit demi sedikit bagaimana dia berusaha untuk mencintaiku. Sekalipun setiap kali aku mengatakan perasaanku dia hanya akan membalasnya dengan ucapan ‘Terima Kasih’.

Flashback, March 19 2009

03.01 PM

“Hae~ya! Aku ingin hari ini kita menghabiskan waktu bersama dari detik ini sampai pergantian hari jam 00:00, bagaimana?”

“Kita akan kemana?” tanyaku bingung.

“Kita keliling Seoul saja, bagaimana?”

“Kita bisa melakukannya lain kali Nae~ya! Hari ini aku cukup lelah.”

“Tidak bisa Hae~ya! Aku hanya punya waktu hari ini. Ku mohon. Sekali saja. Aku janji ini adalah yang pertama dan yang terakhir!” aku menghembuskan nafas kesal. Jika sudah berurusan dengannya, apa yang bisa aku tolak? Tidak ada. Sekalipun dia memintaku untuk membunuhnya, aku juga akan melakukannya.

“Jadi kita akan kemana?” tanyaku saat sudah menjalankan mesin mobil dan berputar arah menuju jalan semula.

“Namsan!”

“Katanya kau tidak ingin pergi kesana bersamaku? Kau bilang kau sudah terlalu bosan untuk pergi kesana?”

“Iya aku bosan pergi kesana seorang diri. Dan sekarang aku ingin kita pergi kesana berdua. Ayo cepat!!!! Waktu kita hari ini hanya tinggal 9 jam lagi!” dia menepuk pundakku cukup keras, aku melirik tanggalan yang ada di jam tanganku dan tersenyum. Aku mengerti, mungkin dia ingin merayakan hari pertemuan kita yang ke-11 secara tidak langsung.

@Namsan Tower

03. 44 PM

“Kau ingin memasangkan gembok cinta tidak?”

Aku mengerutkan keningku bingung. Gembok cinta? Kita bukan sepasang kekasih!

“Baiklah, kita memang bukan sepasang kekasih, tapi kita bersahabat. Jadi aku ingin kita berdua tidak akan pernah berpisah. Bukan sebagai kekasih. Tapi persahabatan. Sekalipun nanti kau akan hidup bahagia dengan wanita lain selain aku, setidaknya kita masih bisa berkumpul bersama” dia mengucapkannya dengan nada datar sambil menuliskan sebuah pesan yang akan ditempel pada papan khusus surat.

“Bagaimana kalau kau membeli gemboknya sekarang?” tanpa menjawab, aku langsung pergi meninggalkannya dan membeli gembok itu sekarang. Aku rasa, semua ucapannya salah. Mungkin dia akan menjadi ‘wanita’ yang dimaksud dalam perkataannya. Wanita yang akan hidup denganku dan membuatku bahagia. Sekalipun kau tidak menjadi ‘wanita’ itu, di dalam hatiku, tetap dialah yang akan menjadi ‘wanita’ itu.

“Surat tadi, kau taruh dimana?” tanyaku saat melihatnya sudah terduduk santai tanpa menulis surat lagi.

“Disana. Tapi kau tidak boleh lihat!” aku melangkahkan kakiku menuju papan surat itu, tapi dia menarik kerah leher coatku sampai aku terhuyung ke belakang. “Sudah ku bilang! Kau tidak boleh lihat! Aku akan marah padamu jika kau melihatnya!” baiklah, mungkin lain kali aku akan datang seorang diri kesini dan melihat apa isi suratnya. Yang aku tahu, tadi dia menuliskannya dengan surat berwarnakan biru dan kuning dengan motif kartun orang jepang.

@Han River

11.03 PM

Han River, menjadi tempat romantis pilihannya sekaligus menjadi tempat terakhir yang kita kunjungi hari ini. Sudah lebih dari 5 tempat yang kita kunjungi termasuk rumah makan dan sebagainya. Entah ada angin apa, rasanya hari ini dia menunjukkan sekali bagaimana perasaannya terhadapku. Entah itu hanya perasaanku saja atau bagaimana. Tapi aku merasa, dia berbeda.

“Sekarang jam berapa?” tanyanya setelah melamun beberapa lama, membuatku bosan setengah mati karena harus menunggunya terdiam. Dia memintaku untuk tidak mengganggunya selama itu. Baiklah, aku diam. Dan sekarang aku merasa lega dia berbicara kembali.

“11. 13” jawabku singkat.

“Baiklah, 47 menit lagi tanggal 19 Maret ini berakhir. Jadi, sekarang sudah tanggal 19 ke berapa? 11? Hebat sekali! Kita selalu merayakan hari ini sebagaimana kita merayakan hari spesial kita. Apakah kau merasa hari ini sangat spesial di matamu Hae~ya? Kau merasa pertemuan kita begitu spesialnya?”

Dia menoleh padaku, aku menatap manik matanya lekat-lekat. Entah bagaimana, rasanya ini seperti perpisahan. Tapi… tidak. Ini bukan perpisahan. Tapi awal dari dia menunjukkan perasaannya. Aku tau dia gugup.

“Sangat” jawabku singkat.

“Aku baru merasakan bagaimana merayakan hari yang spesial. Karena aku baru merasa bahwa kau spesial, akhir-akhir ini” Tidak, kau merasa bahwa aku spesial sejak lama. Aku mengetahuinya, Nae~ya! Tolong jangan berbohong padaku.

Aku menatap matanya tajam sambil memicingkan mata dan dia membuang pandangannya dariku lalu menunduk. Dengan suara yang berat seperti menahan tangis, dia mencurahkan segalanya.

“Baiklah, aku mengerti maksud dari tatapanmu. Dari awal aku melihatmu, tidak, bukan 11 tahun yang lalu, tapi saat aku melihat fotomu di dompet kakakku, aku merasa bahwa aku langsung menyukaimu. Maka dari itu aku menyuruh kakakku untuk mengenalkanku padamu. Walaupun awalnya aku tidak yakin karena aku takut kau berbeda dengan keinginanku, tapi nyatanya kau lebih dari sekedar biasa saja. Kau lebih dari sekedar apa yang aku inginkan. Kau selalu membuatku nyaman saat aku ada di dekatmu. Dan kau selalu membuatku harus merasakan rindu yang berlebihan saat malam aku ingin tidur dan mengingat wajahmu. Kau membuatku harus sesak nafas saat kau menatap mataku seperti tadi. Mungkin aku jatuh cinta padamu lebih awal darimu, tapi kau tidak pernah mengetahuinya, kan? Bukankah aku sangat pintar dalam menyimpan perasaan? Berapa lama sudah? 11 tahun? Tidakkah kau ingin memberiku penghargaan?” dia menatapku dengan lumuran air mata di matanya. Membawanya ke dalam dekapan seperti ini memang selalu membuatku nyaman. Aku mengelus rambutnya yang panjang dan memejamkan mata.

“Aku sudah mengetahui semuanya Nae~ya! Aku tau kau mencintaiku sejak awal. Aku sudah merasakannya. Tapi aku selalu ragu, apakah ini adalah nyata atau hanya aku yang merasakannya? Jadi, kita menjadi sepasang kekasih sekarang?” tanyaku dan berharap dia akan menjawab seperti apa yang aku bayangkan.

“Tidak. Aku tidak menginginkan kita menjadi sepasang kekasih. Kita tetap saja seperti ini. Aku takut menyakitimu. Aku tidak mau Hae~ya! Ku mohon jangan paksa aku untuk mencintaimu lebih dalam. Aku ingin kita pulang. Waktu kita tinggal 30 menit lagi. Persis seperti apa yang aku katakan, aku ingin 00:00 kita sudah tidak bertemu. Dan sampai jumpa hari esok!” dia berjalan membelakangiku, menuju mobilku dan masuk ke dalamnya. Masih tidak mengerti dengan maksud perkataannya, akhirnya aku membawanya pulang, tepat jam 11:58 aku sampai di rumahnya. Tanpa ada sebuah obrolan di dalam mobil, akhirnya dia mengucapkan 2 patah kata saat tubuhnya turun dari mobilku.

“Terima kasih”

                                                                        ***

Flashback, March 21 2009

Hari ini aku berniat untuk menjemputnya untuk berangkat kampus bersama. Tapi saat aku mendatangi rumahnya, entah sejak kapan, tiba-tiba saja mobil Kyuhyun sudah tidak ada. Apa mungkin mereka sudah berangkat? Aku rasa aku tidak terlambat menjemputnya. Biasanya saat aku datang, Kyuhyun masih ada di rumahnya.

“Kau menunggu siapa huh?” tanya anak kecil yang menghampiri mobilku.

“Him Nae-noona” jawabku.

“Oh, tunggu saja. Dia tidak akan keluar” katanya dan berlalu pergi. Belum sempat aku ingin meneriakinya dan menanyakan apa maksudnya, dia sudah berlari secepat mungkin dan hilang begitu saja. Sial!

Flashback, March 19 2011

Tidak ada kabar selama 2 tahun. Aku rasa itu terlalu mengenaskan. Kyuhyun, dia selalu menghindariku saat aku menanyakan dimana Him Nae, dan saat aku ingin main ke rumahnya, dia selalu menolak. Entah apa yang terjadi dengannya, aku rasa aku tidak pernah membuat salah juga pada Kyuhyun. Apa mungkin Kyuhyun yang sudah membuatku jauh dari Him Nae? Aku rasa dia bukan orang yang seperti itu.

“Kyuhyun~ah! Jaebal, dimana Him Nae? Kasih tau aku sekarang!!”

“Kau ingin menemui Him Nae? Him Nae sudah tidak lagi tinggal di rumahku dan aku tidak mau membuatmu bersedih!!” dia membentakku cukup keras.

“Tidak. Aku tidak akan bersedih. Atas dasar apa aku harus merasa sedih jika Him Nae baik baik saja?”

“Apa kau bilang? Baik-baik saja? Jadi kau belum tau yang sebenarnya? Kau mengenalnya cukup lama, kenapa kau masih tidak mengetahui hal yang sebenarnya? Kau tidak tahu Him Nae mengidap penyakit mematikan?”

“Dia tidak baik-baik saja! Benar-benar tidak baik-baik saja Hae~ya!” lanjut Kyuhyun lagi. Dunia serasa berputar. Aku dapat melihat disekelilingku berputar dengan cepat. Membuatku harus kehilangan fokus tatapan dan merasa goyah.

“Lalu… dia dimana?” tanyaku lemas.

“Rumah terakhir manusia. Dia sudah ada di rumah sebenarnya Hae~ya! Rumah abadi!!”

“Jadi… dia..sudah, tidak ada? Begitu maksudmu?” tanyaku penuh dengan isakan. Setelah satu anggukan dari Kyuhyun, lututku terasa berat untuk menopang seluruh tubuhku. Aku meneteskan satu air mataku ke lantai. Jika memang itu yang sebenarnya, kenapa aku baru mengetahuinya sekarang?

“Maafkan aku, dia melarangku untuk memberitahumu bahwa dia sudah tidak ada. Dia bilang, dia tidak ingin membuatmu sedih”

                                                                        ***

Flashback, March 19 2012

2009 ya? Jadi dia sudah tidak ada sejak tahun 2009? Setelah beberapa hari kita merayakan hari pertemuan kita yang ke 11? Sekarang aku baru mengerti semua permintaan dan kata-katanya pada 3 tahun lalu.

@Namsan Tower

Aku berusaha untuk mencari suratnya yang ada disana. Aku sudah berjanji akan membacanya seorang diri. Dan mungkin sekarang adalah benar-benar waktu yang tepat.

“Lee Donghaeee~ Kau membacanya juga rupanya. Halo, aku Sang Him Nae. Entah aku masih hidup atau tidak, aku tidak tahu. Hey, jika kau membaca surat ini saat aku masih bisa berdiri disampingmu dengan tegak, tolong jangan permalukan aku dengan berkata bahwa kau telah membaca surat ini. Tapi jika kau membaca surat ini dengan aku yang sudah tidak bisa mengisi hari-harimu lagi, aku mohon maaf yang sebesar-besarnya karena aku telah mengecewakanmu. Aku mencintaimu, terlalu mencintaimu. Sejak awal aku melihat wajahmu di sebuah foto. Mungkin ini memang terdengar konyol, tapi memang begitulah kenyatannya. Kenapa ya aku selalu menyembunyikan perasaanku padamu padahal jelas-jelas aku sudah mengetahui bagaimana perasaanmu padaku. Hah, satu alasan Hae~ya! Aku tidak mau membuatmu bersedih berlebihan saat kau harus mengetahui bahwa aku akan meninggalkanmu secepatnya. Setidaknya, jika kita bukan sepasang kekasih, kau tidak akan sedih terlalu mendalam, bukankah begitu? Tenang saja, sekalipun aku sudah tidak bisa berdiri di sampingmu secara nyata, aku tetap akan berdiri di sampingmu secara kasat mata. Setiap kali kau membutuhkanku, kau hanya harus mengingat setiap tanggal 19 Maret di setiap tahunnya. Aku selalu melakukan hal-hal spesial pada tanggal itu, dan begitupun dengan kau. Bukankah begitu? Apa kau melupakan setiap tanggal 19 itu? Tenang saja, aku sudah menyimpannya dalam buku diaryku. Lengkap dengan semua foto yang selalu kita ambil pada tanggal 19. Kau tinggal minta saja ke Kyuhyun. Aracchi? Maafkan aku karena aku tidak bisa merayakan tanggal 19 yang ke-12, 13, dan seterusnya bersamamu. Kau hanya perlu melakukannya seorang diri dan aku sudah berjanji pada diriku sendiri pada tanggal itu pun aku akan datang ke sampingmu dan menemanimu secara kasat mata. Bodoh? Ya memang bodoh kedengarannya, tapi itulah aku. Wanita yang mencintai dan dicintai oleh satu pria yang sama dan tidak bisa mempertahankan hidup lebih lama untuk mempertahankan hubungan mereka berdua. Aku adalah wanita yang tidak bisa bertahan hidup lebih lama. Aku adalah wanita lemah yang tidak bisa menahan sakit di sekujur tubuhku setiap saat kapanpun sakit itu datang. Tapi terima kasih, kau sudah menjadi pereda sakit yang aku rasakan. Selama tidak ada aku, kau tidak boleh bersedih. Karena jika kau bersedih, aku juga akan bersedih. Jika kau ingin aku terus tersenyum, maka kau juga harus tersenyum. Bagaimana? Jadi perjanjiannya adalah kau harus tetap tersenyum dan aku akan tersenyum. Cari wanita lain yang seperti aku. Yang bisa kau cintai setulus kau mencintaiku. Ingat! Kau tidak boleh terus mencintaiku, stuck tetap denganku. Karena kau terlalu sempurna untuk menjadi sendiri, maka dari itu kau harus mencari wanita untuk menjadi pasanganmu. Walaupun dari dulu aku selalu mengharapkan margaku berubah menjadi Lee dan mempunyai anak dengan nama campuran dari kita berdua, tapi rasanya, aku terlalu egois jika aku terlalu memikirkan hal itu tanpa memikirkan bagaimana nasibmu saat harus memiliki istri sepertiku. Baiklah, jadi bagaimana? Kau tetap tersenyumkan? Cheers^^

Big love for you, Lee Donghae.

From

 

Sang Him Nae

Mencintainya, bagaikan air. Kita harus melerakan semuanya mengalir bagaikan air. Tanpa ada paksaan atau hambatan. Mencintainya, membuatku mengerti bagaimana kita harus kuat saat merasakan sakitnya ditinggalkan. Mencintainya, membuat mataku terbuka bahwa bukan hanya dialah yang layak menjadi seseorang yang aku cintai. Mencintainya dan hidup dengannya selama bertahun-tahun membuatku mengerti bahwa bukan karena kematianlah cinta harus kandas begitu saja. Kematian tidak merubah segala rasa. Hanya raga. Itu saja yang berbeda. Jadi, aku tetap akan mencintainya. Dan diapun akan terus mencintaiku, sebagaimana yang tertuang di dalam suratnya. Dan sebagaimana permintaannya untuk aku mencari wanita lain, aku akan mencarinya. Walaupun cintaku harus stuck padanya, rasanya tidak sulit untuk mencari wanita lain yang bisa aku cintai sebagaimana aku mencintainya. Dan itulah hidup. Hidup dengan cinta kadang membuat kita mati bahagia atau mati kesakitan.

END

Nb : Holaaaaaaaaaaaa saya kembali lagi dengan FF Please Don’t Say lololololol😀

Ada beberapa readers yang minta aku bikin ff please don’t say lagi. Dan taraaaa jadilah ini. Castnya bukan Kyu Hyen. Maaf ya^^ abisnya bingung sih. Sekali-kali ganti cast gpp kali yaaa wkwkwk. Kasian masa suami aku ga pernah jadi pemeran utama di FF-FF aku sih….. entar dia bunuh diri (loh?)

Yaudah, baca juga ya :

Please Don’t Say (HyukYoung) (Eunhyuk-HyunYoung)

Please Don’t Say (KyuHyen)

Please Don’t Say – My Sad Ending Story (KyuHyen)

Please Don’t Say – Alligiance (KyuHyen)

Please Don’t Say – Discorded (KyuHyen)

Please Don’t Say – Recall (Sequel of Discorded)

24 responses »

  1. 😥
    gilaa, dah 2 taun ditinggal tpi ttp gtw. kasian bgt si hae, sabar ya baaang….

    saeng km ni selalu hbat dech bkin ff galau ^w^)b

  2. hwaaa… jarang2 suamiku (?) jd cast..
    sekali jd cast malah pasangannya meninggal…
    kasian na nasebmu hae..
    tp gpp deh, masi ada aku disini.. *plak..

    jadi mereka kenal nya uda belasan tahun ya..
    tp kasian gak bisa bersatu jg..😦

  3. nisaaaa astaga ini bikin galau tau!! donghae yg biasanyaa di ff romantis gitu, eh ini dia jadi galau-galau’an.
    kasian bgt ditinggal sama cewe nya:( andaikan idonghae itu gue, udah ikut mati aja guemah haha~
    lanjutin nis ff please dont say nyaa yah;) tapi yg sad ending ajahhh

    • Hahahaha galau???? Kasian yaaa suami gue T_T
      Wehhh ga nahan nih sampe ikut mati hahaha

      Please Dont Say tidak akan pernah mengenal Happy Ending kok^^ wkwkwkk

    • Iya nih ga tau kenapa. Kasian suami aku un, dia protes gara2 aku bikin ffnya Kyuhyun mulu. Katanya dia ngancem mau bunuh diri kalau ga dibikin ff primary castnya dia ckckck

  4. Jujur aja ya nis, aku kurang suka baca please don’t say. Bukan karena ceritanya jelek atau apa, tp karena selalu sad ending😦
    Aku selalu hampir mewek baca please don’t say yg dulu-dulu.
    Walaupun krg suka, tp aku tetep baca dan nyempetin komen. ^^
    Keep writing~

    • Banyak kok yg ga suka cerita sad ending hahaha gpp un, santai aja^^ tapi aku malah lebih suka bikin ff angst daripada ff romance LOLOLOLOLOL😄

      Thanks banget ya un…. hehehe^^ fighting!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s